
Audi berdehem gugup di meja makan. Ia tak bisa diam dalam duduknya. Usai kejadian ciuman level tiga tadi, Ibra langsung menyeretnya ke ruang makan untuk sarapan. Kebetulan mereka sama-sama belum mengisi perut. Audi yang terlalu antusias langsung bergegas kemari begitu selesai mandi. Eh, tahunya di sini bukannya dikasih makan, malah Ibra yang memakan bibirnya.
Meski begitu Audi tetap menikmati dan penasaran dengan level lain yang lebih tinggi. Level tiga saja Audi sudah kewalahan mengatasi ritme jantungnya. Entah mungkin Audi akan mengalami aritmia seperti Kenan jika Ibra memberinya level teratas.
Mereka makan berdua saja karena Tante Safa sedang sibuk mempersiapkan pakaian dan segala perintilan untuk kondangan nanti siang, katanya. Audi tidak tahu sang tante mungkin sengaja membiarkan Audi dan Ibra hanya berduaan saja. Tapi setidaknya lebih aman di ruang makan ketimbang kamar.
"Mas Ibra berapa hari liburnya?" tanya Audi di sela makan.
Ibra yang juga tengah mengunyah, segera menelan ketika mendengar pertanyaan Audi. "Hari kedua puasa Mas berangkat lagi," ucapnya kalem.
"Oohh." Audi mengangguk-angguk. "Berarti kita masih bisa bukber, dong?"
Ibra melempar senyum sembari mengangguk. "Bisa, Sayang." Kemudian Ibra melanjutkan. "Papa kamu ke kantor?"
Audi menghentikan gerakannya yang hendak mengangkat sendok. Ia mendongak menatap Ibra dengan pandangan bertanya. "Katanya, sih, iya. Mau papajar sama karyawan sebelum libur. Kenapa memang?"
Ibra hanya mengangguk-angguk. "Ooh ... Enggak. Tadinya mau ajak mancing, terus kita liwetan. Tapi gak papa, kita beli aja ikan sama ayamnya, nanti bakar-bakar di rumah Oma. Gimana?"
"Boleh, sih," sahut Audi.
Ibra tersenyum. "Oke, nanti malam aja biar kumpul semua orangnya."
Audi mengangguk, tersenyum mengiyakan.
Malam harinya sesuai rencana Ibra, mereka semua kumpul di rumah Oma. Dari sore Ibra sudah berkutat mencari lauk untuk acara bakaran. Sementara Audi dan para wanita fokus mempersiapkan peralatan, dan bahan lain yang akan menjadi menu selain ikan dan ayam.
Jeno yang tak bisa pulang ke Bandung dan ikut menyambut Ramadhan bersama keluarga hanya bisa merengut sedih di balik layar video call. Ia harus berpuas diri merayakannya bersama rekan sekampus saja, itupun tadi siang.
Meski begitu Jeno tetap merasakan keramaian keluarga besar di rumah sang oma. Pemuda itu turut menyaksikan kesibukan dari balik ponsel Audi.
"Mba gak bantuin mereka? Wah, emang dari dulu sukanya tinggal makan aja." Jeno mendengus disertai ejekan.
Audi memutar mata. "Mau puasa bukannya maaf-maafan, malah julidnya gak berubah."
"Maaf? Emang mau lebaran?"
"Emang maaf-maafan harus lebaran doang?" balas Audi tak mau kalah.
"Etdah, geli kali minta maaf sama Mba."
__ADS_1
"Ish, ini anak—"
"Udah, tuh Mas Ibra nyamperin. Eh, bukan ding, itu Papa, hehe." Jeno nyengir lebar ketika berhasil membuat Audi menoleh ke belakang.
"Segitu berharapnya disamperin, hahaha ..."
Audi mendelik memelototi Jeno. Ia tak jadi memaki karena Dava kini berada tepat di belakangnya. Audi sempat melirik Ibra yang masih sibuk membakar ayam.
"Jen?"
"Ya, Pa?" sahut Jeno.
"Kamu sehat di sana?"
"Alhamdulillah sehat, Papa."
Jeno kalau sudah berhadapan dengan papanya suka mendadak jadi anak baik. Audi berdecih melihat perubahan sikapnya yang sangat berbanding terbalik pada Audi. Jeno pada Audi seolah tak ada respek-respeknya. Padahal Audi ini lebih tua.
Dava mengangguk-angguk menanggapi sahutan Jeno. "Alhamdulillah kalau begitu. Uang saku kamu gimana? Masih cukup?"
Jeno meringis. "Masih, Pa, tapi tipis, hehe."
Mendengar itu Audi mencibir. "Jajan mulu, sih."
"Ya seenggaknya kalau tahu begitu kamu gak usah terlalu sering jajan di cafe. Gayanya ke cafe mulu, padahal dompet kaki lima."
"Sudah, sudah." Dava melerai. "Nanti Papa transfer lagi."
Kalimat itu membuat Jeno bersorak dalam hati, ia menatap Audi seolah mengejek penuh kemenangan. Audi berdecih membuang muka, saat itulah matanya langsung bertemu pandang dengan Ibra. Refleks Audi tersenyum ketika Ibra juga tersenyum.
Tanpa mereka sadari hal tersebut tak luput dari perhatian Dava.
***
Ikan dan ayam sudah selesai dibakar dan dibumbui. Om Edzar dan Ibra menggelar tikar di halaman villa milik Oma Halim, tepatnya sebuah gazebo yang memang diperuntukkan untuk bersantai, baru setelah itu Dava mengamparkan beberapa daun pisang yang disusun memanjang.
Tante Safa dan Mama Audi segera menuangkan nasi liwet yang sudah matang di atas hamparan daun, begitu pula ikan dan ayam bakar serta sambal dan lalapan. Mereka juga sempat menumis kangkung sebagai pelengkap.
"Oma duduk sini sama Audi." Audi berseru sambil melambai pada sang oma.
__ADS_1
Oma Halim terkekeh, ia mendekat dan mulai membungkuk pelan untuk duduk di samping Audi yang sudah bersila menghadap hamparan nasi liwet. "Gak sabar kamu, ya?"
"Hehe, laper, Oma."
Edzar, Safa, Dava dan Lalisa juga turut duduk bersiap makan. Entah hanya perasaan Audi saja atau memang Tante Safa sengaja menempatkan mereka dalam satu baris di seberang Audi.
Saat sang tante melempar lirikan dan berkedip, barulah Audi yakin bahwa wanita itu memang sengaja melakukan itu agar tempat duduk di samping Audi kosong. Terlebih Tante Safa pasti ingin menjauhkan Audi dari papanya.
Ibra datang bersama para asisten rumah di villa Oma. Beberapa dari mereka pulang kampung lantaran menyambut Ramadhan bersama keluarga.
"Sini, Bi, Mang, makan bareng nih, seru." Om Edzar yang memang memiliki sikap hangat dan welcome pada semua orang menjadi penyegar tersendiri di segala situasi.
Setiap ada beliau, entah kenapa suasana jadi terasa lebih tenang. Auranya itu, lho, kalian ngerti, kan?
"Walaaah ... Enak ini. Gak nyesel ini ikut si Acep, haha."
Acep yang dimaksud adalah Ibra. Memang, terkadang para asisten rumah yang bisa dibilang tetua dan sudah lama bekerja, lebih akrab memanggil Ibra dengan sebutan Acep. Bukan hanya Ibra, Jeno pun kerap dipanggil begitu. Sementara Audi sendiri sering dipanggil Neng.
Ibra memang tadi menjemput para asisten rumah yang katanya hendak liwetan juga di pos ronda. Ibra tersenyum teduh menanggapi guyonan itu. Ia pun mulai bergerak ke samping Audi dan duduk bersila di sana. "Ayo, Mang. Makan, ah. Bibi sini, Bi. Tuh, Bibi samping Oma. Mamang sini aja samping Ibra."
"Siap, Kasep. Duh, duduk bareng tentara, seketika Mamang merasa keren. Hehehe."
Semua orang tertawa kecuali Dava. Ia hanya melirik datar setelah mencuci tangan di keran. Sementara Ibra hanya mendengus disertai gelengan geli. Kasep dalam bahasa Sunda berarti ganteng, dan Ibra memang seganteng itu, bukan hanya di mata Audi tentu saja.
Suasana semakin ramai dan hangat diliputi tawa dan candaan yang seolah tak ada habisnya, ada saja bahan pembicaraan yang seru untuk dibahas. Inilah yang Audi suka setiap kali hendak menjelang puasa, apalagi jika keluarga besar mereka berkumpul semua.
Sayang, sebagian dari mereka tinggal berjauhan, paling dekat paling Tante Erina di Bogor, itupun mereka punya acara sendiri dengan keluarga masing-masing.
Audi sangat menikmati hidangan nasi liwet, ikan bakar, ayam bakar, yang paling utama menambah nikmat adalah sambal buatan Tante Safa. Entahlah, menurut Audi sambal beliau paling enak, pantas Om Edzar selalu betah makan di rumah.
Meski sedang makan, Ibra tak lantas mengabaikan Audi di sampingnya. Berkali-kali ia dengan telaten memisahkan duri ikan dan dagingnya untuk Audi makan. Kebetulan jenis ikan yang dimasak memang memiliki duri yang rakap.
"Hati-hati durinya."
Kalimat pendek namun mengandung perhatian mendalam bagi Audi. Hatinya terasa berbunga hingga ia tak dapat menahan senyum yang memaksa ingin terbit.
Padahal pria itu tidak sadar, seolah hal tersebut memang biasa ia lakukan. Memang, sih, Ibra selalu begitu kalau makan bersama Audi. Mau itu ikan, kepiting, atau udang sekalipun Ibra selalu sigap mengupaskannya untuk Audi.
Mungkin kalau Madam Lim melihat ini dia akan iri.
__ADS_1
"Makasih, Mas Sayang," ucap Audi memancing perhatian semua orang.
Ia mengerjap saat suasana berubah hening, terlebih sang papa yang kini matanya menyorot tanpa ekspresi. Apa ia baru saja melakukan kesalahan?