Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 156


__ADS_3

Waktu kembali bergulir, kini Ibra sudah lebih leluasa menjalankan kembali pekerjaannya, meski tetap lebih mengutamakan bekerja dari rumah.


Kendati Farzan banyak yang mengasuh selain Audi, Ibra tetap tak tega jika terlalu sering meninggalkan sang istri yang kerap kali merasa kelelahan.


Farzan sedang dalam masa aktif - aktifnya. Ia sudah bisa tengkurap dan merangkak ke sana kemari. Tak jarang Audi sering kecolongan saking kewalahan menjaga Farzan. Ibra tak pernah marah jika Farzan terantuk atau menangis karena mengalami sesuatu yang membuatnya sakit. Ibra tahu menjadi seorang ibu adalah pekerjaan yang tak kalah berat. Ia mengerti Audi yang tak bisa sepenuhnya memerhatikan putra mereka.


Setiap manusia punya rasa lelah, dan Ibra tak bisa serta - merta menghakimi Audi seandainya putra mereka terluka. Ibra lelah, Audi pun sama lelahnya. Mereka sama - sama menjalani hari dengan aktifitas berbeda, namun sama - sama menguras energi dan tenaga.


Maka dari itu, setiap Ibra pulang kerja, itu berarti waktu Ibra sepenuhnya untuk keluarga. Ibra jarang membawa pekerjaannya ke rumah kecuali kalau memang berniat bekerja secara daring. Week end pun ia limpahkan semua perhatiannya untuk Audi dan juga Farzan. Karena bagi Ibra, sebesar apa pun usaha, keluarga kecilnya tetap yang utama.


Tanpa mereka Ibra bukanlah apa - apa, dan tanpa mereka Ibra bukanlah siapa - siapa.


"Farzaaan ..." Ibra berseru pada putranya yang tengah berusaha merangkak ke arah Audi. Sang ibu bersimpuh beberapa meter di hadapannya dengan tangan terentang menyambut. Namun, karena mendengar suara lain, anak itu pun menoleh pada Ibra dan lantas terguling di atas karpet, lantaran kehilangan keseimbangan tubuh.


Ibra maupun Audi seketika tertawa dan segera menghampiri Farzan yang menggeliat. Betapa lucu batita menggemaskan itu ketika berusaha tengkurap dan merangkak lagi.


Hap!


Ibra lebih dulu menangkap tubuh sekal Farzan. Ia mengangkat anak itu tinggi - tinggi, menciumi perutnya hingga Farzan tertawa geli kesenangan. Audi turut tertawa melihat sang putra di gendongan ayahnya. Pendar hangat menyertai sorot matanya yang teduh keibuan.


"Farzan udah makan belum, hem?" tanya Ibra dengan suara yang khas ketika berhadapan dengan anak kecil. "Makan apa tadi sama Bunda? Hem? Makan apa hayoo? Muach ... Kok, perutnya Farzan makin besar, ya? Kira - kira ini isinya apa aja? Mau hitung, gak?"


Farzan yang ditanya hanya mampu tertawa dan bersuara tak jelas. Seruannya melengking, campur antara geli dan senang merasakan duselan hidung sang ayah di perut bundarnya.


Audi turut tertawa. Ia mengusap kaki serta tangan Farzan yang empuk dan kenyal seolah hanya berisi daging serta lemak. Tangannya bahkan mirip roti bagelan yang berjejer menurut Audi.


Audi beralih menatap Ibra. "Mas udah selesai meeting virtualnya?"


Setahu Audi, tadi Ibra sedang melakukan pertemuan daring bersama para kliennya, membahas soal pekerjaan tentu saja.


Ibra mengangguk seraya terus menggendong Farzan. "Iya, udah. Mereka marahin Mas karena suara sungainya berisik banget katanya. Hahaha ..."


Audi mencubit lelaki itu gemas. "Udah dibilangin di ruang kerja aja, jangan di sana. Ngeyel banget."


Sementara Ibra hanya tertawa santai sambil sesekali mengajak Farzan bermain. "Suntuk, Yang, di ruangan terus. Mas juga butuh udara segar apalagi kalau sedang bekerja. Mereka tuh sebenernya penasaran Mas lagi di mana, haha ..."


"Ish, terserah lah. Mau makan siang apa?" Audi mengalihkan pertanyaan.


Ibra sedikit berpikir seraya meladeni Farzan yang berceloteh ha - hu - ha - hu. "Kayaknya Mas mau yang sederhana aja."


"Iya, apa?" tanya Audi greget.


"Omelet mie enak kali, Yang? Pakai topping bakso dan sosis, pakai cabe agak banyakan. Hehe."


"Ohh ... ya udah aku bikin, tapi kayaknya stok bakso di kulkas abis, aku beli dulu gak papa?"


"Biar Bibik aja yang beli." Ibra masih saja khawatir kalau Audi pergi sendiri.


"Apaan sih Mas Ibra berlebihan banget, deh. Orang marketnya cuman dua ratus meteran. Itu, lho, yang toko kelontong di ujung komplek."


"Ya makanya itu biar Bibik aja yang beli, kan deket?"


"Bibik gak bisa naik motor. Udah ah, Mas Ibra tunggu aja temenin Farzan. Aku ambil dompet sama kerudung dulu."


Perdebatan kecil itu pun berhasil dimenangkan oleh Audi. Ia lekas bersiap lalu pergi menggunakan motor matic - nya yang terparkir di garasi.


***


Usai memasak, Audi mengambil alih Farzan dari tangan Ibra supaya lelaki itu bisa makan dengan tenang. Hampir 2 tahun menjadi seorang istri, sedikit demi sedikit Audi sudah mulai belajar mengolah makanan. Bagaimana pun ia perlu merawat keluarga kecilnya sendiri tanpa melulu mengandalkan asisten rumah tangga yang sesekali kerap pulang ke kampung halaman.


Ibra memakan omelet mie buatan Audi dengan lahap. Begitu simpel karena Ibra hanya minta dibuatkan sambal geprek sebagai temannya. Ibra juga sesekali menyuapi Audi tanpa sambal, hal yang seringkali dilakukan jika salah satu di antara mereka sibuk mengambil alih Farzan.


Farzan sendiri Audi suapi bubur jagung telur sebagai makan siangnya. Anak itu juga sama lahapnya seperti sang ayah.


Usai makan siang, Ibra mengajak Audi serta Farzan jalan - jalan keluar. Tidak jauh, hanya sekitar komplek dan ngadem di taman. Padahal di rumah Ibra banyak taman dan kebun buah yang rimbun, tapi lelaki itu bilang, anak kecil gampang merasa bosan hingga sudah sepatutnya diajak bermain keluar rumah.


Benar saja, Farzan terlihat begitu senang sepanjang mereka melangkah melewati barisan pohon yang berjejer di pinggir jalan. Anak itu mengejat - ngejat di stroller - nya. Tangan gempalnya memukul - mukul meja kecil yang tersemat beberapa mainan di depannya. Mulut Farzan juga tak henti berseru diiringi tawa.


Hal itu kerap kali mengundang kekehan dari Audi maupun Ibra. Ibra berjalan merangkul pundak Audi, Audi pun sama, sementara satu tangan mereka memegangi masing - masing sisi dorongan stroller yang ditumpangi Farzan.


Sampai di taman, Ibra menggendong Farzan berkeliling melihat air mancur dan berbagai tanaman hias. Di sana juga ada kucing liar yang bersih dan terawat karena dipelihara oleh komunitas pecinta kucing di komplek perumahan tersebut.


Di usia Farzan yang genap tujuh bulan, anak itu sedang aktif - aktifnya menjajah kemampuan baru. Ia sedang senang - senangnya merangkak dan mengamati banyak hal yang ada di sekitarnya. Farzan juga mulai belajar berdiri meski belum begitu tegak. Ia masih sering jatuh walau pun berpegangan pada sesuatu.


"Mas Ibra!" Audi berseru hingga Ibra menoleh bersama Farzan di gendongannya. Saat itulah ia memotret ayah dan anak itu yang kebetulan sama - sama tersenyum lebar ke arahnya.


Saat tersenyum seperti itu, Farzan sangat mirip dengan Ibra. Anak itu juga memiliki hidung mancung persis sang ayah.

__ADS_1


Audi melambai dari kejauhan, melihat dua laki - laki kesayangannya yang kembali berjalan - jalan mengeksplor taman. Tatapannya tampak menerawang, betapa Tuhan memiliki rencana yang baik dari semua yang pernah ia lewati.


Dulu, Audi berpikir Ibra sangat mustahil untuk ia gapai, terlebih saat lelaki itu memilih menikah dengan wanita lain, dan membangun keluarga yang nyatanya tak seindah bayangan luar. Siapa sangka pernikahan Ibra yang terdahulu hanyalah sebuah kontrak atas nama balas budi. Jika Ibra tidak jujur, mungkin sampai saat ini mereka masih sibuk berada di ujung sisi satu sama lain.


Audi sadar, begitu banyak yang Ibra korbankan untuk kebersamaan mereka. Demi Audi, Ibra rela melepas jabatannya sebagai anggota militer, demi Audi ia tak segan meninggalkan kesatuannya sebagai anggota paspampres, demi Audi pula Ibra rela melupakan semua mimpi yang ingin diraihnya sedari kecil.


Jika melihat lagi ke masa lalu, Audi selalu terenyuh mengingat semua yang telah Ibra lakukan untuk bisa bersamanya. Ada kalanya Audi bertanya pada pria itu, apakah dia menyesal meninggalkan segalanya untuk Audi, dan jawaban Ibra lagi - lagi membuatnya terpana.


"Menyesal hanya untuk orang yang bersalah, dan Mas tidak merasa melakukan kesalahan telah meninggalkan semuanya demi kamu. Kamu adalah alasan hati Mas bergetar, kamu adalah alasan mengapa jantung Mas berdetak tak karuan. Hanya kamu seorang yang bisa membuat Mas gugup dan salah tingkah, hanya kamu yang membuat Mas nekat mengingkari janji pada sahabat sendiri. Hanya kamu, Claudia, hanya kamu wanita yang Mas inginkan untuk menamani selama masa hidup Mas di dunia."


Tanpa sadar Audi menangis saat suara Ibra kala itu kembali terngiang. Sungguh, Audi merasa Ibra adalah pria yang akan sulit ditemukan di manapun, dan kenyataan tersebut selalu menjadi acuan untuk Audi terus bersyukur kepada Tuhan karena telah memberinya jodoh sebaik Ibra.


***


"Sayang?" Ibra baru saja keluar dari kamar mandi usai membasuh diri setelah seharian bermain bersama Farzan. Tangannya menggosok rambut yang basah menggunakan handuk.


Anak itu sekarang berada di rumah kedua omanya karena mereka ribut ingin sang cucu menginap. Sejak kecil, Farzan memang sudah biasa berjauhan dari Audi. Alasannya sudah Audi bilang di atas, orang tuanya dan orang tua Ibra sering kali berebut menghabiskan waktu bersama bocah gempal itu.


Audi menoleh pada Ibra. "Kenapa, Mas?" Ia tengah memisahkan kaos - kaos milik Ibra dan dirinya yang siang tadi usai dijemur dan disetrika oleh Bibik.


Ibra tak menjawab, ia malah memeluk Audi dari belakang sambil menggasakkan wajah basahnya di sela bahu sang istri.


"Kangen," ucapnya parau.


Audi menggeleng sekilas dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Salah satu tangan Ibra naik hingga berhenti di permukaan dadanya yang terbalut dress tipis rumahan. Pria itu meremas sambil menciumi leher Audi, menggigitnya gemas dengan disertai kecupan basah yang membuat Audi refleks mendesah.


"Sshhh ... Kamu makin montok, Sayang. Mas selalu gak tahan kalau gak ingat ada Farzan," bisik Ibra parau.


Audi menyerah dan tak melanjutkan lagi acara beres - beres bajunya, ia bersandar pada tubuh Ibra yang kekar, matanya terpejam menikmati segala sentuhan yang Ibra labuhkan di titik - titik sensitif tubuhnya.


Audi melenguh ketika Ibra meremas kencang kedua buah dadanya. Lelaki itu berbisik sensual di telinga Audi, berusaha memancing hasrat yang kini mulai meletup di antara keduanya.


"Emh ..." Audi melenguh ketika Ibra menggesekkan pusat tubuhnya yang telah menegang. Pria itu semakin gencar meremas pa-yu-da-ra Audi hingga basah lantaran ASI yang memancar keluar.


Ukuran yang semakin Ibra idamkan. Putih, besar, dan sekal, benar - benar membuat kewarasan Ibra seperti di awang - awang.


Ibra menggiring Audi ke salah satu sofa yang ada di walk in closet, ia melucuti dress serta pakaian lain di dalamnya hingga tandas. Kini Audi terbaring tanpa sehelai benang pun, dan pemandangan tersebut kontan membuat Ibra menggeram rendah hingga lekas melepas handuk yang membalut hangat tubuh jangkungnya.


"Emh, Mas Ibra ..." Audi kembali melenguh ketika Ibra melabuhkan kecupan - kecupan panas di seluruh tubuhnya.


Pria itu seolah kesetanan bergerak tergesa - gesa. Tangannya bergerilya meramas apa pun yang berhasil digapai, dan seperti biasa Ibra paling suka berlama - lama bermain dengan pa-yu-da-ra, terlebih sekarang ada ASI yang membuatnya penasaran.


"Eemhh ... Shhh ... Ouuh ... Cla," bisik Ibra meraup kasar bibir Audi yang sudah bengkak.


Gesekan demi gesekan memicu percikan yang kian memanas. "Aaahh ..." Audi mendesah lantaran Ibra yang mulai mendesak masuk memasuki tubuhnya, hingga keduanya mengerang bersama saat Ibra berhasil memasukkan semua milik pria itu dengan satu dorongan kuat.


"Oouhh ..." Ibra mendesah lega tatkala kehangatan itu melingkupi dirinya secara penuh. "Kamu masih sesempit dulu, Cla," bisik Ibra serak. Ia mulai bergerak membuai Audi yang kian mendesis lirih, menerima setiap desakan yang pria itu berikan di bawah sana.


"Enghh ..." Audi meremas otot lengan Ibra yang keras dan terawat sempurna. Pria itu masih sering menyempatkan diri melatih tubuh di sela - sela kesibukan.


Ibra bergerak perlahan dan teratur. Kepalanya menengadah dengan mulut terbuka mengeluarkan desa-han, pun matanya terpejam nikmat merasakan pijatan - pijatan erat yang meremas ketegangannya dengan intens. "Oohhss ... Emh, Cla ... Ini luar biasa, Sayang! Emhh ..."


Ibra menunduk meraup dua gumpalan kenyal favoritnya yang ikut bergoyang menggemaskan. Pria itu bergerak semakin brutal hingga sofa di bawah mereka berdecit menerima goncangan. Audi menjerit berusaha mengimbangi Ibra yang kian lama kian menunjukkan kemampuannya yang jujur saja selalu membuat Audi kewalahan. Seperti sekarang.


"Mas Ibra!!!" Audi menjerit dengan tubuh menggelepar pasrah.


Gerakan Ibra tak lagi bisa ia ikuti karena pria itu benar - benar bergerak seperti kuda liar. Ibra mendekap Audi erat sambil terus memacu tubuhnya di sela celah intim Audi yang kini sudah licin sempurna. Ibra semakin leluasa menggempur sang istri dan mengejar kenikmatan yang kini sudah berada di depan mata, hingga beberapa saat kemudian ia meraung mendapatkan pelepasannya setelah beberapa saat lalu Audi bergetar mendapatkan miliknya.


"Aaarggghhh ...!!!" Tiga hentakan terakhir mengiringi pelepasan Ibra yang menyemburkan banyak sekali kehangatan pada celah intim Audi. Cairan itu merembes membasahi sofa di bawah mereka.


Ibra mendekap Audi erat. Nafas keduanya tersengal dengan peluh bercucuran. Tak lama Ibra pun berbisik. "Kamu masih rutin minum pil, kan?" tanyanya, seraya sesekali bergerak memancing kedutan di bawah sana. Ia belum puas, mumpung Farzan tidak ada di rumah.


Audi mengangguk lemas. "Masih," jawabnya pelan.


"Bagus." Ibra tersenyum. "Farzan masih terlalu kecil untuk memiliki adik. Setidaknya tunggu sampai empat atau lima tahun kemudian," bisiknya kembali memagut belah bibir Audi yang bengkak dengan warna kemerahan.


"Emmhh ..." Keduanya kembali bertukar saliva. Meski lelah, Audi akui ia juga merindukan sentuhan Ibra.


Lagipula mereka tak perlu terlalu khawatir karena Farzan selalu anteng bersama oma dan opanya. Audi juga sudah menyertakan satu tas kecil botol ASI yang sebelumnya sempat ia peras, begitu pula pakaian ganti.


Ibra menjauhkan bibir mereka. Tak pelak yang di bawah sana kembali menegang dengan cepat. Ibra tersenyum menatap Audi. Keduanya saling pandang tanpa sepatah kata pun hingga berujung sama - sama menguar tawa.


Ibra mengusapkan tangan besar nan kasarnya di atas permukaan pa-yu-da-ra Audi yang halus selembut kulit Farzan. Ia mengecup setitik air yang keluar dari ujung puncaknya. Audi terkikik geli, meremat rambut hitam Ibra yang mulai lebat beberapa bulan tak dicukur.


"Maaf, ya, karena sibuk mengurus Farzan, kamu jadi agak jarang perawatan," tutur Ibra. Matanya memandang Audi teduh. Sekali lagi ia menunduk memagut bibir Audi sekilas.


"Gak papa, udah resiko," balas Audi lembut.

__ADS_1


Ibra menggeleng. "Minggu besok kamu ke salon, biar Farzan sama Mas dulu, lagian dia udah mulai anteng kamu tinggal - tinggal."


"Enggak usah, Mas Ibra juga pasti capek, weekend itu giliran Mas istirahat."


"Mas udah banyak istirahat, Sayang. Akhir - akhir ini kan kerjanya dari rumah. Udah, pokoknya minggu besok kamu ke salon sama Mama atau Mami, ini juga buat kepuasan Mas sendiri, Sayang," bisik Ibra kekeh. Sudut bibirnya terangkat sumir penuh arti.


Dasar, ternyata ada maunya.


"Eungh ..."


Audi melenguh ketika Ibra menyesap pucuk dadanya sedikit kencang. Pria itu juga mulai bergerak lagi memacu tubuhnya di atas Audi. Erangan dan geraman bersahutan memenuhi ruang wardrobe yang mendadak terasa panas dan lembab sore itu.


Setelah beberapa saat lalu menemui pelepasan, kini dua sejoli itu kembali berlomba meraup kenikmatan hingga berkali - kali meraih puncak.


"Aarrggh ... Mas Ibra ...!!!"


Ibra juga menggunakan kesempatan itu untuk mengeksplor berbagai gaya bercinta bersama Audi. Tak pelak hal tersebut semakin memacu semangat keduanya yang sudah lumayan lama tak memiliki waktu bermesraan. Semenjak Farzan hadir, Ibra dan Audi selalu memilih cara kilat untuk meraih kepuasan.


"Oouhh ... Luar biasa," desis Ibra di sela kesibukannya memacu keintiman Audi.


Ternyata setelah melahirkan pun kewanitaan Audi tetap terasa rapat. Ini benar - benar membuat Ibra menggila oleh hasratnya yang membabi buta.


Ibra meremas dan menyesap pa-yu-da-ra sang istri dengan rakus, hingga puncaknya terlihat sedikit bengkak dan memerah, juga mengkilap oleh liur serta ASI yang memancar subur. Pemandangan tersebut semakin membuat gairah Ibra meningkat, hingga ia yang biasa bertahan lama sampai 15 menit per satu ronde, kini selalu or-gas-me di setiap 6 menit sekali permainan.


Audi sendiri sudah pasrah saat Ibra membolak - balik tubuhnya sesuka hati. Semangat dan stamina pria itu bukan hanya gimmick, buktinya keintiman Audi seringkali perih akibat terlalu lama digempur olehnya. Tapi Audi menikmati semua itu. Ibra jelas hebat dalam urusan ranjang, bahkan mungkin tiada duanya.


Ukurannya yang selalu membuat Audi sesak dan penuh menjadi nilai tersendiri yang menambah kesempurnaan Ibra di mata Audi. Pria perkasa itu bukan hanya sempurna dalam mencintai, tapi juga nafkah lahir dan batin.


"Mas Ibra, awas aja kalau sampai kecantol pelakor, aku bakalan potong anu Mas yang besar itu. Eungh ..."


Ibra berdesis samar. Ungkapan kecemburuan Audi malah memacunya bergerak semakin brutal. "Bagaimana Mas bisa malirik wanita lain kalau yang di rumah saja secantik dan sebohay ini? Sshhh ... kamu jago goyang, Sayang," ujar Ibra sedikit terkekeh.


"Mas Ibra~" rengek Audi manja. Ia dengan sengaja merapatkan pahanya hingga Ibra menggeram kencang.


"Nakal kamu," desis Ibra senang.


Audi hanya terkekeh seraya terus mendesah membuat hasrat Ibra semakin tumpah ruah. Terlebih Audi sesekali memuji kemampuannya hingga Ibra kiat merasa bangga dan percaya diri hingga gerakannya semakin kesetanan.


Audi melenguh lirih menerima sentuhan panas Ibra di tubuhnya. Sebenarnya Audi turut merasa bersyukur karena setelah melahirkan tubuhnya malah berubah semakin seksi dan menggairahkan. Tubuh langsing berisi yang sejak lama Audi idamkan karena ia sulit sekali menambah berat badan.


"Aaarrghh ..." Raungan panjang dari Ibra menandakan bahwa pria itu mencapai puncaknya dengan luar biasa. Lantaran tahu Audi belum mendapat pelepasan, Ibra mencabut miliknya dan beralih memacu Audi menggunakan jari jemarinya yang panjang. Tak lama Audi pun menyusul sampai tergolek lemas di pangkuan Ibra yang sama - sama terengah. Keduanya bernafas lega setelah mencapai kepuasan.


Audi menyandarkan punggungnya di dada Ibra. Merasakan usapan halus dan nyaman dari tangan Ibra yang bergerak naik turun mengelus dada hingga pusat tubuhnya di bagian bawah. Semuanya basah, tak ada yang terlewat dari keringat.


Audi masih meresapi aliran kecil yang keluar dari celah tubuhnya, hingga Ibra yang sesekali mengusap dan memainkan jarinya di sana.


"Perih gak?" tanya Ibra parau.


"Sedikit. Tapi aku puas." Audi menoleh disertai senyum. Ibra turut menyungging bibirnya lembut, lalu mengecup sang istri dengan kilat.


"Nanti Mas beli salep."


"Hmm." Cup. Audi mengecup dagu Ibra yang sedikit kasar oleh jambang. "Mas belum cukur, ya? Pantas tadi geli banget."


"Sakit gak? Bulunya gak gores - gores kamu, kan?" tanya Ibra khawatir.


Audi menggeleng. "Malah kelihatan seksi, tahu. Aku suka, hehe."


Ibra terkekeh, menggigit bahu telanjang Audi gemas. "Jangan mancing - mancing lagi. Mas masih kuat garap kamu sampai besok."


"Ish! Capek~"


"Ya makanya jangan mancing - mancing."


"Siapa yang mancing? Mas Ibra aja yang nafsuan."


Mendengar itu raut Ibra berubah datar. "Gak mancing tapi kamu nyenggol - nyenggol itu maksudnya apa?"


Seketika Audi menghentikan pinggulnya. Ia menggigit jari telunjuknya sambil meringis. Namun di mata Ibra, justru Audi terlihat sengaja menggodanya kembali.


Lihat saja matanya yang mengerling manja itu. Rasanya Ibra jadi gemas sendiri apalagi kini Audi mulai mendesah kecil. Tangannya meremas milik Ibra yang seketika berdenyut mendapat sentuhan.


"Kamu benar - benar minta dihamili lagi," bisik Ibra parau.


Audi menyeringai. "Pil aku masih banyak, kok, Mas. Aahh~"


"Kamu benar - benar gak ada kapoknya, Cla."

__ADS_1


"Kalau sama Mas Ibra, aku gak bakalan kapok," balas Audi, sambil sesekali mendesah menikmati sentuhan jari Ibra di celahnya yang basah.


"Ini masih belum kering, lho. Pastikan pil kamu kuat melawan semua benih Mas," ucap Ibra sebelum akhirnya meraup bibir Audi lagi. "Eumhh ..."


__ADS_2