Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 81


__ADS_3

"Audi itu anak yang mandiri, Uwa tidak perlu jelaskan lah sebanyak apa pencapaian yang dia raih, tapi Audi juga kadang sangat manja dan labil. Mungkin sekarang dia mau pacaran sama kamu, nikah sama kamu, tapi nanti? Uwa yakin dia akan merasa jenuh juga karena sering-sering ditinggal pasangan. Sedari dulu Uwa sangat tidak berminat menikahkan Audi dengan seorang abdi negara, karena Uwa yakin prosesnya akan sangat berat. Apalagi kamu duda, pernah menikah. Uwa saja tidak yakin dengan alasan perceraian kamu dan mantan istri kamu yang Uwa tahu dua kali menjanda."


"Jujur saja Ibra, sejak saat itu Uwa sedikit kehilangan respek sama kamu. Maaf sekali jika perkataan Uwa menyinggungmu, apa menurutmu Uwa salah menilaimu bukan laki-laki baik? Karena laki-laki yang baik akan mempertahankan pernikahan sesulit apa pun ujiannya. Sementara kamu? Kamu saja telah gagal menjadi imam. Lucunya belum genap setahun kamu sudah mau lamar Audi. Memang dalam agama tak ada larangan, tapi coba kamu pikir, laki-laki mana yang bisa dengan cepat memutar perhatian dari satu wanita ke wanita lainnya? Jika pun ada itu hanya bisa dilakukan oleh pria-pria pecinta wanita. Kamu mengerti apa yang Uwa maksud."


"Setelah semua yang Uwa sebutkan tadi, bagaimana bisa Uwa percayakan Audi sama kamu? Bagaimana Uwa bisa percaya nasibnya tak akan sama dengan mantan istrimu? Belum resiko lain dari pekerjaanmu yang bisa saja mengancam nyawa."


"Uwa mau Audi hidup nyaman dan tenang tanpa bayang-bayang kematian suaminya yang terus mengintai. Uwa paham betul pekerjaanmu tak mudah. Kamu sudah disumpah sebelum resmi jadi prajurit utama Presiden. Tapi inilah yang Uwa cemaskan. Kita tidak tahu nasib dan takdir akan berjalan seperti apa. Seandainya sesuatu terjadi saat kalian sudah menikah, Uwa tidak akan sanggup membayangkan nasib Audi setelah itu."


"Mungkin Uwa akan lebih percaya kalau kamu mau menuruti semua perintah Uwa."


Ibra mendongak. "Apa itu, Uwa?"


"Tinggalkan kesatuanmu, dan beralihlah jadi pengusaha. Uwa akan lebih leluasa menyerahkan Audi pada seseorang yang bisa memprioritaskan dirinya sebagai yang pertama dalam hidup. Seseorang yang bisa dia miliki sepenuhnya. Seseorang yang mampu berada di sisinya kapan pun ia butuh. Seseorang yang menyerahkan semua hidupnya hanya untuk Audi. Itu yang Uwa mau."


Ibra merenung mengingat semua perkataan Dava tempo hari. Ia tak menyangka sesuatu yang sedari kecil ia cita-citakan justru menjadi sesuatu yang mencekiknya di kemudian hari. Belum lagi bantuannya pada Rega dan Shireen sekarang malah jadi bumerang tersendiri yang mencoreng martabatnya sebagai pria. Uwa Dava jelas sedang meragukan kesetiaan Ibra.


Apa yang harus Ibra putuskan sekarang. Tak ada yang salah dengan semua yang Dava katakan padanya. Ibra mengerti hal itu sebagai bentuk kecemasan seorang ayah pada putrinya.


Ibra juga tidak bisa menyalahkan Oma Halim yang turut menjepitnya dalam kesulitan. Seperti yang Oma bilang, di sini bukan lagi soal kekerabatan, peran Ibra sebagai pria yang ingin melamar Audi lah yang dipermasalahkan.


"Jika kalian memang jodoh, pasti Tuhan akan mempermudahnya," pungkas sang oma saat itu.


Ingin Ibra mendengus. Mereka tidak sadar tengah mempersulitnya.


"Mas Ibra, ini bagus, gak?" Audi muncul dengan dua buah pakaian di tangan.


Sepulang makan, Audi minta diantar beli baju baru karena stok pakaian di rumahnya sudah menipis. Sebelumnya Audi memang tak berencana lama di Jakarta, tapi gara-gara panggilan sang oma, Audi jadi mengurungkan niatnya untuk pulang.


Ibra mengangguk dengan mata mengamati keduanya. "Bagus."


"Ish, yang mana yang bagus?" Audi sedikit menghentak geregetan.


"Dua-duanya bagus, tapi Mas lebih suka yang warna mint."


Memutar mata, Audi pun berdecak. "Bilang dari tadi, suka yang mint. Bertele-tele banget."

__ADS_1


Audi berbalik meninggalkan Ibra untuk mengembalikan satu baju ke tempat semula, lalu lanjut cari yang lain. Ibra mengikuti gadis itu di belakang, ia juga turut melihat-lihat seperti Audi.


Tiba-tiba Audi berseru lagi. "Mas Ibra! Ini jaketnya bagus, deh, buat Mas Ibra," ucapnya menunjukkan sebuah jaket pria berwarna maroon.


"Mas udah punya warna itu."


"Ya gak papa, ini bagus."


"Gak usah, kita cari baju kamu aja, baju Mas udah banyak di sini," tolak Ibra sambil lalu. Ia kembali melihat-lihat blouse wanita, tanpa tahu Audi tengah merengut di tempatnya, ia mendelik kesal pada Ibra yang terkesan tak acuh.


Ibra mendekati Audi dengan satu setel pakaian dari mulai baju hingga celana. "Coba, deh. Bagus," ucpnya seraya mencocokkan di depan tubuh Audi.


Celana kulot warna sage green dan blouse serupa dengan warna yang lebih gelap. Namun Audi menolak.


"Aku mau cari dress aja."


Ibra menarik tangannya, mengembalikan celana dan baju itu ke tempatnya. "Ya sudah, cari di sana." Ia mengajak Audi ke hanger bagian dress.


Dari mulai mini, midi, hingga long dress tersedia lengkap di sana.


"Midi?"


"Hm? Namanya midi?" tanya Ibra balik.


"Kalau yang sebetis namanya midi," ujar Audi menjelaskan.


"Iya, deh. Asal jangan yang umbar paha aja."


Audi mengulum senyum menatap Ibra dari samping. Ia pun iseng bertanya meski sudah tahu jawabannya. "Emang kenapa kalo kelihatan pahanya?"


Ibra menoleh, rautnya terlihat santai tanpa menyadari Audi tengah mencari perhatian. "Ya jangan, nanti dilihat orang kamu juga yang malu."


"Tapi aku gak malu, kok."


"Dosa, Sayang."

__ADS_1


"Dosa karena bisa bikin Mas khilaf?"


Ibra menghela nafas. "Ya pokoknya jangan. Masih mending Mas yang khilaf, kalau orang lain yang khilaf gimana? Pakaian yang sopan itu juga melindungi kamu dari niat-niat orang yang mau jahat. Kadang yang tertutup saja masih bisa terkena pelecehan, apalagi kamu yang cantik begini umbar sana-sini, siapa yang tidak akan tergoda?"


Audi langsung bungkam. Ia kira Ibra akan menjawab romantis seperti di film-film, bahwa ia tidak rela tubuh kekasihnya dilihat pria lain. Mana tahu Audi malah kena wejangan.


"Iya, iya ... aku ambil yang midi."


"Sekalian long dress-nya, siapa tahu kamu mau pakai hijab," cetus Ibra.


Audi menoleh datar, orangnya malah sudah beranjak ke tempat lain. Audi mengejar pria itu setelah mengambil midi dress secara asal.


"Mas pengen banget lihat aku pakai hijab, ya?"


"Banget. Kamu berkali lipat tambah cantik soalnya."


"Kok bisa?"


"Gak tahu, lebih adem saja lihatnya." Ibra menoleh, melempar senyum manis yang teduh. "Tapi jangan pakai hijab karena keinginan Mas, ya? Pakai saja kalau memang hati kamu mantap," ujarnya mengusap rambut hijau pudar Audi.


Audi terdiam. "Dulu Tante Safa mulai pakai hijabnya kapan? Aku pernah lihat foto Tante saat muda gak pakai hijab. Cantik banget kayak orang Korea."


Ibra sedikit berpikir. "Katanya, sih, sejak Mas lahir. Kenapa?"


Audi menggeleng. "Enggak, tanya aja."


"Ngomong-ngomong hijab, bukannya Mas Ibra juga sempat kasih aku waktu di Bandung?"


Ibra berhenti berjalan, Audi juga. Ia berbalik menghadap Audi untuk menatapnya penuh. "Kamu tahu itu dari Mas?"


Padahal waktu itu Ibra titip barangnya pada Mami Safa.


Audi mengendik. "Dari ukiran nama, karena hanya Mas Ibra yang bisa panggil aku Cla."


Melihat Ibra yang terdiam, Audi pun kembali bertanya. "Jadi benar, itu memang dipesan khusus buat aku?"

__ADS_1


Senyum Ibra kembali terbit, matanya teduh menatap Audi. "Iya. Khusus buat kamu. Model dan motifnya Mas buat sendiri."


__ADS_2