Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 99


__ADS_3

Audi melihat tak percaya pada Ibra yang pagi ini tengah jogging di depan rumah. Mereka masih menghabiskan masa libur di rumah Oma Halim, mungkin sampai buka puasa nanti. Dan yang Audi heran adalah Ibra yang seolah tak takut kehabisan energi lantaran tetap aktif dengan rutinitas olahraga paginya.


Audi saja sudah merasa lemas meski ini masih jam tujuh. Haus, ngantuk, hawanya ingin rebahan tapi kepala pusing jika dibawa tidur terus, apalagi pagi hari. Jadi Audi hanya bisa diam seperti orang malas di teras beranda, memperhatikan Ibra yang begitu giat melatih otot-ototnya.


"Raut kamu kayak hidup segan mati tak mau," celetuk seseorang yang tiba-tiba muncul di sampingnya.


Audi menoleh, ia mendapati sang mama berdiri di ambang pintu, turut memperhatikan objek yang sedari tadi tak lepas Audi pandangi. Mama Audi berdecak sambil menggeleng-geleng. "Pacar kamu itu, pagi-pagi udah buang energi. Nanti siang lemes tahu rasa."


Audi tak menanggapi. Dengan malas ia kembali melihat ke depan, dan kali ini Ibra tengah melakukan push up dengan ritme yang sangat cepat. Keringat pria itu sudah banjir hingga tubuhnya terlihat mengkilap, dan jangan tanya kaos singletnya yang sudah mirip tercebur air, benar-benar basah sampai bercucuran.


"Kamu udah ngobrol lagi sama Papa?" tanya Lalisa.


"Ngobrol apa?" sahut Audi lemas, tanpa semangat.


"Tentang Ibra?"


Seketika Audi langsung membuang nafas. "Tau, ah."


Melihat Audi yang begitu malas membahas Dava, Lalisa pun memilih diam tak melanjutkan. Ia kembali masuk, meninggalkan Audi yang sepertinya kewalahan menahan haus.


Inilah akibatnya kalau habis subuh tidur lagi. Mulut akan terasa jauh lebih kering ketimbang saat kita beraktifitas. Audi menyandarkan punggungnya di kursi rotan yang ada di teras villa Oma Halim. Kepalanya menengadah sambil memejamkan mata.


Hampir Audi kembali terlelap ketika ia merasa hembusan angin yang sengaja ditiupkan padanya, tepat mengenai wajah. Audi membuka mata dan mendapati wajah Ibra yang menjulang di atas, pria itu berdiri sambil tersenyum.


Ibra mengipaskan handuk kecil bekas ia melap keringat di depan wajah Audi. "Baru juga mulai, kamu udah kayak sapi lagi mabuk."


Ibra mendenguskan senyum, rautnya terlihat geli mengamati Audi yang tak berdaya. Mendapati dirinya dikatai, Audi sontak merengut dengan wajah sewot.

__ADS_1


"Mas samain aku sama sapi? Emang ada, ya, sapi yang mabuk?" cibir Audi balik.


Ibra hanya mengendik, menandakan bahwa ia memang asal menyeletuk.


"Mandi coba, Cla, biar seger. Kamu tumbenan jam segini belum mandi? Biasanya giat banget?" Ibra masih setia mengipas Audi menggunakan handuknya.


"Malas gerak aku tuh. Mager banget, sumpah. Aku justru heran lihat Mas Ibra masih bisa olahraga se-energik itu." Audi kembali bersandar lemas. Matanya terpejam menikmati hembusan angin yang ditiupkan Ibra.


Rasanya Audi ingin memakan dedaunan hijau yang mengembun segar di halaman. Biarpun dikata mirip kambing, yang penting dahaganya terpuaskan.


"Justru kalau Mas diam aja, pasti sama juga kayak kamu."


Audi berdecih. "Aneh."


"Udah. Masuk, gih. Mandi, skincare-an, apa lagi ... ya itulah pokoknya biar kamu seger. Tapi jangan pakai parfum, makruh."


Seolah mengerti isi kepala Audi, Ibra pun dengan sengaja menyentil kening gadis itu hingga meringis. "Aw!"


"Tahan, Cla. Kamu masih bisa petik dan makan strawberry itu nanti setelah magrib," kata Ibra sambil mengangkat alis jenaka. Jari telunjuknya terangkat memperingati.


Audi memanyunkan bibir atas responnya terhadap sentilan Ibra. Ia mengusap kening yang baru saja disentil lelaki itu. Meski tidak kencang, tapi tenaga kosong Ibra setara jentikan kaki belalang.


"Iya! Siapa juga yang mau metik!" sewot Audi.


Ibra menatap Audi dengan isyarat supaya gadis itu segera masuk dan membasuh diri. Dengan kesal Audi bangkit, beranjak meninggalkan Ibra yang menggeleng geli sambil terkekeh. Ibra terdiam ketika matanya tanpa sengaja menangkap keberadaan Dava di beranda samping. Lelaki itu menatap datar yang tetap Ibra balas dengan anggukan sopan.


Dava melengos pergi dengan kedua tangan tenggelam di saku, menyisakan Ibra yang mematung sendiri di teras depan.

__ADS_1


Sebuah tepukan ringan membuat Ibra sedikit berjengit. Ternyata itu sang oma yang entah kapan berada di sana. "Sabar. Uwa kamu itu sifatnya cukup keras dari kecil. Kamu harus lebih berusaha lagi membujuknya."


Ibra terdiam. Ia lalu menguar senyum teduh untuk sang oma, merangkul wanita itu sebelum kemudian mengecup pipinya dengan kilat.


Oma Halim melotot tak senang. Ia mencubiti pinggang Ibra hingga pemuda itu menjauh sambil pura-pura meringis. "Aduh, Oma cubitannya panas banget."


"Kamu itu bau keringat, berani peluk-peluk Oma! Oma baru aja mandi, tahu!"


Ibra melempar cengiran tak bersalah. "Tinggal mandi lagi, kan?"


"Mandi lagi, mandi lagi. Nanti kalau sudah tua kamu juga bisa merasakan gimana rasanya kaki pegal karena terlalu sering kena air," gerutu Oma Halim.


Ibra terkekeh percaya diri. "Enggak lah, Oma. Ibra sehat sering olahraga. Makan juga dijaga."


"Tetap aja umur gak akan bisa bohong," cibir Oma Halim lagi.


Ibra hanya tersenyum menanggapi. Ia lalu mengamati penampilan wanita itu yang sudah rapi seperti hendak pergi.


"Oma mau ke mana?"


"Ke tailor, jemput baju Oma yang katanya udah selesai dijahit. Deket, kok, masih tetangga. Cuman lewat 3 rumah dari sini."


Ibra nampak berpikir sesaat. "Ibra boleh ikut, gak?"


Oma Halim mengernyit. "Ngapain? Kamu mau jahit baju juga?"


Ibra tak menjawab, namun sorotnya terlihat rumit ketika tersenyum. "Cuman mau lihat-lihat, kok."

__ADS_1


__ADS_2