
Tok tok tok.
"Di? Audi? Udah bangun belum?"
Tok tok tok.
Audi mengerjap membuka matanya perlahan, ia menyipit menahan kantuk yang masih terasa begitu berat. Saat tersadar, hal pertama yang ia dengar adalah suara ketukan pintu yang berasal dari luar.
Audi mengernyit setengah merengut. Ia sedikit mengangkat kepala guna melihat benda kayu itu yang terus berbunyi, diiringi panggilan sang mama yang terdengar greget seolah ingin mendobrak dan menerobos masuk ke kamar.
"Ini anak tidurnya kayak orang mati, susah dibangunin!"
Risih dengan kebisingan yang diciptakan mamanya, Audi pun dengan malas bangkit, menyibak selimut lalu menurunkan kakinya, mencari sandal di pinggir ranjang. Setelah itu Audi lekas beranjak membuka pintu.
"Kenapa, sih, Ma? Pagi-pagi udah heboh aja?" tanya Audi dengan suara parau, sambil mengucek mata.
Lalisa berdecak. "Pagi? Coba kamu lihat di kamar, jam berapa ini? Enak aja bilang pagi."
Audi menoleh melihat jam dinding di kamarnya. Pukul delapan pagi lebih tiga puluh menit.
"Emang pagi, kok," kata Audi santai.
"Pagi bagi orang yang nganggur, kalau yang kerja ini ibaratnya udah hampir malem. Papa kamu aja udah berangkat dari jam enam."
"Ngaco Mama. Siang aja belum masa ujug-ujug malem. Kenapa, sih? Ribut banget."
Lalisa menghela nafas. "Kamu gak buka hape, ya?"
"Kan aku baru bangun."
"Makanya kalau tidur tuh jangan malem-malem. Kalau punya waktu luang tuh istirahat, ini tengah malam Mama masih dengar kamu cekikikan. Telepon siapa, sih?"
"Kepo, ih, Mama. Emang kenapa Audi harus buka hape, sih?"
Penasaran, Audi pun berbalik memasuki lagi kamarnya. Ia mencari-cari ponsel yang ternyata terbenam di bawah bantal. Gara-gara video call sama Ibra, Audi jadi begadang dan malas menyimpan ponsel yang biasa ia taruh di nakas.
"Buka WhatsApp. Tante Safa ada chat kamu katanya."
__ADS_1
"Lowbat, Ma. Tante Safa ada perlu apa emang?" tanya Audi sembari mencolokkan charger untuk mengisi daya ponsel.
"Dia mau minta anter ke supermarket. Supirnya gak ada, lagi nganter Om kamu ke luar kota," jelas Lalisa.
Audi terdiam. "Ohhh ... ya udah, deh, Audi mandi dulu. Tadi Tante Safa ada ke sini?"
"Enggak. Tadi gak sengaja ketemu depan rumah aja, dia nanyain kamu, ya gitu katanya mau minta antar sama kamu."
"Oh, gitu?"
"Hm. Oh ya, nanti Mama titip beliin parfum, ya? Yang biasa udah habis soalnya," pesan Lalisa.
Audi mengangguk, Lalisa pun keluar meninggalkan Audi yang kini lekas bersiap. Usai mandi Audi langsung mencomot baju dari lemari, tidak lupa hal wajib yang perlu dilakukan sebelum pergi, tak lain adalah make up.
Dalam sekejap Audi sudah rapi dengan pakaian casual berupa jeans biru pudar, blouse putih, heels 3 centimeter, dan perintilan lain seperti tas juga isinya.
Audi menuruni tangga dan menyapa sang mama. "Ma, Audi berangkat."
Lalisa hanya menoleh sekilas, ia sedang perawatan, pakai lulur sebelum mandi, pun maskernya masih menempel di wajah. "Iya, hati-hati, jangan sampai nyasar," ucapnya setengah mengejek.
"Gak bakal lah, ini kan masih di Bandung, kalau tempat lain iya nyasar."
"Ya udah, assalamualaikum." Audi tak lupa salim. Benar-benar anak sholehah, Audi mengolok dalam hati.
"Wa'alaikumsalam," balas Lalisa dengan mulut terbungkam.
Lucu, ingin Audi tertawa kalau tidak ingat ia harus segera menemui Tante Safa. Audi pun bergegas keluar memanaskan mobil, selama itu Audi membuka gerbang dan menyambangi rumah sang tante yang tepat berseberangan dengan rumahnya.
Tak butuh waktu lama karena sepertinya Tante Safa sudah menunggu sedari tadi di teras, jadi ia langsung bangkit begitu melihat Audi di depan gerbang.
"Udah siap? Cantik banget calon menantu Tante." Tante Safa menyeletuk.
Audi hanya mampu meringis, menggaruk tengkuk dan berterimakasih. Keduanya pun pergi setelah Audi selesai memanaskan mobil.
"Ibra ada hubungin kamu? Komunikasi kalian masih lancar, kan?" Tante Safa bertanya ketika mereka sudah dalam perjalanan.
Audi menoleh sekilas dan menjawab. "Masih, Tante. Semalam juga kita video call."
__ADS_1
Astaga, apa Audi keceplosan? Harus banget kasih tahu Tante Safa tentang hal itu?
Audi melirik malu, sang tante kini tengah tersenyum-senyum geli. "Gak papa. Wajar, namanya juga pacaran, sebelum bobo pasti harus banget teleponan dulu," ucapnya berpengalaman.
"Tapi kamu harus bersyukur Ibra tak sekaku papinya. Meski pas udah bucin, Papi Ibra gak kalah romantis, sih. Rayuannya maut banget malah, hehe."
Wanita itu tampak mengulum senyum malu, mengingat masa-masa mudanya dulu yang Audi pikir sangat berkesan. Audi turut tersenyum melihat hal tersebut. Apa ia dan Ibra bisa seperti Tante Safa dan Om Edzar kelak? Atau Papa dan Mama Audi yang juga tetap romantis dan harmonis meski tak lagi muda?
Sampai di supermarket, Tante Safa langsung mengajak Audi belanja bahan makanan. Wanita itu juga memberi tahu banyak hal mengenai cara memilih bahan mentah dan hal-hal lain yang belum Audi ketahui soal perdapuran.
"Tante juga dulu sama kayak kamu, payah banget di dapur. Malah sepertinya Tante lebih parah dari kamu. Motong buah aja gak bisa. Duh, jadi malu sendiri ingat masa-masa itu."
"Masa, sih, Tan? Tapi masakan Tante enak banget?" sahut Audi tak percaya.
"Itu sekarang. Tante udah banyak belajar, apalagi dari papinya Ibra. Om kamu itu pinter banget masaknya, Tante sampai malu waktu nikah sama dia karena gak bisa apa-apa banget. Tapi syukurnya A Edzar tipe suami yang gak banyak ngeluh, dia selalu mengayomi dalam segala hal." Safa tersenyum. "Itulah kenapa sampai saat ini Tante cinta banget sama papinya Ibra. Meski kadang nyebelin karena sikapnya terlalu santai bagi kita para perempuan rempong, haha."
"Kamu jangan kaget kalau nanti dibuat kesal sama keleletan Ibra, dia itu nurun sama papinya. Gesit dalam pekerjaan gak berarti mereka juga gesit dalam keseharian. Mereka itu sama-sama suka banyak mikir, tapi anehnya otak mereka tak berjalan secepat saat sedang bekerja," tambah Tante Safa.
Beliau memilih-milih daging dan sayuran di etalase. Audi pun turut memilihkan buah-buahan yang menurutnya bagus.
"Tapi kalau udah cinta, jangan salah, kesetiaan tak perlu ditanya. Mereka juga kadang suka nekat. Jadi, kamu harus hati-hati kalau buat Ibra cemburu."
Audi menoleh pada sang tante. Tante Safa meliriknya penuh arti. Saking penuhnya Audi sampai bingung mengartikan.
"Maaf, ya? Kemarin Tante bilang sama Ibra, kamu pergi jalan-jalan sama pria lain." Tante Safa meringis.
Audi mengerjap linglung. "Apa, Tante?"
"Pasti kamu disuruh Papa kamu kenalan sama cowok itu, ya?"
"Itu ... maksud Tante, Mas Arga?"
"Namanya Arga?"
Audi menggaruk pipinya canggung. "Iya, Mas Arga teman kerja Papa. Papa emang sengaja mau bikin kita dekat, kayaknya. Tapi Tante tenang aja, Mas Arga udah punya pacar, kok, dan dia juga menolak niatan Papa."
Pengakuan Audi sontak membuat Safa merasa lega. Syukurlah, Ibra, sekarang kamu bisa berdinas dengan tenang. Diam - diam ternyata wanita itu merekam percakapan dalam sebuah voice note yang saat ini terkirim pada Ibra.
__ADS_1
Ibra memang tak mengadu macam-macam, Safa hanya terlalu pengertian sebagai ibu dan tak tega membayangkan putranya galau diliputi cemburu. Padahal Ibra sendiri santai-santai saja karena percaya Audi tak akan macam-macam di belakangnya.