Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 46


__ADS_3

Setelah bergulat dengan gengsi dan pemikiran panjang, pada akhirnya Audi menerima ajakan Ibra untuk bertemu. Entah kebetulan atau apa, cuti mereka bersamaan.


Dan karena pertemuan ini Audi mengurungkan niat untuk pergi berlibur bersama timnya, lebih tepatnya mengundur waktu.


Sudah lewat seminggu sejak Audi pulang dari Singapura, selama di Jakarta ia tak bertemu Ibra, ia bersyukur. Namun saat Audi pulang ke Bandung di sanalah mereka bertemu dan sempat beradu pandang di depan rumah. Rupanya Ibra sudah beberapa hari pulang ke rumah orang tuanya.


Audi yang kala itu masih malu mengingat insiden emoticon salah kirim tak mampu menyapa atau bahkan bertegur sapa dengan Ibra. Ia hanya melengos yang membuat Ibra langsung mengechatnya dengan selorohan menyebalkan.


Sialan, Audi seakan mau mengubur wajahnya di selokan. Apalagi melihat Ibra yang senyum-senyum tak jelas, sudah persis orang gila pinggir jalan, atau om-om yang menanti dedek gemes lewat di depannya.


Kembali pada saat ini, setelah berbagai drama akhirnya Ibra berhasil menyeret Audi keluar dari rumah.


Padahal Audi belum mengiyakan ajakan Ibra di chat waktu itu, tapi emang dasar Ibra yang sudah berubah jadi pemaksa, Audi bisa apa ketika Ibra sudah menggaet mama serta papanya sebagai pasukan pendukung.


Entah bagaimana Ibra meminta izin hingga mereka begitu ngotot memaksa Audi healing bersama sang sepupu. Kalau kata papanya biar gak ngenes-ngenes amat jadi jomlo, jalan sama Mbak Tian terus.


Lagipula tempat yang dituju Ibra tak begitu jauh, hanya sebuah destinasi di kawasan Subang, Jawa Barat, tepatnya kecamatan Ciater. Lokasi wisata yang menyajikan berbagai jenis hidangan di restoran, hewan-hewan ternak, serta keindahan taman bunga dan kebun teh.


Lokasinya tebilang sangat strategis karena dekat dengan tempat-tempat wisata lain.


Ibra membelokkan mobilnya memasuki parkiran berbatu. Meski sepanjang jalan Audi hanya banyak diam, akan tetapi Ibra seolah tak peduli dan terus berusaha mengajaknya bicara. Seperti sekarang.


"Mau makan dulu atau langsung lihat-lihat?" tanya Ibra sambil membuka sabuk pengaman.


Pandangannya mengedar seraya mengangguk puas. "Gak salah Mas ambil cuti." Ia lalu menoleh pada Audi yang juga tengah membuka seat belt. "Bagus, kan? Parkirannya aja udah enak gini. Kamu mau foto?"


Ibra menawarkan karena ia tahu Audi senang sekali berpose.


Audi menoleh ke luar jendela yang memang sangat memanjakan mata. Penampakan lereng hijau yang tertata rapi serta kabut pegunungan yang semakin menambah rasa sejuk.

__ADS_1


Audi begitu tergoda mengambil gambar, tapi ia malu plus bingung karena masih dalam mode diam terhadap Ibra. Dalam artian mereka belum sepenuhnya akur.


"Gak usah," cuek Audi. Ia membuka pintu mobil setelah membenarkan letak topi dan jaket yang dikenakan. Audi juga memastikan tali sepatunya terikat benar. Ia tak ingin ada kejadian memalukan seperti keserimpet tali sepatu sendiri.


Ibra hanya tersenyum maklum dan mengikuti Audi turun dari mobil. Ibra senang karena pakaian mereka serasi kali ini, sudah mirip couple pacaran.


Ibra tahu Audi pun sempat kaget tadi. Padahal Ibra memang sengaja menyamakan pakaian mereka. Saat Audi mandi, Ibra sempat menyelinap ke kamar gadis itu dan melihat pakaian yang sudah Audi siapkan di ranjang.


Benar-benar nekat. Oh, jangan salah, kalau masalah mengendap-endap jangan remehkan kemampuan Ibra sebagai prajurit. Ia bahkan bisa mendadak jadi mata-mata tanpa ketahuan kalau bisa.


Setelah urus-urus tiket, Ibra menggandeng Audi untuk mulai berjalan-jalan memasuki kawasan. Mereka sudah seperti pasangan yang sedang kencan. Figur keduanya yang menawan tak jarang membuat orang menoleh dua kali karena mengira mereka artis, atau paling banter influencer dan seleb terkenal.


Tak sepenuhnya salah karena Audi memang salah satunya. Tapi yang membuat imut adalah perbedaan tinggi badan Ibra dan Audi yang terbilang cukup jauh. Lagi dan lagi soal tinggi badan.


Tanpa mereka ketahui banyak yang menjadikan vibes keduanya sebagai status sosial media. Untung Ibra maupun Audi pakai masker, wajah mereka tak begitu terekspos.


Keluar dari parkiran mereka melewati area farm untuk anak-anak, ada juga kaktus dan sukulen, tanaman hias yang bisa kita beli sebagai oleh-oleh.


Ibra mengajak Audi memasuki salah satunya, restoran dengan bentuk segitiga yang berhadapan langsung dengan taman ikonik tempat tersebut.


"Cantik banget, ya?" Ibra menoleh, melempar senyum pada Audi yang hanya mengangguk.


Ia menggiring Audi ke bagian balkon luar, menduduki salah satu meja di sana.


"Pesan apa?" tanya Ibra.


Seorang pelayan mendekat menyodorkan buku menu. "Silakan, Teteh, Aa," ucapnya ramah.


Ibra mengangguk sopan dan mulai melihat-lihat seperti Audi. Ia pun mulai menyebutkan pesanannya. "Nasi goreng kampung, indomie goreng telor, batagor, kwetiau goreng, sama ... nachos aja boleh, deh. Minumnya fresh coconat water."

__ADS_1


Audi sempat melirik lelaki itu karena mendengar pesanannya yang begitu banyak. Si teteh pramusaji sampai kebingungan sebentar. "Ini ... digabung sama si tetehnya?" Ia melihat Audi dan Ibra secara bergantian.


Audi pun turut menatap Ibra yang berlagak santai. "Enggak, itu pesanan saya saja," ujarnya lempeng.


"Oh ... Hehe," ringis pramusaji itu canggung. "Kalau tetehnya mau pesan apa?" ia beralih pada Audi.


Sementara Audi sendiri masih setia mengamati Ibra. Ibra yang ditatap begitu lama kontan mengangkat alis dan mengerti apa arti dari tatapan Audi tersebut.


Ia melempar cengiran. "Mas butuh banyak energi, Sayang. Buat nanti malam."


Celetukan itu mampu membuat beberapa pasang mata pengunjung menoleh ke arah mereka. Bahkan pelayan di samping mereka tak kuasa menahan senyum.


Yang digombali Ibra adalah Audi, tapi kenapa yang malu-malu malah satu restoran? Wah, norak mereka. Belum pernah lihat kemesraan publik, ya?


Ibra juga. Apa-apaan, sih, dia panggil-panggil sayang? Apa pula buat nanti malam? Bikin orang salah paham aja.


Audi berdehem kaku. Ia mulai memilih menu dan menyebutkan pesanan. Tentu saja tak sebanyak Ibra. "Dimsum spesial sama jus jeruk aja."


"Baik, ditunggu ya, Teteh, Aa ..."


Audi mengangguk kecil. Sepeninggal pelayan suasana di antara mereka kembali hening, namun Audi merasa Ibra terus menatapnya. Hal yang membuat Audi membuang pandangan berlagak melihat sekitar.


Bukan main indahnya, vibes di bawah balkon pun tak kalah menakjubkan. Hingga Audi dikejutkan oleh suara jepretan kamera yang berasal dari Ibra.


Lelaki itu tersenyum sambil mengangkat ponsel dengan kamera mengarah pada Audi.


"Mas Ibra apaan, sih? Mas foto aku, ya?"


Tanpa rasa bersalah Ibra hanya cengengesan. Entah kenapa hari ini pria itu banyak sekali tersenyum.

__ADS_1


"Cantik, Cla. Sayang kalau gak diabadikan."


Mungkin Audi mengira pemandangannya yang cantik, tapi cantik yang dimaksud Ibra justru Audi sendiri.


__ADS_2