Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 51


__ADS_3

Ibra kembali saat Kenan tertidur. Dia membawa satu kantung kresek makanan ringan, katanya untuk siapa saja yang menemai Kenan di ruangan. Melihat sebentar pada Kenan yang terlelap, ia menoleh pada Audi dan Shireen.


"Kalian mau sarapan? Gak papa keluar aja, Kenan biar saya yang tungguin," ucapnya pada dua wanita itu.


Namun Shireen menggeleng halus. "Mas aja sama Audi sana. Aku aja yang di sini. Sebentar lagi pasti ada perawat yang cek."


"Justru itu, biar saya yang tunggu di sini, saya juga mau tahu keadaan Kenan."


"Gak perlu. Mas Ibra makan aja."


Ibra hendak kembali membantah, tapi kemudian ia dikejutkan dengan pergerakan Audi yang tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah pintu. Sontak Ibra maupun Shireen menoleh melihat gadis itu.


"Kamu mau ke mana?"


Audi berdecak, ia menjawab tanpa menoleh. "Makan, kan?" ucapnya kemudian menutup pintu.


Ibra dan Shireen terdiam sesaat, keduanya seolah merasakan suasana hati Audi yang sedang tidak baik. Ibra lalu menoleh lagi pada Shireen. "Ya sudah, saya keluar, ya?" ujarnya canggung. Padahal tadi ia ngotot di sini.


"Eh, iya. Gak papa Mas pergi aja."


Ibra mengangguk disertai senyum tipis, ia lalu keluar menyusul Audi yang sudah hilang dari pandangan.


Audi berjalan cepat dengan raut datar, ia memasuki lift dan menekan tombol lantai bawah. Sebelum pintu lift itu menutup, Ibra berhasil menahannya hingga ia pun ikut masuk bersama Audi.


Ibra menoleh memperhatikan Audi yang sejak tadi membisu. Ia pun mendekat berusaha merangkul gadis itu dengan satu tangannya. "Kamu kenapa?" tanya Ibra halus.


"Gak papa." Audi menjawab pendek.


Ibra diam, ia tahu Audi tengah berbohong. Raut gadis itu tak bisa disembunyikan.


"Kamu marah sama Mas?"


Audi menggeleng.


"Tapi kayaknya kamu marah sama Mas," kekeh Ibra.


"Enggak! Kubilang enggak ya enggak!" bentak Audi tanpa sadar. Nafasnya terengah pelan saat membuang muka. "Udahlah, aku capek. Mas Ibra kenapa ikut aku?"


Dengan gerakan pelan Audi melepaskan diri dari rangkulan Ibra. Ibra yang tak ingin memaksa pun dengan berat hati menjauhkan tangannya. "Makan sama kamu."

__ADS_1


"Bukannya tadi mau nungguin Kenan?"


Entah hanya perasaan Ibra atau suara Audi memang terdengar kesal?


Ibra mengerti mood Audi sedang tidak baik, meski ia sendiri tak yakin penyebabnya apa. Ibra hanya bisa kembali mendekat meraih sisi wajah Audi agar mau menatapnya. "Mas gak mungkin biarin kamu makan sendiri. Udah, jangan berpikir macam-macam, sekarang kita cari makan aja. Kamu mau makan apa?"


Audi kembali membuang muka. Ia enggan menjawab dan lekas berjalan mendahului Ibra ketika pintu lift terbuka. Lagi dan lagi Ibra mengejar Audi. Meski sebenarnya ia tak perlu berlari menyusul langkah Audi yang terbilang pendek meski gadis itu berjalan cepat.


"Cla," panggil Ibra sambil menyamakan langkah. "Hey, kamu kenapa, sih? Jalannya pelan-pelan, Sayang, nanti kesandung."


"Claudia!"


Audi berhenti. Ia berbalik menatap Ibra tak percaya. "Mas barusan bentak aku?"


Kontan Ibra menggeleng cepat. "Enggak, Sayang."


"Jelas-jelas Mas Ibra barusan bentak aku!"


"Cla," mohon Ibra. Ia berusaha mendekat meraih Audi yang langsung mundur menghindarinya. "Oke, Mas minta maaf kalau terdengar membentak."


Padahal Ibra hanya meninggikan sedikit suara karena takut Audi tak cukup mendengarnya. Siapa kira Audi akan salah paham seperti sekarang.


"Gak usah bilang-bilang Sayang. Lupa kalau kita tuh gak ada hubungan apa-apa?" sindir Audi.


"Cla?"


Audi berbalik dan melanjutkan langkahnya, kali ini lebih cepat sampai-sampai Ibra tertinggal, terlebih pria itu malah mematung di tempat.


Barulah ketika suara klakson berdenging Ibra pun berkedip dan lekas menyusul Audi yang saat itu sudah sampai dipinggir jalan. Ibra menarik cepat gadis itu lantaran ada motor yang melintas cepat.


Ibra mau marah, tapi ia malah mendapati Audi yang terisak di pelukannya. Gadis itu membenamkan wajahnya di dada Ibra.


Lama mereka terdiam seperti itu. Ibra memeluk dan mengusap punggung serta rambut Audi halus. Ketika dirasa tangisan Audi mulai mereda, Ibra pun bertanya pelan. "Ada apa? Sejak tadi kamu aneh banget."


"Coba bilang sama Mas, kamu ada masalah apa? Apa yang bikin kamu nangis? Atau siapa yang udah bikin kamu kayak gini?"


Sesaat Audi terdiam. Ia sesenggukan sambil menutup wajah dengan kedua tangan. "Mas Ibra, apa aku emang penyebab Mas sama Mba Shireen berpisah?" tanyanya tak terduga.


Kali ini Ibra yang terdiam. Keningnya berkerut dalam mendengar pertanyaan Audi. Apa ada yang tidak Ibra ketahui saat pergi tadi? Atau mungkin Audi dan Shireen terlibat pembicaraan sesuatu? Kenapa Audi bisa tiba-tiba bertanya seperti itu?

__ADS_1


"Apa maksud kamu? Kamu kan tahu Mas dan Shireen berpisah karena kontrak kami sudah berakhir?"


"Kamu sebenarnya kenapa? Hm?" Ibra meraih wajah Audi dan menatapnya dalam.


Audi masih terseguk dengan mata memerah. Ia balas menatap Ibra dengan perasaan lelah. "Kita sekarang pacaran, kan?" celetuknya.


"Apa?"


"Iihhh Mas Ibra jawab! Sekarang kita pacaran, kan? Hiks ..." rengek Audi menggasak matanya pelan.


Sementara Ibra bengong di tempat. Ia berkedip lamat setengah bingung.


"Ya kalau kamu maunya begitu, ya udah iya, kita pacaran. Meski sebenarnya Mas geli dengar kata itu. Ketimbang pacaran, Mas sebenarnya lebih senang bawa kamu langsung ke pengajuan, itupun kalau kamu memang bersedia jadi pendamping Mas."


"Ya udah kita pacaran aja," cetus Audi parau.


"Gak mau langsung nikah aja?"


Audi merengut, sementara Ibra terkekeh mengacak rambut gadis itu. "Ya udah, iya kita pacaran. Mas akan tunggu sampai kamu siap aja."


Audi tersenyum. "Beneran?"


"Iya," angguk Ibra disertai senyum.


Senyum Ibra semakin lebar ketika Audi melemparkan diri memeluk tubuhnya. Audi diam-diam tersenyum penuh siasat. Dalam hati ia meminta maaf pada Kenan maupun Shireen yang mungkin saja masih mengharapkan Ibra menjadi milik mereka.


Karena setelah ini, Audi akan benar-benar memperjuangkan haknya sebagai seseorang yang sudah lama menanti cinta Ibra.


"Udah gak marah?" tanya Ibra.


Audi hanya menjawab dengan gelengan. Ia semakin erat memeluk Ibra seolah takut kehilangan.


"Jadi kamu marah karena ini? Karena kita belum resmi pacaran?" Telinga Ibra serasa digelitiki, ia merasa kembali remaja mendengar kata pacaran, terlebih itu dari mulutnya sendiri.


"Gak enak aja Mas Ibra sering panggil aku Sayang, padahal kita cuma sepupuan."


Ibra tersenyum, mereka masih berpelukan damai di pinggir jalan. Tanpa Ibra dan Audi sadari, Shireen yang tadinya hendak menyusul mendadak berhenti dan mematung melihat keduanya.


Benar, ia sudah memperhatikan mereka sejak lama, bahkan mendengar semua pembicaraan yang entah kenapa terasa menyesakkan baginya.

__ADS_1


__ADS_2