Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 124


__ADS_3

"Kamu mau konsep yang bagaimana?" tanya Ibra yang kini tengah membuka-buka album wedding organizer.


Di sampingnya, Audi turut mengamati dan melihat berbagai desain di sana. "Aku, sih, terserah Mas Ibra."


Sontak Ibra menoleh tak setuju. "Kok Mas, sih? Kita kan nikahnya sama-sama. Harusnya Mas yang ikut maunya kamu. Laki-laki kan asal siap dana."


Pernyataan Ibra membuat Audi mengernyit kesal. "Jadi asal Mas udah sumbang dana, terus bisa lepas tangan gitu aja? Seperti yang Mas Ibra bilang barusan, kita nikahnya sama-sama, jadi pilih konsep pun harus sama-sama. Enak aja asal siap dana mau diam aja. Kalau soal dana aku juga bisa bayarin sendiri," ketusnya sambil menyentak buku tabloid di tangan Ibra.


Audi bangkit dan beranjak dari ruang pertemuan mereka. Pihak WO sampai kelimpungan sendiri karena calon pasangan pengantin itu malah bertengkar. Ibra segera berdiri mengejar Audi yang berjalan cepat keluar.


"Cla!"


"Cla, tunggu dulu! Jangan ngambek, dong!"


"Sayang! Maaf! Bukan maksud Mas gitu! Hey!" Ibra berhasil menangkap lengan Audi hingga gadis itu berhenti dan berbalik ke arahnya.


"Cla, maksud Mas bukan seperti itu. Maaf, ya?" bujuk Ibra lembut.


Audi masih merengut enggan menyahut. Hal itu membuat Ibra semakin dilanda kebingungan. Ibra meraih kedua tangan Audi untuk ia genggam, rautnya nampak serius memandang Audi. Untuk mengatasi kemarahan wanita memang perlu memutar otak lebih dalam.


"Mas gak bermaksud bicara seperti tadi. Maksud Mas, Mas mau kita saling berdiskusi, menyuarakan pendapat satu sama lain. Kalau kita memutuskan dari sebelah pihak, takutnya ada hal yang membuat tidak puas. Mas mau pernikahan kita sempurna sesuai impian kamu. Di sini Mas laki-laki yang bertanggung jawab menyenangkan wanitanya, jadi sebisa mungkin Mas harus mewujudkan keinginan kamu, bukan kamu yang ikut maunya Mas."


"Mengerti? Kita sama-sama bertukar pikiran, ya? Mas tentu tidak akan diam dan duduk ongkang-ongkang kaki saja yang tinggal terima beres. Mas akan ikut merancang pernikahan kita sebaik mungkin, dan tentunya bareng kamu."


Ibra mengulas senyum menyentuh sisi kepala Audi yang terbalut hijab pashmina. "Jangan marah lagi, ya? Mas minta maaf kalau kamu tersinggung dengan ucapan Mas. Mas sedikit lelah hari ini, sekali lagi maaf karena berimbas sama kamu."


Raut Audi perlahan luluh. Ia mengangguk. "Ya udah, jangan gitu lagi. Nyebelin, tau."


Ibra terkekeh seraya mengangguk. "Iya, Mas harus melatih lagi pengendalian emosi dalam diri Mas. Makasih, ya, Sayang?"


"Hum," guman Audi masih dengan bibir yang sedikit mengerucut.


Ingin rasanya Ibra mengecup bibir itu. Tapi, ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk menjaga Audi dari segi apa pun, termasuk nafsu lelakinya yang kadang muncul.


"Balik ke dalam, yuk?" ajak Ibra. Kali ini Audi bersedia mengikuti lelaki itu yang menggandeng tangannya kembali ke ruangan.

__ADS_1


Usai pertengkaran kecil tadi, kini keduanya saling berdiskusi mengenai konsep pernikahan mereka ke depannya.


Sepulang dari WO, Ibra mengajak Audi ke salah satu toko perhiasan terkenal. Katanya, Ibra mau Audi memilih sendiri desain cincin nikah serta mas kawin yang akan diterimanya saat menikah. Audi tentu senang, meski ia pun percaya pilihan Ibra tak akan mengecewakan karena lelaki itu tahu seleranya bagaimana.


Setidaknya Ibra menghargai Audi sebagai calon istri.


"Yang ini kayaknya bagus. Ya gak, Mas?" Audi menoleh pada Ibra. Ibra turut melihat kalung yang ditunjuk Audi. Ia pun mengamati itu dan mengangguk pelan. "Bagus. Kamu suka itu?"


Audi mengangguk sembari tersenyum. "Suka."


"Ya udah, ambil itu. Sama ini, ya." Ibra tiba-tiba menyodorkan gelang yang dipegangnya sedari tadi.


Audi mengernyit. "Lho, gelang kan udah?"


"Ya gak papa, ini juga," sahut Ibra santai.


"Whoaaa ..."


Tak lama seorang pria yang merupakan owner toko tersebut menghampiri mereka. Rupanya ia teman Om Edzar yang sebelumnya sempat dihubungi Ibra bahwa ia akan kemari dan butuh bantuannya.


Ibra dan Audi disambut hangat olehnya. Adalah Hartadji Gautama, perancang perhiasan terkenal yang namanya sudah santer sejak puluhan tahun lamanya.


"Selamat datang, Ibrahim! Wah, makin besar aja kamu sekarang. Dulu terakhir Om ketemu pas kamu lulus SMA, ya? Sebelum masuk Akmil?"


Ibra tertawa renyah menyambut rangkulan serta uluran tangan Hartadji. "Iya, Om. Apa kabar?"


"Alhamdulillah, baik dan sehat. Kamu dan keluarga gimana? Papi dan Mami kamu semuanya baik?"


"Alhamdulillah, Ibra sehat, keluarga juga sehat, begitu pula Papi dan Mami."


"Syukur alhamdulilah ..." Hartadji melepas pelukan sesaatnya, lalu beralih melihat Audi yang mengangguk serta tersenyum segan di samping Ibra. "Ini ..." Tangannya menunjuk Audi. Kedua alisnya terangkat jenaka. "Calon, ya?"


Ibra terkekeh, menggandeng Audi untuk mendekatinya. "Insya Allah, Om."


"Masya Allah ... Alhamdulillah. Semoga kali ini langgeng, ya? Maaf, di pernikahan kamu yang dulu Om gak sempat datang karena lagi di luar negeri." Hartadji memang termasuk tahu status Ibra yang seorang duda. Meski begitu ia tak lantas memandang putra temannya itu sebelah mata, karena dalam setiap pilihan pasti ada alasannya.

__ADS_1


Ibra mengangguk disertai senyum. "Aamiin ... makasih, Om. Gak apa-apa, yang penting amplop Om tetap sampe," balasnya dengan sedikit candaan.


Hartadji tertawa renyah menggeleng-geleng. "Namanya siapa? Kayak gak asing, ya, calon istri kamu ini?"


Mata Hartadji mengamati Audi dengan sopan, namun Audi tetap saja canggung.


Ibra tersenyum dan kembali menjawab. "Ini Claudia, Om, putri Uwa Dava yang rumahnya depan rumah Papi. Om ingat?"


Hartadji tampak mengingat-ingat, matanya kemudian sedikit membelalak. "Davandra Halim, abangnya Mami kamu, kan?"


Ibra mengangguk. "Betul."


"Masya Allah ... sama sepupu berarti?"


Sekali lagi Ibra mengangguk membenarkan. Sementara Hartadji sendiri menggeleng tak percaya. "Allah memang selalu berencana lain, ya. Sejauh apa pun melangkah, tahu - tahu jodoh kamu malah depan rumah. Hahaha ..."


Ibra turut tertawa, begitu pula Audi.


"Tapi wajah Claudia ini juga gak asing di mata Om. Berasa pernah lihat di TV atau di mana gitu, ya? Kamu sebelumnya pernah jadi model?"


Raut Audi sedikit gugup mendengar pertanyaan itu. "Iya, Om. Dulu pernah jadi model di beberapa iklan."


Ibra tersenyum, mengusap halus punggung tangan Audi yang ia genggam. "Mantan selebgram nih, Om. Youtuber juga. Mustahil Om gak kenal."


Audi mencubit pinggang Ibra. Tentu saja Hartadji tidak kenal, circle mereka berbeda jauh.


"Ooh ..." Hartadji mengangguk-angguk. "Claudia Halim. Om ingat yang waktu itu kecelakaan di Salatiga. Benar, kan?"


Suasana mendadak canggung, lebih tepatnya Audi yang enggan mengingat kembali masa-masa kelam itu. Ibra yang mengerti suasana hati kekasihnya, berusaha mencairkan situasi yang berangsur tegang.


"Iya, Om. Alhamdulillah, semuanya sudah berlalu. Oya, ini kita mau bicara soal cincin nikah. Om senggang gak sekarang?" tanya Ibra.


Hartadji menoleh pada pemuda itu dan lantas mengangguk. "Masya Allah, Om hampir lupa kamu ke sini mau apa. Ya udah, ayo ke dalam aja. Nanti tim kami akan membantu kalian memilih modelnya. Mari?"


Ibra mengangguk. Ia menarik tangan Audi untuk segera mengikuti Hartadji guna memilih cincin mereka.

__ADS_1


__ADS_2