
Seminggu berlalu, tak terasa akhir bulan nanti sudah memasuki bulan Ramadhan. Ibra masih kesulitan mengambil hati Audi agar mau kembali padanya, kendati Ibra sudah memberitahu gadis itu perihal masalahnya dengan Shireen dan Kenan yang bisa dibilang hampir usai.
Audi masih kekeh mendiamkan semua pesan serta telpon darinya. Hal ini membuat Ibra semakin dilanda galau di perantauan. Ibra hanya bisa lega ketika maminya memberi kabar tentang Audi, juga mengirimkan foto-foto gadis itu dalam beberapa kesempatan.
Safana Halim sudah seperti penguntit karena putranya. Lucu, padahal Ibra tak pernah minta maminya macam-macam. Ia hanya mewanti seandainya sesuatu terjadi pada Claudia, wanita itu wajib memberitahunya.
Memang dasar sifat sang mami yang agak berlebihan, sampai-sampai Audi terlihat di jendela kamar pun ia foto dengan cara zoom in. Benar-benar membuat Ibra geleng kepala, kalau maminya mau, dia bisa saja jadi paparazi.
Hari ini Ibra tengah bertugas di Makassar, entah kapan ia bisa menyempatkan diri ke Bandung. Ibra memang terbilang jarang sekali pulang, ia bisa hanya pulang setahun sekali saat lebaran.
Malam hampir dini hari Ibra baru bisa santai di unit hotelnya. Ia sekamar bertiga dengan rekan lainnya. Kesempatan itu Ibra manfaatkan untuk mengecek ponsel, berharap setidaknya ada satu pesan balasan dari Audi.
Kosong, hanya ada chat lain yang kian hari kian menimbun laman percakapannya bersama gadis itu. Sepertinya jalan satu-satunya Ibra harus pulang untuk memperbaiki hubungan mereka.
Terlebih akhir-akhir ini Ibra merasa sedikit terganggu dengan pemberitaan yang menyebar di sosial media, tentang Audi yang seringkali dikaitkan dengan beberapa pria. Ibra risih tentu saja. Meski ia percaya Audi tak akan berbuat curang di tengah hubungan mereka yang meski saat ini sedang kacau balau. Dan Ibra masih saja cemburu melihat kedekatan Gavin dan Audi. Meski Audi pernah bilang bahwa ia dan Gavin murni hanya berteman.
Bagi Ibra mustahil pria dan wanita bisa berteman tanpa melibatkan perasaan, kecuali pertemanan yang sekedar formalitas. Tapi Audi, menurut Ibra, gadis itu terlalu dekat dengan Gavin.
"Bra, kamar mandi kosong, tuh. Bukannya tadi ngeburu-buru?" ujar salah satu rekan Ibra yang berhasil memecah lamunan pria itu.
Ibra menoleh sekaligus mematikan ponsel. Mendadak rasa kebelet hilang beberapa saat lalu. Meski begitu ia tetap mengangguk. "Oke."
Ibra pun berlalu ke kamar mandi dan memulai rutinitasnya sebelum tidur. Ia membersihkan diri lalu mengambil air wudhu, kebetulan Ibra belum sempat menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Selepas itu Ibra gegas menaiki ranjang, ia sempat menoleh ranjang teman-temannya, di mana mereka sudah tertidur pulas bahkan mendengkur. Ibra mengambil kembali ponselnya dan mengirim pesan pada Audi.
"Cla, Mas mau video call sebentar, boleh gak?" tulisnya di atas layar.
Tanpa diduga pesannya langsung terbaca, namun hampir lima menit berlalu tak kunjung ada balasan. Ibra sudah menyerah seandainya Audi menolak, akan tetapi beberapa detik kemudian nama gadis itu mengambang di layar ponsel Ibra.
Dengan perasaan tak karuan dan jantung dag-dig-dug serta badan yang mendadak panas dingin, Ibra cepat-cepat menggeser tombol video hingga tak lama wajah Audi yang sangat Ibra rindukan terpampang di layar ponselnya.
Tak apa meski raut gadis itu terlihat datar dan masih tak bersahabat. Persetan dengan semua itu, di tengah permasalahan mereka yang rumit Ibra sudah cukup puas memandang wajah Audi.
"I miss you so much," bisik Ibra haru.
__ADS_1
Audi tak menyahut, ia hanya memandang Ibra dengan tatapan malas lalu sesekali membuang muka.
"Belum tidur? Mas ganggu kamu gak?" Ibra masih mempertahankan suaranya yang pelan.
Audi yang masih terlihat marah enggan menjawab. Gadis itu setia bungkam tanpa menghiraukan Ibra yang sejujurnya sudah sangat mengantuk. Raut lelah tak bisa Ibra sembunyikan, lingkar hitam di bawah mata seakan sudah menjadi teman tak terpisahkan.
Alih-alih kesal dicueki Audi, Ibra justru tersenyum hangat. "Kamu baru makan malam? Jam segini?"
Ibra bertanya begitu karena tahu persis backround di belakang Audi merupakan penampakan dapur dan ruang makan rumah Uwa Dava.
Terlihat pula Audi menyeruput mie instan yang tampaknya masih mengepul.
"Emang gak ada makanan sisa makan malam? Kok kamu makan mie?"
Setelah sekian lama akhirnya Audi bersedia membuka suara, meskipun terdengar ketus. "Aku bisanya bikin mie dan goreng nugget."
"Kenapa gak pesan aja, sih? Jam segini masih ada kali resto yang buka. Nanti sakit perut, itu kamu juga kayaknya pakai rawit."
"Cerewet banget, sih. Suka-suka aku lah," sewot Audi.
"Bentar lagi Ramadhan. Kamu masih punya hutang puasa gak?" Ibra memilih bertanya hal lain.
"Banyak," jawab Audi cuek.
"Berapa lagi?"
"Lima belas."
Ibra terbengong. "Setengah bulan?"
Audi hanya mengendik.
"Kamu bocor selama itu kenapa? Datang bulan?"
"Mas cerewet, ih! Aku lagi makan jadi enek!"
__ADS_1
"Maaf," ujar Ibra menyerah.
Ia diam sampai Audi menandaskan isi mangkok beserta kuah yang tersisa. Gadis itu juga mengunyah rakus nugget goreng yang entah ada berapa biji karena Ibra lihat tak habis-habis.
Audi bersendawa keras setelah minum, hebatnya ia masih bisa menelan sisa nugget yang Ibra hitung ada sepuluh biji terakhir.
Audi bersandar kekenyangan di kursi makan. Sementara itu, lambat laun rasa kantuk Ibra semakin mendera, hingga tanpa sadar ia berkali-kali terpejam dan kemudian terlonjak sadar, terlebih ketika Audi berniat menutup panggilan.
"Udahan, ah, mau ke kamar," cetus Audi sambil mengulurkan tangan, bermaksud mengambil ponsel yang ia sandarkan di meja.
Kontan Ibra berseru pelan. "Jangan! Jangan dulu."
"Lha, kenapa?"
"Mas masih mau lihat wajah kamu dan dengar suara kamu."
Kalimat Ibra sudah seperti para don juan yang tengah berupaya merayu wanita. Tapi yang terlihat malah Ibra yang setengah tak sadar mengatakan itu karena menahan kantuk.
Audi jadi risih sendiri melihatnya. "Mas Ibra tidur, deh. Itu muka udah kayak lampu mau padam."
Mendengar saura ketus Audi, Ibra pun terkekeh lirih. "Bisa aja kamu," balasnya seolah Audi sedang menggoda.
"Yeee ... emang bener, kok."
Ibra membuka mata dan tersenyum. "Makasih perhatiannya."
"Idih, siapa juga yang lagi perhatiin situ? Risih aja liat orang nahan kantuk."
"Iya iya terserah kamu."
"Gak waras," dumel Audi sepelan mungkin.
Namun ternyata indera pendengaran Ibra sangat peka. Ia menyahut dengan santai sebelum benar-benar terlelap meninggalkan Audi dalam keheningan.
"Iya, Mas udah gak waras karena kamu."
__ADS_1