Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 71


__ADS_3

"Cla, bangun. Udah sampai." Samar-samar suara Ibra terdengar di telinga Audi.


Audi menggeliat dan mengerjap pelan. "Eeungh ... Kenapa, Mas?" lenguhnya, belum sepenuhnya sadar.


"Udah sampai," ucap Ibra, memberitahu lagi.


"Sampai mana?" Audi masih berkutat dengan rasa kantuknya.


"Sampai rumah. Kamu mau turun sendiri atau Mas gendong?"


"Gendoooong ..." pinta Audi manja. Matanya masih rapat terpejam, namun kedua tangannya terulur berusaha meraih Ibra.


Ibra menurunkan dua tangan Audi yang melambai - lambai di depan wajah. "Bentar," ucapnya, kemudian membuka sabuk pengaman lalu turun.


Ibra membuka pintu di sebelah Audi, melepas seat belt gadis itu sebelum mengangkat tubuhnya keluar mobil.


Audi bergelung semakin merangsek di pelukan Ibra. Wangi tubuh lelaki itu sungguh membuatnya nyaman. Ia tak peduli lagi Ibra akan membawanya ke mana, karena sejurus kemudian kesadaran kembali terenggut, membuat Audi benar-benar terpejam bahkan mendengkur lembut.


Sementara di sisi lain, Jeno yang baru saja selesai mengetik tugas tiba-tiba dikejutkan dengan bel rumah yang berbunyi. Ia mengernyit sambil melirik jam.


"Orang gila mana yang bertamu jam sebelas lebih?" decaknya seraya bangkit dari kursi belajar.


Jeno mendekat ke arah jendela kamar dan menengok siapa yang datang. Dahinya semakin berkerut melihat mobil Ibra terparkir di bawah, tepatnya di luar gerbang.


Ia buru-buru turun karena mengira itu sang kakak yang ia tahu memakai mobil Ibra. Saat membuka gerbang, memang benar itu Audi, tapi di gendongan Ibra itu sendiri. Lho?


"Mas Ibra? Mba Audi?" Mata Jeno turun pada Audi yang tertidur pulas, bersandar nyaman di dada sang sepupu.


"Bukain, Jen. Mba kamu pules banget tidurnya. Dia gak mau jalan," ucap Ibra, menahan Jeno yang seperti ingin bertanya-tanya.

__ADS_1


Pemuda itu lekas menyingkir, membiarkan Ibra masuk membawa Audi ke kamarnya. Jeno tak berhenti mengekor di belakang seperti anak ayam. Ia bahkan diam saja saat mengamati Ibra yang begitu hati-hati menurunkan Audi di ranjang. Tak hanya itu, Ibra juga menyelimuti Audi dan memastikan perempuan itu terlelap dengan damai sebelum ia tinggal.


Ibra mengusap kening Audi, mengambil remot AC dan mengatur suhu senyaman mungkin. Ia lalu berbalik keluar yang lagi-lagi diikuti Jeno. Mereka menuruni tangga bersama.


"Kemarin Mba Audi nginap di rumah sebelah," tutur Jeno membuka suara.


Ibra berhenti sejenak untuk menoleh ke belakang, membalas tatapan Jeno yang ia tahu sejak tadi memperhatikannya. "Iya, rumah Papi memang baru dibersihkan lagi kemarin, mungkin Mba kamu memang mau tinggal lebih nyaman saja," ujarnya menjawab pertanyaan Jeno.


Jeno mengangguk pelan, mengikuti Ibra yang sudah lanjut lagi menuruni tangga. "Kirain benar karena di sini ada hantunya," celetuk Jeno.


Ibra terkekeh geli. "Mba kamu kasih alasan gitu?"


"Hm," sahut Jeno bergumam.


"Apa dugaanku benar?" tanya Jeno tiba-tiba.


"Kalian ada hubungan spesial?" lanjut Jeno.


Ibra mengangkat alis.


"Aku tahu kalian memang sangat dekat sejak dulu. Bukan hal aneh juga Mas Ibra perhatian sama Mba Audi. Tapi, bukannya beberapa tahun ini hubungan kalian gak baik? Gak mungkin hubungan yang tadinya dingin tiba-tiba berubah hangat lagi. Kecuali kalau kalian memang sudah saling menyelesaikan permasalahan masing-masing. Meski aku kurang begitu yakin masalah di antara kalian apa. Tapi sepertinya sekarang aku mulai paham. Apa yang kupikirkan ini benar?"


"Apa?" balas Ibra tenang.


"Kalian diam-diam pacaran, kan?"


Hening. Ibra dan Jeno saling menatap lekat. Jeno mengamati Ibra yang selalu bersikap tenang dalam kondisi apa pun. Sementara Ibra mengambil dan membuang nafasnya samar sebelum menjawab.


"Kalau iya ... Apa kamu akan menganggap kami aneh?" ucap Ibra balik bertanya.

__ADS_1


Lagi-lagi senyap. Butuh waktu beberapa saat untuk kemudian Jeno buka suara. "Jadi benar kalian pacaran," gumamnya tak berniat bertanya. "Apa perkiraanku ini juga benar, kalian sudah saling menyimpan rasa sejak lama?"


Jeno menatap tepat di mata Ibra. "Karena aku berkali-kali mendapati kejanggalan di antara kalian berdua. Seperti Mas Ibra yang sering sekali menatap Mba Audi dengan pandangan kagum. Saat itu aku sudah sadar, bahwa itu bukan tatapan seorang kakak pada adik, melainkan pria pada lawan jenis."


"Benar kan, Mas? Mas Ibra sudah suka Mba Audi sejak dulu?" lanjut Jeno memastikan.


Raut Ibra terlihat rumit. Sudut bibirnya berkedut kecil menanggapi pertanyaan-pertanyaan Jeno. Ternyata anak itu sudah sadar sejak dulu. Ini antara Jeno yang terlalu pintar atau Ibra yang kurang pandai menyembunyikan perasaan.


"Iya," aku Ibra jujur. "Dan sekarang kami pacaran."


"Sejak kapan?"


Ibra sedikit mengingat. "Belum lama. Baru sebulanan lebih mungkin."


"Ohh," angguk Jeno mengerti.


Ibra memandang pemuda itu hangat, sorotnya teduh saat tersenyum. "Sekarang kamu udah tahu. Jangan kamu cecar juga mba mu. Tadi aja dia sempat panik karena ketemu kamu," ucapnya, menepuk bahu Jeno pelan.


"Ya sudah, Mas pulang. Jaga mba mu baik- baik."


Ibra lanjut berjalan, namun kemudian ia berbalik lagi. "Oh ya, bilang sama Mba Audi mobilnya Mas bawa."


Jeno mengangguk. "Mas Ibra gak tidur di sini aja? Atau di rumah Om Edzar, gitu?"


Ibra menggeleng. "Agak jauh jarak ke Mako. Mas bisa aja kesiangan."


Jeno kembali mengangguk mengerti. Ia mengikuti Ibra keluar rumah dan mengamati pria itu memasuki mobil. Ibra membunyikan klakson sebelum membawa mobilnya pergi. Jeno pun menutup dan mengunci gerbang sebelum berbalik memasuki rumah.


Ia menggeleng-geleng sambil bergumam. "Entah apa aku harus kasih tahu Mama soal ini."

__ADS_1


__ADS_2