
Seminggu sudah Audi menjalani Ramadhan, kini ia sudah kembali pada aktifitasnya sebagai model dan youtuber. Di luar syuting dan photo shoot yang memang dilakukan siang hari, syuting untuk konten YouTube sendiri sepakat dijadwalkan malam hari, tepatnya usai waktu tarawih.
Audi menjalani harinya seperti biasa. Meski kerap menanggung rindu terhadap Ibra, hal tersebut masih bisa teratasi dengan panggilan telepon, video, maupun chat.
Kendati Audi tak bisa berharap lebih lantaran jadwal Ibra yang kerap kali padat setiap harinya. Hebatnya Ibra masih memenuhi permintaan Audi yang menyuruhnya memberi chat minimal 5 kali dalam sehari.
Tentu Audi juga melakukan hal yang sama, malah ia yang lebih sering mengirim pesan pada Ibra. Kalau telepon, Audi tak berani memulai duluan karena takut mengganggu. Jadi ia harus puas hanya dengan menunggu Ibra yang memanggil duluan.
"Mas Ibra tarawih?" Audi bertanya sambil menyeruput mie kuah dalam cup. Ia juga menggigit sosis yang dijadikannya teman nyemil malam ini.
Ibra tersenyum menatap kekasihnya. "Tarawih barusan, nemenin Pak Pres sama yang lain. Kamu lagi apa?"
Audi menunjukkan sumpitnya yang sudah tergulung mie dan sosis. "Nyemil," cetusnya sebelum melahap makanan instan tersebut. "Mas Ibra lagi tugas di mana?"
"Deket, kok, masih sekitaran Jakarta. Itu kamu ngemie sambil nonton pasti," tebak Ibra.
"Heem. Tapi aku pause dulu karena Mas Ibra ngajak VC. Dan sekarang aku nontonnya muka Mas Ibra."
Ibra terkekeh pelan. "Lihat kamu makan mie, Mas jadi pengen. Pengen disuapin."
"Ya udah sini."
"Perasaan isinya banyak banget, Cla?" Jujur saja sedari tadi Ibra bertanya-tanya melihat isi cup di tangan Audi yang sangat penuh. Yang Ibra ingat porsinya tidak sebanyak itu kalau makan.
"Ini dua porsi aku jadiin satu. Ditambah bakso kecil, sosis, odeng, sama keju juga," celetuk Audi, menjawab keheranan Ibra.
__ADS_1
Sesaat itu pula Ibra berdecak. Pantas saja porsinya jadi sebanyak itu.
"Emang kamu belum makan pas buka puasa tadi?"
"Nasi belum, cuman takjil sama nyicip sepiring lauk."
Dengusan kecil terdengar dari mulut Ibra. "Sepiring namanya bukan nyicip, itu udah kemasuk makan."
Namun Audi hanya mengendik dan menyeruput kembali mie serta kuahnya dengan khusu.
"Mas balik dinas dulu, udah selesai istirahat."
Audi mendongak. "Baru juga lima menit?"
Ibra tersenyum. "Ya mau gimana lagi, Cla? Udah syukur hari ini Mas bisa hubungi kamu lewat panggilan video begini, belum tentu besok masih bisa."
Ibra tak tahu lagi harus menyalurkan rasa gemasnya pada Audi dengan cara apa. Gadis itu benar-benar membuatnya geregetan dengan sikap tak acuhnya yang terkesan manja.
"Mas tutup, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," sahut Audi.
Usai video call keduanya kembali termakan jarak. Ibra dan rekannya kembli ke lokasi di mana presiden berada, sementara Audi lanjut makan dan nonton drama Korea.
Jarang-jarang Audi memiliki waktu penuh untuk me time. Sekalinya dapat Audi sudah berencana maraton film dan drama yang sudah lama ia catat dalam list. Miris, disaat orang lain nonton tak lama dari waktu peluncuran, Audi hanya bisa nonton belakangan.
__ADS_1
Keesokan harinya, Audi ada job yang mengharuskannya pergi ke luar kota. Padahal selama Ramadhan, Audi berharap kegiatan yang ringan-ringan saja. Tapi mau bagaimana lagi, tawaran besar seperti iklan produk televisi sayang jika harus dilewatkan.
Mba Tian dan timnya sudah standby di rumah Audi selepas sahur. Bahkan beberapa dari mereka sahur bersama di rumah Audi. Tepat setelah Audi selesai bersiap, dan mereka melaksanakan ibadah sholat subuh, Audi dan timnya bertolak dari rumah.
Tujuan mereka kali ini adalah kota Salatiga, Jawa Tengah. Audi tidak mengerti kenapa job iklan yang selalu ia dapat adalah yang ribet-ribet, semisal syuting di luar kota.
Tidak semua, sih. Kebanyakan mengandalkan studio dan paling banter taman-taman terdekat. Tapi kali ini konsep yang dimau si sutradara berbeda, kata Mba Tian. Jadi mau tak mau mereka harus menempuh perjalanan jauh dari Bandung ke Salatiga.
Untuk memangkas waktu dan menghemat energi mereka pun memilih perjalanan udara. Alhasil satu jam sebelum duhur mereka sudah sampai di hotel yang sebelumnya Tian pesan.
Audi membiarkan Tian dan yang lain berberes koper, sementara ia sendiri sudah menggelepar, terlentang di atas ranjang. Meski hanya diam dalam pesawat, lelah dan lesu tetap Audi rasa. Terlebih tanpa makan dan minum. Sebenarnya boleh saja mereka berbuka dengan alasan perjalanan jauh, tapi karena dirasa masih kuat ya Audi lanjut saja.
Entah berapa jam Audi tertidur, saat bangun adzan ashar berkumandang dari mesjid sekitar. Audi bangkit dengan tubuh lemas, matanya mengedar sebentar lantaran tak mendapati Mba Tian yang notabene selalu sekamar setiap kali mereka bepergian.
"Ini pada ke mana?" gumam Audi parau. Ia mengambil ponsel dan mengecek aplikasi hijau.
Ada satu pesan dari Ibra yang menanyakan apakah Audi sudah sampai atau belum. Lelaki itu memang tahu tentang kepergian Audi ke Salatiga, karena Audi memberitahunya sejak jauh-jauh hari saat Mba Tian mengumumkan jadwal tersebut.
Audi membalas pesan Ibra.
|Udah, tadi sebelum duhur. Aku lupa sholat, huaaa ... Batal gak, ya, puasanya?|
"Batal gak, ya? Aku kan ketiduran." Audi bergumam sendiri. "Mba Tian juga ke mana, sih, kok tumben gak bangunin?"
Ibra tak membalas, itu artinya dia lagi sibuk. Ya sudah lah, tak apa diqhada, kan?
__ADS_1
Audi menepuk kening. Baru juga mau benar-benar tobat, sholat lima waktu tanpa terlewat, eh malah ketinggalan lagi, ketinggalan lagi.