Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 30


__ADS_3

"Sebenarnya hubungan kita itu apa?"


Mengutip kilas balik semalam, Audi kembali bertanya pada Ibra. Lelaki itu terdiam lama di atas motornya sambil menatap Audi dengan matanya yang teduh.


Lama mereka hanya saling menatap hingga kemudian Ibra turun meninggalkan motornya untuk menghampiri Audi.


"Audi capek. Mas Ibra pasti tahu perasaan Audi, kan? Audi pengen lupain Mas. Jadi, kalau memang Mas Ibra gak ada rasa sama Audi, berhenti kasih Audi perhatian kayak gini."


Malam itu Audi memutuskan untuk menyingkirkan rasa malunya. Ia benar-benar tidak tahan dengan sikap Ibra yang membingungkan.


Ibra terpaku melihat mata Audi yang menggenang. Refleks ia mengulurkan tangan mengusap kedua sudutnya yang hendak mengeluarkan tumpahan.


Namun hal tersebut justru memancing rasa sensitif Audi. Ia tak bisa menahan dirinya untuk menangis di hadapan Ibra.

__ADS_1


Keduanya dilingkupi senyap dan saling bungkam. Hanya suara isak Audi yang lirih memecah kesunyian. Ibra belum berani membuka mulut jika Audi belum berhenti menangis.


Hingga sesaat kemudian Audi mengusap air matanya dan menatap penuh pada Ibra. "Audi sudah ikhlas dengan pernikahan Mas Ibra, dulu. Dan sekarang, tolong Mas Ibra juga bantu Audi untuk benar-benar membuang perasaan Audi sama Mas."


"Audi tahu, Mas Ibra pasti sudah menyadari perasaan Audi ini sejak lama. Jadi tolong, bersikaplah selayaknya saudara mulai sekarang. Mas Ibra juga tidak nyaman, kan?"


Hening. Keduanya saling terpaku dalam sendu. Ibra menatap Audi dalam nan lekat. Ia menyentuh kedua sisi wajah Audi dengan tangan besarnya, mengusapkan jarinya perlahan di sana, lalu pelan-pelan mengecup keningnya.


Dengan lembut Ibra membawa Audi untuk ia peluk. Ibra memejamkan matanya menghirup wangi rambut Audi. "Mas gak bisa, Cla. Mas gak bisa jauhin kamu," bisiknya pelan. Ia membuka mata. "Mas minta maaf jika semua sikap Mas membuat kamu gak nyaman."


Audi melepaskan pelukannya, ia menatap Ibra terkejut.


Sementara Ibra sendiri tersenyum lirih. "Ini yang kamu mau, kan? Biar kamu gak bingung, Mas mau jujur sama kamu. Mas sayang dan cinta sama kamu."

__ADS_1


Lama Audi terdiam, menatap Ibra dengan pandangan tak percaya. "Mas bohong? Mas cuman mau nyenengin Audi, kan?" bisik Audi tak jelas.


Pertanyaan itu ditanggapi gelengan oleh Ibra. "Mas justru mau tanya sama kamu, memangnya kamu siap punya pasangan yang tidak bisa kamu miliki sepenuhnya? Kamu sendiri tahu prioritas Mas di mana, kamu tahu tugas Mas sebagai apa. Mas tidak bisa menjanjikan apa-apa sama kamu. Tapi kalau kamu memang menerima Mas, Mas siap memberikan apa pun untuk kamu, terutama kesetiaan."


"Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Sepulangnya Mas dari Bali Mas akan temui kamu lagi dan dengar keputusan kamu."


Audi tahu Ibra tidak main-main dengan ucapannya, dan entah kenapa sekarang malah Audi yang kelimpungan sendiri.


Bisakah ia menerima Ibra dengan segala resiko yang pria itu sebutkan? Sementara Audi tipe perempuan egois yang ingin dinomorsatukan.


Audi mengerjap memecah bayangan semalam. Ia menunduk menatap ponselnya yang menampilkan pesan dari Ibra.


Mas Ibra: Mas sudah sampai di Bali tadi pagi. Maaf baru kabarin.

__ADS_1


Audi melipat bibir menatap jam. Pukul 16:00 dan Ibra baru sempat memgirim pesan. Audi jadi berpikir kembali, apakah ia mampu mengimbangi lelaki itu seandainya mereka bersama?


__ADS_2