Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 23


__ADS_3

Usai sholat duhur, Ibra mengajak Audi keluar untuk makan. Pria itu memakai kaos yang dibawakan Audi, namun celana dan sepatunya masih sama seperti yang dipakainya saat latihan.


Tak ada kata lain selain keren yang tergambar di benak Audi. Meski wajah Ibra kusam habis panas-panasan, lelaki itu sama sekali tak terlihat jelek. Sudah Audi bilang Ibra ini menuruni gen Tante Safa, kulitnya lumayan cerah meski tak secerah sebelum menjadi tentara.


Audi terlonjak saat Ibra mengerem motornya tiba-tiba. Kontan tubuh Audi terantuk ke depan, kepala mereka bahkan berbenturan, yang langsung membuat Audi meringis mengusap dahinya.


Ibra menoleh khawatir. "Sakit? Maaf tadi ada anak kucing."


Ia sedikit meminggirkan motor besarnya untuk kemudian menoleh kembali pada Audi. Tangannya ikut mengusap kening gadis itu.


"Maaf, ya," ucap Ibra sekali lagi.


Sementara itu, Audi terpaku melihat wajah Ibra yang lumayan dekat dengan wajahnya. Mereka memang tak memakai helm karena jarak tempat makan di sini masih satu lingkungan dengan Mako.


"G-gak papa, kok," ucap Audi kikuk. Dengan pelan ia menyingkirkan tangan Ibra.


Ibra beralih merapikan rambut Audi sebagai sentuhan terakhirnya. "Mau makan di mana?"


Lumayan banyak sekali cafe di sini. Audi jadi bingung mau makan di mana. Ia pun menggeleng tidak tahu. "Terserah Mas Ibra aja."


"Bacot?"


Audi melotot melihat Ibra. Apa Ibra baru saja berkata kasar padanya? Seketika Audi menjadi kesal. Ia pun membuang mukanya yang berkerut. "Tau, ah."


Ibra langsung terkekeh melihat tanggapan Audi. "Bacot, banana coklat, Sayang."


Sekarang bukan umpatan kasar Ibra yang membuat Audi melotot, tapi panggilan lelaki itu.


"Mas bilang apa?"


"Hm?" Ibra mengangkat alis. "Bacot? Bacot itu banana coklat. Tempatnya gak jauh dari sini."


"B-bukan itu ..." Kenapa jadi Audi yang tergagap sendiri? Apalagi ketika melihat Ibra yang menatapnya sambil tersenyum begitu.


Sorot Ibra mengandung penuh arti. Pria itu kembali berbalik menstarter motornya untuk kembali melaju.


"Kita makan nasi dulu, baru ke Bacot, ya?" putus Ibra.


Audi hanya mengangguk karena ia tahu Ibra melihatnya dari spion.


Mereka tiba di salah satu cafe yang cukup estetik. Ibra membantu Audi turun, sama seperti saat naik tadi, gadis itu pun nampak kesulitan.

__ADS_1


"Mas Ibra bisa pakai motor yang biasa aja gak sih?" gerutu Audi usai kakinya memijak di tanah. Ia merapikan rambut yang sedikit kusut tertiup angin. "Pakai matic, kek, apa, kek yang lebih normal."


"Kalau pakai matic kasian kaki Mas."


Suruh siapa punya kaki pajang, sungut Audi dalam hati.


Malas berdebat, Audi pun lekas masuk mendahului Ibra. Sementara lelaki itu terkekeh sambil menggeleng melihat gadisnya yang berjalan terentak-entak dengan wajah merengut.


Lucu. Ibra jadi teringat Audi yang dulu waktu masih suka merajuk dan ngambekan.


Ibra lekas menyusul Audi yang kini berdiri di depan kasir. Gadis itu tengah melihat menu ketika Ibra berdiri di belakangnya.


"Wihhh ... Ndan! Lama gak makan di sini." Si penjaga kasir berseru melihat Ibra.


Ibra tersenyum menanggapi. "Iya, saya ke luar kota terus."


"Ngawal Pak Pres, ya?"


Ibra mengangguk. Ia mengobrol sebentar sebelum menunduk melihat Audi. "Mau pesan apa?"


"Ayam bakar madu."


Ibra mengangguk, ia menoleh pada si penjaga kasir yang lantas mencatat pesanan Audi barusan.


"Iya, sepaket," jawab si kasir.


"Oke. Minumnya es timun selasih. Sama ini juga, usus dan ampela."


"Kamu mau pesan lagi?" Ibra bertanya pada Audi. Audi pun menggeleng sebagai jawaban.


"Udah itu aja," putus Ibra.


Si penjaga kasir pun mengangguk mengabsen kembali pesanan mereka guna memastikan.


Setelahnya Ibra mengajak Audi duduk di salah satu meja tak jauh dari sana. Audi sedikit risih ketika sadar Ibra terus menatapnya sedari tadi. Hal itu membuat Audi lagi-lagi dilanda gugup.


Kenapa, sih, jantungnya selalu dangdutan setiap ada Ibra?


Kedatangan pelayan membuat Audi merasa lega. Ia pun lekas makan dan berusaha tak mempedulikan Ibra di depannya. Walau sesekali Audi tak dapat menahan matanya untuk melirik Ibra. Ia dibuat terpaku oleh cara makan Ibra yang lahap.


Dia tak berubah, makannya masih sebanyak dulu. Wajar, sih, pekerjaan Ibra juga menguras tenaga berat.

__ADS_1


"Kamu berapa hari di Jakarta?" tanya Ibra di sela makan.


"Seminggu," jawab Audi singkat.


"Mama sama Papa sehat?"


Audi sedikit mengernyit. Maksud Ibra, mama dan papa Audi? Tumben, biasanya lelaki itu memanggil Uwa.


Meski bingung Audi tetap menjawab. "Alhamdulillah. Om Edzar sama Tante Safa juga sehat."


Ibra mengangguk. "Kalau itu Mas juga tahu. Hampir setiap hari telpon," gumamnya.


Di tengah kesibukan mereka yang sedang makan, seseorang tiba-tiba datang menghampiri meja mereka. "Ibra?"


Dia adalah Gina. Ibra maupun Audi mendongak. Berbeda dengan Audi yang menatap penasaran, Ibra justru dihadapkan pada situasi serba salah.


Kenapa Gina bisa ada di sini?


Sedikit resah Ibra melirik Audi sebentar, lalu pada Gina yang masih setia berdiri menatapnya. Lelaki itu menghentikan makannya sejenak. "Gina? Kamu di sini?"


Ibra mendadak bodoh hingga pertanyaan tak elit pun ia keluarkan.


Sesaat Gina terdiam, menatap bergantian antara Ibra dan gadis di depannya. Ia mengernyit saat merasa familiar. Begitu pula Audi, ia merasa pernah melihat Gina sebelumnya.


"Pak Wali Kota lagi berkunjung ke Mako. Ini aku mau beli minum mumpung senggang." Suara Gina terdengar datar.


Pandangan Gina dan Audi bertemu. Saat itulah Audi sadar Gina adalah wanita yang kedapatan menyambangi rumah Ibra di Bandung. Entah Gina masih ingat dirinya atau tidak.


"Oh ..." Ibra mengangguk mengerti. "Mau gabung?" tawar Ibra yang sebenarnya hanya basa-basi.


Tanpa tahu hal tersebut membuat kesannya bertambah buruk di mata Audi. Gadis itu menunduk kembali fokus menyantap makan siang.


Gina menggeleng. "Aku gak bisa lama."


"Oh, gitu? Ya udah." Lagi, Ibra mengangguk sambil tersenyum.


Ia lanjut makan setelah Gina berlalu dari hadapan mereka. Di samping itu, Gina yang tengah berdiri di meja kasir tak lepas menatap Ibra dan Audi.


Hatinya diam-diam merasa kesal melihat kebersamaan mereka. Sebelumnya Ibra selalu menolak ajakannya dan beralasan tak memiliki waktu untuk bertemu. Tapi lihatlah sekarang, raut bahagia Ibra justru membuat Gina benar-benar merasa dibohongi.


Ibra bukan tak punya waktu, ia hanya menolak karena sudah ada wanita lain yang lebih menarik perhatiannya.

__ADS_1


Gina memperhatikan Audi lamat-lamat dan menyadari ia jauh lebih mumpuni dari segi fisik. Gadis itu memang cantik, manis, tapi sayang tubuhnya terlalu kurus dan mungil.


Masa, sih, Ibra menyukai tipe wanita dengan bentuk badan seperti anak SMP begitu?


__ADS_2