Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 77


__ADS_3

"Assalamualaikum?"


Edzar yang tengah membaca koran di teras rumah, sedikit berjengit lalu mendongak. "Eh, wa'alaikumussalam, Bang. Duduk, duduk, lagi ngeteh, nih. Ai, bikin secangkir lagi tehnya, Sayang! Ada Abang, nih!" Ia berseru pada sang istri di dalam rumah.


Suara derap langkah terdengar mendekat, Safa menyembul dengan pashmina menyampir asal di kepala. "Lho, Abang? Mba Lisa bilang ada bisnis ke Solo? Kirain udah berangkat?"


"Belum, Dek. Abang berangkat nanti malam. Ini baru pulang kantor," sahut Dava.


"Ooh ..." Safa mengangguk paham.


"Ai, bikin teh." Sekali lagi Edzar mengingatkan.


"Iya, iya ... sabar, dong. Yang bertamu aja santai, kok." Safa menggerutu.


Ia lalu memasuki rumah dan membuatkan teh seperti yang Edzar bilang. Selama Safa pergi, Edzar dan Dava terlibat perbincangan ringan. Seperti halnya ekonomi, politik, bisnis, bahkan sampai kegiatan memancing yang akhir-akhir ini menjadi hobi keduanya di kala senggang.


"Dulu Ayah yang senang banget ngajakin mancing, haha."


Dava ikut terkekeh. Benar, ayahnya memang hobi sekali menjala ikan. Padahal mereka mampu membeli ikan apa pun dan berapa pun. Hasil tangkapan juga seringnya diberikan orang lain yang memang membutuhkan.


"Iya. Gak kerasa udah enam tahun berlalu," ujar Dava mengambil nafas, lalu menghembuskannya pelan-pelan.


Enggan mengenang kesedihan, ia pun mengajak Edzar mengobrol hal lain. "Cafe baru gimana? Lancar?"


Edzar memang ada membuka cabang Morinaza di beberapa daerah, dan terbaru pria itu opening di daerah Kuningan dan Banjar Jawa Barat. Luar biasa, apa Edzar mau membuat jaringan sebesar Alfamart?


"Alhamdulillah lancar, Bang. Bismillah saja, semoga ke depannya semakin berkembang lagi seperti pusatnya."


Dava mengangguk. "Kuat banget ngurusnya. Gak capek apa?"


Edzar tersenyum seraya menyeruput teh. "Dinikmati aja, Bang. Toh, hasilnya kita yang rasain sendiri."

__ADS_1


"Iya, sih. Apalagi jadwal haji kita setahun lagi, ya?"


"Nah, itu. Sekarang puas-puasin cari uang, haha."


Dava turut tersenyum, ia lalu bertanya. "Kamu gak ada niat serahin semua sama Ibra?"


Edzar menoleh sambil mengangkat alis. "Ibra?"


"Hm. Dia juga bisa, kan, sambil nyambi jadi pengusaha? Kamu juga dulu bisa."


Sudut bibir Edzar berkedut tipis. "Beda, Bang. Bidangku gak seberat Ibra, jadi masih bisa. Kalau Ibra mungkin bisa juga, tapi belum ada tanda-tanda dia mau nerusin." Ia kembali menyeruput teh.


"Ooh ... Emang dia gak kasihan apa? Kamu kan udah gak muda lagi," cetus Dava belum berhenti.


Edzar sadar betul tujuan Dava kemari ingin membahas apa. Tak lain adalah Ibra, namun entah apa yang ingin dibicarakan.


Edzar menyimpan cangkir teh di meja sebelah yang membatasi kursi mereka. "Ibra punya tugasnya sendiri, dan itu gak mudah. Aku dan Safa sebagai orang tua tentu mengerti kesulitannya."


Dava diam sesaat, terlebih ketika Safa muncul membawa secangkir teh untuknya. Wanita itu juga menyuguhkan satu toples keripik di meja. "Silakan, Bang."


"Makasih, Dek."


Safa mengangguk sambil tersenyum. "Kalian gak mau ngobrol di dalam aja?"


"Enggak, di sini sudah cukup," sela Dava cepat, sebelum Edzar sempat menyahut.


"Ooh ... ya udah. Aku tinggal dulu, lagi ungkep ayam di dapur."


"Iya, gak papa. Nanti kirimin ke rumah. Mba kamu gak masak, lagi gak enak badan soalnya." Dava melempar cengiran.


Meski sempat berdecak Safa tetap mengiyakan. Ia lekas kembali ke dapur karena takut ayamnya surut di wajan. Sepeninggal Safa, Edzar dan Dava kembali terdiam diliputi keheningan.

__ADS_1


Dava menyeruput teh buatan adiknya, lalu menyimpan cangkir tersebut ke atas meja. Ia mulai siap bicara serius dengan Edzar.


"Kemarin Ibra ke rumah," ujarnya membuka suara.


Dava menoleh, dan Edzar juga kebetulan menoleh, menatap dengan raut menunggu sembari mendengarkan.


"Dia bicara soal Audi," lanjut Dava.


Sesaat suasana berubah senyap. Dava maupun Edzar saling terdiam dalam pikiran masing-masing.


"Aku gak habis pikir. Audi adalah orang yang tertutup mengenai masalah pribadi. Dia bahkan gak pernah cerita pernah punya pacar, meski umurnya gak muda lagi."


"Lalu kemarin tiba-tiba Ibra datang dan bilang dia ada hubungan sama Audi." Dava menoleh lagi menatap Edzar. "Mereka pacaran?"


Sebenarnya kalimat terakhir bukan pertanyaan. Dava hanya bingung bagaimana mengekspresikannya. Ia bingung, dari sekian banyak pria yang bertebaran, kenapa anak gadisnya malah berpacaran dengan keponakan Dava sendiri?


Dava mendapati respon Edzar yang begitu tenang. Mendadak ia tebak bahwa lelaki itu sudah tahu. "Kamu tahu Ibra dan Audi ada hubungan khusus selain saudara?"


Edzar terdiam, ia lalu membuang nafas dalam dan beralih menatap halaman rumah yang asri tertata rapi. "Iya," gumamnya pelan.


"Sejak kapan?" tanya Dava lagi.


Edzar menggeleng. "Kalau resmi pacaran baru-baru ini, tapi mereka memang saling suka sejak lama, mungkin sejak remaja."


Dava bergeming. "Kalau sejak remaja, lalu kenapa saat itu dia menikahi wanita lain?"


"Edzar, aku benar-benar menghormatimu dan Ibra sebagai keluarga, tapi ini lain hal yang gak bisa ku anggap sepele. Ibra itu keponakanku, Audi juga keponakanmu, lalu tiba-tiba sekarang mereka ada hubungan lebih dari itu, bagaimana bisa aku enggak kepikiran?"


Dava membuang nafas berat, ia bersandar di kursi sambil menatap jalan di balik gerbang yang terbuka. "Benar-benar tak bisa dipercaya," gumamnya hampir tak terdengar.


Edzar menoleh, menatap sang kakak ipar dengan raut segan. "Apa Abang gak suka Ibra dan Audi memiliki hubungan?"

__ADS_1


__ADS_2