
"Apa? Mama serius?"
Tidak tahu bagaimana mulanya, tubuh Audi mematung di tempat. Ia membeku saat pagi-pagi buta, tepatnya sehabis subuh Lalisa menelponnya dan mengabarkan bahwa Ibra tengah dirawat di rumah sakit.
Audi seolah tak percaya. Kemarin pagi mereka masih berkirim pesan walau sebentar. Kenapa tiba-tiba Ibra jadi di rumah sakit?
Apa ada sesuatu yang terjadi pada lelaki itu saat di Bali? Apa itu alasan Ibra tak mengiriminya pesan seperti biasa?
"Mama juga baru tahu, Audi. Tante Safa sama Om Edzar juga sama. Mereka langsung berangkat ke Jakarta begitu mendengar kabar. Katanya Ibra sudah tiba di rumah sakit militer dini hari tadi."
"Mas Ibra sakit apa, Ma?" Dalam hati Audi berharap bahwa Ibra hanya flu. Meski terdengar lucu karena lelaki itu jarang sekali sakit.
"Katany si Ibra kesabet parang... apalah itu namanya, gak tahu apa namanya kalau di Bali. Ya pokoknya Om kamu bilang Ibra dapet sebelas jahitan di belakang kepala."
"Astaga!" jerit Audi terhenyak. Ia menutup mulutnya yang terbuka. "Mama serius? Terus, sekarang keadaan Mas Ibra gimana?"
Hening lama. Audi sampai geregetan karena Lalisa tak kunjung menjawab. "Ma! Keadaan Mas Ibra gimana?"
"Ya gak tahu. Om sama Tante kamu kan buru-buru, jadi gak sempet ngobrol lama."
"Astaga ..." lirih Audi mengusap kening.
"Kok bisa sih Mas Ibra kebacok gitu? Emang di Bali mereka ngapain, sih? Berkebun?"
"Kalau mau tahu jelasnya ya kamu tinggal dateng aja ke RS. Gimana, sih. Jarak kamu kan paling deket di sana. Om Edzar sama Tante Safa paling nyampenya sekitar 3 jaman lagi. Coba kamu lihat TV, deh, pasti ada beritanya."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, tumben kamu peduli soal Ibra? Bukannya udah lama kamu sama masmu itu kurang akur, ya?"
Rupanya, bukan hanya Audi yang merasakan, sang mama pun turut menyadari kerenggangan ia dan Ibra.
Setelah mengakhiri percakapan dengan Lalisa, Audi lekas bangun dari rebahannya dan lari memasuki kamar mandi. Ia harus segera siap-siap menengok Ibra.
Ternyata bukan karena sibuk, Ibra tak menghubunginya karena pria itu tengah terluka. Astaga, belum apa-apa dia sudah dihadapkan pada ketegangan akan resiko-resiko pekerjaan Ibra.
Usai mandi dan dandan seadanya, Audi langsung melarikan kakinya setelah meminjam kunci mobil milik Tian. Wanita itu jelas teriak-teriak melihat Audi pergi begitu saja. Padahal jam 10 pagi nanti ia ada jadwal pemotretan dengan brand lain.
Namun Audi tak peduli, yang ia pikirkan saat ini adalah kondisi Ibra. Bagaimana keadaan pria itu sekarang.
Audi membuka ponsel, membuka Maps untuk mencari keberadaan rumah sakit militer yang dimaksud. Setelah ketemu Audi berusaha fokus melihat jalan dan alamat serta jalur yang tertera.
Ini menyulitkan karena Audi tak begitu tahu daerah-daerah Jakarta. Padahal ia sering jalan-jalan ke sini.
Tanpa diduga Om Edzar dan Tante Safa ternyata sudah sampai duluan. Audi ketemu mereka di lobi. Suatu keberuntungan karena Audi bingung harus bicara apa pada resepsionis seandainya ia bilang ingin bertemu Ibra.
Kabarnya tak sembarang orang bisa masuk dan menjenguk pasien di sini. Mungkin karena labelnya rumah sakit militer. Entahlah Audi kurang tahu.
"Om, Tante?" sapa Audi pelan.
Pasangan itu menoleh dan sedikit terkejut mendapati Audi. "Lho, Audi? Kamu di sini ..." Tante Safa menggantung ucapannya. Sejenak ia terlihat bingung.
"Kamu mau jenguk Ibra juga?" Om Edzar berusaha memecah kebimbangan yang terjadi sesaat.
__ADS_1
"Eh, i-iya. Tadi Mama telpon Audi, ngabarin Mas Ibra dirawat di rumah sakit," lirih Audi canggung.
Kira-kira apa yang akan mereka pikirkan setelah melihat Audi di sini? Secara sudah lama sekali Audi dan Ibra tak berhubungan sebagai keluarga.
"Oh, gitu? Ya udah bareng aja. Ayo." Om Edzar merangkul Audi untuk berjalan bersama mereka.
Yang membuat Audi terkejut, tiba-tiba Tante Safa juga merangkul dirinya dengan wajah sumringah. "Ibra pasti senang banget lihat kamu jenguk nanti. Hehe," ucapnya yang menurut Audi penuh ambigu.
Audi hanya bisa meringis. "Hehe ..."
Maksudnya apa coba? Apa jangan-jangan Ibra sudah bilang sama maminya tentang hubungan mereka? Tidak mungkin. Kan masih gantung. Audi saja belum kasih jawaban sama Ibra.
Aduh, mendadak Audi grogi berhadapan dengan om dan tantenya sendiri. Padahal sebelumnya tidak seperti ini.
Sampai di depan kamar rawat Ibra, Om Edzar duluan yang membuka pintu. Beliau mengucap salam disusul Tante Safa yang tidak sabar ingin bertemu putranya.
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikumsalam ..." terdengar sahutan dari dalam.
Keduanya masuk dengan santai. Sementara Audi, ia mematung di ambang pintu ketika melihat bukan hanya mereka bertiga yang berkunjung, melainkan ada satu orang yang juga membuat Om Edzar dan Tante Safa sesaat mematung.
Entah Audi harus bereaksi bagaimana ketika melihat mantan istri Ibra juga ada di sini. Ini pertama kali Audi melihat wanita itu secara langsung.
"Shireen? Kamu di sini?" Om Edzar yang pertama kali bersuara.
__ADS_1
Mungkin dia turut merasakan aura di sekitarnya yang mendadak senyap dan kaku. Terlebih mata Ibra yang kini mengarah pada Audi. Gadis itu seakan membeku di tempatnya berdiri.
Ibra sudah seperti pria yang ketahuan selingkuh, sayangnya di sana hanya Safa yang menyadari raut putranya itu.