
"Kapan, ya, kamu bisa tinggal sama Mami sebulan aja? Hiks, baru juga dua hari udah ditinggal lagi. A Uda, apa kita pindah lagi aja ke Jakarta?"
"Gak bisa, dong, Mami. Papi kan dinasnya di sini," ujar Ibra.
"Ya tapi Mami kangen kamu terus." Safa kembali merengek. Hal tersebut membuat Edzar yang melihat lekas mendekat dan merangkul sang istri agar ikhlas melepas putra mereka.
"Ai, orang tua yang baik tidak pernah menghalangi keberhasilan anak. Ibra dan karirnya membuat kita bangga. Ingat, dalam hal ini kamu juga berperan penting mendorong Ibra hingga bisa seperti sekarang."
Safa bungkam. Memang benar, ia juga yang turut mendukung ketika Ibra berkata ingin jadi tentara. Saat masih jadi prajurit biasa saja Ibra sudah jarang pulang, ditambah setelah ia naik jadi paspampres, Ibra benar-benar seperti Bang Toyib yang bisa pulang hanya sekali dalam setahun.
Padahal Safa sudah senang karena akhir-akhir ini Ibra cukup sering mengambil cuti, ya meski tujuan anak itu untuk meluruskan hubungannya dengan Audi, tapi Safa tetap kebagian menuntaskan rasa rindu dengan kepulangan Ibra.
"Tapi, lebaran kamu pulang, kan?" Safa bertanya pada Ibra.
Sementara Ibra justru terdiam mendengar pertanyaan sang mami. Baginya waktu adalah hal yang tak pasti. Bisa saja sekarang Ibra berencana pulang kampung saat lebaran, tapi siapa yang tahu kapan tugas akan datang.
"Insya Allah, Mami. Jika tak ada tugas dan Allah menghendaki, Ibra pasti bisa pulang," jawab Ibra diplomatis.
Meski sedih, Safa tetap tak bisa membantah. Ia hanya mengangguk pasrah seraya menahan tangis ketika Ibra meraih tangannya, mengecupnya dengan penuh rasa sayang dan hormat. "Ibra janji akan hubungi Mami setiap kali senggang. Jangan nangis, Ibra minta doa Mami supaya segala sesuatu tujuan Ibra dilancarkan."
Tentu saja Safa mengangguk. "Pasti. Mami pasti doakan segala yang terbaik untuk kamu," ucapnya parau, disela isak tangis.
Ibra tersenyum. Ia mengusap pipi wanita yang menjadi cinta pertamanya di dunia. Safana Halim yang menempati tahta tertinggi dalam urutan orang yang paling ia hormati.
"Sudah, Mami. Mami yang nurut sama Papi, jaga makan, jaga kesehatan. Jangan sampai Ibra dengar Mami ngedrop lagi gara-gara kecapean."
__ADS_1
Ibra beralih pada Edzar yang sedari tadi berdiri diam di samping sang istri. "Pi?"
Ibra mencium tangan Edzar. Edzar merangkul pundak sang putra, menepuk-nepuknya cukup keras sambil beberapa kali mengusap kepalanya dari belakang. "Sehat terus. Semoga kamu bisa menjalankan tugas dengan baik. Kami selalu menunggumu di sini," ucapnya terdengar tegas, namun juga seakan menahan haru.
Sosok Edzar yang bijaksana selalu membuat Ibra kagum, alasan ia menjadikan lelaki itu sebagai panutan. Edzar Adhyaksa memang seluar biasa itu di mata Ibra.
"Insya Allah," tutur Ibra meyakinkan sang ayah.
Ibra melepas pelukannya dari Edzar, ia beralih pada Oma Halim dan melakukan hal serupa. Berpelukan, meminta doa, dan mendengarkan petuah-petuah kecil khas orang tua.
"Ya sudah, kamu baik-baik di Jakarta. Hati-hati di jalan," tutur sang oma.
Ibra tersenyum, mengangguk dalam. Ia menghampiri Lalisa dan menyalami wanita itu tak kalah hormat. Lalisa menepuk pundak Ibra sebelum anak itu beralih pada Audi.
"Cla?" Di sini Ibra paling tidak mampu menahan ekspresi harunya. Ia mengusap kepala Audi penuh perasaan. "Mas berangkat, ya? Ingat pesan Mas, jangan terlalu sering menentang orang tua, nanti kualat."
Ibra tersenyum. "Mas bukan nyumpahin kamu. Emang benar kita harus sering-sering dengar apa kata orang tua. Toh, itu juga buat kebaikan kita."
Audi mencibir lantas berbisik hingga hanya mereka berdua yang mendengar. "Kalau Audi dengar apa kata orang tua, berarti Audi juga harus nurut perintah Papa untuk putus dari Mas Ibra."
"Ya enggak gitu juga." Ibra terkesan kalah.
Audi tersenyum penuh kemenangan. "Makanya ngomong itu dipikir dulu."
"Iya, iya, maaf. Mas berangkat, ya? Jangan kangen." Ibra kembali mengusap rambut Audi, kali ini lebih gemas.
__ADS_1
"Heem. Mas hati-hati. Ingat, chat 5 kali sehari," celetuk Audi.
Kontan Ibra terkekeh. "Kamu ini, minum obat aja cuma 3 kali sehari."
"Ya dosisku kan beda," balas Audi.
"Udah overdosis kamu, ya? Overdosis cintanya Mas."
"Ish, gak usah gombal. Sana cepetan pergi."
"Ngusir, nanti teriak-teriak kangen sambil nangis," cibir Ibra.
"Gak akan. Udah sana."
Ibra tersenyum. "Iya, Sayang. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Terakhir Ibra menghadap Dava. Ia tersenyum segan pada pria itu. "Wa?"
Ibra mengulurkan tangan untuk salim. Semua mata memandang mereka seolah waswas menunggu reaksi Dava. Sudah jadi rahasia umum sikap Dava berubah sejak Ibra mengutarakan niat serius melamar Audi. Namun tanpa diduga sekarang Dava menyambut Ibra dengan santai, ia bahkan menepuk pundak pemuda itu dengan tegas.
Ibra sampai mematung sesaat, tapi kemudian ia tersenyum, menatap sang uwa dengan hormat.
"Hati-hati," ujar Dava singkat.
__ADS_1
Di sini Audi yang paling penasaran, Ibra dan papanya sempat mengobrol berdua tadi. Kira-kira apa yang dibicarakan sampai sang papa bisa sedikit melunak begitu? Apa benar Ibra hanya pamit?