Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 103


__ADS_3

"Mau jajan apa?" Ibra bertanya sembari memutar kemudi serta mata berkeliling ke sana kemari, mencari sesuatu yang menarik di antara warung-warung makanan pinggir jalan. "Bentar, kita cari tempat parkir dulu. Susah, padet banget."


"Di sana kayaknya kosong, Mas." Audi menunjuk sebuah space yang letaknya beberapa meter di hadapan mereka.


Ibra mengikuti arah pandang Audi. "Mana?"


"Itu di depan, dekat tukang roti bakar."


"Ooh ..." Ibra mengangguk-angguk.


Pria itu segera menggerakkan kemudianya ke arah sana. Kondisi jalan yang padat sedikit menyulitkan mereka untuk berhenti. Usai berhenti pun keduanya masih dibuat bingung mau membeli apa, semua terlihat enak ketika haus dan lapar.


"Kamu mau apa, Yang? Ada pentol tuh, mau gak?" Ibra menoleh pada Audi sembari bertanya.


"Mau. Tapi aku mau cari telor gulung dulu, di sini ada gak, ya?"


"Gak tahu, turun aja dulu."


Ibra dan Audi pun turun, berjalan menyusuri pinggir jalan di antara padatnya orang dan stand - stand makanan yang berjajar. Ramadhan yang luar biasa. Tempat yang biasa penuh sekarang menjadi berkali lipat lebih penuh dan hampir tanpa celah.


Ibra menggandeng Audi, menuntunnya mepet di dalam bahu jalan, sementara dirinya berada paling sisi. Ibra sengaja melakukan itu supaya Audi terjaga dari serempetan motor yang berseliweran.


"Telor gulung, tuh." Ibra menunjuk salah satu gerobak tak jauh dari mereka.


Ia pun mengajak Audi menyeberang untuk sampai pada pedagang tersebut. Mereka disambut ramah oleh si penjual yang merupakan seorang bapak paruh baya.


"Silakan, Aa, Teteh, porsi masih banyak!" serunya sembari sibuk melayani pelanggan lain. Tangannya sangat gesit berkutat di atas wajan penggorengan. Benar-benar berpengalaman.


Ibra menoleh pada Audi dan bertanya. "Mau pesan berapa?"


"Sepuluh ribu cukup kali," sahut Audi mengira-ngira. "Lagian di rumah gak banyak yang makan telor. Oma, Om Edzar sama Papa juga udah jarang banget makan."

__ADS_1


Ibra mengangguk. Ia lalu menyebutkan pesanan pada si penjual. "Pak, dua puluh ribu, ya!"


"Siap, Jang Kasep!"


Jang adalah Ujang, sebutan dalam Bahasa Sunda untuk seorang lelaki muda. Sementara kasep sendiri berarti tampan.


Audi mengernyit saat mendongak pada Ibra. "Kok, jadi dua puluh ribu?"


Menanggapi keheranan tersebut, Ibra hanya tersenyum, mengusap sekilas rambut Audi. Entah itu refleks yang Ibra lakukan karena terbiasa, atau dia memang gemas dengan warna rambut Audi. Yang pasti sebelum Audi mewarnai rambut pun, dari dulu Ibra selalu melakukan itu.


"Ada Mamang sama Bibi juga, siapa tahu mereka mau."


Oh, iya. Audi melupakan dua pekerja yang masih berada di rumah Oma. Padahal yang lain pada pulang kampung, hanya mereka yang bersedia tetap tinggal meski keinginan menyambut Ramadhan bersama keluarga pastilah sama kuat.


"Oh, iya aku lupa, hehe."


Usai membeli telur gulung, Ibra kembali mengajak Audi menyusuri jalan guna mencari jajanan lain. Hingga hampir setengah jam mereka sudah dapat kurang lebih lima jenis camilan.


"Kan Mama sama Tante Safa pasti pada masak di rumah Oma?"


"Iya, sih. Tapi ya kita beli aja, siapa tahu ada yang mau."


Audi mendelik. "Aku baru tahu ternyata Mas Ibra boros juga kalau jajan. Kirain jadi tentara lebih irit, tahunya enggak."


Mendengar cibiran Audi, kontan Ibra langsung terbahak.


"Namanya juga orang lagi puasa, Cla. Bukan cuman Mas, semua orang dan pasti kamu pun begitu, semua makanan terbayang dan menuntut untuk direalisasikan."


Berdecak pelan, Audi pun menyahut. "Ya udah, mau beli lauk apa?"


Ibra berhenti tertawa. "Kita pindah ke lokasi lain, yuk?" ajaknya dengan suara yang antusias, mirip anak anjing yang bersemangat.

__ADS_1


Tanpa sadar Audi melakukan respirasi. Meski begitu ia tetap mengikuti langkah Ibra ke tempat di mana mobil mereka terparkir.


"Bisa-bisa kita gak makan nasi. Jajan aja udah lebih dari tiga ratus ribu," celetuk Audi yang lagi-lagi hanya ditanggapi kekehan oleh Ibra.


***


Suara puji-pujian dan bacaan ayat suci Al-Quran sudah lantang dikumandangkan di mesjid-mesjid terdekat. Jarum jam sudah menunjuk pada angka lima lebih lima puluh lima menit. Sekitar tiga menit lagi menuju adzan magrib.


Keluarga Halim sudah berkumpul menduduki meja makan yang sudah penuh dengan berbagai macam hidangan. Belum lagi hasil jajan Ibra dan Audi tadi juga turut memadati luas meja. Sesuai dugaan Audi, jumlahnya bikin geleng-geleng kepala, dan lucunya Ibra seolah tak menghiraukan semua mata yang tertuju padanya saat pertama kali mereka meletakkan makanan-makanan itu di sana.


Baiklah, porsi makan Ibra memang banyak. Anggap saja sekeresek besar jajanan itu bisa ia lahap semua. Benar kata Oma, isinya sangat cukup untuk membagi anak-anak kecil yang tinggal di komplek villa.


Di meja sendiri sudah ada semangkuk besar es buah, biji salak, dan tentunya kurma yang tak pernah ketinggalan sebagai menu takjil. Kalau camilan dan menu lauk teman nasi sudah jangan ditanya, saking banyaknya Audi jadi bingung sendiri. Diam-diam ia menyayangkan Ibra yang tadi ngotot ingin beli lauk lain di luar. Lha, menu yang disajikan tiga wanita Halim di sana lebih menggugah dan membuat liur terangsang.


Tiga menit kemudian suara adzan serentak terdengar di setiap mesjid. Mereka semua mengucapkan kalimat hamdalah sebagai bentuk rasa syukur karena bisa menjalani puasa dengan lancar.


Sebelum minum, Om Edzar memimpin mereka semua, membacakan doa buka puasa dengan khusu. Setelah selesai mereka pun menyerbu hidangan yang sedari tadi melambai memikat mata. Dan pastinya hal pertama yang dituju adalah es buah serta biji salak bagi Oma yang sudah tak mampu minum minuman dingin.


"Alhamdulillah ..." bisik semuanya hampir serentak.


Om Edzar tersenyum. "Semoga puasa pertama ini bisa menjadi acuan kita untuk tetap saling bersilaturahmi meski sebagian dari kita tinggal berjauhan. Insya Allah, semoga keluarga kita bisa tetap terjalin hangat seperti sekarang."


"Aamiin ..."


Oma Halim tersenyum teduh melihat anak, menantu serta cucunya yang berkumpul meski kurang lengkap tanpa Jeno. Hatinya merasakan hangat yang menjalar menimbulkan rasa senang. Bahagia bukan kepalang, ia berharap setelah tiada, keturunan-keturunan Halim berikutnya mampu menjaga ikatan ini dengan baik.


Irama sendok dan alat makan lain beradu menghadirkan denting di antara obrolan serta tawa ringan yang mengalun di ruang makan. Sesekali Audi dan Ibra saling lirik dan melempar senyum. Mereka tak ubahnya pasangan muda yang sedang diliputi kasmaran. Rona merah muda seolah tak luput dari wajah keduanya.


Terlebih ketika Ibra beberapa kali melempar kedipan genit yang membuat Audi tak tahan mengulum senyum.


Tentu saja, dalam kemesraan itu ada hati yang tak senang, tak lain tak bukan adalah Dava, Papa Audi yang masih saja enggan membuka tempat untuk Ibra sebagai menantunya.

__ADS_1


__ADS_2