
"Duluan, ya? Bye ..." Gavin melambai dengan senyum lebar sebelum memasuki mobil bersama asistennya.
Mereka baru saja berpisah di lobi. Audi dan Tian mengangguk membalas lambaian pria itu.
"Ck, ck, ck ... Gavin makannya banyak juga, ya?"
"Tapi heran, kok badannya gak gemuk? Pakai obat apa tuh anak?" lanjut Tian.
Audi yang mendengar itu lantas memutar mata. "Mba pikir aku gimana? Makanku banyak tapi badan tetep segede lidi."
Tian meringis. Ia lupa artisnya sendiri memiliki masalah dalam kenaikan berat badan. Tapi sebenarnya Tian sangat mensyukuri hal ini, Audi mau makan sebakul pun badan tetap langsing singset.
"Ya udah, sih, disukuri. Lihat tuh orang-orang China sama Korea, mereka langsing-langsing kayak kamu. Malah artis-artis China tuh kurus-kurus, lebih kurus dari kamu."
"Ya tapi kan aku juga pengen ngerasain berisi gitu. Minimal dada sama bokong, kek."
Plak!
Tian memukul tubuh bagian belakang milik Audi. "Kamu mau beralih jadi konten kreator sensasional? Goyang sana goyang sini pamer dada sama paha! Mba mundur jadi manager kamu."
"Serem amat, sih, Mba. Aku kan cuman bercanda. Hidup gak usah serius-serius banget kenapa?" kesal Audi, mengusap bokongnya yang baru saja dipukul Tian.
"Udah, ah, capek. Kamu diam dulu di sini, Mba ambil mobil."
Tian melenggang ke parkiran, meninggalkan Audi sendirian di lobi, mengamati lalu lalang orang yang keluar masuk lobi mall.
Audi mengeluarkan ponsel guna membunuh bosan. Ia baru sadar begitu lama tak menyentuh benda pipih tersebut. Ada banyak notifikasi dari berbagai aplikasi, salah satunya aplikasi pesan berwarna hijau.
Chat grup, chat personal, panggilan tak terjawab, panggilan video, semuanya lengkap menghiasi daftar terabaikan.
__ADS_1
Ada satu nama yang letaknya cukup teratas menarik perhatian Audi. Adalah nama Ibra yang paling banyak mengirim spam.
Sekitar 30 pesan random dan 15 panggilan. Ibra sudah seperti pacar yang ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya.
Audi mengabaikan semua pesan Ibra dan beralih melihat instagram. Ia cukup terkejut mendapati begitu banyak pemberitahuan pada ikon love sudut kanan atas.
Audi bukan tipe orang yang penasaran dengan sosial medianya sendiri. Ia lebih sering mengabaikan komentar karena selalu melemparkannya pada Tian. Wanita itu yang selalu memegang kendali kolom komentar Audi.
Lebih tepatnya, Tian yang membacakan, Audi yang mendikte balasan untuk beberapa orang tertentu. Mana mungkin ia balas ratusan komentar sekaligus, kan? Kasihan juga Mbak Tian yang ngetik.
Namun entah kenapa kali ini Audi merasa ada yang janggal. Notifikasi itu terus berdatangan tanpa henti, bertambah hampir setiap detik.
Ini sudah di luar kebiasaan. Ada apa dengan akunnya sampai bisa seramai ini?
Akhirnya karena penasaran Audi pun mengintip ikon pemberitahuan. Scroll-scroll ke bawah sampai ia menemukan begitu banyak orang yang men-tag namanya dalam sebuah postingan.
Jantung Audi seketika dag-dig-dug membaca sekilas caption-caption yang tercetak kecil di kolom notifikasi. Dengan tenggorokan yang terasa kering Audi pun mengklik salah satu dari mereka.
"Ya Tuhan, ini apa?"
"Astaga, berita macam apa ini?"
"Wah, udah gak bener, nih. Kenapa ini foto udah masuk lambe aja?" Audi menggeser-geser jemarinya di atas layar.
Panik? Tentu saja ia panik. Secara berita yang ditampilkan mengenai dirinya dan Gavin yang baru saja makan siang.
"Gercep banget, sih, ini paparazi. Jangan-jangan salah satu dari mereka termasuk pengunjung mall?"
"Kenapa, Di?" Tian yang baru saja kembali usai mengambil mobil kontan mengernyit melihat raut pucat Audi.
__ADS_1
Gadis itu nampak cemas menggigiti kuku telunjuknya. Audi mendongak menatap Tian memelas. "Mbaaa ... bahaya, Mba. Bahaya!"
"Bahaya apa?" Tian semakin bingung.
Audi pun menunjukkan layar ponselnya pada Tian yang langsung mengerti seketika itu juga.
"Aduh, gimana ini, Mba? Kak Gavin udah lihat juga belum, ya?"
"Kayaknya sih udah. Gak mungkin belum. Bentar, ayo kita ke mobil dulu. Jangan mencak-mencak di sini. Malu tau."
Audi pun menuruti Tian, memasuki mobil dan duduk di kursi penumpang berusaha tenang. Tian yang juga baru masuk di kursi kemudi dengan segera melajukan kendaraan mereka meninggalkan pelataran mall.
"Itu postingan kapan?"
"Baru beberapa menit lalu, Mba."
"Tapi DM ku udah penuh diserang orang-orang kepo," lanjut Audi. "Apa pula itu yang bikin gosip? Judulnya bikin salah paham aja tau gak?"
"Abaikan aja. Kamu jangan dulu jawab satupun. Biar Mba yang urus semuanya. Lagian itu cuman foto makan siang, gak ada yang spesial. Di sana juga gak nunjukkin kalian mesra. Udah santai aja."
Gimana mau santai, sejak tadi mama dan papanya tak berhenti telpon, bahkan mahasiswa sesibuk Jeno saja masih sempat-sempatnya kepo.
Gawat, benar-benar gawat. Nyatanya situasi ini tak sesederhana yang Mbak Tian pikir. Terlebih di saat omanya berkali-kali menanyakan pacar dan calon suami.
Alamat pulang disuruh daftarin calon imam.
Di tengah kegaduhan hatinya, Ibra tiba-tiba kembali mengirim pesan.
Mas Ibra: Kita ketemu malam ini.
__ADS_1
Entah kenapa, Audi merasakan ketegasan dalam pesan itu.