Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 75


__ADS_3

Angin berhembus menerpa wajah Ibra. Rasa dingin bertambah dua kali lipat setelah ia meneguk es jeruk yang disajikan. Hening seolah menggigit ketika Oma Halim bertanya. Sesaat Ibra hanya terdiam, menatap tenang wanita itu dalam kesunyian.


Ibra melipat bibir, mencecap rasa asam jeruk yang tersisa. Ia kemudian membuka mulut bersuara. "Jeno kasih tahu Oma?" tanya Ibra telak.


Ibra tak perlu basa-basi di saat ia sendiri tahu siapa yang mengadukan hubungannya dan Audi, kan?


"Jadi benar, kamu pacaran sama Audi?"


Butuh beberapa detik untuk kemudian Ibra menjawab. "Iya, Oma."


Hening. Oma Halim menatap Ibra lekat dan lama, ia lalu membuang nafas sebelum mengalihkan pandangan melihat pekarangan. Responnya membuat Ibra waswas. Ia menatap sang oma dengan lekat, raut resah tergambar samar di wajah tua itu.


"Oma?"


Kicau burung tak lantas membuat suasana lebih tenang. Ibra tak hentinya mengamati perubahan ekspresi yang tersirat jelas di raut Sofiana Halim.


"Rupanya kamu benar-benar serius dengan ucapanmu waktu itu?"

__ADS_1


"Ya?" tanya Ibra bingung.


Oma Halim menoleh. "Waktu kecil, kan, kamu pernah bilang mau nikahin Audi kalau sudah besar," cetusnya mengingatkan Ibra pada masa terkonyol.


Ibra meringis. Oma Halim kembali menatapnya lurus. "Mendengar Jeno mengatakan kamu memacari Audi, Oma jadi bertanya-tanya, apa jangan-jangan kamu terobsesi dengan Audi?"


Ibra tersentak. Ia menatap sang oma dengan mulut sedikit terperangah. "Kenapa Oma bisa bilang begitu? Oma gak percaya sama Ibra?"


"Bukan, bukan Oma gak percaya sama kamu. Kamu cucu Oma, Audi juga cucu Oma. Oma sayang kalian berdua. Tapi jika menyangkut cinta, kamu maupun Audi akan mendapat perhatian yang sama dari Oma."


"Dan kalian yang memutuskan saling berhubungan seperti ini membuat Oma harus memandang dari dua sisi di antara kalian."


"Ibra serius dengan Audi, Oma," tegas Ibra.


"Oma tahu. Tapi Oma tetap tak akan mengizinkan kalian kalau benar kamu memang hanya terobsesi ingin mendapatkan Audi. Oma tahu betul bagaimana kamu, Ibra. Sikapmu yang selalu melindungi Audi sedari kecil, Oma tahu hal gila apa saja yang pernah kamu lakukan selama itu."


"Oma?" Raut Ibra terlihat memohon.

__ADS_1


"Audi cucu perempuan Oma satu-satunya. Wajar Oma bersikap begini sama kamu, kan? Kamu di sini bukan hanya sebagai cucu Oma, tapi juga pria yang menjalin hubungan dengan Audi. Jadi Oma akan bersikap sama seperti Oma berhadapan dengan mantan-mantan pacar Audi yang lain."


Ibra mengernyit tak senang. "Audi belum pernah pacaran, Oma."


Oma Halim mengangguk. "Memang belum. Tapi apa kamu tidak pernah mengira seberapa banyak laki-laki yang datang pada Uwa mu, meminta putrinya untuk dipinang? Banyak, Ibra. Saking banyaknya Uwa mu sampai kebingungan dan menyerahkan semua masalah itu pada Oma. Dia meminta semua pria-pria itu untuk menghadap Oma, bahkan sebelum mereka bertatap muka langsung dengan gadis itu."


"Audi tidak pernah tahu, karena ia tak diberitahu. Dava membiarkan anak itu menjalani hari seperti biasa, tanpa dibayang-bayangi masalah lamaran yang berdatangan karena ia tahu itu sangat memusingkan."


Ibra mematung menatap Oma Halim. Ia terpaku dengan kenyataan tersebut. Kenapa Uwa Dava tak bilang soal hal ini?


"Kamu sudah bicarakan niat seriusmu pada Uwa?"


Ibra hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Dan Uwa mu minta kamu temuin Oma?"


Sekali lagi Ibra mengangguk.

__ADS_1


"Itu berarti Uwa memang sudah menganggap dan memasukkanmu ke dalam jajaran pria-pria lainnya yang melamar Audi. Dalam hal ini Uwa tak memandangmu sebagai keponakannya lagi, melainkan kandidat yang harus Oma tes untuk mengetahui apakah kamu layak untuk Audi atau tidak."


__ADS_2