
Dua minggu kemudian, Audi sudah diperbolehkan pulang dan terapi jalan dari rumah. Untuk saat ini perkembangan Audi cukup ada perubahan, ia sudah mulai lancar kembali bicara, menggerakkan tangan dan kepala, namun hanya satu yang disayangkan, kakinya belum sempurna untuk diajak berjalan.
Tak terasa mereka sudah memasuki akhir bulan Ramadan, detik-detik lebaran pun mulai terasa dengan semakin bertebarnya pedagang di pasar, apalagi pembelinya, jangan tanya seberapa sesak dan bejibunnya di dalam sana. Audi juga tahu dari ART yang setiap 2 hari sekali bolak-balik belanja kebutuhan rumah.
Kembali pada saat ini, Audi yang siang ini dijadwalkan pulang oleh dokter, hanya bisa diam mengamati mama serta tantenya yang sibuk berkemas. Mereka sekaligus menunggu kedatangan dokter yang akan mencabut selang infus di tangan Audi yang sengaja belum dilepas.
Audi duduk termenung di ranjang dengan berbagai macam pikiran. Perban di wajahnya sudah dibuka. Jujur ia merasa asing dengan penampakannya. Sangat jelek, Audi malu bertemu orang.
Audi meremas jari jemarinya di atas paha. Keringat dingin membuat tangannya lembab dan licin. Jantung Audi berdetak menyakitkan kala ia berusaha menyiapkan diri. Audi tidak siap menghadapi dunia dengan kondisi barunya yang sangat di luar kata baik.
Di tengah lamunan, tiba-tiba saja Tante Safa mendekat. Ia tersenyum lembut mengusap pinggiran telinga Audi. Wanita itu mengeluarkan masker dari saku tasnya lalu memasangkan lingkar talinya di kedua telinga Audi.
"Semoga dengan ini kamu merasa nyaman," ujarnya hangat.
Audi hanya mampu diam membisu. Selanjutnya Tante Safa mengeluarkan pashmina, melingkarkannya hingga membalut kepala Audi yang tanpa rambut.
"Cantik keponakan Tante. Eh, salah, calon menantu Tante, hehe."
Audi masih setia membisu. Meski begitu hal tersebut tak lantas membuat Safa merasa canggung. Ia mengerti perasaan Audi yang masih dalam masa pemulihan. Gadis itu masih perlu waktu untuk sepenuhnya menerima keadaan.
"Ibra udah bilang belum sama kamu, hari ini dia gak bisa jemput karena ada urusan?" Safa bertanya.
Audi hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Dia gak bilang urusannya apa?"
Audi tampak bingung sesaat. "Katanya ... ada berkas yang harus diserahkan ke atasan?"
Suara Audi terdengar tak yakin. Safa tersenyum. Mungkin Ibra belum mengatakan yang sebenarnya, bahwa ia hendak mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan saat ini sang putra tengah sibuk mengurus ini itu.
Safa tersenyum lagi. "Iya, intinya gitu. Kamu gak papa, kan, pulang sama Mama dan Tante aja?"
"Gak papa, Tante," lirih Audi. Ia memang belum bisa bersuara keras.
Mama Audi sudah beres memasukkan barang-barang. Ia menghampiri putrinya yang sudah rapi pakai kerudung dan masker. "Sebentar, kamu kayaknya perlu kacamata juga, deh."
Lalisa balik lagi ke meja, mencari-cari sesuatu yang ia ingat masih tersimpan dalam tas. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa sebuah kacamata hitam merk internasional.
"Ini, benda ini akan menambah Aura kamu. Sini, Mama pakaikan, ya?" Lalisa meminta izin.
Audi mengangguk saja. Ia tahu Mama dan tantenya hanya ingin menjaga Audi dari rasa tak nyaman saat bertemu orang-orang.
__ADS_1
"Tenang aja, Papa kamu udah sewa bodyguard untuk kawal kita. Kamu gak perlu takut sama wartawan. Kalau ditanya diam aja, gak usah nengok kanan kiri apalagi jawab."
"Mba Lisa, Audi ini selebriti, dia udah gak aneh dan tahu apa yang harus dilakukan saat bertemu awak media," ucap Safa menyanggah.
Lisa membuang nafas. "Aku hanya khawatir."
Safa tersenyum. Ia mengerti perasaan keduanya, dan ia pun sama ingin menjaga Audi, terlebih Ibra sudah memberinya amanat untuk menemani gadis itu selama sang putra tak ada.
Ibra itu posesifnya mirip Edzar. Ini masih mending, coba kalau Audi sudah resmi jadi istrinya, jangan heran kalau Audi jadi jarang main keluar rumah. Sama seperti Safa, Safa pun begitu setelah menikah. Edzar selalu melarang-larangnya bepergian apalagi jika sendiri.
Tak lama dokter datang bersama satu orang perawat. Mereka melakukan pemeriksaan terakhir sebelum akhirnya infus Audi dilepaskan.
"Kondisinya sudah lumayan baik, sudah bisa untuk dibawa pulang. Tapi ingat, berobat jalan, rutin cek ke sini itu wajib. Terapi akan dilakukan secara bertahap. Mengerti?"
"Mengerti, Dokter," sahut Safa dan Lalisa serentak.
"Ini resep obatnya. Sus, tolong, yang satunya tidak ada di apotek. Ambil saja stok kita di rumah sakit." Dokter itu menyerahkan secarik kertas pada suster. Suster itu pun menerimanya sambil mengangguk. "Baik, Dokter," ucapnya sebelum keluar.
Sembari menunggu, dokter menjelaskan kondisi kesehatan Audi lebih detail. Hingga tak lama Dava datang bersama Jeno dan Ajeng. Ajeng berlari kecil menghampiri Audi. Gadis itu merangkul lengan sang sahabat penuh semangat.
Akhir-akhir ini Ajeng memang rutin datang menjenguk Audi, sampai kini Audi mau pulang pun dia ikut serta menjemput. Audi tersenyum kecil membalas Ajeng. Selain Ibra, hanya Ajeng yang sekarang bersedia menemaninya dengan sukarela. Di luar keluarganya tentu saja.
"Nanti, lagi nunggu obat." Lalisa menjawab.
Dava mengangguk dan lanjut mengobrol dengan dokter, mendengarkan saran-saran kesehatan untuk Audi dan lain sebagainya. Sementara Jeno menghampiri sang kakak. Jika biasanya ia akan bersungut memancing Audi, sekarang ia hanya bungkam sambil diam-diam merasa iba.
Beberapa saat kemudian suster yang ditunggu pun kembali dengan membawa satu plastik berisi berbagai macam obat. Ia menyerahkannya pada Mama Audi seraya menjelaskan dosis dan waktu dari masing-masing tablet tersebut.
Hampir pukul sepuluh mereka baru bisa keluar dari rumah sakit. Sesuai dugaan, para wartawan sudah berjibun menunggu di depan lobi. Perasaan Audi kembali dihentak rasa panik. Beruntung bodyguard yang disewa sang papa mampu menghalau serbuan para pencari berita itu sampai Audi bisa memasuki mobilnya dengan selamat.
Dava begitu melindungi Audi, ia menggendong Audi dari mulai keluar lobi, melewati kerumunan wartawan hingga tempat di mana mobil mereka terparkir.
Audi sendiri berupaya menyembunyikan wajahnya di balik masker dan hijab. Ia benar-benar kehilangan rasa percaya diri sampai ke dasar. Audi bahkan tak berani mendongak menatap wajah seseorang.
Setibanya di dalam mobil, Audi mematung, memandang nanar keluar jendela. Dulu ia begitu leluasa dengan situasi serupa. Tapi kini, Audi seakan ingin menenggelamkan diri lantaran tidak sanggup membelah lautan manusia.
Audi menunduk, namun sebuah genggaman mampir hingga membuatnya mendongak kembali. Ajeng tersenyum lembut ke arahnya. Gadis itu langsung membawa Audi ke pelukan. Mengusap punggung Audi penuh rasa sayang.
"Semua akan baik-baik saja," bisiknya tulus.
Audi tak tahan untuk tidak terisak. Ia menangis di atas bahu Ajeng. Suara tangisnya memenuhi ruang mobil yang kini mulai berjalan. Dava dan Lalisa yang duduk di depan hanya mampu terdiam dalam rasa pilu.
__ADS_1
Audi hanya butuh waktu, situasi ini masih baru baginya.
Rombongan mereka menggeleser meninggalkan pekarangan rumah sakit. Audi satu mobil dengan Ajeng dan orang tuanya. Sementara Tante Safa ikut bersama Jeno yang menyetir sendiri mobilnya. Begitu pula dua mobil bodyguard setia mengekor di belakang dan depan.
Di sisi lain, Ibra tengah termenung menatap berkas-berkas di tangannya. Di sampingnya Ben duduk turut memperhatikan. Ia masih tak menyangka Ibra akan segera hengkang dari kesatuan mereka. Padahal Ben sendiri mengakui Ibra adalah satu dari sekian prajurit paling keren ketika memakai seragam. Bisa-bisanya temannya itu tetap tampan meski sepanjang hari panas-panasan. Bikin iri saja.
"Kamu yakin mau berhenti jadi TNI? Masalahnya, kamu udah jadi paspampres, lho. Kurang keren gimana coba?" Ben menyuarakan isi hatinya.
Namun Ibra hanya mengulas senyum sabar yang sering kali membuat Ben kesal. Senyum khas Ibra yang sialnya membuat para wanita menggila.
"Ini sudah menjadi keputusan finalku," ucap Ibra. Ia memandang terik matahari yang bersinar tak jauh dari kursi mereka.
Ibra memang menyempatkan diri datang ke Mako guna mengambil keperluan lain sebagai persyaratan. Dan kebetulan ia bertemu Ben, jadi sekalian saja ia cerita dengan teman dekatnya itu.
"Aku masih tidak percaya, ternyata gadis separuh agamamu itu ... Claudia Mareeta Halim. Selebgram cantik yang terkenal membintangi banyak iklan," gumam Ben setengah iri.
Hidup Ibra itu tidak ada suram-suramnya. Kaya sejak lahir, dapat pasangan pun bukan kaleng-kaleng cantiknya. Tapi sayang, kali ini pacarnya malah kena musibah, yang membuatnya harus mengorbankan karir yang sebentar lagi naik pangkat sebagai kapten. Sungguh sangat disayangkan menurut Ben.
"Kamu udah pasti sangat mencintainya sampai rela melakukan ini," ucap Ben lagi.
Ibra mengulas senyum teduh, ia teringat Audi yang hari ini pulang dari rumah sakit. Kira-kira bagaimana keadaannya? Ibra baru kemarin meninggalkan Bandung, tapi sekarang sudah tak sabar ingin kembali.
"Sangat, sampai rasanya tak ada hal lain yang ingin kuperjuangkan selain dia."
"Dia perempuan paling berharga setelah ibuku. Aku ingin melindunginya secara penuh, mencintainya dengan segenap jiwa ragaku. Aku ... ingin mengabdi padanya sepanjang hidup, sebagai suami." Ibra menoleh menatap Ben.
Matanya tampak berbinar ketika membeberkan rencananya terhadap Audi. Senyumnya juga penuh kedamaian. Kalau seperti ini, Ben tidak jadi mengira bahwa Ibra terpaksa dengan pengunduran dirinya. Pria itu benar-benar serius melakukannya atas keinginan sendiri.
"Sial, kamu membuatku terharu," ketus Ben gengsi. "Padahal rayuan itu bukan untukku."
Ibra tertawa menepuk bahu temannya itu. "Makanya, cepat cari pasangan sana. Nanti kamu akan tahu bagaimana sulitnya memilih antara tugas dan cinta."
"Ya ya ya ... Entah kenapa aku merasa hidupmu selalu beruntung."
Ben salah, Ibra memang beruntung mendapatkan Audi. Tapi, setelah ini pun ia harus berjuang kembali membangun rasa percaya diri gadis itu supaya mau menikah dengannya. Karena setelah beberapa hari Ibra amati, Audi mulai minder ketika berhadapan dengan Ibra, orang yang menjadi pacarnya sendiri.
Apa gadis itu mengira Ibra jijik dengan penampilan fisiknya saat ini? Hal ini yang sekarang sedang terngiang-ngiang di pikiran Ibra. Semoga setelah bertemu psikiater, Audi bisa perlahan bangkit seperti semula, dan setelah itu mereka menikah.
Tidak mungkin juga Ibra menikahi Audi secara paksa. Ia tak ingin egois dan menambah beban pikiran gadis itu.
__ADS_1