
Sekitar tiga hari setelah Ibra menghubungi komandannya di kesatuan, pada akhirnya hari di mana mereka bertemu pun tiba. Ibra dengan sengaja meski berat hati meninggalkan Audi ke Jakarta. Ia sudah mewanti-wanti maminya agar lebih sering menjenguk Audi, menemani gadis itu agar tidak merasa sendiri kendati ia belum sadar.
Ibra duduk segan di hadapan sang komandan, terpekur memandangi meja bundar yang menjadi pemisah di antara mereka. Cafe tempat mereka bertemu tidak begitu ramai pengunjung, hal ini membuat Ibra lebih leluasa untuk bicara.
"Jadi, ada apa kamu minta kita bertemu?" tanya Komandan memulai pembicaraan.
Ibra terdiam lama sambil memainkan pinggiran cangkir berisi kopi miliknya. Ia membuang nafas berat sebelum menjawab.
"Saya ingin mengundurkan diri dari kesatuan," ucap Ibra mantap. "Saya ingin mundur dari keanggotaan sebagai TNI."
Raut komandan berubah serius. Ia yang awalnya hendak menyeruput kopi mendadak berhenti mendengar perkataan Ibra. "Apa?"
Ibra bungkam, ia menatap lurus komandan di depannya. Ekspresi Ibra sudah dipenuhi keyakinan, itu berarti pemuda tersebut tidak main-main.
"Kenapa?" tanya Komandan lagi.
"Karena saya harus melakukannya."
Helaan nafas terdengar berat keluar dari mulut sang komandan. "Apa ini menyangkut sepupu kamu yang kecelakaan itu?"
Hening tak ada jawaban. Ibra kembali termenung melihat kopi di depannya.
"Apa kamu harus sampai mengorbankan karir seperti ini? Kenapa kamu bisa sampai bertindak sejauh ini?"
Butuh waktu beberapa detik untuk mendengar alasan Ibra. "Ini satu-satunya jalan agar saya bisa menikahinya."
Pada akhirnya Ibra pun membeberkan alasan yang sebenarnya. "Claudia bukan hanya sepupu atau keluarga saya, tapi ... dia juga pacar sekaligus calon istri saya. Saya ingin menikahi dia, meski kondisinya sekarang tidak baik-baik saja."
Penjelasan tersebut membuat komandan cukup terkejut, namun ia tetap mampu mempertahankan rautnya agar tetap tenang. Ia menatap salah satu anggota berbakatnya itu dengan lekat, kemudian bertanya.
"Apa kamu tidak ingin menunggu dia sembuh dulu? Kamu bisa menikahinya setelah dia sembuh tanpa harus mengundurkan diri dari kesatuan," ucapnya menyuarakan pendapat.
"Sayang sekali, lho. Sebentar lagi kamu naik pangkat jadi kapten. Apa kamu sudah benar-benar mempertimbangkan hal ini?"
__ADS_1
"Jangan asal mengambil keputusan. Coba pikirkan dulu baik-baik karena ini bisa merugikan kamu ke depannya."
Namun Ibra tetap menggeleng, sangat pelan seolah menegaskan tanpa berniat menyinggung. "Saya akan merasa lebih rugi jika meninggalkannya." Ia menatap lurus komandan. "Bagi saya dia jauh lebih penting ketimbang kenaikan pangkat. Mungkin dulu saya sangat berambisi mendapatkan gelar kapten dan di atasnya, tapi sekarang ... saya seolah kehilangan minat untuk itu. Prioritas saya saat ini hanya dia. Saya ingin menemani dia, mendampingi dia selama sakit dan proses penyembuhan. Itu salah satu dukungan moril saya terhadapnya."
"Dan untuk melakukan semua hal itu, saya harus menikahinya supaya lebih leluasa, dan saya juga merasa lega."
Entah apa yang dipikirkan Ibra. Sang komandan masih saja menyayangkan keputusan Ibra yang menurutnya begitu gegabah. Tidak mudah untuk menjadi seorang perwira TNI, dan Ibra malah ingin melepas semua itu. Padahal tinggal selangkah lagi Ibra bisa naik ke jenjang yang lebih tinggi.
Namun sepertinya Ibra tetap serius dengan keinginannya. Memang, kadang cinta melemahkan seseorang, termasuk seorang prajurit sekalipun yang ditempa pelatihan mental luar biasa kuat.
Komandan menghela nafas sebelum menyeruput kopinya yang hampir dingin. "Tolong pikirkan dulu secara matang. Saya kasih kamu waktu satu minggu untuk berpikir lagi. Karena setelah kamu mengajukan surat pengunduran diri, dan ketika surat itu berhasil diproses, kamu sudah tidak bisa lagi kembali menjadi anggota TNI."
"Pertimbangkan hal ini sebaik mungkin," lanjut komandan seraya membereskan ponsel dan kunci mobilnya di atas meja. "Saya ada pertemuan rapat dengan menteri. Kita sudahi dulu. Itu pesan dari saya, pikirkan baik-baik sebelum benar-benar memutuskan."
Komandan menepuk tegas bahu Ibra. Ia berlalu melewati Ibra dan berhenti sejenak di kasir untuk bayar pesanan. Ia lalu pergi meninggalkan cafe, menyisakan Ibra yang mematung sendirian di mejanya.
Ibra mengusap wajahnya sebentar sebelum turut beranjak dari sana. Ia pergi setelah membayar kopi.
***
Belah bibir itu bergetar pelan seolah ingin menyampaikan suara, namun di sana tak ada siapa pun selain keheningan. Pada akhirnya gadis tersebut hanya bisa terdiam, memandangi kosong langit-langit di atasnya.
Rasa sakit menjalar di sekujur tubuh, tapi Audi seolah mati rasa karena tubuhnya tak mampu bergerak. Benaknya dipenuhi pertanyaan mengenai di mana dirinya sekarang.
Pening, pun penglihatannya buram. Otaknya seolah blank tak mampu berpikir. Apa yang sebelumnya terjadi, sedang apa dirinya saat ini, semuanya berputar seiring pertanyaan - pertanyaan lain yang bermunculan.
Tak ada hal lain yang mampu dilakukan Audi selain berkedip. Rasa lelah dan lemas mendominasi panca indera, juga otot - otot yang serasa lama tak bekerja.
Apa? Kenapa? Bagaimana?
Pada siapa Audi harus bertanya? Ia sendirian sekarang. Apa ini tempat pemberian Tuhan khusus untuknya?
Tak lama seseorang masuk membuka pintu. Safa yang baru saja kembali usai sholat isya dan tengah bertelepon dengan Ibra masih tak menyadari kondisi Audi. Ia terus berjalan sambil fokus menyahuti putranya di seberang ponsel. Hingga ketika ia menyimpan tas di kursi samping ranjang, matanya tanpa sengaja beradu pandang dengan Audi.
__ADS_1
"Iya, Ibra. Ini Mami udah balik lagi ke kamar Audi, yang lain masih di bawah. Kamu gak perlu khawatir, Mami akan jaga Audi di si ... ni," bisiknya menggantung di akhir kalimat.
Safa mengerjap berusaha mencerna apa yang ia lihat. Suara Ibra yang memanggilnya berkali-kali bahkan terdengar samar hingga lama kelamaan berangsur menghilang.
Saking fokusnya melihat Audi, Safa jadi tak bisa mendengar apa pun. Tubuhnya terpaku dengan mata yang perlahan berangsur membelalak.
"A-Audi? Kamu udah sadar?"
Di sisi lain, Ibra yang mendengar perkataan Safa kontan sama membeku. Ia yang semula hendak membuka pintu mobil, terdiam sejenak mencerna sesuatu.
"Mam? Mami? Halo? Mami apa maksudnya? Mami ngomong sama siapa?" tanya Ibra beruntun.
Hening tak ada jawaban. Jantung Ibra mendadak berdetak cepat menunggu kejelasan. Tadi ... ia tak salah dengar, kan? Mami Safa jelas - jelas menyebut nama Audi, dia bertanya pada sosok bernama Audi.
Itu ... Audinya Ibra?
"Mami? Halo? Mami tolong jawab Ibra." Ibra berseru panik karena tak mendengar apa pun lagi dari seberang telepon.
Ia mengecek ponsel untuk memastikan panggilan masih terhubung.
"Mami? Mam, please," mohon Ibra harap - harap cemas.
"I-Ibra, Nak ... Audi udah siuman!"
Layaknya angin segar di tengah panasnya cuaca malam Jakarta, senyum Ibra yang beberapa waktu terakhir redup, kini akhirnya mampu mengembang lepas, disertai sorot mata penuh haru sekaligus tak percaya.
"Cla?" bisik Ibra senang.
"Dokter! Dokter! Suster!" Terdengar teriakan sang mami juga suara grasak-grusuk saat wanita itu beberapa kali memencet tombol pemanggil.
Ibra tebak wanita itu juga senang namun sekaligus panik. Ibra terkekeh memijat pangkal hidungnya saat dirasa kedua matanya basah ingin menangis. Dan akhirnya Ibra pun terisak pelan, tentu ia menangis karena rasa senang.
Terima kasih, Tuhan. Cla, Mas akan segera kembali sekarang juga.
__ADS_1