Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 85


__ADS_3

Berhari-hari berpikir sampai menunda kepulangan, akhirnya Audi putuskan untuk berani menghadap sang oma. Lima hari setelah kejadian yang menggegerkan di Bogor, di mana hal tersebut turut menyeret nama Ibra sehingga viral, Audi bilang pada pria itu bahwa ia akan jujur pada keluarganya.


Tanpa tahu padahal mereka sudah mengetahui lantaran Ibra telah lebih dulu maju mengungkap hubungan mereka, sekaligus meminta restu yang meskipun berujung penolakan.


Audi duduk dengan gugup, meremas jemari di atas paha di bawah tatapan sang oma. Oma Halim meneliti cucunya dari atas ke bawah, diam-diam mengagumi kecantikan Audi yang memang sudah turun temurun. Terang saja, keturunan Halim tak ada yang miskin apalagi jelek.


Keduanya duduk berhadapan di satu sofa yang sama. Audi duduk sedikit menyamping agar bisa menghadap sang oma, Oma Halim pun sama.


Wajah tuanya yang masih terlihat fresh kendati umur sudah lansia memandang Audi dengan lekat. Tangan putihnya yang sudah berkerut meraih tangan halus Audi untuk ia genggam.


Oma Halim mengambil nafas sebelum bicara. "Kamu sudah besar. Maaf, mungkin selama ini Oma terkesan selalu menuntut kamu, sampai - sampai kamu takut setiap kali mau bertemu Oma."


Audi mendongak. "Kata siapa?"


Oma Halim tersenyum. "Tanpa ada yang beri tahu pun, Oma bisa merasakan keengganan kamu."


"Oma ..." Melihat sang oma yang memasang raut sedih, Audi kontan merasa bersalah. "Maaf, Audi tak bermaksud menghindari Oma."


"Gak papa. Wajar kamu takut, Oma selalu nyuruh kamu nikah." Oma Halim tertawa.


Audi hanya bisa diam karena semua yang dikatakan omanya adalah benar, yang selalu Audi hindari ketika bertemu sang oma adalah topik pernikahan. Tapi sekarang, dengan berani Audi menghadap wanita itu untuk meluruskan sesuatu.


"Kamu lama di Jakarta, apa sering ketemu Ibra?"


"Gak sering banget, Oma. Cuman saat Mas Ibra senggang atau libur aja."


Oma Halim mengangguk. "Memang begitu resiko pacaran sama tentara. Meski Ibra sudah pindah jadi paspampres, tetap saja dia masih satu kesatuan sama TNI," ujarnya lembut.


"Iya, Oma."


Oma Halim tersenyum tipis. Ia lalu kembali mendongak melihat Audi. "Dari respon kamu, sepertinya apa yang Jeno bilang itu memang benar, kamu pacaran sama Ibra?"


Audi terdiam. "Oma sudah tahu, apa masih harus bertanya?"


"Oma hanya memastikan. Jadi benar?"


"Iya, Oma."


"Terlepas dari masa lalunya, kamu menerima Ibra karena apa?"

__ADS_1


Hening. Audi tak langsung menjawab pertanyaan Oma Halim. Ia menghela nafas, kemudian menunduk sebentar sebelum mendongak lagi menatap sang oma. "Audi cinta Mas Ibra, Oma."


"Cinta?"


Audi mengangguk pelan. "Iya."


"Audi ... udah suka Mas Ibra sejak dulu, Oma," tambah Audi, pelan sembari menunduk dalam.


Oma Halim menatap Audi teduh, sorotnya sedikit nanar menyaksikan sang cucu yang tengah gugup di hadapannya. Ia memberi usapan halus di tangan Audi, berusaha memberi ketenangan untuk Audi yang sejak tadi merasa tegang.


"Kalian ini, benar-benar membuat Oma tak bisa berpikir," ucapnya setengah berbisik. "Kalian mengingatkan Oma pada istilah pariban dalam suku Batak."


Audi mendongak. "Pariban, Oma?"


Oma mengangguk. "Iya. Jika dari sudut pandang Ibra, pariban adalah boru dari tulang, atau dalam bahasa Indonesia berarti anak perempuan dari kakak laki-laki ibu. Jika dari sudut pandang kamu, pariban adalah anak dari namboru yang berarti anak laki-laki dari adik perempuan ayah."


"Ibra itu pariban kamu, dan kamu paribannya Ibra. Kalau Oma gak salah, di adat Batak sesama pariban itu selalu dinikahkan."


"Kenapa?" Audi baru dengar istilah itu.


"Untuk mempererat tali persaudaraan antara keluarga dari kedua belah pihak, dan untuk membantu menjaga hubungan pertalian darah agar dapat terjaga dengan baik."


"Jadi Audi dan Mas Ibra harus nikah, dong?" Pertanyaan tersebut keluar begitu saja hingga terkesan polos.


Oma Halim berdecak. "Kalian kan bukan Batak, ya gak harus juga." Tanpa sadar suaranya berubah ketus.


Audi meringis menggaruk tengkuk.


"Meski begitu, dalam agama kita hubungan antar sepupu itu diperbolehkan. Tapi omong-omong, tumben kamu bahas pernikahan? Kamu udah siap nikah?"


Mendengar itu Audi kontan melotot. "Eng ... enggak, Oma! Bukan gitu! Audi hanya menganalogikan apa yang Oma bilang saja."


"Kirain. Padahal kayaknya Ibra udah siap banget," celetuk Oma Halim.


Audi mengernyit. "Kok, Oma tahu?"


***


Siang hari, tepatnya usai makan siang di rumah sang oma, Audi pun pulang dan kini tengah berada di perjalanan. Rautnya sesekali merengut mengingat kembali apa yang baru saja ia ketahui.

__ADS_1


Kenapa Ibra tidak bilang bahwa pria itu sempat pulang ke Bandung beberapa waktu lalu? Audi curiga saat Ibra bilang habis dari luar kota, kota yang dimaksud adalah kampung halamannya, tak lain Kota Kembang tempat mereka dibesarkan.


"Ish!" Audi berdecak tak sabar menunggu lampu merah.


Audi meraih ponsel di dashboard, membuka laman pembicaraannya bersama Ibra di aplikasi hijau, lalu mengetik pesan untuk lelaki itu.


Jika kalian merasa geli dengan nama kontak Ibra di ponsel Audi, Audi tegaskan bukan dirinya yang membuat seperti itu, melainkan Ibra sendiri yang mengubah namanya di kontak Audi.


Masku Sayang. Lengkap dengan emoticon love di belakangnya. Ternyata Ibra bisa se-alay itu jika sedang bucin.


|Mas Ibra udah bohongin aku, ya?|


Audi sengaja mengirim pesan berisi kalimat memancing seperti itu. Ibra pasti ketar-ketir ketika membacanya. Audi tidak konyol dengan menunggu balasan dari Ibra. Pria yang bisa hidup tanpa ponsel seharian itu bukan sesuatu yang patut ditunggu balasan pesannya.


Audi menyimpan kembali ponsel mahal itu, lalu mulai fokus pada kemudi di depan. Tepat saat itu lampu lantas sudah berubah hijau, ia pun segera melajukan mobilnya melanjutkan perjalanan.


Tak lama ponsel Audi pun berbunyi. Audi pikir itu Ibra yang langsung menelepon setelah membaca pesannya, ternyata malah nama sang papa yang Audi dapati di sana.


Audi memasang headset bluetooth dan mengangkat panggilan tersebut tanpa perlu repot-repot memegangi ponsel. Sembari terus menyetir, Audi mulai menyapa ayahnya. "Halo, Papa? Kenapa?"


"Kamu masih di rumah Oma?" tanya Dava langsung.


"Enggak. Ini lagi di jalan pulang."


"Oh, gitu? Ya udah, langsung pulang ke rumah, ya? Papa tunggu."


Audi mengernyit. "Kenapa, Pa?"


"Pokoknya langsung pulang ke rumah. Ada hal penting."


Hanya itu yang Dava katakan sebelum mengucap salam menutup panggilan. Audi jadi dibuat terheran-heran. Ada apa gerangan sampai-sampai ia disuruh langsung pulang? Hal penting apa yang menunggunya di rumah?


Tak ingin penasaran terlalu lama, setengah jam kemudian Audi sudah tiba di halaman rumah. Ia mengernyit ketika melihat mobil asing yang turut terparkir di sana.


Dengan masih diliputi keheranan, Audi pun melangkah memasuki rumah. Namun, langkahnya memelan ketika mendapati sang papa di ruang tamu. Ia tak sendiri, di depannya ada seorang pria muda, mungkin lebih muda dari Ibra, keduanya tampak berbincang ramah hingga percakapan itu berhenti saat mereka menyadari kehadiran Audi.


"Assalamualaikum?" Sapa Audi, setengah bingung.


"Wa'alaikumsalam. Kamu sudah pulang. Sini, duduk bareng Papa. Papa mau kenalin kamu sama seseorang."

__ADS_1


__ADS_2