Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 120


__ADS_3

Lebaran pun tiba. Hari kemenangan seluruh umat muslim di dunia setelah berhasil melewati puasa. Seperti biasa, Audi dan seluruh keluarga besar Halim akan berkumpul di rumah Oma. Bahkan yang jauh dan jarang bertemu pun turut menyempatkan diri untuk datang jika idul fitri. Itu artinya idul fitri memang menyatukan mereka dalam silaturahmi.


Audi menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mematut kembali hijabnya dengan pandangan nanar. Karena kepalanya tak secantik dulu, Audi baru terpikir untuk mengenakan penutup aurat tersebut. Betapa naifnya dia selama ini. Kenapa tidak dari dulu-dulu saat rambutnya masih tergerai cantik dan indah ia mengenakan hijab?


Mengesampingkan huru-hara hatinya, Audi menengok ketika ponselnya berbunyi menampilkan telepon masuk dari Ibra. Bukan, lebih tepatnya video call. Dengan pelan Audi meraih benda pipih itu dan menerima panggilan Ibra. Wajah Ibra terpampang dengan senyum merekah menyapa Audi yang terdiam. Pria itu masih saja berdinas kendati hari raya. Mungkin sudah benar kalau Ibra mengundurkan diri saja, mendadak sekarang Audi rindu pria itu.


"Assalamualaikum, Cla. Minal aidin wal-faizin, Sayang. Maaf, Mas gak bisa lebaran sama kamu dan keluarga kita sekarang. Mungkin tahun nanti Mas bisa bebas kumpul sama kalian."


Audi tersenyum. "Iya, Mas, gak papa. Mas Ibra sehat?"


"Alhamdulillah, sehat. Kamu gimana? Udah ada perkembangan apa aja selama Mas gak ada?"


"Masih tetap," sahut Audi sedikit sedih.


Sontak melihat wajah Audi yang layu, Ibra pun lantas tersenyum. "Gak papa, Sayang. Kan bertahap."


"Kamu udah gak marah lagi sama Mas?" Rupanya Ibra menyadari hal tersebut.


Audi menggeleng sebagai jawaban. "Untuk apa aku marah? Toh, keputusan Mas untuk kebaikan kita juga."


Ibra terkekeh senang. "Syukurlah. Makasih, udah mau ngertiin Mas. Mas minta maaf atas segala kesalahan Mas sama kamu. Maaf jika sebelumnya Mas ada salah ucap atau sikap yang membuat kamu kesal, atau bahkan menyakiti perasaan kamu. Mas minta maaf, ya, Cla. Maaf juga karena kita gak bisa salam-salaman langsung. Padahal, kamu pasti butuh banget pasangan di hari seperti ini. Di saat orang lain lebaran sama pasangan, Mas justru pergi ninggalin kamu. Mas minta maaf."


Audi mengangguk, entah kenapa hatinya merasa haru dan ingin menangis. Sebelumnya Audi biasa-biasa saja saat lebaran. Kenapa kali ini berbeda?


"Gak papa, Mas. Audi ngerti, Mas harus tetap bertugas sebelum jadi TNI non-aktif. Audi juga minta maaf karena sering buat Mas Ibra pusing dan kesal. Mungkin selama ini ada sikap atau perkataan Audi yang menyinggung Mas Ibra. Audi minta maaf, Mas."


Ibra tersenyum. "Dimaafin, Sayang. Lagian Mas gak pernah bisa marah lama - lama sama kamu."


Audi turut tersenyum. Mereka saling pandang mengagumi satu sama lain. Entah kenapa hari ini Ibra tampak sangat bersinar di mata Audi. Begitu pula Ibra, ia mengamati Audi lekat-lekat dengan pandangan penuh rindu.


"Itu hijab yang dari Mas, kan?"


"Eh?" Audi menunduk, turut mengamati hijabnya sendiri. "Iya, ini aku pake. Kenapa? Gak cocok, ya?" Rasa tak percaya diri Audi kembali muncul. Terlebih bekas lukanya masih menghitam dan belum memudar.


"Cantik, Sayang. Sudah Mas duga kamu cocok pakai itu."

__ADS_1


Namun Audi tersenyum sumir. Entah Ibra jujur mengatakannya atau ia hanya ingin menghibur Audi.


"Kamu mulai lagi," celetuk Ibra, membuat Audi seketika mendongak.


"Kamu pasti ngira Mas bohong."


Audi melipat bibir yang polos tanpa lipstik. Sebelumnya Audi merupakan penggila lipstik. Tapi, sekarang percuma, mau berdandan semahal apa pun Audi tetap tak bisa menutupi tekstur wajahnya yang mengenaskan.


"Nanti setelah lebaran kita ke Korea, ya? Mas udah dapat konfirmasi dari dokter di sana. Kita diminta konsultasi langsung supaya lebih jelas. Mau, ya?"


Audi mendongak ragu. "Mas Ibra yakin?"


"Kenapa gak yakin? Kan ini buat kesembuhan kamu."


Melihat perubahan sikap Audi yang kian hari kian layu, Ibra mati-matian menahan perih di hatinya. Ia ingin melakukan apa pun yang terbaik untuk Audi. Ibra akan mengembalikan Audinya seperti semula, itu janjinya.


"Mau, ya? Sekalian berlibur juga boleh. Bukannya tahun lalu kamu mau banget ke sana?"


"Mas Ibra kok tahu? Kan waktu itu kita belum sedekat ini?" Audi merasa heran.


"Ooh ..." Audi mengangguk paham. "Mas Ibra emang gak papa hubungi Audi jam segini? Bukannya lagi dinas?"


"Iya, Sayang. Ini Mas lagi izin ke kamar mandi."


"Tapi malah keenakan video call," cibir Audi.


Ibra terkekeh geli. "Ya gak papa sekali-sekali." Kemudian ia melanjutkan. "Dua hari setelah lebaran, Mas pulang ke Bandung. Kamu tunggu Mas di sana, ya?"


Audi berusaha menyembunyikan rasa tersipu. Ia mengulum senyum kecil seraya mengangguk. "Audi tunggu Mas di sini."


Lengkung manis itu terlihat indah di mata Ibra. Audinya memang selalu menggemaskan, entah karena alasan apa.


"Hanya itu?" Ibra mengangkat alis.


Audi mendongak dengan raut bingung.

__ADS_1


"Kamu gak ada kalimat lain yang lebih manis buat Mas gitu? Biar Mas lebih semangat kerjanya, dan bisa cepat pulang temui kamu."


Audi merengut. "Mas Ibra apa, sih? Kok banyak maunya?" ujarnya setengah kesal.


Namun Ibra tetap tersenyum, menunggu Audi mengatakan sesuatu. Audi lupa, Ibra tak akan berhenti sebelum mendapatkan keinginannya.


"Cepat pulang. Audi nunggu Mas di sini."


"Hmm ..." Ibra bergumam seolah berpikir panjang. "Kurang greget, Sayang," lanjutnya menyebalkan. Hampir Audi melempar botol parfum di meja rias.


Dengan sabar Audi mencoba lagi. "Mas Ibra cepat pulang, Audi nunggu Mas di sini."


"Kurang, Sayang."


"Ih! Mas Ibra maunya apa sih?" kesal Audi.


"Lagi ..." pinta Ibra. "Ayo dong, Sayang. Ulang lagi, ya? Kamu panggil Mas apa, kek. Mas Sayang, gitu? Bukannya kamu suka manggil Mas kayak gitu?"


Sabar. Audi memejamkan mata, mengambil nafas dan membuangnya panjang.


"Mas Ibra, sayangnya Audi, cepat pulang, ya? Audi rindu pengen cepat ketemu," ucap Audi dengan ritme yang cukup cepat dan raut malu-malu.


Ibra tersenyum puas. "Nah, gitu, dong. Mas juga rindu kamu, Cla. Sangat."


"Ya udah, Mas tutup dulu, ya? Sekali lagi minal aidin wal-faizin, mohon maaf lahir dan batin. Assalamualaikum, Cinta."


"Wa'alaikumsalam," sahut Audi pelan.


Jangan tanya jantungnya bergaduh separah apa. Dadanya sampai sakit karena terlalu gugup. Tanpa sadar Audi tersenyum mengingat kembali wajah penuh senyum Ibra. Ia menunduk memilin hijab pemberian pria itu.


"Audi sayang Mas."


Beberapa saat kemudian suara Lalisa terdengar dari kuar kamar. "Di, kamu udah selesai? Kita mau berangkat ke rumah Oma."


Audi merapikan kerudung serta gamisnya sebelum menyahut. "Iya, Ma, udah!"

__ADS_1


__ADS_2