
"Bang, ayo!"
Ibra mengetik pesan di ponselnya sebelum panggilan seseorang membuatnya lekas memasukkan benda itu ke dalam loker.
Jam menunjukkan pukul sembilan. Seperti yang sudah Ibra bilang sebelumnya, hari ini adalah kunjungan wapres ke Markas Komando Paspampres.
Para pasukan elite dari berbagai detasemen TNI turut meramaikan acara. Mereka berbaris di depan gerbang guna menyambut kedatangan Wakil Presiden disertai sorak sorai mars paspampres yang sudah menjadi ciri khas.
Kepala Staf Umum (Kasum) TNI didampingi Irjen TNI, Asintel Panglima TNI, serta Komandan Paspampres menyambut kedatangan Wakil Presiden RI beserta sang istri dan rombongannya.
Selagi memasuki halaman, Wapres ditunjukkan beberapa jenis senjata seperti Heckler dan Koch MP5, Heckler dan Koch MP7A1, pistol series Glock, serta senapan serbu Pindad SS1. Tak lupa fungsi dan kegunaan juga turut dipaparkan secara jelas dan singkat.
Kunjungan Wakil Presiden Republik Indonesia ke Markas Komando Pasukan Pengamanan Presiden tak lain dalam rangka melihat demo ketangkasan personel Paspampres dari tiga matra yaitu, TNI AD, TNI AL, dan TNI AU. Juga pameran statik alat utama serta persenjataan yang dimiliki oleh pasukan elite tersebut.
Mengawali sambutannya, Kepala Staf Umum TNI menyampaikan ucapan selamat datang, menghaturkan terima kasih pada Bapak Wapres beserta Ibu dan keluarga yang sudah bersedia berkunjung ke Mako Paspampres.
"Kami sampaikan kepada Bapak, bahwa Paspampres adalah satuan pelaksana di lingkungan Mabes TNI, dengan pembinaan dan penggunaan kekuatannya berada langsung di bawah Panglima TNI," ujarnya.
Kasum TNI juga menyampaikan bahwa Paspampres mempunyai tugas pokok melaksanakan pengamanan fisik langsung jarak dekat kepada Presiden, Wakil Presiden dan Tamu Negara setingkat Kepala Negara atau Pemerintahan beserta keluarganya, serta tugas protokoler khusus pada upacara-upacara kenegaraan yang dilakukan baik di lingkungan Istana Kepresidenan maupun di luar lingkungan Istana Kepresidenan dalam rangka mendukung tugas pokok TNI.
Sementara itu, Ibra dan kawan-kawannya yang ikut serta melakukan atraksi kini bersiap dengan pakaian hitam serta helm dan kendaraan yang sudah disiapkan oleh detasemen peralatan.
Berbeda dengan pasukan TNI yang melakukan baris di tengah lapangan Mako, ia dan personel lain menunggu di pinggir lapang menanti instruksi penyambutan.
Hingga tiba di mana Kasum TNI mengakhiri pidatonya, suara kowad perempuan terdengar mengawali acara, disusul seruan keras pemimpin pasukan yang berbaris di tengah lapang, begitu pula Ibra dan para personelnya yang siap menyalakan kendaraan.
"Mari, maju! Jalan!" teriaknya gahar.
Barisan tentara itu berderap ke pinggir lapangan, disusul anggota paspampres yang mulai mengatur pormasi menunjukkan kebolehan pertamanya.
Disaksikan langsung oleh Wakil Presiden dan beberapa pejabat mulai dari komandan TNI hingga perwira berpangkat kapten, kegiatan dibuka oleh simulasi pengawalan wakil presiden.
__ADS_1
Satu persatu mobil memasuki lapangan. Tiga mobil patwal melaju berurutan, disusul sedan mewah dengan plat RI 02, disusul kembali tiga mobil patwal yang mengapit dari belakang.
Tak ketinggalan 8 motor pasukan yonwal dan matan yang mengawal di samping mobil-mobil tersebut. Kegiatan pun siap dilaksanakan.
Suara kowad kembali terdengar.
"Kita lihat bersama, sebelah kanan terdapat sebuah drone, yang tidak dikenal dan tidak mendapat izin terbang militer, tepat di depan pangkalan."
Tak berapa lama satu mobil Jeep langsung mendekat sambil menodongkan sebuah alat semacam teropong besar yang membuat dua drone tersebut seketika turun secara otomatis.
"Lapor, pelihara Ring 1, dua drone sudah aman satu! Demikian monitor, terimakasih."
Selanjutnya mobil sedan dengan lambang RI 02, para pasukan pengawal dengan sigap berjaga di sisi kiri kanan mobil tersebut.
Suara kowad pun kembali menyuarakan narasi. "Sesampai di tempat acara, Bapak Wakil Presiden dan Ibu berperan turun menyapa masyarakat. Di mana bertepatan dengan itu, ancaman pun datang."
Seorang pria dan wanita yang berperan sebagai wapres dan istri turun dari mobil. Tepat setelah beberapa langkah gerombolan orang yang berperan sebagai oknum masyarakat tiba-tiba menyerang.
Saat itulah pasukan pengaman bergerak cepat dengan aksi-aksinya melumpuhkan pemberontak.
Di sisi lain, Audi dan Tian tengah kesulitan di depan gerbang Mako. Tian sampai meringis berkali-kali melihat ketegasan para penjaga di sana. Berbeda dengan Audi yang seperti tidak ada takut-takutnya, gadis itu nampak tenang sekaligus tak acuh sampai kedatangan seseorang berseragam loreng menghampiri mereka.
"Mbak Claudia?"
Meski heran Audi tetap mengangguk, ia menurunkan tangannya yang semula bersidekap.
"Mari ikut saya," ucap si pria berseragam loreng dengan name tag Prayoga.
Audi dan Tian akhirnya dipersilakan masuk setelah Prayoga membisikkan sesuatu di telinga rekannya yang sebelumnya menghadang dua wanita itu.
Entah apa yang Prayoga katakan hingga si penjaga yang sama-sama dari anggota prajurit sejenak membelalak terkejut. Apalagi ia meneliti Audi lamat-lamat seakan tengah penasaran akan sesuatu.
__ADS_1
Audi dan Tian melenggang mengekori Prayoga hingga tiba di sebuah koridor yang menghadap langsung pada lapangan. Sejenak Audi mengernyit melihat keramaian di sana. Rupanya tengah ada acara.
"Mbak tunggu di sini saja, nanti Lettu Ibra ke sini kalau sudah selesai," kata Prayoga.
Pria itu juga menawarkan Audi minum, yang lantas ditolak halus oleh Audi. Terang saja, Tian sebagai manager memang kerap membawa air mineral ke manapun mereka pergi, jadi Audi tak pernah kesulitan perihal haus atau dehidrasi.
Prayoga izin pamit meninggalkan keduanya. Audi tak keberatan, ia mengajak Tian duduk di salah satu bangku sambil mengamati atraksi free climbing yang cukup memukau mata.
Tiga anggota pasukan hitam tampak meluncur dari atas gedung buatan dengan posisi merayap ke bawah.
"Wah ... gila. Mereka udah kayak ninja," decak Tian kagum. "Sepupumu yang mana?" Ia menoleh pada Audi yang hanya mengendik.
"Ck, mukamu kayak gak ada semangat banget dari kemarin. Luyu kayak mawar yang layu."
Padahal tadi Audi yang mengajaknya berkunjung ke Markas Paspampres. Katanya dia mau memberikan barang Tante Safa yang sebelumnya dititipkan untuk sang sepupu.
Yang tidak Tian mengerti, kenapa Audi seolah malas menjalankan perintah itu.
Memang malas, kalau bukan karena Ibra yang terus menerornya lewat pesan, Audi juga ogah berkunjung kemari. Katanya dalam titipan Tante Safa ada satu kaos yang harus Ibra pakai hari ini juga. Mau tak mau Audi manut saat lelaki itu memintanya bertemu di sini.
Audi paham Ibra sangat sibuk, hingga kecil kesempatan ia bisa meluangkan waktu hanya untuk berkeliaran tak jelas seperti halnya bertemu Audi di cafe.
Astaga, apa Audi baru saja berharap Ibra mengajaknya berkencan dan makan bersama? Konyol.
Entah berapa lama Audi dan Tian diam menunggu di sana, keduanya cukup melupakan waktu karena harus diakui pertunjukkan para pasukan elite membuat mereka tak berhenti terkagum.
Terlebih sekarang Audi tahu betapa beratnya latihan yang ditempa para prajurit pilihan tersebut untuk mendapat kemampuan sehebat itu.
Tanpa Audi sadari aksi keren Ibra menimbulkan euforia tertentu di hatinya. Ritme jantung Audi bertambah dua kali lipat lebih cepat.
Kenapa Ibra selalu mudah membuatnya terpesona? Menyebalkan.
__ADS_1
..............