Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 144


__ADS_3

"Hooeek ..."


"Hooeek ..."


Rasa mual melanda Audi sedari bangun tidur. Tubuhnya terasa lemas seakan tak bertenaga. Wajah Audi pucat, sampai-sampai Ibra yang hendak berangkat kerja pun berkali-kali memperhatikannya dengan khawatir.


Ibra yang sudah rapi dengan kemeja dan celana bahannya, menghampiri Audi yang kini tengah membungkuk di depan wastafel. Raut Ibra luar biasa cemas karena sedari tadi Audi tak berhenti muntah. Bahkan makanan yang baru masuk pagi ini pun turut keluar, padahal belum ada 2 menit Audi makan.


"Yang? Kamu muntah terus, mual ya?" Ibra bertanya sembari memijat pelan tengkuk sang istri.


Audi tak lekas menjawab. Ia benar-benar kesulitan mengendalikan rasa meluah yang menyelimuti perut hingga kerongkongannya.


"Hooeek ..." Audi kembali muntah.


Suara keran air yang mengucur memenuhi ruang dapur pagi itu. Ibra menyuruh para asisten rumahnya untuk lanjut mengerjakan pekerjaan rumah. Pasalnya mereka sempat ikut khawatir melihat Audi.


Audi menyeka mulutnya dengan air, ia juga berkumur menghilangkan bekas muntahan yang masih terasa di lidah. Selesai berkumur, Audi berbalik, bersandar lemas pada tepian wastafel, yang kemudian Ibra rangkul untuk membawanya duduk di salah satu kursi makan.


Ibra menyandarkan kepala Audi di bahunya. Ia juga memijat kening wanita itu hingga kini terpejam kelelahan.


Saat melihat salah satu asisten rumahnya lewat, Ibra buru-buru memanggil wanita paruh baya tersebut. "Bik! Bik!"


"Iya, Pak?" Si Bibik setengah membungkuk menghampiri. Matanya sempat melirik Audi di pelukan Ibra.


"Tolong ambilin minyak kayu putih, Bik, di kotak obat. Tolong, ya?"


Mendengar itu si Bibik tentu saja langsung mengangguk. "Baik, Pak. Tunggu sebentar."


Ia berlari kecil meninggalkan dapur, hingga tak lama kembali dengan membawa sebotol kecil minyak kayu putih yang Ibra minta.


"Makasih," ujar Ibra.


"Sama-sama, Pak. Itu dioles di perut juga, Pak. Biar anget."


"Iya," sahut Ibra. Fokusnya mulai tersita sepenuhnya pada Audi.


Pertama Ibra menuang sedikit cairan yang memiliki aroma khas itu, lalu mengolesnya tipis di antara lubang hidung Audi.


"Sayang?" panggil Ibra pelan.


Audi hanya bergumam dan sedikit menggeliat mencari posisi nyaman untuk bersandar.


"Pusing, gak?" lanjut Ibra bertanya.


Audi mengangguk dan bergumam pendek. "Hmm."


"Mas olesin perutnya, ya? Ini tali baju kamu dibuka dulu."


Audi pun membuka mata. Ia sempat menatap Ibra sebentar dengan mata sayunya, lalu kembali terpejam sambil membuka tali kimono tidur yang masih ia kenakan sedari semalam. Benar, Audi memang belum mandi pagi ini. Mereka juga tak berhubungan badan karena Ibra lembur di ruang kerja.


Sekarang Ibra bisa dengan bebas menyibak pakaian Audi, lalu mengoleskan minyak kayu putih lumayan banyak sesuai arahan Bik Ilah, asisten rumah yang tadi sempat Ibra mintai tolong.


"Di bagian dadanya juga, Pak, biar sedikit lega itu rasa-rasa enek di sana," ujar Bik Ilah, kembali memberi tahu Ibra.


"Iya, Bik. Maaf, ya, saya gak sopan buka-buka baju istri di hadapan Bibik." Ibra membalas dengan sedikit selorohan. Ia tak ingin orang lain ikut khawatir melihat Audi.


Ibra bisa seberani itu karena memang Bik Ilah salah satu asisten yang sudah setia bekerja pada keluarga Edzar selama puluhan tahun, jadi Ibra sudah akrab dengan beliau.

__ADS_1


"Gak papa, Pak. Lagian sesama wanita, Bibik juga ngerti keadaan si Neng lagi memprihatinkan begitu."


Ibra sedikit berdecak. "Saya agak gak terima Audi dipanggil Neng, sementara saya Bapak. Udah kayak bapak-bapak, tahu, Bik."


"Ya kan emang calon bapak," balas Bik Ilah. "Calon bapak dewan, calon bapak anak-anak si Neng juga, hehe."


"Bibik bisa aja," dengus Ibra.


Selesai mengoleskan kayu putih, Ibra kembali mengikat dan merapikan kimono tidur Audi. Ia menegakkan dagu sang istri yang lemas dan tampak mengantuk. Bik Ilah menyodorkan teh lemon hangat yang baru saja dibuatnya untuk Audi.


"Sayang? Pindah ke kamar, yuk, tidurnya? Ini teh hangatnya minum dulu." Suara Ibra mengalun lembut di telinga Audi, hingga ia membuka mata dan melirik cangkir teh di atas meja.


Audi yang mendapati Bik Ilah juga ada di sana, kontan menanyakan sesuatu pada wanita itu. "Bik, Bibik ke pasar gak hari ini?"


Bik Ilah menjawab. "Stok persediaan makanan masih banyak, Neng. Emangnya kenapa, Neng?"


Sementara itu Ibra menempelkan bibir gelas ke mulut Audi, sedikit memaksa wanita itu supaya minum teh lemon yang dibuatkan Bik Ilah. Audi menyeruput sedikit lalu kembali bicara. "Mau jambu jamaika, Bik. Kira-kira ada gak, ya?"


Bik Ilah melempar pandang pada Ibra yang juga kebetulan melirik ke arahnya. Pria itu menatap sang istri penasaran. "Kamu mau buah, Sayang? Kayaknya di kulkas ada banyak. Bentar, Mas ambilin, ya? Kamu mau apa? Apel, melon, pir?"


"Aku maunya jambu jamaika, Mas."


Ibra yang hendak beranjak, segera mengurungkan niat. Ia kembali duduk sambil menatap Audi sedikit heran. Matanya lalu beralih pada Bik Ilah yang kelihatan nampak berpikir. "Bik, emang sekarang lagi musim buah itu?" tanya Ibra.


Bik Ilah mengangguk. "Tapi kalau lagi gak musim pun, biasanya selalu ada, Pak. Gak tentu, sih. Kadang ada kadang enggak."


"Tuh! Pasti ada!" Audi mentap Ibra memohon. "Beli, ya, Maaass? Please~" Ia sedikit merengek, menggoyang lengan Ibra yang terbalut kemeja pas badan.


Ibra pun membuang nafas. "Ya udah, Bik, nanti siang beli, ya?"


Namun Audi mengerucutkan bibir. "Gak bisa sekarang aja? Aku maunya secepatnya."


"Tapi aku maunya sekarang, Mas," kekeh Audi.


"Oke, belinya sekarang, makannya nanti setelah kamu makan nasi. Oke?" putus Ibra.


Audi mengangguk saja, yang penting jambu itu segera dibelikan dulu. Masalah makan nasi atau tidak, nanti bisa dipikirkan setelah Ibra berangkat kerja.


"Mas gak berangkat?" Audi bertanya lemas. Saat ini mereka sudah berada di kamar, dan Audi berbaring karena kepalanya masih pening. Bik Ilah juga sudah berangkat mencari buah jambu yang Audi ingin.


Ibra menjawab sembari terus memijat betis Audi yang katanya pegal. Padahal wanita itu hanya diam di rumah, kenapa bisa sampai sakit kaki segala?


"Kan kamu suruh Mas pijitin?"


"Oh iya." Audi menarik kakinya dari rematan tangan Ibra. "Ya udah, Mas Ibra berangkat, gih. Nanti kesiangan."


"Kamu yakin Mas tinggal? Muka kamu masih pucat begitu, Mas jadi gak tenang."


"Aku gak papa, Mas. Cuman enek aja pas makan. Mas Ibra berangkat aja, sana." Audi kekeh karena ia tak ingin Ibra mengatur pola makannya. Ia benar-benar tak bisa makan nasi sekarang, maunya langsung jambu.


Ibra tampak ragu, tapi ia pun tak bisa meninggalkan pekerjaan yang tak kalah penting. Ia sudah lembur semalaman untuk meeting bersama Edzar, sang papi.


"Tapi kamu di rumah aja, kan, hari ini? Gak ke toko?"


"Enggak, sekarang giliran Ajeng yang ceki-ceki ke sana."


"Syukurlah," ucap Ibra lega.

__ADS_1


Toko kosmetik milik Audi dan Ajeng sudah mulai berkembang sangat baik. Terkadang Audi akan ke sana untuk sekedar melihat perkembangannya.


"Tapi Mas tetap berat tinggalin kamu yang lagi sakit gini."


Seketika Audi memejamkan mata, berusaha sabar dan menahan diri untuk tidak berteriak menyuruh lelaki itu pergi.


"Gak papa, Mas. Aku bilang Mas Ibra pergi aja. Udah ih sana~" rengek Audi.


"Kamu kayak ngotot banget ngusir Mas?"


"Enggak ngusir. Kan katanya Mas Ibra ada meeting bisnis baru sama Papi?"


"Iya. Tapi Mas bisa kok minta izin gak ikut."


"Gak boleh! Mas tetap harus kerja. Ini bukan soal harta aja, tapi konsistensi yang harus dijaga. Bukannya Mas pernah bilang begitu?"


Kalimat Audi mendorong Ibra telak. Ia pun mengambil nafas lalu membuangnya perlahan. "Ya sudah, Mas berangkat. Kamu gak papa, nih?" Ibra memastikan sekali lagi. Audi jadi geregetan sendiri dibuatnya.


"Gak papa, astaghfirullah .... Lagian aku gak sendiri di rumah. Ada bibik - bibik sama satpam di depan."


Benar juga. Tapi kenapa perasaan Ibra jadi tak karuan begini?


"Ya sudah, Mas berangkat, ya?" Ibra mulai beranjak meski berat. Namun ia kembali duduk ketika Audi melambai untuk mendekat.


"Sini dulu."


"Kenapa?"


Audi tak menjawab, namun tangan lentiknya menepuk-nepuk pundak hingga dada Ibra, bermaksud merapikan kemeja lelaki itu yang menurutnya sedikit kusut.


"Yang semangat kerjanya, ya, Sayang?" ucap Audi manis.


Terang hal tersebut membuat Ibra menyungging senyum teduh. Tangannya turut terangkat mengusap wajah wanitanya sebelum melabuhkan kecupan di kening dan juga bibir. "Iya, Sayang. Makasih, udah jadi penyemangat Mas."


Bibir mereka kembali bertemu dan bertukar saliva sesaat. Ibra menjauhkan wajah, mengusap pinggiran bibir Audi yang basah. "Mas berangkat."


Audi mengangguk. "Hati-hati di jalan."


Ibra tersenyum. "Iya, Sayang. Kamu gak usah antar ke depan. Baik-baik di rumah, biar Mas gak makin cemas. Assalamualaikum?"


"Wa'alaikumsalam," jawab Audi.


Setelah Ibra pergi, Audi dengan sabar menanti Bik Ilah, berharap wanita itu membawa jambu yang entah kenapa begitu diinginkannya sekarang.


Keberuntungan berpihak pada Audi, Bik Ilah kembali sekitar 30 menit setelah Ibra berangkat. Kini satu kantong kresek jambu jamaika pun terpampang di hadapan Audi, membuatnya berkali-kali menelan ludah melihat warna merahnya yang berkilauan.


"Neng, udah makan lagi belum? Tadi kan muntah?"


Audi meringis, ia yang baru saja hendak menggigit jambu yang telah dicuci dan dipotong, menjadi urung saat mendongak menatap Bik Ilah.


"Bibik jangan bilang-bilang Mas Ibra," mohon Audi.


Bik Ilah justru mengamati Audi dalam-dalam. Ia tiba-tiba teringat sesuatu. "Neng Audi bulan ini udah datang bulan belum?"


Audi mengerjap. "Kenapa Bibik tanya? Kayaknya ... belum. Kan ini masih awal bulan? Tapi bulan kemarin tanggalnya nyebrang dari akhir bulan sebelumnya."


Bik Ilah mengangguk mengerti. "Meski begitu, coba cek aja, Neng."

__ADS_1


"Cek apa, Bik?"


"Alat tes kehamilan," ujar Bik Ilah. Ia memang sudah curiga sedari Audi muntah-muntah dan minta dibelikan jambu secara tiba-tiba. Jika dugaannya benar, majikannya itu kini tengah hamil muda.


__ADS_2