Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 10


__ADS_3

"Kamu kapan balik dari Beijing? Kok, gak ngabarin dulu?"


"Udah dari 5 hari lalu, sih. Hehe, sengaja biar kejutan."


"Udah dari 5 hari tapi baru niat nemuin sekarang? Wah, parah banget kamu."


Morgan tertawa, "Aku malas, soalnya kamu pasti minta oleh-oleh. Hahaha ..."


Raut Audi berubah datar. "Jadi kamu gak bawa oleh-oleh buat aku?"


Berusaha meredakan tawa, Morgan dengan segera menjawab. "Bawa, dong. Nih, sekalian sama punya Ajeng juga, ya."


Mendengar itu Audi sontak melipat bibir menahan senyum. "Gak dikasih langsung ke orangnya?"


Morgan meringis sambil menggaruk tengkuknya bingung. "Ya gimana, ya. Gak bakalan sempet kayaknya. Entar sore aku harus ke Bali, terus dari Bali langsung otw ke Beijing lagi."


Audi memutar mata, "Alasan. Bilang aja takut salting kalau ketemu orangnya."


Morgan membantah, "Mana ada! Emang kenapa aku harus salting sama si bongsor itu?"


"Cih, ngatain. Padahal diam-diam stalking-in dia setiap waktu."


Morgan tersedak ludah sendiri. "Siapa bilang! Enggak, tuh. Sok tahu. Udah, ah. Aku harus balik, mau nganter Mami arisan."


Ia tampak gelagapan dan berusaha menghindar.


"Idih, awas dijodohin lagi."


"Enggak bakal," timpal Morgan percaya diri.


"Yakin? Ngomong-ngomong, si Ajeng lagi mau serius diet, lho. Kemarin dia nunjukin instruktur-nya ke aku. Ganteng banget gila. Aku sangsi kalau si Ajeng kuat nahan pesonanya."


"Tapi bagus, deh. Siapa tahu dia bisa move on dari kamu."


"Maksudnya?" sewot Morgan.


"Aku? Aku gak maksud apa-apa, kok."


"Meski secara gak langsung aku lagi ngasih tahu kamu, sih. Kalau suka tuh ungkapin, jangan gengsi. Entar pas udah diserobot orang baru deh nyesel. Apa kamu malu karena Ajeng gak selangsing cewek idamanmu?"


"Kamu lagi curhat, ya?" Morgan malah balas mengejek Audi.


Sialan.


"Yah, intinya begitu. Karena aku sendiri yang ngalamin, kamu harusnya tahu resiko memendam rasa itu bagaimana. Antara keberanian dan merelakan. Kalau kamu gak berani mengungkapkan, maka kamu harus siap melepaskan."


Namun sepertinya Morgan tetap keras kepala dan menolak wejangan Audi. "Iya tahu yang bijak," cibirnya. "Udah, ya, aku mau pulang. Bye, Baby ..."

__ADS_1


Audi berdecak hampir memukul Morgan. "Berhenti manggil aku begitu kalau gak mau orang salah paham!"


Morgan hanya tertawa sebelum memasuki mobil dan hilang dari hadapan Audi.


Audi membuang nafasnya kasar. Ia mengangkat dua tote bag berukuran besar yang masing-masing berisi barang untuk dirinya dan Ajeng.


Tawa geli keluar dari mulut Audi tatkala ia melongok keduanya yang ternyata berbeda. Percaya tak percaya punya Ajeng isinya lebih banyak.


"Si kunyuk itu masih mau mengelak dari perasaannya? Ck, ck, ck ... dari sini aja udah jelas dia pilih kasih." Audi menggeleng sembari memasuki rumah.


Siang harinya Audi ada shooting dekat Lembang. Ia bersama tim bertolak ke sana, dan seperti biasa kalau pengambilan iklan akan memakan waktu cukup lama. Audi baru bisa pulang saat sore menjelang dan adzan magrib berkumandang.


Dalam perjalanan tiba-tiba Audi mendapat pesan. Nomor asing yang tak terdaftar di kontak. Mulanya Audi hendak mengabaikan, tapi saat membaca sekilas di notifikasi ia pun mau tak mau meng-klik pesan tersebut.


[Ini Mas. Kamu save, ya.]


Audi membalas.


[Mas Ibra?]


[Iya.]


[Kamu lagi apa?]


Audi menghela nafas. Ia tak langsung membalas pesan Ibra dan membiarkannya hingga lupa dan tanpa sadar tertidur.


"Kenapa, Mbak?" Audi bertanya parau. Terlihat sekali dia masih mengantuk.


"Bangun. Makan dulu hayuk. Tuh, anak-anak udah pada masuk."


Audi mengangkat kepalanya dari sandaran kursi dan mengedarkan sedikit pandangan. "Ini jam berapa, Mbak?"


"Lapan belas tiga puluh."


"Setengah tujuh?"


"Iya. Udah ayo turun."


Audi menurut dan menerima ajakan Tian yang menggiringnya masuk ke rumah makan Sunda tersebut.


"Don! Pesen, gih!" seru Mbak Tian pada salah satu anggota tim. "Mat, temenin," titahnya lagi pada satu orang.


Mardon dan Mamat lekas beranjak memesan makanan. Mamat, nama asli pria itu adalah Matias, tapi anggota tim memplesetkannya menjadi Mamat. Biar lebih ciamik dan merakyat katanya.


Audi duduk diam sambil menunggu. Ia mengeluarkan ponsel dari saku dan membuka aplikasi pesan berwarna hijau. Dan seketika mata Audi sedikit membola mengingat ia lupa sempat mengabaikan pesan Ibra.


Ya sudah lah, biarkan saja. Audi juga tidak wajib membalas.

__ADS_1


Tapi sedetik kemudian ia dibuat terlonjak hampir menjatuhkan ponsel. Nomor Ibra kembali tertera, kali ini sebagai penelepon.


Astaga, dia mau apa, sih?


Ragu-ragu Audi mengangkatnya, "Halo?" Ia melirik teman-temannya yang juga sempat melirik Audi. Apalagi Mbak Tian, perempuan itu nampak penasaran walau hanya sesaat.


"Kenapa pesan Mas gak dibalas?" todong Ibra langsung.


"Ah, iya? Tadi aku ketiduran di mobil," jawab Audi seadanya dan berusaha tetap tenang.


Jangan sampai rautnya memancing rasa kepo orang-orang di sana. Jika tidak, matilah sudah.


"Habis dari mana?" tanya Ibra penasaran.


"Ada shooting iklan di Lembang."


"Oh ... sekarang lagi di mana?"


"Makan sama teman-teman."


"Mas Ibra mau apa telepon Audi?"


"Memangnya gak boleh? Kita dulu sering telponan."


Audi berdecak. Ia bangkit memilih untuk sedikit menjauh dari orang-orang. "Ya itu dulu. Sekarang beda."


"Bedanya apa?" Ibra terdengar menantang.


Entah kenapa tapi Audi merasa pria itu menyebalkan. Nada bicara Ibra benar-benar membuat Audi kesal.


"Mas Ibra udah nikah. Apa masih pantas telponan gak jelas sama cewek lain?" Akhirnya Audi tersulut juga.


Hening. Tak terdengar suara dari Ibra. Entah pria itu sedang melakukan apa. Akan lebih bagus jika dia meresapi perkataan Audi.


Tak berselang lama krasak krusuk terdengar di seberang ponsel. Audi mengernyit ketika Ibra seperti tengah berbicara dengan seseorang.


"Oke, aku segera ke sana," katanya entah pada siapa.


"Cla, Mas tutup dulu, ya. Mas gak bisa lama-lama telpon karena lagi tugas. Kamu hati-hati pulangnya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," sahut Audi sedikit bingung.


Ia pun mengangkat bahu tak acuh. Bergegas Audi kembali ke mejanya yang ternyata sudah penuh dengan hidangan menggiurkan.


Ikan gurame goreng lengkap dengan sambal matah dan perasan jeruk limau yang menggugah selera. Ada juga kangkung yang di plecing dan beberapa hidangan lain tak kalah menggiurkan.


Seketika perut Audi keroncongan. Ia pun gegas cuci tangan dan mulai melahap semuanya dengan tak sabar, melupakan sejenak tentang Ibra yang akhir-akhir ini bersikap aneh menurutnya.

__ADS_1


__ADS_2