Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 57


__ADS_3

Malam berselang, adzan subuh sudah berkumandang beberapa saat lalu. Ibra sudah rapi dengan setelan jas hitam dan juga dasi merah yang kerap menjadi ciri khasnya sebagai paspampres. Ia juga sudah siap menggendong ranselnya saat keluar kamar.


Kakinya berhenti ketika mendapati Audi di lantai bawah. Melihat itu Ibra gegas mempercepat langkahnya menuruni tangga.


"Kamu sudah bangun, Cla? Mas sudah buatin sarapan di dapur. Mas pikir kamu masih lama bangunnya."


Hening, Audi tak menjawab, ia menatap lurus televisi di depan yang menampilkan berita pagi.


"Mas berangkat, ya?" Ibra berkata pada Audi yang tengah duduk di sofa ruang tengah.


Sebenarnya Ibra sedikit heran, biasanya ia keluar kamar, Audi pasti belum bangun. Mereka memang tinggal di kamar terpisah. Tadinya Audi mau menginap di rumah lama omanya yang juga bersebelahan dengan rumah Papi Edzar, tapi Audi takut sendirian, apalagi rumah itu sudah lama ditinggal dan belum disewakan lagi.


Ibra tampak menghela nafas. Rupanya permasalahan semalam sangat berdampak pada interaksi mereka di rumah. Audi marah padanya, Ibra sadar betul karena gadis itu terus mendiamkannya.


"Aku mau pulang," cetus Audi tiba-tiba. "Ke Bandung," lanjutnya lagi.


Mendengar itu sontak Ibra yang sedang memasang kaos kaki menoleh cepat. "Sekarang?"


Audi hanya mengangguk, rautnya terlihat datar dan enggan melihat Ibra.


Ibra mengurungkan niat memasang sepatu, ia bangkit dan berdiri tepat di samping Audi. "Ya udah, Mas izin dulu sama—"


"Gak usah, aku udah janjian sama temen," sanggah Audi cepat.


Ibra mengernyit dalam. "Teman? Siapa?"


Audi mendongak menatap Ibra tanpa ekspresi. "Mas gak perlu tahu." Ia lalu beranjak dan berjalan melewati Ibra berniat menaiki tangga.


Ibra mengejar dan menahan lengannya. "Tunggu, Cla. Kenapa mendadak sekali kamu mau pulang? Bukannya cuti kamu masih tiga hari lagi?"


Audi menepis tangan Ibra kasar, ia berbalik menatap Ibra sengit. "Menurut Mas kenapa aku mau pulang?"


"Cla."


"Aku capek, ternyata aku gak sekuat itu menjalin hubungan sama Mas."


"Claudia, apa maksud kamu?" Ibra mulai tersulut.


"Mas pikir sendiri. Aku wanita yang berjiwa bebas dan selalu memikirkan kenyamanan untuk diriku sendiri. Menjalin hubungan dengan pria yang masih terlibat masa lalu sama sekali bukan keinginanku."


"Cla."


"Cla, dengarkan Mas dulu. Kita bicarakan lagi ini baik-baik, ya?" Ibra memohon sembari mengejar Audi.


Audi berjalan cepat menaiki tangga memasuki kamar. Ia menutup pintu dan menguncinya tepat di hadapan Ibra.


"Cla?"

__ADS_1


Tok tok tok.


"Cla, dengarkan, Mas." Ibra tak henti mengetuk pintu seraya memanggil Audi.


Di dalam kamar, Audi langsung bersiap beres-beres tas, memasukkan beberapa pakaian yang sempat dibelinya secara mendadak ke dalam koper kecil bekas camping.


Audi juga ganti baju dan dandan tipis-tipis, kebetulan ia memang langsung mandi saat bangun tidur tadi. Audi memang sudah merencanakan kepulangan ini sejak semalam.


Tepat saat Audi selesai bersiap, ponselnya berbunyi menandakan panggilan. Audi segera mengambil dan mengangkatnya cepat.


"Halo, Gavin?"


"Jadi ke Bandung? Aku udah di depan, ini kamu di rumah yang mana?"


Audi bergegas melihat jendela, tampak Gavin tengah celingukan di depan mobilnya, satu pria lain yang Audi tahu sebagai asisten lelaki itu turut menemani.


"Oke, bentar, aku turun. Ini udah siap, kok."


Cepat-cepat Audi menutup telpon dan kembali mengambil tas serta kopernya di ranjang. Ia lalu membuka kunci dan mendapati Ibra masih berdiri di depan pintu.


Mendapati Audi keluar, Ibra dengan cepat menegakkan tubuh. Ia menatap Audi dari atas ke bawah, lalu berhenti pada koper di genggaman gadis itu.


"Kamu serius mau pulang?"


Audi tak menjawab, ia melengos melewati Ibra yang lagi-lagi mengejarnya. "Cla, Mas sudah izin sama atasan, Mas bisa antar kamu."


Masih tak mendapat respon. Audi bahkan menolak bantuan Ibra yang hendak mengambil alih koper saat di tangga.


Audi berhenti, tubuhnya setengah berputar menatap Ibra. "Baik-baik? Kita selalu bicara baik-baik tapi ujungnya tetap sama, bikin aku kecewa," sengit Audi lirih.


Ia lanjut menuruni tangga, tak menghiraukan Ibra yang terus mengoceh di belakangnya.


"Cla."


"Cla jangan pergi."


"Mas mohon kita bicara dulu."


"Cla!"


Audi membuka pintu dan bergegas menuju gerbang. Ia menggeser pintu besi itu hingga menampilkan Gavin yang masih celingukan di sana.


Pria berpenampilan necis itu sontak berbalik. "Oh di sini ternyata." Namun kemudian Gavin merasa canggung melihat Audi tak sendirian. "Eh, halo, Mas?"


Gavin tidak bodoh, ia merasakan aura ketegangan di sekitar mereka. Terbukti dari cara pria di samping Audi yang menatapnya penuh selidik. Gavin benar-benar merasa ditelanjangi saat itu juga.


Gavin beralih menatap Audi. "Ini ..."

__ADS_1


"Dia sepupu aku," sela Audi cepat.


Hal itu tentu membuat Ibra menoleh padanya. "Cla?"


"Oh ... Salam kenal, Mas," sapa Gavin seraya mengangguk sopan.


Sebenarnya Gavin bukan mau bertanya tentang pria yang bersama Audi. Bodo amat mau itu sepupu atau pacar. Ia hanya mau bertanya apa mereka jadi ke Bandung, karena seperti yang dilihat situasi mendadak tak enak.


Ibra tak menghiraukan Gavin, ia memandang Audi menuntut jawaban. Kenapa bisa Gavin? Dan kenapa harus Gavin?


"Cla, kamu serius ke Bandung sekarang? Mas bisa antar kamu, kok."


Audi menoleh sinis. "Yakin? Mas Ibra pasti kena penalti izin kerja terus."


Mau tak mau Gavin dan asistennya turut mengamati Ibra. Si asisten refleks berbisik di telinga Gavin. "Edan, paspampres."


Gavin tertawa garing. Ia menggaruk kepala sedikit bingung. "Benar, Mas. Biar saya dan teman saya aja yang antar Audi. Kebetulan kami memang ada projek di Bandung. Semalam Audi bilang sekalian ikut pulang."


Namun Gavin seketika kicep mendapat lirikan tajam Ibra yang terlihat garang di matanya. Astaga, dia ini benar sepupu atau pacarnya, sih? Batin Gavin.


Perhatian mereka tersita begitu Audi bergerak mendekati mobil Gavin. Sontak Gavin menyuruh asistennya membantu Audi memasukkan koper.


Ibra yang melihat itu kontan menyergah Audi yang hendak naik ke mobil.


"Cla, kamu apaan, sih, pulang sama dia? Bisa jelasin, gak?" marah Ibra.


"Jelasin apa? Aku kan udah bilang mau pulang."


"Ya kenapa harus bareng mereka?"


"Harus banget aku jawab?" sewot Audi.


"Claudia, Mas gak suka kamu keras kepala, ya."


"Bodo amat. Lepas, kalau Mas gak lepas, aku bakal laporin tentang pernikahan Mas dan Mba Shireen yang sebenarnya," ancam Audi.


Refleks tangan Ibra mengendur, Audi pun menarik lengannya dengan cepat lalu berseru pada Gavin dan asistennya yang malah mematung di pinggir jalan.


"Ngapain bengong? Ayo!"


"E-Eh, iya." Gavin menyenggol asistennya untuk segera masuk kemudi.


Gavin duduk di kursi depan tentu saja. Ia masih waras untuk tidak mendampingi Audi di belakang. Bisa-bisa singa bertubuh besar itu menyerangnya habis-habisan.


Audi membanting pintu dan menguncinya cepat. Ia masih bisa mendengar suara Ibra yang memanggil-manggilnya dari luar.


"Cepetan jalan," titah Audi.

__ADS_1


Asisten Gavin menoleh ragu pada sang aktor. Gavin memberi isyarat untuk menuruti permintaan Audi saja.


Akhirnya mobil pun perlahan melaju. Sementara Ibra, ia mematung menatap kepergian mereka dengan raut sedikit sendu. Sayang sekali Ibra tak bisa menyusul, ia sudah mendapat peringatan dari atasan seandainya mengambil cuti lagi. Ini pertama kali Ibra membenci pekerjaannya sendiri.


__ADS_2