Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 65


__ADS_3

"Ken?" lirih Ibra pelan.


Saat ini mereka tengah berada di rumah sederhana milik Shireen. Ibra beruntung tak mendapati mantan mertuanya yang ia pastikan akan menambah runyam suasana.


Kenan duduk dengan mulut terbungkam di sofa ruang tamu, sementara Shireen berada di sampingnya, berusaha menenangkan anak itu.


Usai Kenan mendengar pembicaraannya dengan Shireen tadi, Ibra memutuskan mengantar mereka pulang sekaligus mengamankan privasi mereka dari khalayak publik.


Alhasil di sinilah ia, rumah yang sebisa mungkin ia hindari untuk menjaga perasaan Audi. Ibra yakin jika Audi tahu dirinya duduk sedetik saja di rumah Shireen, gadis itu pasti tak segan memutuskan hubungan mereka.


Namun apa daya, untuk meluruskan semua ini Ibra rasa ia butuh berhadapan sendiri dengan Kenan, secara langsung. Melihat Shireen yang rasanya tak bisa diandalkan, Ibra mau tak mau harus memberi penjelasan sendiri pada anak itu.


"Ayah jahat. Jadi, Ayah tinggalin Kenan karena mau nikah lagi? Ayah gak pernah bobo lagi sama Ken pasti karena Tante itu. Iya, kan? Ayah mau nikah sama Tante itu, kan? Iya, kan? Terus, Kenan sama Mama gimana?" Kenan menggasak mata yang berair hendak menangis.


Ibra yang semula duduk di seberang Kenan kini beranjak ke sisi anak itu. Ia meraih bahu Kenan dan membawanya ke pelukan. "Ken, dengar. Meski Ayah gak tinggal sama Mama dan Kenan lagi, Ayah gak akan pernah lupain Kenan. Tapi, mungkin Ayah gak bisa sesering dulu jengukin Kenan. Kenan masih bisa telpon Ayah, kok. Meski kita gak satu rumah lagi, Kenan akan tetap jadi anak Ayah. Ya, Sayang, ya?"


Ibra mengusap-usap rambut Kenan. Anak itu kini sesenggukan di dadanya. Hati Ibra perih, apalagi saat Kenan mengeluarkan kalimat berikutnya.


"Ayah bohong. Papa Rega juga gak balik-balik setelah pergi. Ken bahkan gak bisa telpon Papa. Papa gak sayang sama Kenan, ya?"


"Ken ..." lirih Shireen, menatap putranya sendu.


Meraih kedua bahu Kenan, Ibra menjauhkan anak itu hingga kini mereka bertatapan. "Ken, Papa Rega memang pulang ke sisi Tuhan, dia gak bisa pulang lagi ke rumah Kenan. Tapi meski begitu Papa Rega tetap sayang sama Kenan. Papa Rega masih suka kasih Kenan jajan, lho. Kenan pasti gak sadar, ya, kalau uang yang Ayah kasih itu sebagian dari Papa Rega? Bahkan Papa Rega yang lebih sering kasih Kenan jajan. Itu berarti Papa Rega sayang banget sama Kenan."


"Kalau Ayah, sayang gak sama Kenan?"


Ibra mengangguk pasti. "Ayah sayang sama Kenan."


"Tapi kenapa Ayah lebih milih Tante itu daripada Kenan? Hiks, Ayah pasti gak sayang lagi sama Kenan."


"Kenan." Shireen menginterupsi. "Gak ada yang gak sayang sama Kenan. Mama sayang sama Kenan, Papa Rega sayang sama Kenan, Ayah Ibra juga. Tapi sekarang Ayah Ibra gak bisa tinggal sama kita lagi. Ayah Ibra punya sesuatu untuk diraih, Sayang."


"Begini, kemarin Kenan bilang sama Mama, Kenan punya cita-cita, kan? Coba sekarang bilang cita-cita Kenan apa setelah besar nanti?"

__ADS_1


"Kenan pengen jadi dokter." Kenan menjawab sambil menggasak mata dan sesekali terisak. "Biar bisa sembuhin orang sakit, biar orang lain gak sakit kayak Ken, hiks."


"Nah, karena Kenan mau jadi dokter, Kenan pasti akan melakukan apa pun untuk meraih keinginan itu. Kalau Kenan berhasil, Kenan pasti bahagia nanti. Ayah Ibra juga sama, Ayah punya cita-cita seperti Kenan. Nah, sederhananya Tante Audi itu cita-citanya Ayah Ibra. Ayah Ibra mau nikah sama Tante Audi supaya bahagia juga seperti Kenan. Kenan ngerti?"


"Jadi, Tante Audi itu cita-citanya Ayah Ibra."


Shireen mengangguk. "Iya, kurang lebih seperti itu."


Entah perumpamaannya bisa diterima Kenan atau tidak. Shireen melirik Ibra yang sejak tadi fokus menatap Kenan. Sekali lagi Shireen menegaskan dalam hati bahwa lelaki itu bukan lagi miliknya, Ibra berhak bahagia bersama Audi. Sudah cukup selama ini ia jadi penghalang dalam hubungan mereka. Shireen tak mau egois lagi dengan menahan Ibra tetap bersamanya.


Ibra sudah sangat baik pada dirinya dan juga Kenan. Shireen tak menampik bahwa lama-lama ia juga merasa bersalah pada Ibra.


Kenan mendongak pada Ibra. "Ayah, Tante Audi jahat, ya?"


Ibra mengernyit. "Enggak, siapa bilang? Tante Audi baik, kok."


"Tapi waktu itu Tante Audi pernah cubit Kenan. Sakit banget, makanya Kenan kunci dia di kamar mandi, abisnya ngeselin!"


Lain lagi dengan Shireen, Ibra malah berkedip mendengar pengakuan Kenan. Sepertinya Audi juga pernah bilang Kenan menguncinya di kamar mandi. Jadi, kejadiannya seperti itu? Untuk apa pula Audi mencubit Kenan?


"Kenapa Tante Audi cubit Kenan?"


Kenan menggeleng dengan wajah merengut. Bibirnya manyun seolah sedang mengingat sesuatu yang menyebalkan.


"Kenan jangan bohong. Masa Tante Audi cubit Kenan?" Shireen masih berusaha berpikir positif.


Ibra tersenyum halus, ia mengusap kepala Kenan sebelum buka suara. "Mungkin Tante Audi gemas sama Kenan, jadinya cubit Kenan. Tante Audi itu aslinya baik, kok. Dia sayang anak-anak, termasuk Kenan."


Sudut hati Ibra tertawa mendengar ia sendiri mengatakan itu. Nyatanya Audi sangat benci anak kecil. Tapi untuk kali ini Ibra harus mati-matian membangun citra baik Audi di depan Kenan.


"Masa, sih, begitu? Tapi Mama sering cubit Kenan kalau Kenan nakal."


"Itu kalau Kenan nakal. Beda lagi sama Tante Audi, Tante Audi cubit Kenan karena gemas. Kenan pernah lihat hewan kecil yang lucu, gak?"

__ADS_1


Kenan mengangguk antusias. "Pernah, Ayah. Kenan pernah lihat anak kucing gendut lucu banget. Saking lucunya Kenan jadi pengen gigit, tapi kasihan," ujarnya menggebu.


"Nah." Ibra menjentikkan jari. "Tante Audi juga gitu. Dia lihat Kenan lucu dan pengen gigit Kenan, tapi karena kasihan dia jadinya cubit Kenan. Kalau dicubit kan gak terlalu sakit, sakitnya kayak digigit semut, benar gak?"


Kenan mengangguk, ekspresinya serius seolah paham. "Hum, berarti Tante Audi itu baik, ya? Dia cubit Kenan karena Kenan lucu. Begitu, kan, Ayah?"


"Iya, begitu," angguk Ibra.


"Tapi Kenan sudah kunci Tante di kamar mandi, Ayah. Pasti Tante kedingingan waktu itu." Kenan lanjut merengut sedih, wajahnya penuh rasa bersalah yang mendalam. Benar-benar anak kecil yang polos.


Mendengar itu Ibra pun tersenyum. "Kenan tahu itu perbuatan tidak baik, kan?"


Kenan mengangguk lagi.


"Berarti Kenan sudah berbuat salah. Kalau Kenan sudah berbuat salah, Kenan harus apa?"


"Kenan harus minta maaf, kan, Ayah?"


"Yup, betul. Jadi Kenan mau, kan, minta maaf sama Tante Audi?"


Lagi-lagi Kenan mengangguk, ia seakan tengah semangat mendapat pelajaran dari Ibra. "Mau, Ayah. Tapi Kenan harus cari Tante Audi di mana?"


"Kenan mau bertemu Tante Audi?"


"Mau, Ayah. Asal Tante Audi jangan cubit dan pelototin Kenan lagi."


Ibra berusaha menahan tawa. Ia mengangguk seraya mengusap gemas rambut Kenan. "Iya, nanti Ayah yang akan cubit Tante kalau Tante nakal lagi sama Kenan, ya?"


"Serius, Ayah?"


"Hm." Ibra mengangguk. Cubit manja tapi, lanjut Ibra dalam hati. Ia mana tega mencubit Audi sampai kesakitan.


"Jadi, Ayah boleh, kan, nikah sama Tante Audi?" tanya Ibra hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2