
Ibra baru saja kembali dari lobi usai mengambil pesanan bunga yang beberapa saat lalu diantar kurir. Ia ingin rungan Audi terasa segar alami dengan adanya elemen alam seperti halnya mawar dan gardenia.
Ibra berharap hal ini bisa membuat pikiran Audi lebih fresh, dan kalau bisa memancing semangat Audi supaya gadis itu segera bangkit dari kemurungan.
Akan tetapi, baru saja Ibra mendorong pintu ruangan Audi, ia sudah mendapati kondisi Audi yang jauh dari kata baik. Gadis itu tengah berbaring dengan punggung ranjang sedikit terangkat. Namun bukan itu yang menjadi masalah bagi Ibra, tak lain dan tak bukan karena Audi tengah menangis, histeris tanpa suara. Ibra sampai khawatir hal itu bisa memicu rasa sakit di wajah Audi.
"Cla? Kamu kenapa?" Ibra berlari mendekat, menyimpan bucket bunga itu sembarang. Ia duduk di pinggir ranjang, berusaha menyeka air mata Audi yang berhamburan dengan sentuhan selembut mungkin.
Ia lalu beralih menatap dua suster di sana yang menunduk dan saling meremas jari. Ekspresi gugup keduanya membuat kening Ibra berkerut. Ibra menoleh lagi pada Audi yang masih betah menangis tanpa suara. Melihatnya membuat hati Ibra ngilu luar biasa.
"Sayang? Hey?" Ibra memanggil seraya menempatkan wajahnya di depan Audi. Mereka saling tatap sesaat. Audi menatap Ibra penuh perasaan luka.
"Apa yang terjadi?" Ibra bertanya pada suster di sana.
Salah satu dari mereka menjawab gugup. "I-itu ... tadi kami menyalakan televisi dengan maksud supaya Mba Audi tidak bosan. Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Itu ... berita ..."
Sepertinya Ibra mengerti, Audi baru saja melihat berita tentang kecelakaan dirinya dan rekannya, itulah sebabnya gadis itu menangis tersedu seperti sekarang.
Audi tahu, bahwa dua di antara teman - teman seperjuangannya tewas dalam kejadian tersebut.
Ibra marah tentu saja. Ia rasa tak pernah lupa mengingatkan siapa pun yang hendak mengunjungi Audi supaya menghindari menyalakan TV. Bahkan Ibra sendiri susah payah menghindari pertanyaan Audi semalam. Bisa-bisanya mereka ...
Ibra mengambil nafas dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Ia berusaha sabar dan tak tersulut emosi yang membakarnya sesaat. Mereka hanya tidak tahu, atau bisa jadi lupa.
"Kalian ada perlu apa kemari?" tanya Ibra pada akhirnya.
"Kami hanya melakukan pengecekan rutin, Pak." Mereka menjawab hampir serentak.
Ibra mengangguk. "Sudah selesai, kan?"
__ADS_1
"Sudah, Pak."
"Kalau begitu kalian boleh keluar."
Sesaat dua suster itu saling melempar pandang, kelihatannya mereka ragu meninggalkan Audi dalam kondisi seperti itu. Ingin Ibra berdecak karena tidak sabar.
"Keluar. Untuk saat ini biar saya yang mengurusnya," tekan Ibra.
Karena tak ada pilihan dan aura Ibra yang seakan terkesan berat, dua suster itu pun bergegas keluar, meninggalkan Ibra serta Audi yang kini larut dalam keheningan.
Ibra mendekat semakin mengikis jarak. Ia mengusap perlahan air mata Audi yang seakan tak ingin berhenti merembes keluar. Ia menatap gadis itu hangat, penuh kelembutan yang terpancar.
"Sayang?"
Audi masih betah menangis tanpa suara. Ibra pun menggenggam tangan Audi yang tidak terpasang infus, mengusapnya pelan dan hati-hati.
"Tenang dulu, ya? Dokter bilang kamu jangan stress. Ayo tarik nafas."
Audi yang mulai terengah karena terus terisak pun hanya bisa terpengap-pengap menuruti Ibra.
Audi melakukannya lagi.
"Hembuskan pelan-pelan." Ibra terus memberi Audi instruksi yang syukurnya dapat gadis itu lakukan dengan baik.
"Tidur yang nyaman, kepalanya jangan sering-sering terangkat dulu, nanti pusing." Ia membenarkan leher Audi yang semula sedikit tegang.
Setelah dirasa Audi berbaring nyaman, Ibra pun tersenyum tipis, menatap sang kekasih dengan dalam.
Ibra menumpukan satu tangannya di sisi tubuh Audi, sementara satunya lagi mengusap pangkal hidung sang gadis yang bebas dari luka.
"Mami dan Uwa tadi pulang dulu, mau bawa baju ganti buat nginap nanti malam, sekaligus antar Oma supaya mau istirahat di rumah saja. Jadi hanya Mas yang nungguin kamu di sini."
Ibra menarik tangannya dari pangkal hidung Audi, ia beralih meraih jemari sang kekasih untuk kemudian melabuhkan kecupan di sana. Beberapa perban membalut permukaan kulit Audi yang halus. Ibra menyentuh pelan salah satunya dengan hati-hati. "Sakit?" tanyanya setengah berbisik.
__ADS_1
Audi yang tak mampu menggeleng hanya memberi kedipan lama pertanda ia nyaman dengan Ibra. Untuk saat ini hanya Ibra yang bisa membuatnya tenang.
Ibra tersenyum, ia menempelkan tangan Audi di pipinya sambil terus menatap gadis itu dalam. "Kamu tidak sendiri."
"Banyak orang yang sayang banget sama kamu, terutama Mas. Mas cinta kamu. Selamanya kamu akan tetap menjadi kesayangan Mas."
Audi terdiam, matanya kembali berkaca mendengar pernyataan Ibra. Audi masih syok dengan kenyataan yang diterima, dan ia takut. Hatinya seakan tercekik oleh perasaan sedih luar biasa.
Audi masih tidak percaya dengan musibah yang dialaminya. Ia masih mengira ini mimpi buruk yang mampir sesaat. Namun nyatanya, setelah ia bangun pun situasi buruk ini masih berlanjut, dan menghantam keras kesadaran Audi yang perlahan mulai kehilangan ritmenya.
Audi hanya bisa menangis menghadapi kenyataan bahwa dua temannya telah tiada. Manajer yang paling Audi sayang, editor yang paling Audi andalkan, kenapa Tuhan begitu tega mengambil mereka darinya.
Audi merasakan sentuhan jemari Ibra di bawah matanya, membendung laju air yang kembali mengalir dari pelupuk Audi.
"Mas mengerti perasaan kamu. Kamu pasti merasa sangat kehilangan setelah tahu semuanya. Kehilangan orang terdekat memang menjadi momok paling menyedihkan dalam hidup kita. Tapi kamu harus mengerti, betapa pun kita mengeluh menyalahkan Tuhan, takdir tetap akan terus berjalan."
"Kepergian Tian dan Mardon sudah ditetapkan. Mau menyesal dan berandai-andai pun, semua yang sudah terjadi tak akan bisa kembali. Manusia memiliki masa hidupnya sendiri, mereka punya waktu masing-masing di dunia. Buktinya, kamu dan Matias tetap selamat meski kalian turut menjadi korban dalam kecelakaan itu. Itu tandanya kalian memang belum mencapai waktunya. Tuhan belum menghendaki kalian untuk pergi."
"Begitu pula Tian dan Mardon, mereka pergi karena Tuhan memang sudah memanggil keduanya untuk meninggalkan dunia."
Ibra terus menyeka air mata Audi. Ia dengan sabar memberi usapan di tangan Audi guna menenangkan perasaan gadis itu yang kacau balau.
"Apa pun yang terjadi, semua sudah menjadi rencana terbaik Tuhan."
"Kamu jangan khawatir akan hidup sendiri, jangan takut kehilangan teman. Jika mereka meninggalkanmu dalam kesusahan, itu tandanya mereka tidak tulus menyayangimu. Jika mereka meninggalkanmu, maka Mas akan tetap bersamamu."
"Kamu punya Mas, Mas bisa jadi teman sekaligus pasangan untuk kamu. Mas bisa menjadi sahabat terbaik jika kamu mau. Semuanya Mas bisa lakukan untuk kamu."
"Bersedihlah sewajarnya, ikhlas lah. Karena jika kamu tidak ikhlas, hal itu juga akan memberatkan Tian dan Mardon di alam sana."
Cup.
Ibra mengecup pelan kening Audi. "Mulai sekarang, Mas akan temani kamu sepanjang hidup. Itu janji Mas."
__ADS_1
"Jangan sedih lagi, Sayang. Tersenyumlah, matahari lain menunggumu di depan sana."