Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 14


__ADS_3

"Bra," panggil Ben.


"Berhenti memanggilku begitu," sahut Ibra malas.


Ben sedikit tertawa menepuk pundaknya. "Ya terus apa? Masa aku harus panggil kamu Rahim? Ib? Ih, enggak enak banget. Lagian nama kamu itu panjang-panjang. Kalau aku panggil nama belakang pasti dikira manggil bapakmu."


Ibra tak menyahut lagi. Baginya mendebatkan sebuah nama adalah hal yang sia-sia.


"Tadi telpon siapa?" tanya Ben penasaran. Ia kemudian menggerakkan alisnya naik turun. "Pasti gadis itu lagi, si penyempurna agama? Iya, kan?" Ben masih ingat betul kalimat bucin Ibra yang tak pelak ia jadikan bahan olokan. "Suaramu udah selembut bulu domba, hahaha ..."


Ibra berdecak melempari pria itu dengan kulit kacang yang sebelumnya ia makan. Ben yang terpingkal membuat Ibra ingin sekali mengikat dan membekap mulut pria itu agar diam.


Heran, mulut lelaki kenapa bisa seberisik itu.


"Hebat, nih, udah mau pengajuan lagi kayaknya. Tapi yang ini serius, kan?" Ben menegakkan tubuh yang semula meringkuk di sofa. Ia menatap Ibra yang sibuk mengupas kacang dan memakannya dengan serius. "Jangan-jangan kamu cuma mau nikah-nikahan lagi?"


Tak!


Ibra kembali melempar Ben dengan kulit kacang. Kali ini berhasil membuat Ben kelilipan hingga refleks mengumpati Ibra yang dinilainya tak memiliki perasaan.


"Nikah-nikahan, dikira anak kecil main begituan?" dengus Ibra kembali memakan kacangnya.


"Ya kan yang dulu-dulu begitu. Kalau gak main-main, mana mungkin kamu lari di malam pertama. Jangan kira aku lupa gilanya kamu ninggalin istri di hari pertama nikah hanya untuk tugas yang sebetulnya bisa digantikan."

__ADS_1


Raut Ibra berubah datar, dan Ben menyadari itu. Ibra bangkit menepuk celananya dan berlalu ke arah dapur. Sementara Ben menghela nafas di tempat. Lagi-lagi mood Ibra berubah setiap kali ia membahas pernikahannya yang lalu.


Entah apa yang terjadi hingga rumah tangga sahabatnya itu gagal. Tapi, sejauh yang Ben rasa Ibra tak pernah benar-benar bahagia dengan hubungannya bersama Shireen.


Ben kurang tahu karena Ibra juga tak pernah mengumbar kehidupan pribadinya. Ibra tipe pria yang sangat menjaga privasi, baik dirinya maupun orang lain.


Ibra dan Ben, keduanya dekat lantaran nasib membawa mereka dalam tugas yang sama, mengawal orang nomor satu negara.


Ibra dan Ben tinggal dalam satu kontrakan, mengingat rusunawa masih dalam tahap pembangunan, pun mereka enggan tinggal di asrama yang sudah disediakan. Memang, lebih dari 70 persen paspampres memilih tinggal di luar asrama, terutama mereka yang sudah berkeluarga.


Ibra muncul dari pintu dapur dengan membawa dua gelas susu di tangan. Ia kembali ke sofa dan mengulurkan satu gelas susu pada Ben, dengan raut tak acuh sekaligus mengabaikan Ben yang menerima gelas tersebut dengan mata berkedip.


"Makasih." Ben meminum susu itu sembari tak lepas memperhatikan Ibra.


Seolah sudah menjadi kebiasaan sejak pelatihan militer, keduanya kerap minum susu di waktu makan malam. Bukan hanya latihan fisik, mereka juga ditempa pola makan sehat setiap harinya.


Hening. Kini mereka saling diam dalam pikiran masing-masing. Ben merasa sedikit tak enak hati pada Ibra lantaran ucapannya. Ia tahu selorohannya tak patut dijadikan candaan.


Ibra membuang nafas kasar. "No prob," ujarnya singkat.


Mereka kembali larut dalam kesunyian. Tak ada ketegangan seperti beberapa saat lalu. Ben sudah merasakan aura Ibra yang cukup tenang seperti biasa.


"Latihan besok dihadiri wapres." Ben kembali membuka suara.

__ADS_1


Ibra hanya menggumam dengan sesekali menyesap susu. Pikirannya masih melayang pada Audi. Bagaimana caranya ia bisa mengembalikan hubungan mereka yang beberapa tahun ini merenggang.


Ia lalu menoleh pada Ben yang tengah menonton TV di depan mereka. "Ben," panggilnya.


"Hmm?" sahut Ben bergumam.


Ibra nampak ragu sebelum akhirnya bertanya. "Saat seseorang membenci kita ... apa yang harus kita lakukan?"


Seketika Ben menoleh, balas menatap Ibra aneh. Apa ia tidak salah dengar? Ibra bertanya cara menyikapi orang sementara Ben sendiri tahu di sini Ibra yang memiliki pemikiran paling terbuka dan realistis.


"Apa?" beonya tak kuasa menahan heran.


Tanpa sadar Ibra tergagap. Ia lalu membuang muka dan memfokuskan matanya pada televisi. "Gak jadi."


Sayangnya Ben yang terlanjur dibuat penasaran tak terima dicuekkan begitu saja. Siapa suruh memancing orang kepo. Apalagi wajah Ibra tampak tak seperti biasanya.


"Memang siapa yang benci kamu?"


Ibra tak menyahut.


"Gadis separuh agamamu?" Ben tak lekas menyerah meski Ibra tak kunjung menjawab.


"Wahh ..." Ben terperangah tak percaya. Ia menggeleng kepala dengan mata tak lepas dari Ibra. "Luar biasa. Seorang Ibrahim Maulana Edzar yang tampan dan nyaris sempurna, kaya, pekerjaan bisa dibanggakan, anak seorang kepala jaksa, memiliki ibu yang cantik mantan selebgram, kenapa bisa dibenci seseorang? Apalagi ... ini ... gadis? Aku jadi penasaran seperti apa bentukan perempuan itu sampai membuatmu galau berhari-hari. Oh, bukan, mungkin berbulan-bulan, apa aku benar?"

__ADS_1


Ben mengangguk-angguk. Sekarang ia mengerti hal apa yang kerap membuat Ibra melamun setiap kali terlepas dari tugas. Karena bukan hanya kali ini, lebih tepatnya hal tersebut dilakukan Ibra semenjak menikah dengan Shireen. Ibra jadi kerap kedapatan melamun seperti tengah memikirkan hal berat.


"Tunggu. Gadis ini ..." Ben tampak mengingat-ingat. "Jangan bilang kamu sudah menyukai gadis ini sejak lama? Sebelum menikah?"


__ADS_2