Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 159


__ADS_3

Audi tersenyum segan pada wanita paruh baya di depannya. Dia adalah calon suster yang ia pilih dari sejumlah orang yang Ibra sarankan. Kelihatannya wanita itu baik dan terpelajar, pembawaan bicaranya juga bersahaja dan keibuan, mengingatkan Audi pada wali kelasnya saat SMP yang begitu lemah lembut terhadap semua orang.


Baiklah, semoga keputusan ini menjadi awal yang baik bagi Audi maupun keluarga kecilnya. Dengan begitu, Audi bisa fokus pada dua hal sekaligus, mengurus Farzan dan memikirkan kondisi kandungan yang akhir - akhir ini mulai rewel minta diperhatikan.


Ibra turut tersenyum pada wanita di depannya. Ia duduk di samping Audi, mendampingi sang istri yang suasana hatinya masih rentan karena masalah kemarin, dan Ibra cukup puas dengan pilihan Audi.


"Perkenalkan, Pak, Bu, saya Hamidah, pemilik CV yang kemarin anda berdua hubungi."


Ibra mengangguk. "Selamat datang, Bu Hamidah. Mungkin kita sudah sama - sama tahu tujuan saya dan istri menghubungi anda untuk perihal apa. Tapi, di sini saya ingin memperjelas lagi hubungan kerja sama kita," tuturnya memulai topik pembicaraan. "Saya dan istri sedang sangat membutuhkan jasa anda untuk membantu mengasuh putra kami yang pertama. Usianya sekitar 8 bulan lebih 2 minggu. Dia sedang dalam masa aktif - aktifnya belajar merangkak dan berdiri, tapi istri saya sedikit kewalahan mendampinginya karena saat ini dia juga tengah mengandung anak kedua kami. Mohon Bu Hamidah bisa bekerjasama dengan kami?"


"Masya Allah ... Ibu sudah hamil anak kedua, sementara anak pertama belum ada 1 tahun? Luar biasa sekali," tutur Bu Hamidah kagum. "Memangnya tidak KB, Bu?"


Mendengar pertanyaan terakhir Audi sontak meringis. Hal ini sudah pasti menjadi pertanyaan pertama semua orang.


Ibra tersenyum merangkul pundak sang istri dengan satu tangannya. Ia menoleh memperhatikan Audi yang menjawab pertanyaan Bu Hamidah sedikit gugup. "Saya pakai pil, Bu. Tapi ... kurang teratur minumnya. Jadi ... ya gitu, kebablasan," cicit Audi pelan, ia sedikit menunduk malu.


Bu Hamidah justru tersenyum teduh. "Alhamdulillah, Bu. Berarti Allah percaya pada Ibu dan Bapak. Di luar sana banyak sekali wanita - wanita yang kesulitan mendapatkan anak, sampai ikhtiar ke sana kemari puluhan tahun lamanya. Kita harus bersyukur karena Allah memberi nasib lain pada kita. Disyukuri, Bu," tuturnya halus.


Audi mengangguk, begitu pula Ibra turut mengusap - usap halus bahu sang istri.


Kesan pertama mereka pada Bu Hamidah adalah, beliau wanita lembut dengan tutur kata halus dan bersahaja. Sosok yang sangat keibuan dan mengayomi. Tak heran, karena dalam berkas lamaran pun beliau sempat berpengalaman menjadi seorang pengajar di salah satu sekolah dasar, sebagai honorer hingga belasan tahun lamanya.


Cukup disayangkan pengabdiannya yang sudah selama itu belum juga mendapat perhatian pemerintah. Ketika yang lain diangkat menjadi PNS, nasib beliau kurang beruntung dan berakhir mengundurkan diri lantaran harus mengurus almarhumah sang ibu yang dulu sakit - sakitan.


Beliau tidak menikah, entah karena alasan apa, hal tersebut adalah privasi yang berhak beliau jaga.


Bu Hamidah sudah bisa bekerja mulai besok. Namun sebelum itu Audi dan Ibra memberi pengenalan pada wanita itu dengan mempertemukannya pada Farzan. Mereka mengobrol cukup lama selagi Audi menyusui putranya. Ia juga mendapat ilmu - ilmu baru tentang cara mendidik anak dengan baik.


Meski tak memiliki keturunan, Bu Hamidah sangat berpengalaman dalam hal mengurus bayi dan anak - anak. Katanya, ia mendapat pengalaman itu sejak rutin mengajar les ke sana kemari, dan salah satu kliennya memiliki anak bayi.


Dari sana ia mulai berani terjun pada dunia persusteran, ia bahkan pernah bekerja pada salah satu artis selama beberapa tahun. Hal itu dibuktikannya dengan foto - foto dan juga video yang beliau ambil saat masih bekerja di sana. Ada juga foto di beberapa tempat lain yang menunjukkan kalau ia memang berpengalaman menjadi baby sitter.


***


Malam hari pun tiba, Audi yang mengeluh pegal - pegal lantas meminta Ibra untuk memijatnya. Hal itu disambut baik oleh sang suami yang langsung mengurut bagian - bagian tubuhnya dengan penuh kasih sayang.


Padahal Audi tahu Ibra juga lelah setelah seharian bekerja. Tapi lelaki itu tetap berperan aktif sebagai suami dan ayah siaga bagi dirinya dan juga Farzan.

__ADS_1


Kali ini Ibra tak membiarkan Audi memasak, semua sudah sepenuhnya dipegang asisten rumah tangga. Dan untuk masalah Farzan, sebisa mungkin Ibra berperan besar mengurus anak itu, karena Audi sudah seharian bersama sang putra.


Jika Farzan terbangun di tengah malam, Audi sudah menyiapkan stok ASI yang telah diperasnya sebelum tidur.


"Pusing, gak?" tanya Ibra di sela kegiatannya memijat Audi.


Audi menggeleng. "Cuman lemas, lungse, kayak gak ada tenaga."


Ibra mengangguk paham. "Vitamin dari dokter sudah diminum? Awas kelupaan, kamu kalau masalah obat - obatan gitu kebiasaan suka lupa."


Audi tahu Ibra sedikit menyinggung awal mula terbentuknya janin di perut Audi saat ini. Ia hanya diam tak membalas, memang ini murni kesalahannya lantaran kurang teliti dan disiplin dalam mengkonsumsi obat KB.


"Diminum, kok. Kan Mas Ibra ingetin tiap waktu," guman Audi sayu. Ia terlihat mulai mengantuk dengan mata mengerjap lemah.


Tak pelak Ibra pun mengelus dahi sang istri dan membacakannya sebuah do'a hingga tak lama Audi pun terlelap damai dengan mulut mendengkur pelan. Kalau Audi sudah mendengkur, itu berarti seharian ini ia memang lelah.


Ibra mengenal sang istri sejak kecil, dan Audi tipe orang yang saat tidur pun masih terlihat cantik. Ia sangat jarang bersuara kalau badannya tidak begitu capek.


Ibra menyelimuti Audi dengan pelan, ia lalu beranjak dan membungkuk mencium keningnya dalam. "Sleep tight, Sayang. Semoga lelahmu menjadi pahala yang besar," bisik Ibra penuh cinta. Ia mengecup sekilas bibir Audi sebelum kemudian beralih ke ranjang kecil di sebelah, tempat di mana sang putra tertidur sama lelapnya seperti sang bunda.


"Jagoan kecil Ayah juga bobo yang tenang, ya? Ayah sayang kamu dan adik bayi di perut Bunda," bisik Ibra tak kalah lembut. Ia melabuhkan kecupan seringan bulu di kening putranya, lalu beranjak tidur di samping Audi sambil memeluknya.


***


Pagi hari, seperti biasa Audi dan Ibra sibuk dengan kegiatannya masing - masing. Ibra sibuk bersiap sebelum berangkat kerja, sementara Audi sibuk mempersiapkan kebutuhan sang suami dari mulai pakaian hingga makanan. Audi juga membuat MPASI untuk Farzan, padahal Ibra sudah melarang keras wanita itu melakukan semuanya.


Tapi seolah sudah kebiasaan yang tak enak ditinggal, Audi yang sejak beberapa bulan setelah menikah mulai terbiasa menyiapkan sarapan dan bekal untuk Ibra, selalu merasa ada yang kurang jika Ibra bukan makan hasil masakannya.


Makan siang pun Audi selalu bekali karena waktu itu Ibra kerap meminta. Katanya itu mengingatkan Ibra pada Audi yang menunggunya di rumah, sekaligus menjadi penyemangat saat menyelesaikan pekerjaan.


"Mas, ini bekal kamu. Kamu sarapan dulu, gih. Sini, biar Farzan sama aku dulu," ucap Audi sambil bergerak ke sana kemari dengan tergesa.


Ibra menahan lengan wanita itu supaya berhenti. "Udah, Mas bisa ambil sendiri. Farzan juga biar Mas yang suapin, selang seling kan bisa sambil Mas makan. Kamu juga makan, ya?" titahnya halus. "Nanti kalo Bu Hamidah datang, kamu pasti lupa makan. Makanya sekarang ikut makan."


Audi tak bisa membantah. Ia pun duduk di samping Ibra yang melesakkan diri di kursi makan. Farzan ia dudukkan di kursi bayi. Mereka pun makan bersama pagi itu dengan Ibra yang sesekali menyuapi sang putra.


Terkadang Farzan juga mengambil makanannya sendiri, hal yang membuat pipi serta tangannya belepotan tak karuan. Celemek bayi yang terikat di lehernya pun tak kalah menjadi korban tumpahan.

__ADS_1


Hebatnya Ibra masih dengan sabar mendampinginya kendati waktu sudah mulai mepet siang hari. Mungkin Audi harus bersyukur karena kehamilannya kali ini tak begitu rewel seperti yang pertama. Audi masih bisa makan nasi seperti biasa, hanya saja ia lebih banyak menginginkan yang asam - asam serta buah yang segar.


Usai menyuapi Farzan, Ibra meminta tolong pada salah satu asisten rumah untuk membersihkan Farzan dari segala lelehan makanan.


Selama Farzan dibersihkan, Audi yang juga sudah selesai sarapan turut bangkit, berniat mengantar Ibra ke teras depan. Ia membawakan tas serta sepatu yang akan dipakai Ibra.


Ibra duduk di sofa ruang tamu dekat pintu, memakai kaos kaki dan sepatu yang Audi serahkan padanya.


"Mas Ibra pulang jam berapa hari ini?" tanya Audi turut duduk di samping Ibra.


"Gak tentu, Cla. Yang pasti agak sorean," jawab Ibra seadanya.


Audi hanya mengangguk mengerti. Ia ikut berdiri ketika Ibra sudah siap hendak berangkat. Sang suami mengusap kepala Audi halus, lalu mencium keningnya yang Audi balas dengan kecupan halus di punggung tangan Ibra.


"Mas berangkat. Kamu jangan capek - capek di rumah. Ingat dedek bayi di perut," tutur Ibra seraya mengusap permukaan perut Audi yang masih rata.


Audi tersenyum disertai anggukan. "Iya iya ... udah sana berangkat."


Ibra tersenyum dan mengecup kening Audi sekali lagi. "Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam," sahut Audi sembari melambai melepas kepergian mobil Ibra yang meninggalkan pekarangan.


Pagi agak siang, sesuai waktu yang dijanjikan Bu Hamidah datang dan memulai hari pertamanya untuk bekerja. Sebelumnya Audi sudah menjelaskan poin - poin apa saja yang perlu dilakukannya dalam mengurus Farzan. Beliau manut dan menerima permintaan Audi yang sekarang berstatus sebagai nyonya baru.


Selagi Farzan bermain bersama Bu Hamidah di ruang khusus tempatnya bermain, Audi akhirnya bisa meluruskan kaki dan punggungnya di sofa ruang tengah. Ia makan camilan sambil memijat - mijat betisnya yang terasa pegal.


Audi menyalakan televisi dan mencari channel Korea favoritnya. Suara celotehan Farzan yang terdengar samar dari lantai atas tak lagi membuat Audi khawatir karena anak itu sekarang memiliki suster yang menemaninya.


Ternyata usulan Ibra ada baiknya juga. Audi jadi bisa leluasa beristirahat dan memuaskan hasrat mengidamnya sewaktu - waktu.


Tubuh Audi juga tak begitu berat karena kelelahan sejak hadirnya Bu Hamidah yang membantunya mengurus Farzan. Audi benar - benar berterima kasih karena Farzan pun banyak belajar hal - hal kecil dari beliau.


Bu Hamidah juga sering memberi saran - saran bermanfaat perihal kehamilan Audi. Audi senang, karena entah kenapa saat berhadapan dengan beliau, Audi merasa tengah berbincang dengan Oma Halim saat muda.


Astaga, Audi sudah mulai melantur hingga tanpa sadar ia tertidur di sofa ruang tengah dengan televisi masih menyala.


Entah berapa lama Audi tertidur, seingatnya ia menemukan wajah Ibra yang sayup - sayup ia lihat menggendongnya ke kamar mereka di lantai atas. Apa itu sudah sore? Kenapa waktu berjalan tanpa terasa?

__ADS_1


"Kalau kamu ketiduran saat santai, Mas baru bisa merasa tenang, Cla. Berbeda kalau kamu ketiduran karena kelelahan, Mas merasa gagal menjadi suami yang menghadirkan kenyamanan untuk kamu sebagai istri."


__ADS_2