Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 94


__ADS_3

Seminggu kemudian, tepatnya satu hari sebelum puasa, Ibra pulang ke Bandung guna menyambut bulan suci Ramadhan. Audi tidak tahu apakah Paspampres bisa libur juga di hari-hari seperti itu, yang pasti Audi senang karena akhirnya ia dapat kembali bertemu Ibra.


Itu sebelum Audi mendapat teguran dari sang ayah.


"Mau ke mana kamu?"


Audi yang semula menuruni tangga dengan langkah antusias, mendadak berhenti ketika mendapati Davandra Halim tengah duduk santai di kursi ruang keluarga. Pria itu mendongak dari majalahnya guna menatap Audi.


Ayah dan anak itu rupanya masih diliputi perang dingin.


Audi melengos dan hendak melanjutkan langkah. "Keluar," jawabnya cuek.


"Ketemu Ibra?" tebak Dava benar.


"Kalau iya kenapa?" sewot Audi.


Dava menoleh datar. "Masuk kamar," titahnya tegas.


"Gak mau!" bantah Audi.


Audi lanjut berjalan, akan tetapi langkahnya kembali tertahan ketika Dava lagi-lagi berseru, kali ini lebih keras.


"Papa bilang masuk kamar!"


Mendapat sentakan seperti itu, kontan Audi menghentak kesal. "Papa kenapa, sih, ngeselin banget? Audi cuman mau ketemu Mas Ibra yang baru pulang masa gak boleh?"


"Gak boleh." Dava menyahut langsung.


"Papa jahat!"


"Astaghfirullahaladziim ... ini kenapa sih kalian bertengkar mulu? Mau sampai kapan, ha? Bentar lagi puasa bukannya maaf-maafan." Lalisa yang tiba-tiba muncul tahu-tahu berkomentar.


Ia membawa segelas jus alpukat yang tadi sempat diminta suaminya.

__ADS_1


"Papa tuh nyebelin." Audi menunjuk Dava, sementara yang ditunjuk hanya mendelik tanpa ekspresi.


Dava kembali membaca majalah sambil mencicipi jus buatan sang istri. Lalisa menggeleng mengamati keduanya. Ketika Audi hendak beranjak lagi, spontan Dava melirik gadis itu tajam. "Papa bilang masuk, Di."


Namun Audi tak menghiraukan, ia berjalan tak acuh melewati ruang tengah dan ruang depan hingga membanting pintu keras-keras ketika sampai di luar.


Dava yang kesal hampir berdiri kalau saja Lalisa tak segera menahan. "Mas, udah! Kamu tuh apa-apaan, sih? Kekanakan banget bertengkar sama anak sendiri? Audi itu udah besar, gak bisa kamu larang-larang segitunya."


Perkataan Lalisa mampu membuat Dava bungkam. Dengan pasrah ia membuang nafas lalu kembali duduk dengan tenang. Rautnya kaku dan tak enak dipandang.


Lalisa berusaha membuat Dava sedikit lebih rileks dengan memijat pelan bahu lelaki itu. "Mas, kamu kenapa se-enggak suka itu sama Ibra? Sejak Ibra ke rumah, kayaknya kamu tengsin banget kalau ada dia?"


"Kamu udah tahu jawabannya," jawab Dava sedikit ketus.


"Mas gak suka karena Ibra duda?" todong Lalisa langsung.


"Salah satunya."


"Yang lainnya?"


Lalisa terdiam, ia memandang sang suami yang baru saja bersungut kesal. Sambil terus memijat bahu Dava, Lalisa pun menanggapi ucapan suaminya.


"Ya kan itu teman Mas, belum tentu Ibra juga seperti itu. Kita kenal dia dari bayi, lho, Mas. Dia juga anaknya Safa dan Edzar, masa Mas masih ragukan mereka?" Lalisa bertutur dengan lembut serta hati-hati. Ia takut seandainya menyinggung Dava.


"Orang tuanya baik, belum tentu anaknya juga baik. Ibra itu jarang di sini, sejak masuk militer dia selalu hidup di perantauan. Siapa yang tahu dia gimana di sana, kan?"


Lalisa membuang nafas lelah. "Dari remaja sampai sekarang, aku belum pernah tuh dengar yang macem-macem soal Ibra. Kelihatannya dia juga masih sama, kok, kayak dulu, anaknya baik dan sopan. Dia selalu lungguh kalau sama orang tua. Gak ada yang berubah dari Ibra kecuali dia makin ganteng. Wajar saja Audi tergila-gila. Dia kan emang sudah bergantung pada Ibra sejak kecil."


"Kamu belain Ibra?" Dava mendelik.


"Bukan, aku cuman utarakan apa yang kulihat saja," balas Lalisa, santai.


Dava mendengus dan memilih tak bicara lagi, ia fokus membaca majalah, menelusuri berita-berita terkini yang memuat soal bisnis.

__ADS_1


Sementara di luar, Audi yang tiba di depan rumah Safa dan Edzar, memencet bel dengan tak sabar. Kalau Audi remaja pasti sudah berteriak-teriak menyerukan nama Ibra. Tapi kali ini tidak, Audi sudah banyak belajar menjaga attitude sejak dewasa.


Tak lama seorang asisten rumah tangga keluar membuka gerbang.


"Eh, Mba Audi? Mau ketemu Nyonya atau ..."


"Mas Ibra ada?" potong Audi langsung.


"Eh? Ada. Ada, kok. Kalau gitu mari masuk?" Si Mba mengajak Audi ke dalam rumah.


Meski Audi sudah hafal seluk beluk rumah tersebut dan sering sekali keluar masuk tanpa malu, tapi sekarang rasanya canggung mau melakukan itu. Makanya Audi memilih menunggu saja di ruang tamu, hingga Tante Safa muncul dari arah ruang makan dengan wajah sumringah. Wanita itu menghampiri Audi yang langsung berdiri begitu melihat kedatangannya.


"Tante?" sapa Audi gugup.


Safa terkekeh mengibas tangannya yang lentik. "Lucu kamu, ya? Sejak pacaran sikap kamu malah sering canggung begini. Perasaan dulu gak pernah malu-malu," selorohnya membuat Audi meringis.


"I-iya, itu ..."


"Mau ketemu Ibra, kan?"


Audi mengangguk kaku. Melihat itu Safa langsung tersenyum.


"Anaknya masih tidur di atas. Capek banget kayaknya pulang jam 3 dini hari. Ibra baru bisa tidur lagi habis subuh."


Audi melotot. Kenapa ia bisa lupa Ibra juga butuh istirahat? Ya Tuhan, saking semangatnya mau bertemu pria itu, Audi sampai mengabaikan kepedulian.


"Oh iya, Mas Ibra pasti capek banget. Ya udah, kalau gitu Audi pulang dulu saja, ya ,Tante? Kasian Mas Ibra nya kalau Audi ganggu."


Audi hendak berbalik, namun Safa segera mencegah. "Eeeehhh ... tapi kamu pengecualian," cetusnya disertai cengiran.


Kening Audi berkerut. "Maksud Tante?"


Safa menguar senyum rumit. "Kamu pengecualian. Ibra gak akan merasa marah atau terganggu, kok, kalau kamu yang bangunin. Malahan tadi dia sendiri yang pesan sama Tante supaya suruh kamu ke atas saja kalau mau bertemu."

__ADS_1


Audi mengerjap polos. "Masa iya, Tante?"


"Iya!" sahut Safa meyakinkan. "Tunggu apa lagi? Ayo sana bangunin."


__ADS_2