
Sesuai yang Ibra katakan bahwa ia akan kembali ke jakarta di hari kedua puasa. Tepatnya hari ini Ibra akan bertolak lagi ke ibu kota. Pria itu sudah berbenah, memasukkan barang-barang ke mobil dari sejak pagi.
Sang mami, Tante Safa tampak sibuk turut membantu. Ia bahkan sudah menyiapkan oleh-oleh berupa makanan kering untuk bekal Ibra.
"Karena kamu suka pedas, Mami bawain kripik tempenya yang pedas juga. Ini juga ada sambal cumi biar kalau kamu malas masak tinggal makan. Ini dendeng kering, udang rebon, ikan pepetek crispy kesukaan kamu, lumpia daun jeruk buat camilan. Mami juga masukin camilan-camilan sehat, kok. Tenang aja, Mami gak lupa anak Mami ini prajurit elite yang harus jaga kesehatan dan berat badan."
"Oh iya, kemarin Mami juga ada beliin kamu kaos sama kemeja baru. Udah Mami masukin di koper kamu."
Tante Safa tampak tak berhenti nyerocos hingga Ibra hanya bisa tersenyum di sela helaan nafas yang terbuang.
"Bentar, apa lagi yang belum? Oh kop—" Kalimat Safa berhenti saat Ibra menahan halus bahunya.
"Sudah, Mami. Ini sudah sangat cukup buat Ibra. Bisa-bisa mobil Ibra penuh kalau Mami masukin lebih banyak lagi."
Lalisa yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah sembari menuruni undakan tangga teras pun turut menyahut. "Bener, Dek. Kamu udah kayak bekalin anak perawan yang mau piknik." Ia berjalan melewati keduanya guna mengambil sapu yang memang menjadi tujuan sebelumnya.
Ia hendak menyapu halaman villa Oma Halim hitung-hitung membunuh bosan.
Safa merengut. "Namanya juga orang tua. Kamu juga nanti tahu gimana rasanya mau berpisah jauh sama anak," tuturnya pada Ibra. "Mba Lisa juga gitu, kan, kalau Jeno mau berangkat ke kosan lagi?"
"Ya gak sampai bawa makanan semobil juga kali. Apalagi anak itu emang malas dibekali," sahut Lalisa, santai.
Ibra terkekeh geli melihat raut sang mami yang merasa kalah. Ia pun merangkul pundak maminya guna menghibur sedikit suasana hati wanita itu. "Tenang, Ibra bawa semua yang Mami siapkan. Makasih, ya, Mami ngerti aja Ibra sering malas atau gak sempat masak," ucapnya diakhiri kecupan kilat di pipi.
Safa yang mendapat perlakuan demikian pun kontan tersenyum lagi. Ia balas memeluk Ibra hangat. Sungguh waktu bergulir tak terasa. Bayi yang dulu ia rawat dan susui kini sudah memiliki tubuh setinggi dan sebesar ini.
"Ibra, kamu itu anak Mami satu-satunya. Jaga diri baik-baik, jangan sampai bikin Mami dan Papi cemas karena resiko pekerjaan kamu yang terbilang berat. Jangan lupa juga makan teratur biar selalu sehat. Ingat, sepadat apa pun jadwal kamu, jangan lupakan kewajiban kamu sebagai muslim. Kamu ngerti?"
Ibra tersenyum teduh, memeluk sang ibu sedikit erat. "Iya, Mami. Mami juga jaga selalu kesehatan, jangan terlalu capek."
Safa tersenyum, tempat paling nyaman setelah pelukan suaminya adalah pelukan Ibra. Tak lama Edzar terlihat menuruni undakan teras depan villa Oma Halim, pria itu berjalan mendekat pada anak serta istrinya yang saling berpelukan.
"Kamu sudah mau berangkat?" tanyanya pada Ibra.
__ADS_1
Ibra melepaskan pelukannya dari sang mami. "Belum, Pi. Ini masih ada beberapa yang belum diberesin di kamar."
Edzar mengangguk. "Ohh."
"Jangan lupa pamit juga sama Uwa," lanjutnya mengingatkan.
Yang Edzar maksud pasti Dava, karena Lalisa ada bersama mereka sekarang.
"Iya, Pi, pasti."
***
"Mas Ibra jangan lupa kasih kabar sama aku. Pokoknya tiap hari minimal 5 chat. Tuh, aku udah kurangin karena tahu Mas Ibra pasti sibuk banget."
Ibra terkekeh, melihat Audi yang merengut hampir membuatnya lupa mereka tengah puasa. Kalau tidak, mungkin Ibra tak ragu mengecup sedikit bibir ranumnya yang selalu saja tampak menggoda.
Astaghfirullah, di luar puasa pun sebetulnya tidak boleh.
"Iya, Audinya Mas juga, ya. Gak papa Mas gak balas, yang pasti dengan adanya kabar dari kamu, Mas pun merasa lega." Ibra berkata lembut seraya mengurai rambut Audi.
Mas Ibra itu senang sekali melakukan sentuhan kecil di waktu-waktu tertentu. Seperti saat mereka hanya diam seperti ini, saling berbagi obrolan ringan, pasti ada saja bagian tubuh Audi yang jadi mainan lelaki itu.
Bagian tubuh di sini bukan tanda kutip, ya. Tentu yang Ibra sentuh yang sekiranya wajar dan sopan. Seperti misalnya tangan, kaki, lutut, rambut, hingga hidung dan pipi sekalipun pernah menjadi kejailannya.
Kata Ibra itu menjadi kesenangan tersendiri baginya. Entahlah, Audi tak mengerti. Tapi memang, sih, dia juga sering seperti itu pada Ibra. Yang paling lucu itu ketika Audi mencolok lubang hidung Ibra sampai pria itu bersin.
"Mas bakalan kangen momen sama kamu seperti ini," ucap Ibra santai. Kali ini Ibra memijat betis Audi yang menumpang di atas pahanya. Mereka memang tengah duduk di teras belakang villa Oma Halim, di mana Audi harus mati-matian menelan ludah melihat strawberry yang berbuah merah merona.
"Padahal aku pengen ngabuburit lagi bareng Mas," balas Audi.
Ibra menoleh, menatap Audi teduh. "Kapan-kapan, ya, Sayang. Oh iya, kemarin kamu ada pesan sesuatu lewat hape Mas, ya?"
Mendengar pertanyaan Ibra, Audi sontak meringis gugup. Rautnya seperti anak yang ketahuan mengambil uang milik orang tua. "I-itu ... iya ..." lirihnya dengan suara mencicit. "Maaf ..."
__ADS_1
Audi menunduk, jarinya bertaut saling meremas satu sama lain. Melihat itu Ibra hanya bisa terkekeh geli.
"Kamu kenapa begitu?"
Audi mendongak. "Kenapa?"
"Ya kamu kenapa kayak gitu mukanya?"
"Mas Ibra gak marah?"
"Enggak." Ibra menggeleng santai. "Mas cuman mau tanya itu COD atau bukan?"
"Bukan, itu ... aku pake bayar nanti," cicit Audi hampir tak terdengar.
"Ooh, ya udah, nanti Mas yang bayar." Ibra sama sekali tak terlihat keberatan.
"Mas yakin? Itu, nanti Audi transfer deh uangnya ke Mas Ibra." Audi merutuki kebiasaan yang suka memesan barang karena iseng.
Ia belum pernah pakai fitur bayar nanti, makanya saat pakai hape Ibra, ia tak tahan coba-coba. Bukannya apa, Audi tak enak karena nominalnya tidak kecil.
"Gak usah, biar Mas aja yang bayar."
"Tapi itu 4 juta!"
"Gak papa, Sayang." Ibra tetap kekeh.
Akhirnya Audi pun menyerah. Ya sudahlah, toh Ibra juga bukan prajurit yang miskin. Dia anak Om Edzar, dan dia punya saham.
"Papa kamu di mana? Mas pengen ketemu," ucap Ibra tiba-tiba.
Audi mendongak. "Papa?"
"Hm." Ibra mengangguk. "Gimana pun Mas harus pamitan sama calon mertua, kan?" Matanya berkedip diiringi decakan sekilas.
__ADS_1
"Ish, lagaknya udah kayak dikasih restu," gumam Audi pelan.
Ibra terkekeh. "Pokoknya kamu tinggal duduk manis, tunggu Mas lamar kamu secara resmi."