
LAKA MAUT PERSIMPANGAN SALATIGA. MOBIL SELEBGRAM CLAUDIA MAREETA HALIM RUSAK PARAH USAI TABRAKAN. DUA ORANG MENINGGAL DUNIA.
Berita mengenai kecelakaan yang dialami Audi sudah santer diberitakan di mana-mana. Dari pagi, siang, sore, bahkan sampai malam kejadian tragis itu tak luput dari perhatian media.
Video detik-detik mobil Alphard putih dihantam keras oleh kontainer migas hingga terguling tersebar di media sosial maupun penyiaran. Video tersebut diambil dari CCTV jalan.
Sebagian orang menyalahkan sopir dari kedua belah pihak yang dinilai kurang berhati-hati ketika melintas di pertigaan. Sebagian lain juga menyalahkan rambu lalu lintas yang faktanya sering eror di kawasan tersebut.
Meski begitu semuanya tetap mendoakan yang terbaik dan berharap pemerintah setempat tempat kejadian maut itu dapat memperbaiki fasilitas penting seperti rambu lalu lintas di jalan.
Seluruh keluarga Halim diliputi duka atas musibah yang dialami Audi beserta timnya, begitu pula rekan sesama selebgram dan youtuber, bahkan beberapa selebriti dan model yang pernah satu panggung dengan Audi, mereka beramai-ramai membuat postingan dengan hastage Claudia Halim.
Lalisa dan Dava langsung bertolak dari Bandung ke Salatiga demi untuk menjemput putri mereka. Laka maut yang merenggut dua nyawa itu sungguh menghantam keras keluarga besar yang cukup terpandang di Bandung tersebut.
Ramadhan yang seharusnya menguar kehangatan dan kedamaian, siapa sangka akan menjadi luka yang mustahil untuk bisa dilupa.
Mengerti dengan kondisi orang tua Audi yang syok berat, Safa dan Edzar dengan penuh manah menemani mereka, sepanjang perjalanan tak luput berusaha menenangkan keduanya.
Tak jauh berbeda dari keluarga besar Halim, Ibra yang berada jauh di negeri orang pun turut merasakan hantaman badai besar di hatinya. Lelaki itu seakan kehilangan pondasi yang membuatnya tak fokus saat berdinas.
__ADS_1
Sebisa mungkin Ibra menahan gerak kakinya yang ingin berlari ke bandara dan terbang kembali ke Indonesia. Padahal baru beberapa saat lalu Ibra sampai di Bangkok untuk mengawal presiden dalam pertemuan negara.
Meski Ibra tetap menjalankan tugas dengan baik, akan tetapi raut dan sorot mata tak bisa membohongi dunia. Pandangan yang biasa cerah penuh energi kini seakan lenyap oleh kesuraman. Hal itu jelas disadari oleh rekan-rekannya, bahkan presiden sendiri diam-diam memperhatikan salah satu pengawalnya tersebut.
Saat lepas dinas, sebut saja Ibra mendapat waktu untuk istirahat, pertahanan yang sedari berjam-jam lalu ia tahan pada akhirnya meluap juga. Ibra menangis bahkan sebelum sempat ia masuk kamar.
Di tengah sempitnya lorong Ibra terduduk dengan kepala menunduk. Ia terseguk dengan bahu bergetar hebat. Tangannya menggenggam erat ponsel yang sebelumnya ia gunakan untuk menelpon.
"Ibra, kamu yang sabar. Tahan emosi kamu. Mami harap musibah ini tak lantas membuat kamu berpikir pendek. Tenanglah, Nak. Mami sebagai orang tua sekaligus mewakili kamu yang tidak bisa berada di samping Audi saat ini. Kami masih proses menjemput Audi di Salatiga, masih menunggu konfirmasi dari pihak rumah sakit dan polisi serta aparat setempat. Tenangkan dulu diri kamu, setidaknya detak jantungmu tidak membuat sesak saat menaiki pesawat, baru kamu boleh pulang, Nak."
Kalimat sang mami yang diucapkan wanita itu dengan nada penuh getar membuat Ibra kian sulit mendapatkan fokusnya. Otaknya seolah kosong sekarang. Ibra benar-benar berada dalam fase bingung tak tahu harus melakukan apa. Ia terlalu terkejut dengan semuanya, terlalu tidak percaya duka bisa datang kapan saja.
Hati Ibra terasa pilu membaca pesan WhatsApp terakhir Audi yang belum sempat ia balas. Mendadak ia meresapi lagi perkataan sang uwa tentang pekerjaannya yang minim waktu untuk Audi. Sekarang terbukti, bahkan untuk sekedar saling membalas kabar pun Ibra tak mampu melakukannya dengan baik.
Di tengah duka mendalam yang dirasakan Ibra, ia tak sadar sepasang kaki telah berhenti tepat di hadapannya. Pria itu bersimpuh, menyentuh bahunya pelan.
"Nak Ibra?"
Ibra sempat tertegun sesaat. Pelan - pelan ia mendongak dan mendapati sang komandan yang menatapnya penuh wibawa. Ibra yang terlanjur dirundung kesedihan tak mampu bersuara sepatah katapun. Hingga tiba di mana komandan mengulurkan sepucuk surat yang terlipat rapi tepat di depan matanya.
__ADS_1
"Surat izin resmi dari Presiden. Kamu boleh mengambil penerbangan malam ini juga. Pulanglah."
Ibra mematung, berusaha mencerna kalimat barusan. Entah bagaimana bisa Presiden bisa menurunkan surat dimikian, tapi Ibra tentu sangat - sangat berterimakasih atas belas kasih beliau.
Dengan tangan sedikit bergetar Ibra menerima surat tersebut dari komandan. Komandan menepuk bahu Ibra dan berkata lagi. "Kamu butuh teman atau bisa pulang sendiri?"
Ibra tahu komandan sangat dekat dengan Edzar, papinya. Tapi di luar itu ia memang sangat peduli pada setiap anggotanya.
"Saya bisa sendiri," bisik Ibra parau. "Terima kasih."
Komandan mengangguk. "Sampaikan salam pada keluarga Halim, kalau begitu."
Kembali Ibra mengangguk. Lidahnya seolah kelu untuk sekedar menjawab sekecap kata 'siap' seperti biasa.
Ibra menatap kepergian komandan yang meninggalkan lorong. Ia lalu menunduk melihat surat izin di tangannya. Surat yang dibuat mendadak menggunakan tulisan tangan langsung Presiden dengan stempel resmi.
Sesaat Ibra terdiam lemas, matanya sembab nan merah. Berkali-kali melakukan respirasi demi mendapat sedikit ketenangan. Ibra membuka ponsel, mencari tiket penerbangan paling cepat yang masih tersedia.
Ketika dapat, Ibra pun berdiri perlahan dan berjalan masuk membereskan barang-barangnya di kamar. Ia lalu menelepon sang mami yang langsung diangkatnya dalam beberapa detik.
__ADS_1
"Ibra pulang malam ini," ucap Ibra yakin.
Cla, semoga Mas tidak terlambat. Mas minta kamu menunggu sebentar saja boleh, kan, Sayang?