Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 50


__ADS_3

Audi dan Ibra sampai di Jakarta tepat sebelum subuh. Mereka langsung menuju rumah sakit dan mencari ruang rawat Kenan yang sebelumnya sudah diberitahu Shireen.


Setibanya di sana Shireen nampak terkejut melihat Ibra datang bersama Audi. Sesaat Shireen dilanda canggung, namun ia segera tersenyum dan menyambut keduanya ramah.


"Kenan mana?" tanya Ibra tanpa basa-basi.


"Di dalam, Mas. Ayo, masuk." Shireen mempersilakan Ibra serta Audi memasuki ruang perawatan Kenan.


Di sana, kenan nampak terlelap dengan alat bantu pernafasan.


"Dokter bilang apa?" Ibra bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Kenan. Ia berjalan mendekati ranjang pasien anak itu.


"Aritmia seperti biasa," jawab Shireen.


"Dia habis ngapain sebelumnya?"


"Gak ngapa-ngapain, cuman habis main sama teman-temannya."


Ibra menghela nafas dalam. Memang sulit, anak sebesar Kenan masih dalam fase senang bermain. Tapi harusnya Shireen bisa mengontrol Kenan supaya lebih teratur dan tidak kelelahan.


Karena kelainan jantung yang dideritanya sejak lahir, Kenan sering mengalami gangguan ritme jantung yang tak normal. Seperti melambat atau bahkan terlalu cepat, Kenan bahkan pernah mengalami henti jantung setahun lalu.


Ibra duduk di bibir ranjang, mengulurkan tangan mengusap kening anak itu dengan halus. Alhasil Kenan yang merasa terganggu pun mengerjap pelan.


"Ayah ..." panggilnya parau.


Ibra mengulas senyum hangat. "Iya, ini ayah."


"Ayah ke mana aja? Kenan dan Mama rindu Ayah."


Mendengar itu Ibra terdiam. Sementara Shireen melirik Audi tak enak. Audi sendiri hanya mematung sejak sampai di sana, entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu.


Kembali Ibra mengukir senyum. Ia mengelus permukaan rambut Kenan sambil diam-diam mengambil nafas dalam. "Ayah kan tugas."


"Bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa yang Kenan rasakan? Ada yang tidak nyaman?" tanya Ibra kemudian, sekaligus mengalihkan pembicaraan.


"Capek," bisik Kenan yang entah kenapa terdengar pilu.


Audi menatap anak itu dalam diam. Wajah pucatnya yang sangat mengkhawatirkan, bisa-bisanya ia tadi berpikir untuk menahan Ibra agar tidak kemari. Jahat sekali.


"Ya udah, Kenan tidur lagi, ya?" tutur Ibra lembut.


Namun Kenan menggeleng. "Nanti Ayah pergi lagi."

__ADS_1


"Enggak, Ayah di sini, kok."


"Beneran?"


"Heem." Ibra mengangguk.


"Ayah gak boleh boong," bisik Kenan yang sepertinya hendak terlelap. Mungkin efek obat yang diberikan dokter masih bereaksi.


"Bener, Ken, Ayah di sini temani Kenan. Kenan bobo lagi, ya?"


Akhirnya anak itu mengangguk. "Mama juga jangan ke mana-mana," ucapnya pada Shireen.


Shireen tersenyum mengusap puncak kepala putranya. "Iya, Kenan bobo, ya? Istirahat."


Kenan tak bersuara lagi, matanya perlahan menutup dan kembali tidur. Shireen, Kenan, dan Ibra nampak seperti keluarga lengkap. Sesaat Audi terdiam melihat mereka. Mendapati betapa dekatnya hubungan Kenan dan Ibra, mendadak ia pun merasa menjadi orang asing di sana.


Pantaskah Audi bersikap egois?


"Audi masih di Jakarta?" Suara Shireen berhasil memecah lamunan Audi.


Wanita itu melesakkan diri di sofa tepat di samping Audi. Gelagatnya terlihat sedikit canggung, mungkin Shireen bingung harus bersikap bagaimana padanya.


Audi mengangguk, namun kemudian ia menggeleng. "Enggak, aku udah pulang ke Bandung habis dari Singapur."


Bagaimana Audi menjawab ini? Tidak mungkin ia bilang mereka habis liburan bersama, kan?


"Ah, itu tadi ... Mas Ibra pinjam mobil aku, Mba. Kebetulan aku juga ada photo shoot di Jakarta. Jadi sekalian. Iya, hehe."


Garing banget. Audi berharap alasannya tak begitu aneh didengar. Tapi untungnya Shireen mengangguk, meski Audi tak yakin wanita itu percaya atau tidak. Ya sudahlah, toh Audi juga tidak wajib menjaga perasaan Shireen, kan? Tapi di sini ada Kenan, Audi takut anak itu berpikir yang bukan-bukan.


Tak lama Ibra menginterupsi suasana canggung itu. "Ren, saya keluar sholat dulu. Ken sudah tidur."


Shireen mendongak. "Oh, iya, Mas, silakan."


Perhatian Ibra jatuh pada Audi. "Mas ke mushola dulu. Kamu mau ikut atau di sini aja?"


Sesaat Audi berpikir. Ia pun memutuskan menunggu di sini saja, lagian Ibra taunya Audi lagi datang bulan, karena memang Audi belum sempat bersuci.


"Aku di sini aja, deh."


"Yakin? Gak pengen pipis gitu?"


Ibra apaan, sih? Yang begitu saja mesti ditanya. Audi jadi malu sama Shireen. Entah wanita itu berpikir apa sekarang.

__ADS_1


"E-enggak. Di sini kan juga ada toilet," ujarnya mengingatkan.


"Oh iya. Mas lupa. Ya udah Mas keluar, ya? Sebentar aja, kok."


"Iya. Ya udah sana."


Tersenyum, Ibra menggasak rambut Audi sebentar sebelum kemudian berlalu keluar. Suasana bertambah canggung setelah Ibra pergi. Hening menyelimuti Shireen maupun Audi.


Shireen masih mematung melihat perhatian Ibra barusan. Pria itu tampak sangat peduli pada Audi. Sudah bisa dipastikan hubungan mereka bukan sekedar saudara sepupu.


Shireen tersenyum tipis ketika pandangan mereka bertemu. Ia mendadak bersyukur saat ponselnya bergetar menyatakan panggilan.


"Saya ... keluar dulu, ya?"


Audi mengangguk. Ia sempat melirik layar ponsel Shireen, sepertinya itu salah satu rekan guru di sekolah Shireen.


"Iya, Mba."


"Titip Kenan sebentar," ringisnya tak enak.


Audi kembali mengangguk disertai senyum. "Iya, Mba."


Shireen pun keluar mengangkat telpon. Kini Audi sendirian di kamar rawat itu. Ia menoleh pada Kenan yang terlelap di atas ranjang. Karena bosan, Audi pun membuka ponsel dan melihat-lihat sosial media.


Tiba-tiba saja ...


"Tante pacar baru Ayah?"


Tentu saja Audi terlonjak. Bukannya Kenan sudah tidur?


Pelan, Audi mendongak menatap anak itu yang sekarang sudah terbangun dengan mata terbuka. Kenan memandang Audi dengan sorot sayunya.


Beberapa detik Audi hanya mampu terdiam mendengar pertanyaan Kenan yang terkesan tiba-tiba. Ia jelas kebingungan untuk menjawab.


"Kenan pernah lihat foto Tante di hape Ayah," ucap Kenan lagi.


"K-Kenan ..." Audi harus bilang apa pada anak kecil sepolos Kenan? Terlebih hubungannya dan Ibra memang belum ada kejelasan.


Audi seolah ditampar dengan kenyataan itu. Jika mereka tak lekas ke sini, mungkin sekarang Audi sedang mempertimbangkan menjadi kekasih dari seorang Ibra.


"Pasti Tante yang bikin Ayah gak bobo lagi sama Kenan," cetus Kenan dengan tuduhan lemah.


Tapi, apa benar Audi bisa menerima Ibra semudah itu? Sementara sekarang saja Audi merasa seperti menemui batu besar yang menghalanginya.

__ADS_1


Kenan, apa yang harus Audi katakan padanya?


__ADS_2