Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 07


__ADS_3

"Ini, lho, Di. Aku mau minta bantuan kamu buat iklanin produk liptsik aku di youtube kamu. Sudah BPOM, kok. Jadi aman mau kamu coba sekalipun."


Audi membolak-balik kemasan lipstik di tangannya dengan seksama. Matanya meneliti dengan serius sebelum kemudian membuka tutupnya dan memoles sedikit di tangan.


Ia mengangguk-angguk kecil. "Teksturnya agak cair, ya. Kayaknya bakal lama kering." Audi meniupi olesan lipstik itu sambil sesekali menyentuhnya.


"Wanginya manis kayak kue. Warnanya juga cantik. Oke, sih. Untuk ukuran lipstik 20 ribuan ini worth it. Apalagi packaging-nya menarik banget. Pasti banyak yang minat."


Ajeng tersenyum lebar, senang dengan tanggapan Audi. "Aku memang menargetkan kalangan menengah ke bawah, Di. Harganya juga ramah di kantong OSIS. Jadi mau itu anak sekolah, kuliahan, atau yang udah kerja sekalipun mereka tetap masih bisa beli."


"Bagus. Emang daya jualnya lebih besar karena murah."


"Jadi kamu mau iklanin produk aku?" tanya Ajeng antusias. "Biayanya berapa? Kamu mau minta berapa aja aku kasih, kok. Aku yakin karena kamu selalu sukses dalam endorse. Aku udah tanya beberapa yang pernah pake jasa kamu. Mereka bilang permintaan produksi semakin tinggi saat kamu pasang iklan sehari saja."


"Ah, biasa aja. Orang pengikutku gak lebih dari 10 juta, kok."


"Ya tetap aja itu udah menyaingi artis."


Audi hanya menanggapinya dengan tersenyum. "Buat kamu aku kasih diskon, deh."


Ajeng melotot. "Serius?"


"Huum."


"Beneran?"


"Iya ..." malas Audi.


"Kok, gitu?"


Kini gadis itu berdecak. "Mau enggak dikasih diskon?"


Tentu saja Ajeng mengangguk cepat. "Mau, mau ..."


"Ya udah." Audi mengangkat bahu.


Ajeng lantas memeluk Audi kencang. Sampai-sampai dia kesulitan bernafas karena sepertinya Ajeng berniat meremukkan tubuhnya yang mungil. "Makasih banget, Audi ... Kamu emang paling the best, hehe."


"Ck, giliran gini aja dibilang the best."


Sontak Ajeng melempar cengiran yang membuat Audi memutar mata. Ia menoyor kening Ajeng untuk menjauh. "Sana, ah. Mukamu membuatku lemah."


Ajeng berkedip. "Kenapa? Kamu suka aku?"


Wajah Audi berubah datar. "Suka banget. Kamu mirip cilok."


"Ihh ... kok cilok, sih?"


"Karena kamu bulat."

__ADS_1


Seketika Ajeng merengut. Tangan berisinya hendak mencubit Audi namun tentu saja Audi dengan gesit menghindar. Ia tertawa lebar sementara Ajeng semakin manyun di tempatnya.


"Kamu jangan bikin kepercayaan diriku menurun, dong! Aku udah berusaha diet tapi selalu gak berhasil. Mau selelah apa pun aktivitasku berat badanku tetap gak mau turun," sungut Ajeng sedih.


Audi meringis merasa bersalah. "Eh, gak gitu kok maksudku. Kamu lucu karena punya pipi chubby. Imut banget tahu."


"Beneran?"


"Huum."


"Tapi orang-orang bilang aku gendut."


"Jangan dengerin. Biarin aja orang mau bilang apa. Toh, kamu gak dapat uang dari mereka. Kecuali kalau mereka turut memborong lipstik kamu, baru kamu boleh pikirkan. Haha."


"Ini saranku, sih. Kalau mau serius diet cari pelatih aja. Biar ada yang lebih mengontrol kamu. Biar makanmu juga teratur kadar kalorinya."


"Begitu, ya? Iya, sih, aku susah konsisten. Pasti ada aja godaan yang bikin aku nyerah."


"Ya udah pakai saranku aja."


"Boleh, deh."


"Eh, udah malem. Aku mau pulang, ya?"


"Yakin gak mau nginep? Jarang-jarang, lho, aku di rumah."


"Ya mau gimana aku mesti kerja. Kamu enak gak terikat perusahaan. Aku bolos sehari bisa terancam dipecat."


"Iya kalau laku. Kalau gak laku?"


"Kan aku bantu. Tadi aja antusias banget bakal sukses. Sekarang malah kumat mindernya."


"Hehe, payah ya aku?"


Audi memutar mata. "Mulai lagi. Udah lah pulang sana!"


"Kamu ngusir aku?"


"Katanya mau pulang?"


"Eh, iya, sih." Ajeng menggaruk kepalanya sendiri.


Gimana, sih. Audi jadi geregetan sendiri.


"Di ...!" Panggilan sang mama dari luar kamar membuat Audi refleks menyahut.


"Iya, Ma!"


"Turun cepet!!"

__ADS_1


"Kenapa, sih?" gumam Audi heran.


Ia dan Ajeng lekas turun ke lantai bawah. Dan ketika tiba yang Audi dapati adalah raut cemas dan tegang dari mamanya.


Audi berkerut. "Mama kenapa? Kok mukanya khawatir gitu."


"Tante kamu dibawa ke rumah sakit. Tadi Ibra yang bawa. Om kamu lagi di luar kayaknya, makanya Papa kamu cepat-cepat ikut ke sana."


Sontak Audi terkejut. Pun dengan Ajeng yang langsung menutup mulut dengan mata membelalak kaget. "Innalillahi ..."


"Kapan? Kok Audi gak tahu? Mama gak ikut Papa?"


"Barusan pas kamu lagi di kamar sama Ajeng. Mama juga tahu dari Bibi yang kebetulan lagi buang sampah. Katanya Ibra gendong mamanya ke mobil. Muka dia cemas gitu. Papa langsung telpon dia untuk mastiin dan ternyata bener, Tante kamu pingsan."


"Aduh ... Mama jadi ikut khawatir. Tapi Papa kamu suruh Mama tunggu di sini."


"Papa sama Jeno?"


Lalisa mengangguk membenarkan.


"Apa kita gak ke sana aja, Ma?"


"Di, kalau gitu aku pulang, ya?" Ajeng menyela. Rautnya tampak serba salah. Anak itu pasti merasa harus segera menyingkir karena masalah keluarga Audi bukanlah ranahnya.


"Ya udah, kamu hati-hati, ya. Maaf kita gak bisa main lebih lama," sesal Audi.


"Iya, gak papa. Tante, aku pamit, ya? Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam ..." sahut Audi dan mamanya serentak.


Kini tinggal mereka berdua yang sibuk berpikir dalam keadaan dilema. "Kita ke sana gak, Di?"


Audi melihat sang mama yang begitu cemas. "Kalau Mama mau ke sana, ayo. Lagian di rumah ada Bibi. Audi juga pengen tahu keadaan Tante."


Keadaan Ibra juga. Bagaimana pun Audi tahu Ibra selalu lemah tentang apa pun yang menyangkut ibunya.


Benar saja, setibanya mereka di rumah sakit Audi melihat Ibra yang tertunduk di kursi tunggu. Entah kemana orang-orang. Kenapa Ibra sendiri? Di mana Papa dan Jeno?


"Ibra?"


Lelaki itu mendongak lesu. "Uwa, Audi?"


"Lho, kok kamu sendiri? Jeno sama Uwa kamu mana?"


"Di dalam sama Papi."


"Kamu gak—"


"Mama, ayo." Audi segera menyergah Lalisa dan mendorongnya memasuki ruang rawat. Sesaat ia menoleh ke belakang, menatap Ibra yang kini kembali termenung sendiri.

__ADS_1


Entah kenapa, melihat Ibra yang seperti itu hati Audi turut merenyut. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Tante Safa.


__ADS_2