
Audi dan timnya baru selesai take hampir tengah malam. Mbak Tian dan yang lain pasti dibuat terheran-heran dengan ketidak-fokusan Audi. Gadis itu berkali-kali mengulang adegan dan angkat tangan minta stop, yang mana hal tersebut sangat jarang dilakukan Audi.
"Kamu ada masalah?" Mbak Tian selaku manager Audi pun mendekat, duduk bersebelahan dengan Audi yang tengah memainkan ponselnya tak jelas.
Tian tahu Audi hanya menggeser-geser layar beranda dan WhatsApp tanpa sekalipun berniat membalas pesan. Padahal Tian sempat melirik dan mendapati banyak sekali pesan yang belum terbaca di sana.
Audi menggeleng samar, ia menghela nafas menatap sekitar ruangan yang sudah kosong. Mungkin Mardon dan tim yang lain sedang makan di ruang tengah. Suara mereka terdengar berkumpul di sana.
"Entahlah ..." gumam Audi tak yakin. "Aku cuman kayak kurang semangat aja hari ini. Gak tahu kenapa badanku kayak lemes gitu," lanjutnya seraya memijat tengkuk dan pundak.
Tian mengernyit, turut memijat leher serta bahu gadis itu. "Mungkin kamu perlu libur dulu. Mbak bisa atur ulang jadwal kamu, kok. Klien juga pasti ngerti."
Audi menoleh malas. "Kalau ditunda kerjaanku makin numpuk, dong? Udahlah, list yang ini selesain dulu, Mbak jangan dulu nerima job biar aku bisa libur tenang nanti," putus Audi.
Mbak Tian hanya mengendik. Audi cukup keras kepala jika masalah pekerjaan. Padahal dia dulu pernah drop gara-gara kurang istirahat.
"Makan, yuk. Tadi Mbak ada pesen DO." Mbak Tian berdiri, ia melirik jam yang sudah sangat larut. "Jadi gak enak sama orang tua kamu. Kita pasti ganggu tidur mereka. Mbak jadi kepikiran sewa tempat aja buat studio kita. Biar kalo mau rekaman gak perlu ke rumah kamu."
Memang, Audi memiliki ruangan tersendiri untuk membuat konten di rumahnya. Tapi meski begitu menurut Tian kurang memadai karena selain takut mengganggu orang rumah, mereka juga kadang kurang bebas karena merasa tak nyaman.
Audi berpikir sejenak. Benar juga yang diusulkan Mbak Tian. Kegiatan mereka pasti turut mengganggu kenyamanan tetangga. Sepertinya setelah ini ia akan mulai mencari tempat baru. Audi juga bisa meminta bantuan papanya untuk hal ini. Pria itu pasti memiliki banyak kenalan pengusaha properti.
Waktu semakin berangsur, rumah Audi baru senyap saat jam menunjukkan pukul setengah 2 dini hari. Audi membersihkan diri dengan cepat dan mulai menggunakan skincare meski malas.
Tapi mau semalas apa pun Audi akan selalu memaksa dirinya untuk perawatan, karena wajah adalah modal utamanya dalam mendapatkan uang.
Audi menepuk-nepuk pelan wajahnya yang kini mengkilap glowing. Ponselnya tiba-tiba menyala menapilkan nama seseorang yang akhir-akhir ini sering sekali menghubunginya.
Audi membiarkan itu hingga kedipan tersebut berhenti sendiri, beralih mendatangkan sebuah pesan yang masih bisa Audi baca lewat pop up notifikasi.
__ADS_1
Mas Ibra : Kamu belum tidur?
Audi hanya melirik sekilas. Ia lanjut memakai sleeping mask sebagai sentuhan terakhir rangkaian skincare.
Ting!
Mas Ibra : Kerja lagi?
Masih Audi abaikan. Satu lagi dentingan masuk.
Mas Ibra : Keterlaluan banget kalau benar kamu masih atau baru selesai kerja.
Mas Ibra : Angkat telpon Mas.
Dih, apa-apaan? Memangnya Ibra siapa seenak jidat memerintahnya?
Ponsel Audi terus bergetar, ia lupa kenapa tidak mengaktifkan mode diam tadi. Alhasil telinganya risih juga mendengar Ibra yang sepertinya tak mau menyerah sebelum panggilannya diangkat.
Setengah hati Audi berjalan terentak mendekati meja dan meraup ponselnya menerima telpon Ibra.
"Apa, sih?!" sentaknya dengan suara pelan. Audi masih waras untuk tidak meneriaki Ibra di tengah malam begini. Yang ada ia digedor tetangga karena mengganggu tidur mereka.
"Ternyata kamu memang belum tidur," sahut Ibra di seberang sana.
"Ya terus kenapa?" Audi benar-benar kesal dengan sikap santai Ibra. "Kalau Mas Ibra gak telpon terus aku juga udah tidur sekarang!"
"Baru selesai record, ya?"
Entah dari mana Ibra tahu. Jangan-jangan dia punya mata-mata yang mengawasi Audi di sini? Tidak mungkin Tante Safa, kan? Beliau pasti sudah tidur.
__ADS_1
Audi enggan menjawab, ia berbalik menaiki ranjang lalu berbaring menarik selimut. Terdengar kembali suara Ibra yang bicara.
"Cla?"
Audi hanya bergumam, kepalanya mencari posisi nyaman di bantal.
"Kerja boleh, tapi tolong jaga kesehatan juga. Jangan keterlaluan. Masa jam segini masih belum tidur?"
"Mas juga belum," cetus Audi, menanggapi malas.
"Beda. Mas bisa kapan saja bangun kalau ada tugas."
"Hmm ..." gumam Audi sambil memejamkan mata.
"Kamu mau tidur?"
"Ck, menurut Mas?" Bukannya tadi pria itu gencar menyuruhnya tidur?
Ibra terdiam lama. "Sleep tight kalau gitu."
Audi tak begitu mendengarkan, kantuk perlahan mulai menyedot kesadarannya saat samar-samar Ibra memanggil-manggil seperti memastikan.
Ia tidak tahu kapan alam mimpi mengambil alih dunianya hingga Audi sendiri tak yakin kalimat Ibra yang terakhir ia dengar nyata atau hanya fatamorgana.
"Mas sayang kamu."
Audi terlalu lelah sampai-sampai ia cepat sekali terlelap. Sepertinya memang benar, ia butuh libur dan istirahat untuk mereset daya tahan tubuh yang akhir-akhir ini kerap terasa berkurang.
Mungkin setelah ini Audi bisa memikirkan liburan. Ia juga tak mau terus-terusan berkhayal mengenai Ibra. Sudah cukup hijab kemarin yang terus mengganggu pikirannya, jangan sampai ungkapan sayang Ibra juga turut mengendalikan hari-hari Audi yang mulai tidak waras sejak kedatangan pria itu.
__ADS_1