Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 76


__ADS_3

"Mas Ibra!" Audi berseru begitu melihat Ibra berdiri di depan gerbang. Ia berlari dan menghambur memeluk lelaki itu.


"Dua hari ini ke mana aja? Kok, tumben gak ke sini?"


Ibra tersenyum, meraih wajah Audi yang menempel erat di dadanya, lalu menjauhkannya hingga mereka bisa saling tatap. "Kamu kayak gak tahu kerjaan Mas aja."


"Mas ke luar kota, ya?"


"Hm," angguk Ibra.


Audi menatapnya penuh selidik. "Beneran luar kota? Mas Ibra gak macam-macam di belakang aku, kan?" Ia menunjuk wajah Ibra penuh tudingan.


"Enggak," jawab Ibra sabar. "Memang kamu pikir Mas ngapain?"


Audi mengendik. "Ya siapa tahu Mas ketemu Kenan dan Mba Shireen tanpa sepengetahuan aku."


"Kamu masih aja cemburu sama mereka. Mas kan udah bilang kita udah selesai. Kamu udah janji gak bakal bahas mereka saat kita berdua."


"Iya, iya ..." sungut Audi.


"Mas Ibra baru pulang, ya?" Audi mengamati pakaian Ibra dari atas ke bawah. "Tumben celananya loreng? Ih, keringetnya basah bangeeett ..."


Ia mengernyitkan hidung sambil mengibas tangan menjauhi Ibra.


"Keringat, keringat. Tadi aja langsung meluk," ledek Ibra.


"Ih, aku kan gak sadar tadi."


"Bilang aja terlalu kangen." Ibra tertawa, ia menggasak rambut Audi pelan. "Mas habis lari tadi, belum sempat ganti. Ke sini karena ingat kamu. Mas tadi sempat beli lauk buat kamu makan malam."


Ibra menyerahkan kantung kresek yang sedari tadi menggantung di stang motor.


"Ini apa?"


"Nasi sama sambal goreng kentang, pakai ati ampela. Mas tahu kamu suka itu. Mas juga beli ayam bakar madu, kamu buka saja nanti."


Audi melongok ke dalam kresek. "Banyak banget. Mas Ibra makan di sini, kan?"


Namun Ibra menggeleng. "Mas langsung ke kontrakan. Nanti malam ada kegiatan di kesatuan," ujarnya dengan raut menyesal.


"Yaaahhh ..." Audi mengeluh. "Ya udah, deh," putusnya murung.


Melihat itu Ibra langsung meraih lagi wajah Audi. Ia mengusap dan merapikan rambut gadis itu yang beberapa mencuat dari ikatan. "Besok libur. Mas janji ke sini."


"Janji?" tanya Audi tak yakin.


Ibra mengangguk. "Heem."


"Sekarang Mas harus pulang dulu. Kamu masuk, gih. Jangan keluar-keluar, kamu gak hafal jalan, nanti nyasar lagi."

__ADS_1


"Ada Mba Tian, kok," cetusnya membuat Ibra mengernyit.


"Mba Tian? Sejak kapan? Kalian kerja?"


Bibir Audi sedikit mengerucut, terlihat ragu untuk menjawab. "Enggak, itu ... Ya habisnya Mama sama Oma suruh aku pulang terus. Ya udah, aku suruh aja Mba Tian ke Jakarta, biar mereka percaya aku ada kerjaan di sini. Oma ada hubungin Mas lagi, gak?"


Audi mendongak menatap Ibra.


Sesaat Ibra terdiam mendengar penuturan Audi. "Kamu sebegitu takut bertemu Oma, takut Oma tahu hubungan kita?"


Refleks Audi mengangguk, tanpa tahu hal itu membuat Ibra semakin merenung.


"Aku belum siap kalau mereka harus tahu."


"Kenapa?"


"Nanti aku disuruh cepet nikah sama Mas."


"Kamu gak mau nikah sama Mas?"


"Ya bukan gitu ..."


"Terus gimana?"


Entah perasaan Audi atau Ibra memang terdengar menuntut?


"Mas kenapa, sih?"


"Ih, bukan gak mau!"


"Terus?"


"Mas Ibra kenapa, sih, ih. Serius banget!"


"Mas emang serius sama kamu, Cla."


Audi menghentakkan kaki sambil merengut. "Aku bukan gak mau, tapi belum siap," akunya jujur.


Ibra terdiam. Ia kemudian membuang nafas sambil mengangguk pelan. "Ya udah, Mas juga gak akan maksa."


"Emang Mas Ibra udah mau nikah? Bukannya belum ada satu tahun cerai?"


"Ya kalau kamu siap, Mas ayo aja," sahut Ibra santai.


"Aku belum siap," kekeh Audi.


Ibra hanya tersenyum, ia menatap Audi teduh, sorotnya seolah hendak menyampaikan sesuatu namun ragu.


"Iya, terserah kamu. Ya udah, Mas pulang, ya?"

__ADS_1


"Sekarang?" Audi tampak belum rela. "Baru juga ketemu."


"Maaf, Mas gak bisa lama, Cla."


"Ya udah sana."


"Kok ketus?"


"Enggak, biasa aja. Ya kalau Mas Ibra mau pulang, ya pulang aja. Memang aku siapa yang berhak larang?" ujar Audi seraya membuang muka, mengedarkan pandangan dengan raut gengsi.


Ibra tahu Audi sedang kesal. Maka dari itu ia tersenyum meraih wajah Audi supaya mau menatapnya. "Kamu pacar Mas, calon istri Mas yang paling cantik."


Audi mengerjap luluh. Entah sejak kapan sifat kekanak-kanakan ini muncul. Dulu sebelum Ibra menikah, Audi juga sering bermanja pada pria itu. Dan sepertinya kebiasaan itu kembali muncul sekarang, karena mereka sudah berdamai.


"Mas janji besok ke sini. Sekarang Mas harus ke kontrakan dulu. Untuk hari ini kita gak bisa berlama-lama, tapi kalau Mas ada waktu senggang, cuti dan semacamnya Mas pasti habiskan waktu itu untuk kamu."


Bibir Audi mengerut, bukan karena kesal, ia hanya tidak tahu kenapa matanya mulai terasa cengeng. "Ya udah, iya, sana. Ternyata gini, ya, pacaran sama abdi negara. Apa-apa harus rela dan gak bisa bantah."


Ibra terkekeh. "Salah. Bukan cuman abdi negara, kamu pacaran sama siapa pun pasti harus dituntut ikhlas dan mengerti. Mau itu pilot, pengusaha, artis, atau bahkan tukang ojek sekalipun kamu tetap harus rela dan bersabar ketika mereka bekerja. Kamu harus belajar menahan ego, belajar menahan keinginan sepihak, belajar mengerti keadaan, belajar melihat dari dua sisi, semuanya kamu harus belajar kalau punya pasangan."


"Iya, tahu."


"Tahu, kok, masih cemberut?" seloroh Ibra, matanya jenaka menatap Audi. Ia terkekeh menjawil hidung gadisnya dengan gemas.


"Gak nyangka, adik bayi Mas udah sebesar ini. Dulu kamu merah banget pas pertama kali Mas lihat," gumam Ibra pelan.


"Mas Ibra nya aja udah tua," celetuk Audi.


"Ck, belum tua kalau belum nikah sama kamu."


"Mana ada gitu. Umur, kan, terus berjalan."


"Ya makanya kamu jangan biarin Mas menunggu lama, biar nanti gak dibilang nikah sama aki-aki."


"Kalau Mas Ibra udah aki-aki aku juga udah nini-nini." Audi membalas.


Ibra tertawa. Entah di mana yang lucu. Memang benar, kan, kalau ibra tua, Audi juga tua. Usia mereka kan gak beda jauh, sekitar 3 hampir 4 tahun.


"Ya udah, Mas pulang, ya? Kamu baik-baik di sini, jangan nakal." Ibra menunjuk dua matanya sendiri menggunakan dua jari, lalu menunjuk mata Audi. "Mata-mata, haaaa!" Ibra sedikit meraung dengan mata meneleng ke atas.


"Ih, Mas Ibra apa sih?" heran Audi, geli.


Ia tahu barusan Ibra mempraktekkan salah satu yel-yel, tapi melihat langsung Ibra melakukan itu malah jadi geli sendiri.


"Intinya Mas pasti akan selalu tahu kalau kamu macam-macam di belakang Mas. Jadi, jangan berani-berani nakal, apalagi ketemuan sama Gavin."


"Gavin lagi. Berapa kali aku bilang waktu itu kita bukan makan berdua, ada kru juga."


"Tetap saja, Mas gak suka kamu dekat-dekat sama dia."

__ADS_1


"Bilang aja karena Mas kalah tampan," cibir Audi. "Mas Ibra gak cemburu, tuh, sama tim editor aku yang semuanya pria. Itu karena Mas yakin dan percaya diri Mas lebih dari mereka. Iya, kan?"


"Itu kamu tahu, berarti kamu bisa, kan, jaga perasaan Mas?"


__ADS_2