
Ibra tampak diam, namun roman wajahnya seakan mengatakan iya. Ben tak mampu berkata selain kian merasa terheran. Ia sungguh tak mengerti jalan pikiran Ibra.
"Kalau kau menyukainya sejak dulu, kenapa menikahi Shireen?" tanya Ben hati-hati. "Jangan bilang karena balas budi?"
Helaan nafas berat terdengar dari mulut Ibra. Lelaki itu menenggak habis susu di gelasnya hingga tandas, lalu menyimpan gelas tersebut di meja.
Ibra menatap lurus televisi di depan dengan pandangan menerawang. Tanpa berkata pun sikap diamnya sudah menjawab rasa penasaran Ben.
Ibra dan ketenangannya, pria itu ternyata menyimpan sejuta misteri di hidupnya. Ben yang bisa dibilang lumayan cukup lama mengenal Ibra pun tak lantas tahu menahu mengenai masalah pria itu. Ibra ramah, tapi dia tertutup pada semua orang.
Makanya saat Ibra bertanya tadi Ben agak kurang percaya. Ia berpikir mungkin Ibra mabuk karena terlalu banyak minum susu. Konyol.
"Why? Kenapa dia membencimu? Apa karena pernikahanmu dan Shireen?" Ben melanjutkan pertanyaannya.
__ADS_1
Karena Ibra tak kunjung menjawab ia pun kembali bersuara. "Laki-laki itu harus mengakui kesalahan. Kalau pun dia tidak mau memaafkan, kamu harus berani mengungkapkan kebenaran. Apa alasanmu melakukan itu dulu. Baik atau buruk kamu harus tetap jujur dengan resiko apa pun."
Ibra tahu. Tanpa diminta pun ia akan jujur pada Audi. Seharusnya semua ini ia selesaikan selagi di Bandung kemarin, tapi Audi yang terus menjauh juga kondisi sang ibu yang turut memburuk membuat Ibra urung berbicara serius dengan gadis itu.
Audi terang-terangan membangun tembok besar di antara mereka.
Sebuah tepukan Ibra rasakan di pundaknya. Ben menatap Ibra meyakinkan. "Apa pun masalahnya, semuanya akan selesai dengan kejujuran. Percuma sekarang kamu mendekatinya dengan gencar, sementara dia masih memendam kecewa padamu. Kamu harus ungkapkan semua yang tidak dia tahu, buat dia percaya bahwa perasaanmu layak dipertimbangkan."
"Ingat, lebih cepat lebih baik," cetus Ben lagi sebelum memasuki kamar.
Ibra melirik jam yang sudah lewat tengah malam. Ia membuang nafas seraya mulai berdiri dan berjalan menuju dapur, mencuci gelas lalu masuk ke kamar persis seperti yang dilakukan Ben sebelumnya.
Ibra tak lupa menggosok gigi dan cuci muka, ia memeriksa ponsel terlebih dulu lalu membuka galeri serta album foto khusus kebersamaannya dengan Audi.
__ADS_1
Tidak hanya itu, Ibra juga menyimpan potret wisuda Audi yang ia ambil dari akun sosial medianya. Sesak rasanya mengingat ia hanya bisa menyaksikan acara penting itu dari jauh tanpa bisa hadir dan memberi selamat secara langsung.
Ibra berbaring menyamping menatap salah satu fotonya dan Audi. Audi terlihat cantik dengan tawanya yang menawan saat memeluk leher Ibra dari belakang. Pun Ibra tak kalah mengukir senyum lebar menahan tubuh Audi yang ia gendong di punggungnya.
Saat itu Audi masih SMA. Masih segar dalam ingatan Ibra bagaimana riangnya wajah Audi saat mengetahui dirinya pulang dari perantauan. Mereka yang jadi jarang bertemu sejak ia memasuki akmil.
Ibra tersenyum setiap kali mengingat raut merengut Audi. Gadis itu menyesalkan kenapa Ibra harus ambil sekolah militer alih-alih bisnis, dokter, atau hukum seperti ayahnya.
Audi selalu menggunakan kesempatannya saat Ibra pulang. Gadis itu kerap bermanja dan menempelinya ke manapun.
Ibra senang. Namun, kini senyum itu berubah sendu. "Mas minta maaf, Cla," bisik Ibra di tengah redupnya lampu kamar.
Ibra tak lepas memandangi potret bahagia tersebut hingga tertidur. Tak lupa Ibra berdoa pada Tuhan, agar jalannya dan Audi kian dimudahkan.
__ADS_1