
Safa menyinduk nasi untuk Edzar dan menuang berbagai lauk di atasnya. Tumis pare, ayam geprek, pete, Edzar terlihat begitu lahap memakannya. Wajar, pria itu lelah seharian bekerja, dan saat pulang disuguhi menu favorit masakan sang istri, tentu Edzar kalap. Kalau sudah begini biasanya ia akan nambah lebih dari dua piring.
Sementara itu, Audi dan Ibra memperhatikan keduanya yang seolah tiada habis bermesraan di depan mereka. Meski ini bukan pemandangan asing bagi Ibra, tetap saja, entah kenapa kali ini ia merasa kesal.
Ibra menoleh pada Audi yang hendak menyinduk nasi ke piringnya sendiri. Ia langsung mencolek gadis itu hingga menoleh.
"Yang?" panggil Ibra, pelan.
Audi balas menatap Ibra. "Kenapa?"
"Ambilin nasi," pinta Ibra terang-terangan. Ia menyodorkan piring miliknya pada Audi.
Sesaat Audi mengerjap sebelum menerima piring itu dari Ibra. Ia menyimpan dulu piringnya sendiri dan mulai mengisi milik Ibra dengan nasi dan lauk pauk.
"Sudah?" tanya Audi.
Ibra tersenyum melihat hidangan di hadapannya yang barusan Audi siapkan. "Makasih, Sayang," ucapnya penuh senyum.
Audi hanya meringis menatap Ibra aneh. "Sama-sama."
Ibra memang orang yang hangat, tapi kali ini dia seolah haus akan kehangatan. Baru juga Audi mau mengambil nasinya sendiri, tiba-tiba Ibra menyeletuk lagi. "Yang, kupasin pete, dong," titahnya dengan mulut penuh.
Audi terdiam berusaha sabar. Apa jadinya kalau mereka sudah menikah nanti? Apakah Ibra akan jauh lebih parah dari ini?
Dengan ikhlas, Audi mengambil satu papan pete bakar dan mengupaskannya untuk Ibra.
"Makasih, Sayang."
"Sama-sama."
Tanpa mereka tahu Safa dan Edzar diam-diam memperhatikan. Dan Safa menyadari bahwa Ibra sama persis dengan Edzar ketika mencari perhatian pada wanita. Ibra lelaki mandiri yang sudah banyak pengalaman, tapi dia bisa jauh lebih manja ketika bersama pasangan.
Makan malam berangsur damai, meski sesekali Audi dibuat kesal karena Ibra yang kerap mencomot isi piringnya. Kenapa tidak ambil langsung dari tempatnya coba? Oseng pare dan ayam geprek ada tepat di tengah-tengah mereka.
Usai makan malam, Audi tak langsung pulang. Melihat raut lelah Ibra yang menggelepar di sofa keluarga, ia jadi urung meski sang mama sudah mengirim chat, bertanya sedang apa dan kapan pulang.
__ADS_1
Audi menghampiri Ibra dan melesakkan diri di sampingnya. Audi baru saja selesai membantu Tante Safa membereskan piring-piring di meja. Kalau masalah cuci piring beliau melimpahkannya pada Bibi. Meski dengan bantuan asisten rumah, yang Audi lihat Tante Safa tak diam saja. Dia malah masih dengan sukarela membantu mengelapi piring yang sudah dicuci hingga kering.
"Mas Ibra capek banget kayaknya?" Audi sudah duduk di samping Ibra.
Ibra bergumam sembari memejamkan mata. Satu tangannya berada di kening dengan kepala bersandar di punggung sofa. "Iya, agak puyeng juga."
"Udah minum obat apa gitu? Paracetamol, atau apa ya obat pusing itu?"
Ibra tersenyum. "Enggak usah, Sayang. Ini cuman pusing sebentar, nanti juga hilang kalau sudah tidur."
"Ya udah, Mas Ibra tidur, gih." Audi mendadak khawatir. Jangan-jangan Ibra sakit.
Ibra sedikit membuka mata melirik ke arahnya. "Mas masih kangen sama kamu."
Audi berdecak. "Kayak kita jauhan aja. Orang rumah depan-depanan gitu. Heran, deh."
"Ya kan kita ketemunya malem doang," balas Ibra.
Audi membuang nafas pelan-pelan. "Ya udah, mana sini kepalanya, Audi pijatin."
Audi sampai terbengong, karena ia sama sekali tak menyuruh Ibra melakukan itu. Audi niatnya hanya akan memijat kepala Ibra, bukan sampai pangku-pangkuan begini.
Tapi Ibra kelihatan nyaman sekali, Audi jadi tidak tega mengusirnya. Perlahan ia mulai menyentuh rambut Ibra yang sudah lebih memanjang dari sebelumnya. Rambut-rambut itu menggelitik setiap sela jari Audi yang meremat pelan kepala lelaki itu.
Ibra tampak melenguh memejamkan mata, sedikit menguselkan kepalanya di pangkuan Audi. Sebenarnya geli, belum lagi rasa hangat yang membuat jantungnya deg-degan. Ya Tuhan, semoga pikirannya tetap aman tanpa terkontaminasi hal apa pun.
Audi berusaha fokus memijat kepala Ibra yang sepertinya sudah mulai mengantuk. Setiap kali ditanya, pria itu menjawabnya setengah bergumam.
Sesaat ia termenung memandangi surai legam Ibra. Tatapannya menerawang seolah memikirkan sesuatu. Dan ... Audi memang mengingat sesuatu.
"Mas Ibra, kabar Kenan gimana?"
Ibra membuka matanya sedikit. "Baik, tahun ini dia udah naik kelas."
"Mas Ibra ... masih suka tengokin mereka?"
__ADS_1
Kali ini Ibra berbalik hingga berbaring terlentang, menatap Audi di atasnya. Ia mengambil tangan gadis itu dan mengecupnya pelan. Matanya tampak sayu menahan kantuk. "Belum sempat. Kamu tahu sendiri beberapa bulan terakhir kita sibuk, kan? Mas sibuk sama pengunduran diri Mas, juga kesembuhan kamu. Sekarang Mas juga masih sibuk. Kenapa tiba-tiba tanya Kenan, Sayang?"
Audi terdiam sesaat. "Eng ... gak. Cuman penasaran aja." Ia kembali memijat kepala dan kening Ibra.
Ibra tampak memejamkan mata lagi, menikmati sentuhan tangan Audi yang lembut.
"Mas cuman sempat transfer uang Rega beberapa kali dan telponan sama dia," gumam Ibra.
"Kenan?"
"Iya, dong, Sayang. Kamu pikir siapa lagi?"
Audi tak menjawab hingga akhirnya Ibra menebak. "Shireen?"
Audi diam. Ibra pun kembali bertanya lagi. "Kamu takut Mas hubungi dia langsung, ya? Khawatir Mas ngomong berdua sama dia?"
Raut Ibra terlihat geli. Kemudian Ibra tersenyum, mengecup punggung tangan Audi yang masih ia genggam. "Kamu tenang aja, Mas hubungi Shireen semata karena Kenan. Mas jarang ngobrol sama Shireen, kalaupun ngobrol itu masalah uang Rega yang memang akan Mas kasih sepenuhnya sama dia dan Kenan. Mas gak bisa lagi simpan uang orang sebesar itu, apalagi ini berpengaruh besar untuk kelangsungan hidup dan masa depan seorang anak."
"Tapi ... Mas ada beberapa kali kasih Kenan uang pribadi Mas, buat jajan dia. Gak papa, kan?" lanjut Ibra hati-hati.
"Iya, gak papa," bisik Audi bergumam.
Ibra sepertinya mengerti perasaan cemburu Audi. Ia pun mengusulkan sesuatu sebagai solusi. "Gimana kalau kamu aja yang berhubungan sama mereka? Telepon, video call, semuanya lewat kamu dulu sebelum ke Mas?"
Audi memandang mata Ibra bingung. "Kenapa begitu?"
Ibra tersenyum. "Ya memang harusnya begitu, kan? Kamu sebentar lagi jadi istri Mas, tentu masalah seperti ini Mas harus bagi sama kamu, biar kita gak saling curiga juga. Mas hapus nomor Shireen, dan kamu simpan nomor dia, gimana? Nanti Mas bilang sama Shireen, kalau mulai sekarang jika ada sesuatu yang menyangkut Kenan serta Mas, teleponnya ke kamu."
Lama Audi tak bersuara. Ia masih betah memijat kepala Ibra yang mendadak kehilangan rasa kantuk.
"Sayang? Gimana? Kamu keberatan?
Audi menatap wajah Ibra lekat. "Ya sudah, aku ikut maunya Mas," putusnya kemudian.
Ibra tersenyum, mengecup kembali punggung tangan Audi. "Nah, gitu, dong. Kalau begini kan aman. Kamu gak curiga terus sama Mas."
__ADS_1