Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 160. ENDING


__ADS_3

"Eunggghhh ..."


"Ayo, Bu, sedikit lagi, dorong!"


"Eunggghhh ... Huh ... Huh ... Huh ..."


Audi tak lepas mengambil nafas dengan terengah, lalu mengedan kuat-kuat sesuai arahan dokter wanita yang saat ini tengah sibuk berkutat di bawah kakinya bersama paramedis lain yang membantu.


Ibra memegangi tangan Audi kuat, ia setia menemani sang istri selama proses persalinan, dari mulai pembukaan yang memakan waktu belasan jam, hingga sekarang berpindah ke ruang bersalin dan menjadi penopang di saat sang wanita tercinta berkali-kali kehilangan semangat.


"Ayo, Cla. Kamu bisa, Sayang. Jangan lupa bahwa kamu adalah wanita yang hebat," bisik Ibra sembari menggenggam erat tangan Audi. "Mas dukung kamu, Farzan juga menunggu kamu dan adiknya. Ayo, semangat, Sayang."


Mendapat bisikan kalimat tersebut tepat di samping telinganya, Audi mau tak mau sadar kembali dan mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa. Ia menajamkan pendengarannya untuk mengikuti arahan dokter, lalu ...


"Eunggghhh ..."


"Ooeekk ..."


Suara tangisan bayi pun menggema, mengundang rasa syukur semua orang yang berada di sana, terutama Ibra yang langsung mendekap bayi tersebut setelah dokter selesai menggunting pusarnya, untuk kemudian menggumamkan adzan di telinga kecilnya.


Ibra menangis haru, malaikat keduanya kini telah lahir dengan sehat dan sempurna, tanpa kekurangan satu apa pun. Ibra berkali-kali mengucap syukur dalam hati, memanjatkan do'a pada Tuhan yang senantiasa memberinya kebahagiaan bertubi-tubi.


Ibra mendekat pada Audi dan memperlihatkan putri mereka pada wanita yang masih terbaring lemas itu. Benar, jenis kelamin bayi mereka kali ini adalah perempuan, sesuai harapan Audi juga ibunda mereka yang mendambakan cucu cantik sejak jauh-jauh hari.


"Cantik, Cla, mirip kamu," ujar Ibra, masih dengan suara penuh getar akan rasa haru.

__ADS_1


Audi terkekeh lirih, ia mengusap lemas permukaan pipi sang bayi yang belum sepenuhnya bersih dalam balutan kain lembut. "Mirip Mami Safa, Mas," balasnya kurang setuju.


Karena secara sekilas Audi menangkap raut sang mertua pada bayinya dan juga Ibra. Ibra turut terkekeh menyerahkan kembali putri mereka pada perawat untuk dibersihkan secara menyeluruh.


Kini lega sudah perasaan Ibra dan Audi. Kehamilan yang tak disangka-sangka justru menghadirkan letupan luar biasa yang menambah poin kebahagiaan mereka sekeluarga. Cucu kedua dari keluarga besar Edzar dan Halim kini telah hadir melengkapi hari-hari mereka.


"Mirip siapa pun itu, yang penting sehat. Asal jangan tiba-tiba mirip suami tetangga, Mas gak rela," kekehnya disertai selorohan.


Audi tersenyum lemas membalas guyonan sang suami. Jika ia memiliki tenaga yang cukup, mungkin sebuah tamparan sudah mampir mengenai lengan atasnya yang berotot itu.


Kebahagiaan tak hanya meliputi hati Audi dan Ibra, melainkan seluruh keluarga besar baik yang hadir di rumah sakit maupun yang hanya mendapat kabar dari kejauhan. Sanak keluarga yang berada di luar kota dan pulau, mesti mereka akan berkunjung di lain hari lantaran terkendala jarak dan kesibukan yang mendera.


Ibra pun sudah menyiapkan nama bagi anak keduanya, mengutip dari nama sang kakak, sang adik Ibra beri nama Farzana Khairiyah Mukhtar. Sama seperti Farzan sebelumnya, mereka juga menggelar acara tasyakuran akikah tepat setelah 7 hari kelahiran Farzana.


Bayi mungil nan cantik itu menjadi primadona baru di tengah-tengah keluarga. Meski begitu, Ibra maupun Audi tak serta-merta mengabaikan Farzan dan membuatnya cemburu dengan kehadiran sang adik. Sebisa mungkin mereka bersikap adil pada kedua anak tersebut. Begitu pula opa dan oma mereka, semuanya sama-sama melimpahkan kasih sayang secara merata.


Bukan hanya keluarga Halim dan Edzar, Farzan sendiri nampak gembira menyambut sang adik. Nalurinya sebagai anak kecil kerap kali merasa penasaran, alasan mengapa mereka harus sedikit menjauhkan Farzan dari Farzana, atau mengawasi balita tersebut lantaran sering kedapatan ingin mencubit dan meremat si bayi saking lucunya.


"Kelakuannya mirip kamu, Mas, suka cubit dan remas sana-sini," celetuk Audi ketika mereka menemani Farzan bermain. Di hadapannya ada Farzana yang terlelap di sebuah ayunan elektrik kekinian.


Ibra yang mendengar sontak terkekeh disertai gelengan. "Beda lah, Sayang. Mas cuman suka cubitin kamu, bukan yang lain. Kalau Farzan, semua yang dia anggap lucu pasti kena cubit. Akibatnya dia dicakar kucing tetangga karena kelakuannya itu. Hahaha ..."


Audi turut menggeleng sembari tersenyum. Memang ada saja tingkah sang putra yang membuat mereka elus dada. Kecil-kecil begitu, Farzan sering kali membuat anak-anak lain yang lebih besar darinya menangis. Kata Papi Edzar, Farzan mirip Ibra sewaktu kecil yang nakal dan serabutan. Sama seperti sang ayah dulu, Farzan juga senang merusak ponsel atau benda apapun yang terlihat mirip.


"Farzan itu kalau dari segi bentuk wajah mirip kamu, Yang. Tapi kalau mata dan hidung mirip Mas. Dan kayaknya dia juga bakalan tinggi kayak bapak dan opanya," tutur Ibra, menerawang menatap Farzan yang bergerak ke sana kemari hingga membuat Bu Hamidah kelimpungan dengan tingkah aktifnya.

__ADS_1


Ibra menggeleng kala sang anak terjatuh dan memegangi lutut sambil merengut lucu ke arah susternya. Mulut kecilnya bergumam, "Atiit ... atiit."


Tapi sejurus kemudian Farzan kembali bangkit dan berjalan cepat sempoyongan setelah mendapat tiupan lembut dari Bu Hamidah.


Rupanya hal tersebut tak hanya disaksikan oleh Ibra, melainkan Audi yang juga turut terkekeh melihat kelucuan putranya.


"Menggemaskan sekali," gumamnya panjang, sembari menjatuhkan kepala di bahu Ibra.


Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga yang luas, menemani Farzan bermain sekaligus menjaga Farzana yang sesekali terbangun meminta ASI. Sebagai info, Farzan tak lagi mendapat asupan ASI dari Audi. Ia sudah berlanjut sepenuhnya pada MPASI dan susu formula khusus sesuai resep dan anjuran dokter.


Syukurlah anak itu tak rewel meski pertama kali harus beradaptasi selama beberapa hari, namun ia cepat terbiasa dan menerima dengan sukarela hingga sekarang.


"Alhamdulillah, ya, Mas, kita memiliki anak-anak yang sehat dan lucu. Lengkap dan sejodoh, laki-laki dan perempuan. Sudah seperti ini ... apa Mas masih berencana memiliki anak lagi?" Audi mendongak menatap sang suami.


Ibra turut menunduk dan mengusap kening Audi sekilas. Tak lupa bibirnya menyungging senyum ketika berkata. "Alhamdulillah, dan untuk rencana menambah anak, kita lihat nanti dan ikut rencana Allah saja. Kalau semisal beberapa tahun ke depan kamu lepas KB dan berhasil hamil lagi, alhamdulillah. Kalau pun tidak, ya tidak apa-apa. Bagi Mas, mereka saja sudah lebih dari cukup."


Mendengar jawaban diplomatis Ibra, Audi pun tersenyum teduh. Ia semakin merangsek memeluk sang suami tercinta dengan mata kembali fokus pada Farzan dan Farzana. Farzan masih sibuk melangkah ke sana kemari bersama Bu Hamidah, sementara Farzana masih setia terlelap dalam ayunan.


Audi tersenyum. "Aku cintaaa ... banget sama Mas, sama Farzan, sama Farzana. Kalian adalah pemberian Tuhan yang paling aku syukuri dalam hidup."


Ibra mengeratkan rangkulannya di bahu Audi. Sisi wajahnya menyender di atas kepala wanita itu. "Apalagi Mas, Mas gak bisa hidup tanpa kalian," balasnya mengecup puncak rambut Audi. "Mas juga cinta banget sama kamu, sama Farzan dan Farzana. Kalian anugerah terindah yang Mas punya."


Keduanya saling tersenyum dan menatap teduh satu sama lain, diakhiri kecupan yang Ibra labuhkan secara lembut di bibir Audi, detak jam menjadi saksi ritme jantung yang mengiringi setiap letupan bahagia pada mereka.


Audi dan Ibra, mereka sungguh merasa bahagia dengan hadirnya Farzan dan Farzana, putra dan putri yang mereka harap bisa mengisi setiap lembar hari hingga menjelang tua. Keduanya berdoa, semoga Farzan dan Farzana bisa memiliki masa depan yang gemilang, serta membanggakan mereka sebagai orang tua di kemudian hari.

__ADS_1


...___TAMAT___...


__ADS_2