
"Mas Ibra beneran gak papa? Kok bisa ada orang gila kayak gitu?"
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Audi bisa juga menatap muka Ibra walau hanya dari Video Call. Ibra nampak tersenyum dalam wajah lelahnya. Pria itu berada di kamar kontrakan selepas pulang dari Istana hampir tengah malam. Rambutnya masih basah sehabis mandi.
"Enggak, Cla. Memang kamu pikir Mas kenapa?"
Audi mengerutkan kening resah. "Ya gak papa, aku tegang aja pas lihat berita. Apalagi Mas juga kelihatan di sana. Aku benar-benar takut mobil itu nabrak Mas, soalnya yang video dari jauh, makanya pas mobil berhenti kelihatan kayak nabrak barisan tentara. Eh, untung aku lihat video lain yang kesebar di internet, yang itu kayaknya rekam dari samping. Kelihatan jelas pas truknya berhenti beberapa meter depan Mas."
"Tapi beneran Mas gak papa?"
"Gak papa, Sayang. Kamu kok belum tidur? Malah nelepon Mas?" Ibra mulai berbaring di atas ranjang, menyamping dengan pipi menempel pada bantal.
"Abisnya dari siang Mas gak bisa dihubungi."
"Mas kan sibuk."
__ADS_1
"Iya tahu. Sekarang juga pasti capek banget."
"Kok murung?" tanya Ibra sedikit mengantuk.
"Mas Ibra tiap hari kerjanya capek terus, ya?"
"Yang namanya kerja, semua pasti capek. Kamu juga sering capek, meski hanya ngomong depan kamera."
"Iya, sih." Audi membenarkan. "Tapi, kan, Mas Ibra lebih capek lagi."
Melihat hal tersebut Audi pun jadi kasihan. "Mas ngantuk, ya? Ya udah tidur aja, aku tutup videonya. Maaf ganggu."
Ibra membuka kembali matanya yang sempat terpejam. "Gak papa. Mas kangen kamu. Jangan tutup dulu, Cla. Mending kamu temani Mas sampai tidur. Kita gak tahu kapan bisa ketemuan lagi," ujarnya dengan suara yang mulai memelan. "Kamu juga tidur, Yang. Gak ngantuk emang?"
Audi menggeleng meski Ibra tak akan melihatnya karena pria itu sudah menutup mata. "Belom ngantuk."
__ADS_1
Refleks Ibra melirik jam di kamarnya. "Udah mau jam dua, serius kamu belum ngantuk? Mas aja ngantuk banget ini."
Suara Ibra terdengar sangat parau.
"Ya wajar lah. Mas kan seharian gak tidur, aktivitas juga menguras energi banyak. Kalau aku kan emang lagi libur gak ada kerjaan, jadi dari tadi udah banyak rebahan," jelas Audi.
Ibra tak menyahut lagi, sepertinya pria itu sudah benar-benar terlelap. Melihat bawah mata Ibra yang begitu hitam membuat Audi ngeri sendiri membayangkan sesering apa pria itu bergadang. Belum lagi kegiatan-kegiatan berat yang sering Ibra lalui setiap harinya.
Audi membuang nafas. Sama seperti Ibra yang tidur menyamping, Audi menatap tenang wajah Ibra, mendengarkan dengkuran halus yang keluar dari mulut pria itu.
Andai Audi ada di sana, Audi akan memijat lelaki itu sampai bangun kesiangan saking nyenyaknya tidur.
"Padahal Mas Ibra bisa kerja lebih santai kayak Om Edzar," bisik Audi pelan. "Bahkan lebih mudah karena Om Edzar udah banyak banget usahanya, tinggal Mas Ibra terusin."
Audi membuang nafas. "Tapi Mas Ibra keren, gak mau bergantung sama orang tua meski banyak harta." Ia tersenyum.
__ADS_1
"Semangat, ya, Mas Sayang? Kamu keren jadi pengawal presiden, dan pastinya di mataku, kamu paling keren. Hehe."