
Edzar mendekat pada sang istri yang sedang cengengesan sendiri di ruang tamu. Ia baru saja selesai sarapan dan hendak berangkat meninjau cafe. Kening Edzar berkerut disertai pandangan aneh. "Kamu kenapa ketawa-ketawa sendiri begitu, Ai?"
Raut Edzar terlihat waswas. Safa menoleh masih sambil cekikikan. "Eh, A Uda udah selesai makannya? Mau berangkat sekarang?" Ia malah bertanya balik.
"Iya, udah. Ini mau berangkat. Kamu kenapa, sih?" Edzar tetap penasaran. Ia tak akan berhenti jika rasa penasarannya tak tertuntaskan.
Lagi-lagi Safa tertawa kecil. "Enggak kenapa-napa. Ayo, aku antar ke teras."
Edzar masih mengernyit ketika mengikuti Safa ke beranda depan. "Tadi Uda dengar suara Audi. Anaknya ke mana?"
Safa sedikit tergagap, tapi untungnya ia bisa mengatasi rautnya supaya tak terlalu mencurigakan. "Itu ... udah pulang lagi. Tadi mau cari Ibra, tapi Ibra nya kan lagi tidur. Ya udah, katanya nanti ke sini lagi."
"Oh gitu?"
"Iya gitu. A Uda cepat berangkat, nanti kesiangan. Bukannya siang kita mau kondangan?"
"Oh iya. Ya udah, Uda berangkat, Ai. Nanti siang Uda jemput kamu harus sudah siap, ya?"
"Sip!" Safa mengacungkan jempol sembari tersenyum lebar. Matanya menyipit hingga membentuk sebuah garis lengkung yang manis.
Edzar turut tersenyum dan tak tahan untuk tidak mencium bibir sang istri. Hanya sekilas, bagaimana pun ia sadar mereka tengah di luar.
"Uda berangkat. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam ..." Safa melambai ketika sang suami memasuki mobil dan mulai melajukan kemudinya keluar gerbang.
Sepeninggal Edzar, Safa kembali terkikik pelan. Sementara di lantai atas, Audi tengah ragu mengetuk pintu kamar Ibra. Audi takut kedatangannya malah mengganggu istirahat pria itu.
Tapi mengingat lagi pesan Tante Safa yang katanya disampaikan Ibra, Audi pun dengan berani mengangkat tangannya untuk mengetuk.
Tok tok tok.
Audi mengetuk pelan. Tapi sepertinya Ibra tidur terlalu lelap.
"Apa aku masuk saja? Toh, dulu juga sering," gumam Audi.
Audi membuka pintu kamar Ibra yang tak dikunci. Ia pun mulai melangkah masuk dengan perlahan. Audi celingukan melihat sekeliling kamar Ibra. Ibra masih belum berubah, ia tetap rapi dan tertata. Tante Safa bilang, Ibra memang sama seperti Om Edzar yang sangat mencintai kebersihan, tapi bukan yang addict banget sampai ke mana-mana bawa penyemprot kuman.
__ADS_1
Audi melihat ke arah ranjang, di mana tubuh jangkung Ibra tertelungkup di sana. Sepertinya Ibra langsung tidur begitu selesai sholat subuh, ia bahkan belum melepas sarungnya, tapi atasannya hanya berupa kaos putih pendek.
Audi mendekat dan duduk di pinggir ranjang. Ia menyentuh punggung Ibra untuk kemudian ia goyang pelan. "Mas?"
"Pules banget. Capek banget kayaknya," gumam Audi.
Dengan sadar Audi mulai memijat pelan kedua bahu Ibra dari belakang. Pasti pegal nyetir semalaman. Tak heran Ibra langsung pulas seperti orang mati. Audi begitu telaten menyasar pundak berotot Ibra. Efek latihan fisik memang bukan main, tubuh Ibra bisa sekeras ini setelah bertahun-tahun menjadi prajurit.
Dulu Audi ingat saat Ibra masih menempuh pendidikan di Akmil, otonya belum sebesar dan sekeras ini. Mungkin karena lamanya waktu juga yang membuat perubahan begitu terasa.
Tiba-tiba Audi berhenti memijat, mendadak matanya terpaku menelusuri tubuh belakang Ibra. Benar kata orang, jangan berduaan dengan lawan jenis kalau tidak mau setan menghasut. Seperti sekarang, Audi juga sepertinya telah terkena hasutan setan karena begitu greget melihat lekuk sempurna dari sosok Ibra.
Sial, begini jadinya kalau terlalu lama menjomblo.
"Sadar, Audi. Sadaaar ..." Audi memperingati dirinya sendiri.
Namun memang dasar terlalu bandel, Audi malah mengulurkan lagi tangannya, menyentuh bahkan mengusap punggung lebar Ibra. Audi meneguk ludah begitu merasakan sensasi panas yang menjalar di wajah. Audi yakin mukanya sudah memerah.
Sudah cukup. Audi berhenti dan segera menarik tangannya. Namun hal tersebut urung ia lakukan ketika dengan tiba-tiba dan secepat kilat tangan Ibra yang semula terkulai, mendadak terangkat dan menjerat cepat pergelangan tangan Audi.
"M-Mas Ibra ... udah bangun?" tanya Audi serupa bisikan.
"Hm. Dari tadi," sahut Ibra parau. Matanya masih terpejam dalam raut mengantuk. Tangannya masih menjerat Audi dalam cengkraman.
Audi mematung di tempat, tak tahu harus berbuat apa setelah ketahuan meraba-raba tubuh Ibra. Semoga saja Ibra tidak sadar. Mana mungkin, pria itu bilang sudah bangun sedari tadi? Kapan? Perasaan Audi lihat Ibra begitu nyenyak terlelap.
"D-dari tadi? Kapan?" Audi tergagap.
"Sejak kamu ketuk pintu," ucap Ibra. "Tapi Mas malas bangun."
Kini Ibra mulai membuka mata, ia sedikit menolehkan kepalanya ke belakang guna melihat Audi.
"Rajin banget kamu pagi-pagi udah ke sini. Kenapa? Kangen Mas, ya?" Ibra terkekeh percaya diri.
"A-anu, itu ... Tante Safa yang suruh aku ke atas!" sahut Audi tak terima.
"Masa?"
__ADS_1
"Bener, kok!"
"Oohh ..."
Ibra tersenyum, sesaat ia terdiam sebelum kemudian menarik Audi dengan cepat hingga terlempar ke tengah ranjang. Entah Ibra menggunakan taktik apa untuk mengubah posisi mereka menjadi bertolak belakang. Kini Audi berada di bawah Ibra yang menindihnya, mengunci setiap pergerakan.
"M-Mas Ibra ngapain?"
Ibra tersenyum. "Melanjutkan apa yang sudah kamu mulai."
"Apa? Memangnya aku memulai apa?"
"Kamu mau pura-pura hilang ingatan, kalau barusan kamu baru saja meraba-raba Mas?"
Audi melotot resah, ia menggeleng rikuh berusaha menyangkal. "Enggak, kok! Aku cuman pijatin Mas!"
"Begitu?"
"Huum ..." Audi hampir merengek dengan nada memohon.
"Sayangnya kamu tetap salah karena mendekati pria yang baru bangun."
Audi mengerjap. "A-apa?"
Ibra tersenyum miring, wajahnya perlahan turun mendekati Audi. Jarak yang terkikis mambuat Ibra bisa dengan jelas mencium aroma manis dari Audi. Ia kemudian berbisik. "Kamu mau coba ciuman lebih dari level dua, kan?"
Audi terpaku menatap mata Ibra. Suaranya seakan tercekat tak bisa keluar.
"Kalau begitu Mas akan kasih level tiga sekarang," bisik Ibra lagi, serak.
Belum sempat Audi bersuara, bibir Ibra sudah mampir menyentuh permukaan lembut miliknya. Ia memagut, menjilat, dan menghisap halus penuh buaian.
Audi serasa melayang merasakan perasaan aneh yang sangat baru baginya. Ini pengalaman Audi yang kesekian bersama Ibra. Baru level tiga, ya? Baiklah, Audi akan menunggu level-level berikutnya dari Ibra.
Tanpa mereka sadari, Safa mengintip keduanya dari celah pintu yang terbuka. Ia terkikik penuh kemenangan sembari bergumam. "Ayo, Ibra, terabas aja. Kalau bisa kamu hamili Audi sekalian, biar Uwa kolot kamu itu tahu rasa dan gak punya pilihan selain menikahkan kalian."
"Enak aja dia meremehkan putraku. Tidak tahu berhadapan dengan siapa? Benar - benar saudara yang menyebalkan. Mana ada sesama keluarga begitu. Cih."
__ADS_1