
"Aduh ... Ibra itu emang suka lebay, deh. Padahal aku gak papa. Dokter bilang cuma vertigo. Eh, Ibra dan papinya langsung heboh minta dirawat."
"Lebay gimana, sih, Ai? Jangankan Ibra, Uda aja yang denger hampir mati. Kamu sampai pingsan, lho."
Wanita berparas cantik di tengah usianya itu menghela nafas panjang. "A Uda nih. Kebiasaan deh ngomongnya suka macem-macem."
"Kamu yang macem-macem bikin orang cemas."
"Iya iya, maaf ..."
Tiba-tiba Audi terperanjat ketika Tante Safa menoleh ke arahnya.
"Audi?"
"Iya. Kenapa, Tante?" Audi mencondongkan tubuhnya mendekat.
"Kamu keluar, ya? Lihat Ibra. Kayaknya dia lagi murung sekarang."
Memang. Batin Audi.
Ia melirik sekitar dan semua mata memandang padanya. Om Edzar, Mama serta Papa bahkan Jeno sekalipun ikut menatap Audi.
Membuat Audi tak tahan untuk meringis di tempatnya. "I-Itu, kenapa Audi, Tante?"
"Karena sepertinya dia hanya akan mendengarkanmu."
Maksudnya?
Tante Safa tersenyum lembut. "Kalian sudah bersama sejak kecil. Ibra lebih dekat dengan kamu ketimbang sepupunya yang lain. Kamu itu udah kayak adiknya."
Adik. Tanpa bisa dicegah hati Audi merenyut sedih. Tapi ia segera menggeleng membantah perasaan tersebut. Audi sudah berjanji untuk tidak terlalu bawa perasaan terhadap apa pun mengenai pria itu.
Segan membantah, Audi pun berjalan gontai keluar memenuhi permintaan Tante Safa. Lagi pula apa yang ingin ia bicarakan dengan Ibra? Audi harus ngomong apa dengan pria itu? Astaga, ini sungguh membingungkan sekaligus membuat canggung.
"Mas."
Ibra mendongak, alisnya terangkat bertanya. Ya elah, masih murung aja, sih.
Audi mengendik memberi isyarat untuk Ibra mengikutinya. Mereka berjalan ke teras depan rumah sakit dan menduduki sebuah bangku yang kosong.
Berteman keheningan malam yang cukup mencekam karena remangnya pencahayaan, baik Ibra maupun Audi belum ada yang membuka suara.
Audi juga tidak tahu harus melakukan apa. Maksud Tante Safa apa, sih? Audi harus menghibur Ibra, begitu? Atau harus menjelaskan bahwa maminya baik-baik saja?
"Tante baik-baik aja." Audi mulai bicara.
"Hm." Ibra menunduk sebentar menatap tautan tangannya yang bertumpu di lutut. Kemudian matanya lurus entah mengamati apa. Mungkin menghitung acak kepingan tembok paving?
__ADS_1
"Mas Ibra gak usah sedih. Kata dokter cuma vertigo. Tante kecapekan aja."
Tiba-tiba Ibra terkekeh. "Kamu niat menghibur atau apa, sih? Kok ketus banget?" Ia menggeleng geli dengan sikap Audi.
Jelas Audi langsung berdecak kesal. Mungkin Ibra tidak tahu betapa keras usahanya mencari topik dan memulai pembicaraan. Pria kan memang begitu.
"Tau, ah! Terserah. Yang penting aku udah ngomong."
"Kalau bukan Tante yang suruh aku juga ogah berduaan sama Mas Ibra di sini," ketus Audi.
Ibra mengangguk, bibirnya mengulas senyum menatap Audi. "Tapi Mas senang. Makasih, ya?"
Audi melirik gengsi. "Sama-sama!"
Tawa renyah terdengar kriuk di telinga Audi. Sumpah demi apa pun Audi merasa sedang berhadapan dengan Herjunot Ali versi lebih gagah. Bagaimana tidak gagah kalau badan Mas Ibra itu tinggi besar persis Captain Amerika.
Ah, sial. Kenapa, sih, suami orang selalu sukses bikin anak perawan kelonjatan.
Hari ini Audi boleh terpesona dengan Ibra, tapi besok-besok jangan. Audi akan mengikat hatinya kuat-kuat agar tidak jatuh ke lubang yang sama.
Audi terlonjak saat sebuah jaket tiba-tiba melingkupi bahunya. Ia menoleh pada Ibra yang menatapnya dengan mata berpendar lembut.
"Dingin," ucap lelaki itu.
"Oh, makasih. Terus , Mas Ibra?"
"Oh ..." Audi mengangguk-angguk.
"Mau ngebakso, gak?"
"Hm?"
"Tuh." Ibra menunjuk abang-abang gerobak yang masih stand di luar pagar rumah sakit.
Karena ia pun lapar Audi tak menolak. Ia mengekori Ibra yang lebih dulu beranjak dan memesan dua porsi untuk mereka berdua.
"Yang satu jangan pakai seledri ya, Bang."
"Siap, A!"
Audi cukup terenyuh karena Ibra masih mengingat sesuatu yang tidak disukainya.
Ibra mengambil dua kursi oklak dan menempatkannya di trotoar dekat pagar. Keduanya duduk diam sambil menunggu pesanan. Tak lama si abang pun datang dengan dua mangkuk bakso yang mengepulkan asap, membuat perut Audi seketika keroncongan, apalagi saat mencium aroma kuahnya yang menggoda.
Bakso tanpa sambal rasanya hambar. Cepat-cepat Audi menambahkan dua sendok sambal dan hendak menambahnya lagi menjadi tiga ketika tangan Ibra dengan tegas menahan. "Jangan kebanyakan, nanti sakit perut."
Audi merengut tak senang. "Apa sih, Mas? Baru juga dua sendok."
__ADS_1
"Dua sendok sudah pedas."
"Itu menurut Mas Ibra, menurut aku enggak."
"Ngeyel ya, kamu."
"Suka-suka aku, dong. Memangnya Mas Ibra siapa larang-larang aku makan?"
"Mas gak larang kamu makan. Mas cuma gak mau kamu sakit perut."
"Aku gak akan sakit perut," kekeh Audi.
"Udahlah, Mas. Capek tahu debat mulu. Tinggal makan aja punya Mas Ibra kenapa, sih? Gak usah mengomentari apa yang mau dimakan sama orang lain."
Ibra menyerah. Ia menghela nafas dan mulai menyuap bakso miliknya sambil sesekali melirik Audi. Keningnya berkerut ngeri melihat biji cabai yang bertumpuk di atas mangkuk bakso milik Audi.
Ibra bukannya anti pedas, tapi kalau terlalu pedas seperti Audi itu namanya menyiksa diri.
Ibra lebih dulu selesai makan, ia menoleh ke arah Audi yang kini sibuk menyusuti keringat yang membanjiri wajahnya.
Bagaimana tidak berkeringat kalau sambalnya saja gila-gilaan seperti itu.
Mulutnya berdecak mengambil sapu tangan di saku yang selalu ia bawa ke mana-mana, seolah sudah menjadi kebiasaan sejak kecil.
Ibra mengusapkan sapu tangan itu di kening Audi. Bisa ia lihat gadis itu sedikit terperanjat. Sebelum Audi menepis tangannya, Ibra segera menarik diri dan melempar senyum tanpa rasa bersalah.
"Kamu kayaknya awet muda banget, ya? Kayak masih awal dua puluhan."
"Apa, sih, gak jelas banget," sungut Audi kembali melahap baksonya dengan gigitan besar.
"Mas serius. Kayaknya kamu masih cocok pakai seragam SMP."
"Jangan ngikut-ngikut Bang Hasan, deh, ngatain aku anak SMP!"
Kesal, Audi berusaha mengabaikan Ibra.
Ibra kian tersenyum lebar. Matanya tak lepas menatap Audi yang kini mulai risih dan canggung sendiri.
Kenapa Ibra menatapnya seperti itu?
Seolah keras kepala, Ibra menyeka keringat Audi lagi dengan sapu tangannya. Audi membiarkan saja karena nanggung sedang nikmat-nikmatnya menyeruput kuah bakso.
Sampai ucapan Ibra berikutnya membuat Audi sukses tersedak dan menyemburkan kaldu pedas itu hingga mengenai celana chino yang dipakai Ibra.
"Mas baru tahu makan pedas ternyata bisa bikin bibir seseorang jadi terlihat lebih seksi."
"Bikin yang lihat jadi greget pengen cium."
__ADS_1
Maksud Mas Ibra apa, sih? Dia gak lagi mengkhianati istrinya dengan memikirkan bibir orang lain, kan? Apalagi ini bibir Audi sendiri. Jelas tidak mungkin.