
"Lettu Ibra, nanti siang kamu dan beberapa anggota lain saya tugaskan untuk ikut serta dalam uji coba mobil listrik, ya. Letda Ben juga turut hadir dalam program tersebut."
"Siap, bukankah sebelumnya Serda Rizal yang bertugas?"
"Serda Rizal menemani kunjungan wapres, anggota sebelumnya mendadak izin, jadi dia yang gantikan. Kamu bersedia, kan?"
"Siap, bersedia!"
"Baik, kalau begitu lanjutkan latihannya."
"Siap!"
Komandan meninggalkan lapangan tembak, di mana Ibra dan sejumlah anggota lain tengah mengawasi latihan para junior yang beberapa minggu lalu resmi bergabung di kesatuan mereka.
Ibra kembali mengamati aktifitas di tengah lapang yang ramai oleh suara instruksi dan peluru yang bersahutan. Selain latihan tembak, latihan fisik dan bela diri juga kerap dilakukan secara rutin. Hal itu demi menjaga kemampuan dan ketahanan fisik yang mereka miliki.
Seorang anggota paspampres dituntut untuk memiliki kemampuan di atas standar. Jika orang biasa hanya mampu menembak langsung, seorang paspampres harus bisa memiliki kemampuan yang lebih. Salah satunya adalah dengan cara menembak di atas motor dengan tertutup helm, atau menembak di atas mobil yang bergerak.
Paspampres memiliki standardisasi skor yang tinggi untuk kemampuan menembak. Setiap tembakan anggota Paspampres mesti dipastikan keakuratannya menjangkau sasaran. Standardisasi itu sendiri sama dengan TNI. Jarak antara senjata dan target yang mencapai dua puluh lima meter, minimal harus mendapatkan nilai delapan puluh,
Selepas latihan Ibra pulang dulu ke kontrakan guna berganti pakaian. Suatu kebetulan jadwalnya bersamaan dengan Ben. Ia jadi bisa nebeng pria itu ke lokasi, hitung-hitung menghemat bensin dan mengurangi macet, kan lumayan. Andai semua orang berpikiran sama seperti dirinya, mungkin jalanan tak akan begitu padat.
Sambil menunggu Ben yang tengah bersiap, Ibra menyempatkan diri menelpon Audi, yang lagi-lagi tak mendapat respon dari sang kekasih. Alih-alih Audi justru Shireen yang setiap hari selalu menghubunginya, kebanyakan melalui pesan karena Ibra sempat memperingatkan kalau dia sibuk.
Kenan sendiri sudah pulang dari rumah sakit, Ibra bersyukur akan hal itu. Semoga ke depannya tak terjadi apa-apa lagi.
Shireen: Mas Ibra hari ini jenguk Kenan?
Membaca pesan tersebut Ibra pun membuang nafas. Entah kenapa semakin hari ia semakin jenuh dengan keadaan. Shireen, Kenan, belum lagi Tantri yang akhir-akhir ini kerap berkoar di media sosial, meski tak menyebut nama, Ibra jelas paham wanita itu menyindir dirinya dan Audi, menganggap mereka sebagai pasangan selingkuh yang sudah mengkhianati putrinya.
Ibra: Maaf, hari ini jadwal saya padat, mungkin kapan-kapan saja.
Ngomong-ngomong kapan, benar yang dibilang Audi, sampai kapan Ibra akan berperan sebagai ayah bagi Kenan? Kenan sudah tahu ia bukan ayah kandungnya, anak itu tahu papanya sudah meninggal. Kenan mengenal Rega, dia tahu wajah Rega, tapi karena memang sejak balita Ibra mengisi kekosongan peran Rega, akhirnya eksistensi Ibra benar-benar menggeser sosok ayah di mata Kenan.
"Bra, ayo."
Di tengah lamunan, Ben muncul dengan seperangkat ransel di punggung. Ia juga membawa helm untuk dirinya dan Ibra. Kali ini mereka pakai motor pribadi karena tengah lepas dinas.
__ADS_1
Ibra mengangguk menerima helm dari tangan Ben lalu lekas memakainya. Merapatkan resleting jaket, Ibra pun naik di boncengan tepat di belakang Ben.
Ben mengendik ketika Ibra menyentuh bahunya. "Gak usah pegang-pegang kali, geli. Mending kalau yang dibonceng teteh-teteh SCBD, lah ini duda lapuk."
Mendengar itu Ibra berdecak. Tak ingin berdebat ia pun menurunkan tangan dari bahu Ben dan memilih bersidekap dengan tenang. Namun kemudian ia dibuat memaki lantaran Ben dengan sengaja mengegas motornya secara mendadak, yang mana hal tersebut membuat Ibra hampir terjengkang ke belakang.
"Hahaha ..." Ben tertawa, sementara Ibra mendelik kesal.
"Aku pakai motorku saja," ketus Ibra bersiap turun.
"Lha, lha, lha, Mas Perwira gitu aja marah. Udah bareng aja biar cepet. Katanya menghindari macet?"
"Ya udah yang bener kalau ikhlas."
"Ngambekan, kayak perawan ditinggal gebetan," cibir Ben.
Ibra tak menyahut. Terserah Ben mau berkicau apa, ia memang terancam ditinggal Audi.
***
"Kamu kapan pulang, sih, Ren? Ibu udah bosan tahu di rumah jagain Kenan terus. Dari pagi sampe siang gak ada refreshing-refreshingnya. Bisa-bisa Ibu hipertensi kayak gini terus." Tantri mendumel di balik telpon.
"Sebentar lagi, Bu."
"Dari tadi kamu bilang begitu, buktinya sampe sekarang belum selesai juga. Ngapain, sih, repot-repot ngajar les? Toh bayarannya kecil. Mending kamu cari pria yang banyak duit biar cepet kaya, kalau bisa minta balik sama Ibra, biar kita gak hidup gini terus. Bosan Ibu nasihatin kamu."
"Buu ..." sahut Shireen sabar. "Sudah dulu, ya. Shireen gak bisa lama-lama tinggalin Rasya. Shireen tutup dulu, assalamualaikum." Shireen mengakhiri panggilan tanpa persetujuan ibunya.
Ia pun kembali ke ruang belajar Rasya, salah satu anak didiknya yang tengah sibuk mengerjakan soal yang sebelumnya Shireen beri.
Waktu bergulir hampir sore. Shireen pulang dari mengajar lesnya di rumah Rasya, ia lanjut berjalan ke halte bus yang kebetulan tak begitu jauh dari sana.
Shireen cukup terkejut melihat keadaan yang lebih ramai dari biasanya. Ia melihat begitu banyak orang berkerumun di pinggir jalan tak jauh dari pemberhentian bus.
Awalnya Shireen bodo amat, tapi ketika melihat sekelompok pria yang sepertinya familiar ia pun tak bisa untuk tidak penasaran. Terlebih ia seperti melihat bayangan Ibra di sana.
Sedikit bimbang antara menunggu bus atau menuntaskan rasa penasaran, akhirnya Shireen pun memutuskan mencari tahu apa yang ada di balik kerumunan tersebut.
__ADS_1
Jalur jalan itu sudah diblokade sepenuhnya, beberapa orang berpakaian otomotif terlihat mondar mandir meneliti sejumlah mobil. Shireen tidak tahu jenis mobil warna-warni yang mengkilap itu, yang ia sadari banyak anggota pengawal presiden yang turut hadir berpartisipasi dalam acara tersebut.
Pada akhirnya mata Shireen menangkap keberadaan Ibra. Ia pun berniat memanggil, namun keadaan terlalu ramai hingga suaranya tertelan oleh berisik yang menggema. Shireen mengurungkan niatnya untuk melambai, ia memilih mendekat saja menghampiri Ibra yang berada di seberang jalan.
Baru beberapa langkah Shireen mengayunkan kakinya mendekati Ibra, seruan seseorang menyentak nalurinya untuk berhenti, disusul teriakan orang-orang yang terkesiap ke arah dirinya. Shireen mengernyit, ia menoleh ke samping kiri dan mendapati salah satu mobil melaju hampir menabraknya.
Sesaat nafas Shireen terhenyak bersamaan dengan dorongan kuat seseorang yang menyorong tubuhnya hingga terpental ke pinggir jalan.
"Mba awaass!!!"
Brruuumm!! Ckiiitt!!
Bruk!
Belum lepas dari rasa terkejutnya, Shireen terengah dengan tubuh menyentuh aspal. Matanya terpejam erat di pelukan seseorang. Ia bisa merasakan detak jantung orang itu yang juga berdentam kuat seperti dirinya.
Lama Shireen terdiam, ia mendengar banyak suara yang mendekat ke arah mereka.
"Mba gak papa? Maaf saya dorong Mba, Mba lewat gak kira-kira, kita baru mau mulai pengujian mobil barusan," ucap pria di atasnya.
Shireen tersentak dan mendongak, ia membelalak menyadari dirinya tengah dipeluk seseorang. Tak lama kemudian ...
"Ben, kamu gak papa?"
"Mas Ibra?" bisik Shireen tanpa sadar.
Begitu pula Ben menoleh ke belakang. Ia mulai bangkit dan turut membantu Shireen untuk bangun.
"Makasih," gumam Shireen.
"Sama-sama. Aku gak papa, Bra. Mobilnya gak papa?"
Yang ditanya malah terpaku dengan kening berkerut. "Lho, Shireen? Kamu di sini?"
Entah kenapa Shireen mendadak merasa kalau Ibra menudingnya mengikuti pria itu, padahal ia hanya kebetulan lewat.
"I-iya, aku habis pulang les."
__ADS_1
Semoga Ibra percaya, karena sejak beberapa hari terakhir raut Ibra tak pernah baik padanya, kecuali di depan Kenan.