Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 70


__ADS_3

"Mas, aku tadi ketemu Jeno," kata Audi sambil mencomot potongan cokelat di atas eskrim, lalu memakannya.


Malam ini ia dan Ibra berkesempatan kembali makan bersama. Audi sengaja mengajak Ibra keluar karena ia bosan di rumah terus sepulang bertemu klien. Ibra yang kebetulan cukup senggang pun menyanggupi.


Ngomong-ngomong Jeno, Audi tak melihat anak itu lagi sejak ia pergi pagi tadi. Entah Jeno sibuk belajar di rumah, atau dia memang sedang keluar. Sukur-sukur kalau nginap di tempat lain, teman misalnya, atau lebih sukur lagi kalau anak itu pulang ke kosan.


"Kenapa memangnya?" Ibra yang sama tengah menikmati kudapan, mengangkat alis.


Audi berdecak. "Kok, kenapa, sih? Masalahnya tadi kita ketemu pas aku keluar dari rumah Mas. Rumah Om Edzar maksudnya," ralat Audi.


"Terus?"


"Ih, Mas Ibra gak ngerti juga, ya? Ya Jeno curiga, lah. Dia tanya-tanya aku kenapa bisa nginap di situ."


"Ohh." Ibra hanya menyahut singkat sambil mengangguk. Ia lanjut makan kue basah di piring yang kini tersisa setengah.


Melihat respon Ibra, Audi pun berdecak kesal. "Mas Ibra dengerin aku gak, sih?"


"Dengar. Kalau gak dengar, Mas gak bakalan nyaut."


"Tapi kok gitu responnya?"


"Gitu gimana?"


"Santai banget."


"Ya emang Mas harus gimana?" tanya Ibra geli. "Khawatir kayak kamu? Kenapa, sih?"


Audi mengerjap. Iya juga, kenapa dari tadi Audi panik sendiri?


"Ya ... ya, kalau Jeno tahu kita—"


"Kalau tahu ya gak papa, Cla. Wajar, lah, dia adik kamu. Yang gak wajar itu kamu yang seperti menyembunyikan terus hubungan kita. Kalau kamu menutup diri dari publik, Mas maklum, kamu butuh privasi. Tapi dari keluarga, kenapa kamu juga harus ikut-ikutan nyimpan rahasia? Toh, nanti juga mereka harus tahu, kan?"


"Tapi ... apa gak papa kalau mereka tahu kita pacaran?"


"Kenapa memang?"


"Secara kita saudara sepupu," cicit Audi. "Aneh gak, sih?"


"Ya enggak aneh. Dalam agama kita, saudara sepupu halal dinikahi. Yang aneh itu kalau kamu dan Mas saudara kandung, baru itu melanggar agama dan hukum."


Ibra lanjut melahap kue dengan santai, tak begitu menghiraukan wajah risau Audi.


"Benar, sih. Tapi, kan—"


"Udah. Kamu itu kebiasaan mikirin sesuatu yang sebetulnya gak mesti kamu pikirin segitunya. Hal kecil sekalipun akan jadi berat kalau kamu mikirnya berat. Mending habisin eskrimnya. Lama-lama sendok yang kamu pegang itu jadi gak guna karena eskrimnya mencair."

__ADS_1


Dengan wajah merengut, Audi menyendok eskrim dan melahapnya besar-besar, mengabaikan rasa ngilu yang menjerat gigi serta lidah. Ibra juga sudah selesai dengan kuenya, ia melirik Audi sebentar lalu bertanya. "Kamu mau pesan lagi?"


"Enggak. Udah kenyang."


Ibra mengangguk, ia pun melambai memanggil salah satu pramusaji. "Mas, Mas! Minta bill-nya, dong."


"Siap, Mas!" Si pramusaji mendekat, lalu menyerahkan kertas pada Ibra berisi total bayaran mereka.


Ibra mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang berwarna merah, lalu menyerahkannya pada si pramusaji bersamaan dengan bill.


"Makasih, Mas."


"Sama-sama," balas Ibra.


Pramusaji itu pergi ke meja kasir. Ibra kembali melihat Audi. "Udah selesai?"


Ibra bertanya tepat ketika Audi menyelesaikan suapan terakhirnya. "Ini udah. Mas Ibra kenapa kayak buru-buru banget, sih?"


"Ya gak papa, cuman Mas agak ngantuk aja. Takutnya nanti gak fokus nyetir."


Sontak Audi mengernyit khawatir. "Mas Ibra ngantuk? Ya udah, biar aku aja yang nyetir."


Sedari tadi Audi juga sadar wajah Ibra terlihat lelah, dan ternyata memang benar Ibra butuh segera istirahat. Audi jadi merasa bersalah karena mengajak pria itu keluar.


"Gak usah, Mas masih bisa, kok. Tadi katanya kamu juga capek pulang sore. Udah gitu keliling - keliling karena nyasar."


"Tetep aja aku lebih layak nyetir sekarang. Nanti Mas Ibra tunjukin aja jalannya. Ya?" Audi masih kekeh memaksa.


Keduanya meninggalkan cafe saat jam menunjuk angka setengah sepuluh. Seperti janjinya Audi menyetir. Sementara Ibra, ia sudah jatuh terlelap sejak beberapa menit mobil berjalan.


Tuh, kan. Bahaya kalau dia nyetir, batin Audi. Padahal tadi katanya mau nunjukkin jalan. Aduh, mana Audi lupa arah rutenya gimana. Mau bangunin Ibra kasihan.


Akhirnya Audi putuskan untuk membuka google maps dan mengikuti arah yang ditunjukkan. Semula semuanya baik-baik saja, hingga bermenit-menit kemudian Audi mulai lelah karena pusing sendiri. Sesekali ia melirik Ibra yang begitu pulas tertidur, lalu kembali berusaha fokus meski jalan yang ditempuh semakin tak wajar.


Dan benar saja, beberapa menit kemudian Audi berhenti lantaran menemui jalan buntu.


"Ini gimana, ya? Kok ke sini, sih?" gumam Audi bingung.


Suara google masih aktif bicara, hal itu membuat Audi yakin bahwa ia telah dikibuli oleh si Mbah. Ternyata kasus-kasus nyasar yang bertebaran itu benar adanya. Ah, sial. Ngerepotin aja.


Audi menoleh ke sana kemari melihat sekitar. Sisi kanan kiri ada rumah warga yang sudah gelap lampunya. Pasti sudah pada tidur. Lahan di sana berupa tanah merah dengan bermacam-macam tanaman tertanam di depan rumah. Ada juga pohon mangga yang sedang berbuah. Audi yakin ia telah memasuki suatu perkampungan atau semacamnya.


"Ini masih Jakarta, kan?" Ia bertanya pada diri sendiri.


Audi mengecek ponsel, melihat alamat yang tertera. "Beneran masih Jakarta, tapi bukan Jakarta Pusat. Astaga, bisa-bisanya google mempermainkan ku."


Tiba-tiba Ibra terbangun. "Ada apa?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.

__ADS_1


Lelaki itu mengerjap, menoleh melihat Audi yang sedang sibuk dengan ponsel sendiri. Gadis itu beralih menatapnya dengan pandangan gusar.


"Mas, kayaknya kita nyasar, deh," ringis Audi pelan.


Ibra mulai menegakkan tubuh. "Kok bisa? Mana sini lihat."


Audi menyerahkan ponselnya pada Ibra. Lelaki itu tampak serius meneliti google map dengan mata sesekali mengedar ke sekeliling.


"Di sini tertera Jakarta Barat. Kamu kok bisa nyasar sejauh ini?"


"Gak tauuu ... Itu google-nya melenceng!" rengek Audi. "Maaf, aku malah jadi nambah repot. Padahal tadi kan niatnya mau nyetir biar Mas bisa istirahat. Gak nyadar diri sendiri aja sering nyasar. Terus gimana, dong, Mas? Sepi banget, mau tanya-tanya juga kayaknya udah pada tidur ..." Audi terlihat sangat panik.


"Hey, hey, hey, udah. Kok malah mau nangis gitu? Kamu pindah sini, kita tuker tempat."


"Mas Ibra kan ngantuk?"


"Ya terus gimana? Kamu mau kita nunggu sampai pagi di sini?"


"Ya udah, deh." Audi menurut saja.


Ia menyerahkan kemudi pada Ibra yang kini sudah berpindah ke sisi kanan. "Mas Ibra, ih, rok aku nyangkut!"


Ibra menunduk dan mendapati sebagian unjung rok Audi ia duduki. "Oh, maaf." Ia sedikit mengangkat bokongnya saat Audi menarik kain tersebut dari sana.


"Mas yakin kita bisa keluar dari sini? Tanpa tanya-tanya orang?"


"Udah, kamu diam. Serahin semua sama Mas."


Audi mengerucut. Ia merasa hanya membuat Ibra sulit saja. Beberapa menit berlalu Audi tak berani bersuara, ia takut mengganggu Ibra yang terlihat sangat fokus melihat jalan.


"Kayaknya Mas kenal daerah ini, deh, waktu pernah blusukan sama Pak Pres. Bentar, Mas coba tanya teman."


Ibra mengeluarkan ponsel, mengotak-atiknya sebentar lalu menempelkannya ke telinga.


"Emang teman Mas belum tidur jam segini?"


"Biasanya belum. Mereka yang di asrama bahkan bisa baru tidur dini hari," sahut Ibra.


Tak lama teman Ibra menyahut dari seberang telpon. Ibra bertanya mengenai daerah-daerah Jakarta Barat dan sekitarnya. Audi hanya menyimak dalam diam karena ia tak mengerti tentang daerah-daerah kecil sekitar Jakarta.


Niat hati ingin membantu Ibra agar pria itu bisa tertidur, sekarang Audi malah merepotkan dan menambah kerja Ibra, ditambah Audi juga ngantuk dan ingin tidur. Sepertinya ia memang tak dinasibkan untuk membantu orang.


"Mas, aku ngantuk banget. Hoaaamm ..." Audi menguap lebar.


Ibra menoleh sekilas. "Ya udah, kamu tidur aja."


Sekilas pria itu mengulurkan tangan mengusap rambut Audi, lalu kembali serius pada masalah jalan yang entah kapan mereka keluar dari sana.

__ADS_1


"Maaf, ujung-ujungnya aku nambah masalah," gumam Audi.


"Udah, tidur," titah Ibra. Kini ia membekap mata Audi dengan satu tangan, berharap gadis itu tidur saja daripada terus merengek menyalahkan ulahnya sendiri.


__ADS_2