
Cinta memang sesuatu yang sangat crusial bagi sebagian orang. Terkadang, cinta hanya bertahan sebentar, lalu setelah itu hilang meninggalkan kepingan-kepingan luka yang mendalam. Namun, bukan berarti cinta sejati itu tidak nyata. Entah Audi harus menyebut rasa cinta Ibra sebagai apa.
Pria itu, Ibrahim, dia selalu ada semenjak Audi lahir melihat dunia. Menemani, melindungi, menjadi superhero dalam setiap kemalangan yang pernah dialaminya.
Ibrahim tak lepas mengisi setiap lembar kehidupan Audi, entah itu dulu atau sekarang. Sepertinya, pria itu memang memenuhi separuh nafas Audi semasa hidup. Di mana ada Audi, di situ ada Ibra. Kalimat itu terkenal ketika mereka masih menempuh pendidikan di satu yayasan yang sama.
Dari sekolah dasar hingga menengah mereka memang kerap bersama, hingga Ibra lulus lebih dulu dan memasuki dunia militer, barulah mereka sudah jarang bertemu satu sama lain.
Jeda juga terjadi ketika Ibra memutuskan menikah dengan Shireen. Sejak saat itu mereka sudah sama sekali tak pernah saling menghubungi. Audi bahkan tidak pernah mengira ia akan kembali dekat dengan Ibra, bahkan berstatus menjadi calon istrinya meski belum resmi.
Dulu, Audi sering kali khawatir dengan masa depan mereka berdua. Bukan, ini bukan soal karir, melainkan kebersamaan yang akan terambil seiring waktu yang merenggang. Audi takut sekali kala memikirkan ia dan Ibra akan hidup terpisah, memiliki keluarga masing-masing yang akan membuat mereka terasa asing.
Mimpi buruk itu sempat Audi rasa ketika akhirnya pria itu menikah dengan seseorang selain dirinya. Namun rupanya itu hanya jeda takdir sebelum Tuhan kembali mengantarkan Ibra pada penantian Audi.
Perjalanan mereka terasa begitu panjang. Banyak hal yang turut serta menguji kesetiaan keduanya. Akan tetapi, pada akhirnya Ibra dan Audi tetap memutuskan saling meniti. Siapa yang menyangka perasaan yang mereka bawa dari masa kecil dapat berlanjut hingga dewasa, bahkan lebih intens karena mereka sudah sama-sama memahami rasa.
Segala ujian terus datang menimpa, namun di saat itulah Ibra mengajarkan bagaimana cara pasangan menghadapi semuanya bersama. Hal terberat kehidupan Audi terjadi saat bulan Ramadhan, di sana hidup Audi benar-benar dihempaskan ke dasar.
Audi kehilangan karir, teman, bahkan kemampuan untuk berjalan. Fisiknya turut menjadi sasaran, sampai - sampai Audi putus asa dan sempat ingin menyerah.
Namun sekali lagi Ibra seolah menjadi pelindungnya saat terpuruk. Lelaki itu seakan membawa cahaya pada jalan Audi yang redup. Mendampingi hingga lambat - laun mereka sama - sama keluar dari kegelapan.
Ibra terus menuntun Audi dengan segenap jiwa raganya. Lelaki itu mengorbankan banyak hal untuk bisa melakukan hal tersebut, termasuk keluar dari kesatuan paspampres dan TNI sekalipun.
Audi sedih? Tentu, ia turut merasakan bagaimana perasaan Ibra ketika resmi menjadi prajurit non-aktif.
Enam bulan berlalu hampir tak terasa. Audi menyaksikan sendiri bagaimana air mata Ibra luruh ketika ia harus melepas seragam loreng kebanggaannya, atau dasi merah yang menjadi khasnya sebagai pasukan elite pengawal presiden. Kini semua pencapaian itu hanya akan menjadi kenangan, karena Ibra tengah bersiap memasuki babak baru dalam hidupnya.
Tak jauh berbeda dengan Audi. Mereka sama - sama harus berdiri memulai semuanya dari awal. Usai sadar dari koma, Audi pun membutuhkan waktu beberapa lama untuk bisa pulih kembali seperti semula.
Semuanya berangsur membaik secara bertahap. Meski ada beberapa hal yang sering kali membuat Audi tak percaya diri. Tubuh kurus, rambut yang dipangkas habis dengan bekas operasi yang mengerikan, wajah buruk rupa penuh bekas luka. Audi sempat depresi hingga ia berpikir untuk mengakhiri hidup saja.
Akan tetapi, hal itu selalu gagal ketika Audi teringat Ibra yang selalu setia berada di sampingnya, pengorbanan lelaki itu untuk bisa bersamanya, menyemangatinya, membantu Audi dalam segala hal ketika ia mengalami kesulitan. Ibra juga yang menemani Audi terapi hingga sekarang bisa berjalan.
Jatuh bangun lelaki itu menangkapnya saat tersandung. Ibra sudah selayaknya bayangan yang selalu hadir di mana pun Audi berada.
"Audi?"
Audi mendongak mendapati sang mama berjalan mendekat. Audi tengah membaca novel di pinggir kolam, kegiatan baru yang kerap Audi lakukan untuk membunuh bosan.
Audi yang sekarang jarang sekali main ponsel, apalagi nonton televisi. Sesekali ia menggunakan televisi pun untuk menonton drama bersama Ibra. Entah mungkin karena sering menemani Audi menonton, pria itu jadi tahu banyak hal mengenai Korea yang Audi sebut sebagai surganya para manusia good looking.
Ibra selalu update ketika ada drama terbaru launching, dan ia akan dengan cepat memberi tahu Audi sekaligus mengajaknya nonton bersama.
Banyak hal yang berubah sejak Audi pulang dari Korea usai bedah plastik. Poros hidupnya tak lagi sama seperti dulu. Audi sudah jarang keluar rumah jika bukan ke rumah sakit untuk kontrol kesehatan.
"Kenapa, Ma?"
__ADS_1
Lalisa tersenyum misterius menatap putrinya. "Ada yang mau ketemu kamu."
Audi mengernyit ingin tahu. "Siapa?"
Tak lama kemudian dua orang muncul dari balik pintu samping kolam. "Taraaaa ...!!"
Sesaat Audi terkejut melihat keduanya yang kini berlari mendekat. Tidak, lebih tepatnya Ajeng yang berlari, sementara Morgan hanya berjalan santai sambil menguar senyum.
"Audiii ... aku kangen banget sama kamu. Ya ampun aku hampir gila karena 6 bulan ini gak bisa pulang!" Ajeng memeluk Audi yang tengah duduk di kursi.
Morgan turut mendekat dan berdiri di samping mereka. Sewaktu Audi siuman, Ajeng terbilang sering mengunjunginya di rumah sakit. Tapi tak lama gadis itu berpamitan pergi guna menyelesaikan pendidikan di luar kota. Ajeng memang tengah menempuh S2, sama seperti Morgan yang berkuliah di Beijing.
Mungkin di antara mereka hanya Audi yang pendidikannya mentok di S1, itupun dalam negeri. Dulu Audi terlalu larut mementingkan karir, dan sekarang ia justru minder dengan pencapaiannya yang tak seberapa.
Mungkin, setelah ini ia akan memikirkan untuk lanjut kuliah.
Audi tersenyum, membalas rangkulan Ajeng dengan sebuah usapan di lengan. Di saat teman-temannya mulai menjauh, Audi bersyukur Ajeng dan Morgan masih setia peduli padanya.
Morgan memang tak menjenguk ketika Audi masih di rumah sakit, tapi pria itu selalu hadir melalui panggilan video, sampai-sampai Ibra pernah cemburu karena mengira Morgan siapa.
Ngomong-ngomong teman, Audi juga masih sering berhubungan dengan Matias. Kabarnya lelaki itu kini pindah ke Belanda, tanah kelahiran sang mama guna mencari suasana baru.
Sudah pasti Matias juga sama seperti Audi, ia merasa kehilangan atas kepergian Mardon dan Mba Tian. Mereka sempat mengunjungi pemakaman keduanya beberapa waktu lalu. Dan jujur saja, kini hati Audi terasa jauh lebih lega.
Ibra benar, kehidupan itu naik turun dan berputar. Percuma juga Audi larut dalam kesedihan.
Ajeng sudah tak semontok dulu, bisa dibilang tubuhnya sekarang idaman setiap pria. Rupanya Ajeng berhasil dalam proses diet serta program gym-nya.
Morgan menjawab. "Aku emang lagi pulang ke Indo. Mumpung-mumpung, kan? Sekalian nengokin cewekku yang paling cantik ini, hehe."
Audi tersenyum kecut. Ia tak merasa cantik sekarang, meski bekas luka di wajahnya sudah hilang berkat operasi plastik beberapa bulan lalu, pun rambutnya sudah mulai memanjang kembali secara perlahan.
Ajeng berdecak. "Kedengaran pacaranya, habis kamu dibantai pakai senapan."
"Ha! Mana ada. Si abang udah berhenti kali jadi tentara. Gak ada kepemilikan senjata."
"Tapi dia masih pegang 6 sabuk hitam bela diri! Cuman butuh jentikan jari buat bikin kaki kamu patah!"
Audi terdiam mendengar perdebatan mereka. Kenyataan bahwa Ibra mengundurkan diri dari kesatuannya masih menjadi sesuatu yang menyesakkan bagi Audi. Terang saja, Ibra melakukannya untuk Audi. Lelaki itu mengorbankan karir militernya karena ingin menemani Audi sepanjang waktu.
Seperti yang sudah Audi bilang, ia sedih tentu saja. Rasa bersalah masih kerap menghantui perasaan Audi, karena bagaimana pun menjadi anggota TNI merupakan cita-cita Ibra sedari kecil. Audi merasa ia hanya menjadi parasit bagi orang-orang. Ia tak bisa melakukan apa pun sekarang selain duduk diam membaca majalah dan menonton drama.
Entah berapa lama Audi melewatkan obrolan, tahu-tahu Ajeng menjentikkan jari di depan wajahnya. Gadis itu tersenyum dengan raut seperti menunggu jawaban.
"Gimana?" tanyanya membuat Audi tak mengerti.
Audi mengernyit menggambarkan keheranan. "Apanya?"
__ADS_1
Ajeng berdecak. "Udah ketebak kamu pasti melamun."
"Kita mau ajak kamu ke mall, retail kosmetik kita kan bulan depan launching, emang kamu gak mau ikut datang?" lanjut Ajeng lagi.
Audi diam termenung, ia lalu menggeleng pelan. "Kamu aja, deh, sama Morgan. Dia pasti bisa wakilin aku."
Audi mendongak menatap Morgan. "Ya, kan, Gan?"
Namun Morgan hanya membuang nafas dengan wajah teduh. "Kan founder dan ownernya kamu sama Ajeng, Di. Jelas harus kamu sama Ajeng yang hadir."
"Tapi ..."
Ajeng tersenyum memeluk sahabatnya. "Audi, udah waktunya kamu keluar menghadap dunia. Kamu gak sendiri, kok. Kan ada aku sama Morgan, Mas Ibra juga. Aku udah izin sama dia, sama mama dan papa kamu juga. Mau, ya?"
Audi termenung dengan raut berpikir. Apa yang dikatakan Ajeng memang ada benarnya. Sampai kapan Audi akan mendekam di rumah tanpa kegiatan, sementara Ibra sendiri sudah mulai sibuk memasuki dunia politik.
Rasanya tidak pantas jika Audi terus menerus menjadi pesakitan yang nganggur. Memang, sejak kecelakaan yang merenggut segala hal yang cemerlang dari hidup Audi, Audi jadi kehilangan kepercayaan diri juga.
Begitu sulit mengembalikan mental dan energi positifnya secara instan. Bahkan, setelah lebih dari enam bulan berlalu Audi masih kewalahan berkutat dengan rasa mindernya.
"Kamu sudah bisa beraktivitas normal, kan? Cuman belum boleh lama-lama di bawah sinar matahari."
Audi mengangguk membenarkan. "Iya, tapi ..."
"Kamu masih malu?" sambung Morgan.
Lelaki itu membuang nafas, mendudukkan diri di kursi samping Audi. Tangannya bertumpu di atas lutut, menatap fokus pada temannya yang kini tengah krisis rasa percaya diri.
"Kepercayaan diri itu harus dibangun secara perlahan, Di. Kalau kamu begini terus, kapan kamu bisa keluar dari kubangan masa lalu? Untuk meninggalkan masa kelam, kamu harus sedikit demi sedikit membangun keberanian. Minimal berani dulu bertemu dengan orang. Jangan berpikir mereka akan mengejekmu, fokus saja pada apa yang menjadi tujuanmu. Karena yang bisa melihat bintang bersinar itu bukan bintang itu sendiri, melainkan orang lain."
Ajeng mengangguk setuju. "Bener, Di. Kita coba mulai dari ini, ya? Aku gak bisa kalau harus jalanin bisnis kita sendirian. Kita bangunnya sama-sama, mengelola pun harus sama-sama. Kita pasti bisa lalui ini semua dengan baik. Ya?"
Ajeng dan Morgan masih berusaha membujuk Audi. Sebelumnya mereka juga sempat berkomunikasi dengan Ibra dalam hal ini. Lelaki itu setuju dan berpikir kalau Audi memang sudah waktunya keluar menghadap dunia.
Dalam hal ini, mereka ingin membantu Audi agar sedikit demi sedikit bisa meninggalkan kubangan rasa sedih yang berkepanjangan. Dan tanpa diduga, setelah sekian lama gadis itu mengurung diri di dalam rumah, akhirnya sekarang ia mengangguk menyetujui permintaan mereka.
"Ya udah, aku bakal ikut."
Ajeng sampai bersorak gembira memeluk Audi. Morgan pun sama, meski ia hanya tersenyum, namun matanya menyorot penuh kelegaan.
Claudia Mareeta Halim, sudah saatnya kamu bersinar lagi, walau dengan cara yang berbeda.
"Yeeeeyyy ... Audi kita kembali!!! Wuhuuu ...!!!" Ajeng berteriak sambil merentangkan tangan menatap langit.
Di samping itu, Audi turut tersenyum, berusaha yakin dengan keputusannya.
"That's a right choice, Girl," cetus Morgan ikut senang.
__ADS_1