Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 110


__ADS_3

Ibra yang sudah tiba di Bandung hanya bisa menunggu dengan sabar. Ia bahkan sudah stay di rumah sakit sejak fajar menjelang. Padahal Mami Safa sudah memberi informasi kapan tepatnya mereka sampai di rumah sakit tersebut.


Meneguk ludah dengan berat, wajah Ibra pias seperti pesakitan. Wajar, karena Ibra tak sempat makan saat sahur. Ia hanya mampu menelan air yang rasanya seakan pahit di lidah.


Pikirannya penuh dengan Audi. Ibra tak bisa makan jika belum melihat gadisnya secara langsung.


Tepat jam 9 pagi, rombongan ambulance yang membawa Audi tiba di Rumah Sakit Bandung. Ia segera berlari begitu pintu belakangnya terbuka. Hal pertama yang Ibra lihat adalah Uwa Lisa yang turun dengan wajah kuyu, bola matanya hampir tak terlihat karena bengkak.


Sementara Ibra juga melihat Dava tak kalah kacau dengan istrinya. Pria itu membantu paramedis menurunkan brankar dengan cepat namun hati-hati.


Ibra juga mendapati papi serta maminya keluar dari mobil lain. Mereka turut bergegas mendekati ambulance di mana brankar Audi sedang dikeluarkan dari sana.


"Cla?" Ibra refleks memanggil Claudia.


Ia turut berjalan cepat bersama yang lain, mengikuti paramedis yang membawa Audi ke ruang perawatan khusus yang sebelumnya sudah menerima konfirmasi perpindahan pasien.

__ADS_1


Hati Ibra seakan disayat sembilu melihat kondisi Audi yang memprihatinkan. Tiga puluh persen wajah gadis itu rusak dipenuhi luka. Tubuhnya tak kalah sama, belum lagi luka dalam yang mungkin diterima akibat benturan.


Edzar menahan bahu Ibra yang hendak memaksa menerobos masuk ke ruang penanganan. Pria itu mencengkram kuat bahu putranya yang kini terengah letih.


"Kita tunggu di sini. Biarkan dokter yang menangani Audi," tegasnya pada Ibra.


Ibra hanya bisa mundur mengalah. Ia duduk tertunduk di ruang tunggu. Tak lama Ibra merasakan pelukan maminya yang Ibra tahu tengah terisak pelan. Mereka tak berkata apa pun. Uwa Dava tampak berusaha tegar di samping sang istri yang terus menangis.


Sebelum Audi dibawa ke Bandung, pihak rumah sakit di Salatiga memastikan dulu keadaannya aman setelah mendapat perawatan. Belum lagi urusan ini itu dengan polisi sebagai laporan, hal yang membuat proses perpindahan pasien begitu lama hingga memakan waktu satu malam.


"Tulang lengan dan jari Audi ada yang patah. Sebelumnya Audi discan dulu di sana, dan ada cidera di kepala yang membuatnya harus segera dioperasi guna menghindari penggumpalan darah di otak." Edzar menjelaskan tanpa diminta. Ia tahu putranya penasaran, tapi ragu bertanya karena keadaan yang tidak tepat. "Rusuk dan rahangnya sedikit mengalami pergeseran. Mungkin Audi akan lama untuk bisa pulih total."


Detik seolah menyiksa mereka yang menunggu informasi dokter. Hampir satu jam melakukan pemeriksaan menyeluruh, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun keluar.


Mereka lekas berdiri begitu dokter menghampiri. Di sini yang terlihat paling buruk adalah wajah Ibra dan Dava. Kedua pria itu bertanya hampir bersamaan.

__ADS_1


"Gimana anak saya, Dok?"


"Bagaimana keadaannya?"


Dokter menatap satu persatu orang di sana. "Sebelumnya maaf, kami izin untuk memangkas rambut pasien guna kepentingan operasi di kepala. Operasi akan dilakukan secara bertahap, mungkin akan memakan waktu sangat lama, dan kemungkinan beberapa jadwal dilakukan lain hari demi menghindari penggunaan anestesi berlebih."


Dava menelan ludah. Tanpa ragu ia pun mengangguk. "Lakukan apa saja agar dia selamat," ucapnya tegas.


Setelah mendapat persetujuan dari keluarga, dokter dan tim medis yang bertugas segera mempersiapkan proses lanjutan terhadap Audi.


Di sini Ibra benar-benar berdoa untuk keselamatan kekasihnya. Ibra tidak sanggup jika harus kehilangan Audi selamanya. Ia benar-benar tidak mampu melakukan apa pun seandainya Audi tiada. Bersyukur sang kekasih masih diberi keselamatan meski kondisinya memprihatinkan. Itu jauh lebih baik ketimbang Tuhan mengambilnya.


Selain Audi ada korban lain yang selamat, dia adalah Matias yang juga sudah mendapat perawatan di Rumah Sakit Bandung. Kondisinya tidak separah Audi, ia hanya mengalami luka ringan dan memar di area mata serta tangan.


Sementara untuk Mardon dan Tian yang duduk di sebelah kanan mobil tak dapat terselamatkan. Kontainer itu memang menabrak tepat bagian tersebut hingga keadaannya ringsek parah. Kabarnya Uwa Dava sudah mengganti rugi atas kerusakan mobil itu pada pihak rental.

__ADS_1


Entah bagaimana setelah Audi sadar nanti, seperti apa reaksinya ketika tahu teman-teman yang selalu menemaninya sepanjang hari tiada karena kecelakaan itu.


Ibra hanya berharap di saat - saat seperti itu ia bisa mendampingi Audi secara penuh. Bagaimana pun caranya, entah itu mengundurkan diri dari kesatuan, atau izin mengambil cuti panjang kalau diperbolehkan. Tapi, yang kedua itu agak mustahil dan sulit didapatkan.


__ADS_2