
Audi terbangun ketika merasakan sesuatu menyentuh keningnya. Ia membuka mata dan mendapati wajah Ibra tengah tersenyum di atasnya. Lelaki itu menatap Audi teduh. Audi tebak pria itu pasti baru saja menciumnya.
"Apa kabar hari ini, Sayang? Maaf, Mas gak bisa ikut jemput ke rumah sakit tadi. Gimana keadaan kamu? Ada keluhan lain?"
Alih-alih menjawab, Audi justru mendorong Ibra menjauh. Ibra sedikit terkejut hingga refleks memundurkan punggungnya. Audi tampak gugup saat berusaha bangun, ia bahkan sedikit enggan ketika Ibra membantunya.
Ibra menyadari hal itu, lagi. Ini sudah yang keberapa kali Audi bersikap demikian, seolah ia tak ingin dekat-dekat dengan Ibra.
"Cla? Kamu kenapa? Kok, kayaknya kamu menghindar terus dari Mas?" Karena tidak tahan akhirnya Ibra pun bertanya.
Audi nampak diam, tergagap memeluk lengannya sendiri. "E-enggak, bukan gitu. Aku cuma ... cuma ..."
Ibra dengan sabar menunggu.
"Aku cuma gak enak kita di kamar berdua. Belum lagi ini bulan puasa, Mas Ibra gak boleh sembarangan," tutur Audi memberi alasan.
Namun bagi Ibra itu sama sekali tak masuk akal. Selama mereka bersama, meski bulan puasa sekalipun tak pernah ada kecanggungan. Mereka kan tidak melakukan yang aneh-aneh, barusan Ibra juga hanya cium kening, tidak lebih. Ibra juga tahu batasan.
Tak ingin berdebat, Ibra pun memilih diam guna mengakhiri pembahasan tersebut. Ia kembali menggeser duduknya lebih dekat. Ketika dilihat gerak-gerik Audi yang seolah tak nyaman dan ingin menjauh, Ibra dengan segera menahan lengan gadis itu supaya tetap diam di tempat.
Audi sedikit terlonjak menatap Ibra. Tubuhnya menegang mendapati tatapan Ibra mengarah tepat ke matanya.
"Jelas-jelas kamu menghindari Mas," gumam Ibra. Ia mengusap halus tangan Audi dalam cengkraman lembut. "Bisa kamu jelaskan rasa tidak nyaman kamu, Cla? Biar Mas juga tahu harus bagaimana bersikap sama kamu."
Hening. Keduanya saling beradu pandang dengan lekat sebelum akhirnya Audi yang terlebih dulu mengalihkan perhatian.
"A-aku ... enggak menghindari Mas, kok," lirih Audi, terkesan bingung.
Diamnya Ibra menandakan pria itu tak percaya. Hal tersebut membuat Audi semakin bergerak gelisah karena Ibra hanya menatapnya, seolah menunggu Audi berkata jujur.
"Aku ... aku malu," ucap Audi jujur.
Dengan sabar Ibra mengusap tangan Audi. "Malu kenapa?"
Audi enggan menjawab. Ia tetap diam sambil terus melarikan matanya dari Ibra. Sesekali sebelah tangannya menyentuh kepala yang tak tertutup apa pun. Semua itu tak lepas dari perhatian Ibra.
"Kamu malu sama Mas karena masalah penampilan?" tebak Ibra benar. Kalimatnya tepat sasaran karena sejurus kemudian Audi tergagap bingung.
"Mas sudah menyadari ini sejak awal. Sejak di mana kamu jadi gak nyaman berdekatan sama Mas. Kamu kelihatan risih banget kalau berduaan sama Mas. Padahal Mas kangen banget sama kamu."
Audi menautkan jari saling meremas. Ia tak berani menatap Ibra dengan wajahnya yang sekarang. Dulu ia boleh percaya diri merasa diri sendiri paling cantik, tapi sekarang hal itu sudah tak berlaku lagi.
Audi malu, ia takut Ibra jijik dengan kondisi serta keadaan wajahnya yang tak bisa dibilang baik.
Audi berjengit ketika tiba-tiba saja Ibra mencondongkan wajah dan mencium pipinya yang penuh bekas luka. I membelalak melihat lelaki itu yang malah tersenyum semanis madu.
__ADS_1
"Semua tidak ada yang instan, Cla. Wajah ini masih bisa membaik, rambut kamu juga bisa tumbuh seiring waktu. Yang terpenting sekarang jaga kesehatan, jangan sampai kamu banyak pikiran, apalagi hal - hal yang negatif."
"Mas gak akan lari sekalipun keadaan kamu begini, karena Mas tahu ini hanya sementara. Setelah kamu benar - benar pulih nanti, kamu pasti akan jadi cantik lagi, lebih dari sebelumnya. Tenang aja, sebagai calon suami tentu Mas akan usahakan segala yang terbaik untuk kamu. Kita bisa ke luar negeri yang punya kualitas bedah plastik terjamin. Tentu ini dengan tujuan pengobatan, bukan mengubah pemberian Tuhan karena wajah kamu gak akan berubah. Kita hanya akan memperbaiki jaringan kulit yang rusak. Karena Mas sendiri gak rela seandainya wajah kamu berubah jadi orang lain." Ibra tertawa kecil. "Wajah khas Claudia udah yang favorit buat Mas."
Audi tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ibra terlalu baik padanya sampai-sampai Audi kewalahan menerima perhatian pria itu. Harusnya Audi bersyukur karena memiliki lelaki seperti Ibra, yang bisa menerima Audi dalam kondisi apa pun. Tapi, entah kenapa Audi justru merasa iba pada dirinya sendiri, dan juga pada Ibra yang harus terkena imbas atas kemalangan Audi.
"Mas?" panggil Audi pelan.
"Ya, Sayang?"
Audi menelan ludah mendengar suara Ibra yang selembut beledu. Betapa dia sempurna sebagai lelaki, berbanding terbalik dengan Audi yang baru saja kehilangan segalanya. Ia tergenang dalam kubangan lumpur, sementara Ibra bersinar di muka umum.
Perbandingan yang sangat jauh untuk mereka bersanding. Dulu mungkin Audi bisa dengan mudah mengejar Ibra, tapi sekarang rasanya sulit untuk sekedar berharap.
Apa kata orang nanti ketika melihat dirinya dan Ibra. Pasti mereka akan menganalogikannya sebagai si tampan dan si buruk rupa. Audi tidak siap menerima olokan dan hujatan. Ia benar-benar tidak mau hal itu terjadi.
"Kenapa, Sayang?" tanya Ibra sekali lagi.
"Ayo putus."
Suasana mendadak sunyi setalah Audi mengatakan dua kalimat di atas. Ibra membeku di tempatnya dengan mata tak lepas memandang Audi. Sikap tenangnya begitu sulit Audi tebak. Audi tidak bisa melihat isi pikiran Ibra di balik raut tak beriaknya.
Audi membuka mulutnya lagi hendak berucap. Namun Ibra keburu menyanggah dengan cepat.
"Oke," ucap pria itu santai.
Ibra merogoh sesuatu di belakang celananya. Audi memperhatikan pria itu dalam diam. Mendadak hatinya kosong. Apa ia menyesal meminta putus dari Ibra?
"Kamu mau putus, kan?" Ibra bertanya sembari mengangkat alis.
Audi terdiam bungkam.
"Oke, kita putus."
Nyesss. Rasanya ada sesuatu yang menusuk hati Audi. Bibirnya gemetar ketika mengangguk pasrah. Audi menunduk berusaha tegar. Ia sendiri yang memutuskan perpisahan, itu berarti Audi harus berani menanggung rasa sakitnya.
Namun sejurus kemudian Ibra melanjutkan. "Kita putus sebagai pacar, itu berarti kamu sudah siap menikah dengan Mas. Bukankah begitu?"
Audi mengerjap pelan. Ia mendongak perlahan menatap wajah Ibra yang memandang lurus padanya. Mata Audi turun pada sesuatu yang lelaki itu pegang. Jantung Audi seolah lepas dari tempatnya ketika mendapati sebuah cincin berlian berdesain cantik dan elegan.
"M-mas Ibra?"
"Kita putus, itu berarti hubungan kita naik ke jenjang berikutnya. Seharusnya begitu, kan?"
Audi tak mengerti lagi, kenapa pria itu selalu berbuat sesuatu secara mendadak seperti ini. Ibra bisa dengan cepat memutar balik situasi yang semula menekannya, itu yang Audi pahami. Salahnya terlalu meremehkan Ibra yang faktanya seorang prajurit penuh strategi.
__ADS_1
"A-aku ... bukan, maksudku kita tidak putus, tapi ..."
"Tapi apa?" Wajah Ibra terlihat serius. Sepertinya pria itu kadung dibuat kesal oleh permintaan Audi.
"A-anu ..."
"Asal kamu tahu, Cla. Mas bisa melakukan hal yang terbilang gila sekalipun, jika kamu meminta hal macam-macam soal hubungan kita."
"Tadinya Mas berniat santai saja, tidak mau memaksa kamu. Tapi, kamu yang begini malah membuat Mas berubah pikiran. Kenapa kita tidak menikah cepat-cepat saja? Dengan begitu Mas bisa bebas merawat dan menjaga kamu nantinya."
"Gimana, kamu setuju?"
Audi seolah membeku di tempat. Tidak, ia tidak mau lagi mencari perkara dengan Ibra, karena hasilnya pasti selalu kalah seperti ini.
"Mas Ibraaa ..." cicit Audi, meremas jari jemari dengan gelisah.
Ibra tersenyum kecil. Ia menarik pelan lengan sang kekasih agar mau mendekat lagi padanya. Tak tanggung-tanggung Ibra menempatkan Audi duduk di pangkuan. Jika uwanya melihat, mungkin Ibra sudah ditendang dari rumah ini.
"Mas sayang kamu, Cla. Jangan sekali-kali kamu menganggap remeh perasaan Mas, atau Mas bisa berbuat nekat."
Audi tak menjawab. Ia masih sibuk mengatur detak jantungnya karena posisi duduk mereka yang terbilang sangat intim. Demi Tuhan ini bulan puasa. Bisa-bisanya Ibra berbuat begini.
Ibra mengangkat tangannya mengusap permukaan wajah Audi yang rusak. "Jangan psimis hanya karena hal ini. Luka ini hanya sementara menghalangi raut cantikmu. Setelah kita lakukan operasi nanti, wajah kamu akan berangsur membaik. Makanya, kamu harus persiapkan diri supaya punya tubuh yang fit untuk kita bepergian."
"Rasa minder buat kamu berpikir pendek. Kamu harus tenang, Cla. Rileks. Mas gak akan ke mana-mana selain di samping kamu. Mas milik kamu, dan kamu berhak bersikap egois dengan mempertahankan Mas di sisi kamu."
"Mas udah cinta kamu dari orok, lho. Masa kamu tega mau buang Mas begitu aja?"
"Mas bahkan sudah ..." Ibra menggantung ucapannya.
"Sudah apa?" tanya Audi penasaran.
Ibra terdiam lama, ia lalu tersenyum dan melanjutkan. "Mas sudah janji akan habiskan waktu dengan kamu. Jadi kamu jangan galak-galak sampai minta putus."
"Memangnya Mas cuti berapa lama sampai bisa temani aku sampai sekarang? Apa tidak ada peringatan dari atasan? Kayaknya akhir - akhir ini Mas Ibra keseringan cuti?"
Apa yang harus Ibra katakan pada Audi, bagaimana ia harus jujur bahwa sebenarnya Ibra sedang mengajukan surat pengunduran diri dari dinas militer?
Ibra tidak mau Audi menganggap dirinya sendiri sebagai penghambat Ibra dalam berkarir. Meski kesannya memang begitu, tapi Ibra melakukannya murni atas kesadaran sendiri.
"Mas mau berhenti, Cla."
"Apa?"
"Mas mau berhenti jadi tentara." Pada akhirnya Ibra memutuskan jujur. Bukankah, seorang pasangan akan merasa lebih dihargai jika kita sharing tentang hal-hal penting?
__ADS_1
Ibra mau Audi menyadari bahwa dirinya sangat penting bagi Ibra.