Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 139


__ADS_3

Catering dan semua persiapan sudah lengkap, keluarga dan tamu undangan juga sudah berkumpul. Hari ini tepatnya syukuran rumah Ibra akan digelar dalam acara pengajian yang diselenggarakan sehabis magrib.


Ibra duduk di samping ustadz yang memimpin acara, bergabung bersama para jemaah lain yang duduk berjejer memenuhi space ruang depan. Sementara Audi berada di ruang tengah bersama Lalisa, Safa, serta Oma Halim dan juga keluarga serta kerabat lain yang sebagian menyempatkan diri untuk datang.


Dava dan Edzar tentu bergabung bersama Ibra di ruang depan, mereka mengaji bersama guna menentramkan rumah baru tersebut. Audi dan para perempuan di ruang tengah pun turut serta melisankan ayat - ayat suci Al-Quran. Hingga puluhan menit lamanya mereka selesai, ustadz beralih memaparkan sedikit ceramah dan dilanjutkan mengerahkan semua jemaah untuk berdiri di setiap sudut rumah, melantunkan adzan di semua ruangan tanpa terlewat.


Hal ini dilakukan dengan harapan mengusir semua setan, jin, dan makhluk ghaib Allah yang berkeliaran, atau yang mendiami tempat tersebut sebelumnya. Dalam kepercayaan umat muslim, setiap rumah atau tempat baru dianjurkan melakukan pengajian dan di adzani terlebih dulu sebagai bentuk rasa syukur terhadap rezeki yang Allah berikan.


Karena rumah Ibra lumayan besar, beberapa jemaah ada yang melantunkan adzan secara double di dua tempat dan ruangan, bahkan ada yang sampai tiga atau empat kali adzan.


Tasyakuran rumah tersebut berlangsung hingga hampir 2 jam. Usai semuanya selesai, para tamu jemaah diberikan bingkisan serta amplop sebelum pulang.


"Alhamdulillah ... akhirnya selesai juga, ya?" Mami Safa berujar lega, ia berdiri di teras depan bersama Ibra dan sang suami guna mengantar para jemaah yang berhamburan keluar. Dava dan Lalisa juga turut serta.


Hal ini dilakukan sebagai bentuk kesopanan tuan rumah, juga sebagai ucapan rasa terima kasih pada mereka yang sudah menyempatkan hadir dan ikut berdoa bersama.


"Iya, Alhamdulillah," sahut Ibra menimpali. Edzar hanya tersenyum di sampingnya.


Ibra celingukan mencari sang istri yang sejak tadi belum dilihatnya. Maklum, ia sibuk di depan bersama ustadz dan para tamu.


"Audi mana, Ma?" tanya Ibra pada Lalisa.


Lalisa yang ditanya malah ikut celingukan. "Audi? Tadi di dalam kayaknya."


Sang putri memang tidak ikut keluar. Entah ke mana dia sekarang.


Dahi Ibra mengernyit samar mendengar jawaban sang mama mertua. Ia kemudian pamit memasuki rumah guna mencari keberadaan Audi yang mendadak sulit ditemukan. Di ruang depan dan tengah hanya ada keluarga dan kerabat yang masih bersantai menikmati catering. Ibra sempat bertanya pada salah satu dari mereka, namun semuanya menggeleng tak tahu.


Akhirnya Ibra naik ke lantai atas dan mencari Audi di kamar mereka. Dan benar saja, wanita itu tengah meringkuk di atas ranjang, masih dengan setelan busana muslim serta hijab yang menempel. Audi belum ganti baju.


Ibra mendekat, menaiki ranjang, lalu merangkak menyentuh bahu Audi dari belakang. "Sayang?"


"Hm?" Audi bergumam.


Ibra mencondongkan tubuhnya, memeluk pinggang Audi sambil memanjangkan leher melihat raut wajah sang istri. "Kamu kenapa?"


Satu tangan Ibra mengusap lengan atas Audi yang berbaring menyamping. Audi menggeleng pelan menjawab pertanyaan Ibra.


"Gak papa," jawabnya lirih.


"Tapi muka kamu pucat banget? Kamu sakit? Gak enak badan?" tanya Ibra beruntun, tak percaya begitu saja dengan jawaban Audi.


"Cuman sakit perut," aku Audi jujur.


"Sakit perut gimana? Maag atau datang bulan?" Yang terakhir membuat Ibra ngeri sendiri. Jangan sampai Audi kedatangan tamu malam ini, juga malam-malam selanjutnya. Hal itu sangat-sangat tidak diharapkan oleh Ibra.


Namun jawaban Audi berhasil meruntuhkan harapannya tersebut. "Iya, aku mens. Barusan abis minta pembalut sama si Vika, aku lupa gak bawa stok, untung dia bawa, kebetulan Vika juga lagi dapet."


Vika adalah salah satu sepupu Audi yang malam ini turut hadir di acara tasyakuran rumah mereka.


Suara Audi terdengar lemas, tubuhnya pasti betul-betul tak enak. Namun ada yang lebih tak enak bagi Ibra, pernyataan Audi barusan seakan memupus semangat Ibra yang semula memiliki niat bermesraan dengan sang istri.


"Yang, kamu gak bercanda, kan?" Ibra masih enggan percaya. Siapa yang tahu Audi sedang ngeprank.


Namun Audi langsung berdecak dan sedikit mengangkat kepalanya guna mendongak menatap Ibra. "Kok bercanda, sih? Mas Ibra gak lihat muka aku keringetan begini?"


"Y-ya ... iya. S-sakit banget, ya?" Kenapa juga ia harus terbata? Ibra berdecak dalam hati.


"Sakit banget, sih, enggak. Cuman ya gitu, mules-mules gimana gitu. Ngilu, terus lutut aku juga udah lemas dari sore tadi. Emang pertanda mau mens, sih."


Audi mengubah posisi berbaringnya menghadap Ibra. Ia memeluk pinggang lelaki itu dan kembali meringkuk hangat. Melihat hal tersebut raut Ibra pun berangsur melembut, ia tak lagi memikirkan ego lelaki yang barusan meraung nelangsa. Melihat Audi yang tak berdaya malah membuatnya merasa iba. Jelas, Ibra memang tak pernah bisa melihat Audi menderita.


Ibra mengusap kepala Audi. Ia menarik jarum pentul yang tersemat di bawah dagu sang istri, melepas hijab yang sedari siang melekat membingkai wajah Audi. Audi sendiri membiarkan hal tersebut sambil tersenyum. Ibra dan perhatiannya selalu membuat Audi nyaman. Pria itu selalu mengekspresikan kasih sayangnya secara nyata. Audi benar-benar beruntung bisa memiliki suami seperti Ibra.


"Mau Mas buatkan kompres hangat?" tawar Ibra.


Audi menggeleng. "Usapin aja," lenguh Audi, manja.


Ibra terkekeh lirih. Ia menyingkap tunik yang dipakai Audi, lalu mengusapkan tangan besarnya di perut rata sang istri. Tatapan Ibra sedikit menerawang, ia tak berhenti mengelus ketika berkata. "Benih Mas kurang tokcer berarti, ya? Udah seminggu kamu langsung mens."


Ia mengatakan itu sambil bercanda, tapi Audi tahu Ibra sedikit kecewa. Tak pelak Audi pun merasa bersalah. "Maaf," lirihnya, mengeratkan pelukan pada Ibra.


"Untuk apa minta maaf? Datang bulan bukan keinginan kamu," sahut Ibra. Tangannya mengusap perut serta rambut Audi yang masih tergelung.


"Iya, tapi kan harapannya aku langsung isi?"


"Kita baru seminggu nikah, baru seminggu pula berhubungan, masa kamu berharap langsung jadi? Ya memang Mas juga begitu. Tapi kan kita gak tahu rencana Allah bagaimana. Ini masih awal, perjuangan kita juga masih panjang, Sayang. Mungkin saja nanti setelah 1 atau 3 bulan lagi, kan? Semoga."


Audi mengangguk. Ia berusaha berpikir positif dengan memikirkan rencana lain dalam pernikahan mereka.

__ADS_1


"Kita saja belum bulan madu, lho," celetuk Ibra. "Kamu mau kita liburan ke mana?"


Mendengar itu Audi lantas berpikir. "Aku gak tahu. Mas punya referensi?" tanyanya sembari mendongak.


"Paris mungkin kamu bosen, ya? New York juga. Korea? Kita baru sekali ke sana, waktu operasi kamu. Belum sempat liburan juga. Mau ke sana lagi? Atau ke Jepang aja? Swiss? Mas, sih, terserah kamu maunya ke mana?"


"Nanti aku pikirin, deh. Sekarang bisa tolong ambilin minum gak, Mas? Haus banget," lenguh Audi.


Ibra pun melepas usapan tangannya dan sedikit beranjak. "Ya udah, Mas turun ke bawah dulu. Air hangat, ya?"


Tadinya Audi hendak menggeleng, tapi Ibra segera menyanggah. "Biar peredaran darahnya lancar, Sayang. Air hangat, ya?"


Audi manyun. "Ya udah. Tapi jangan lama. Aku mau tidur dipeluk Mas Ibra."


Ibra tersenyum, mengusap sekilas kening Audi dan mengecupnya. "Iya, Sayang. Gak akan lama, kok."


Setelah itu Ibra turun dari ranjang dan langsung keluar kamar. Audi kembali meringkuk sendirian memeluk perutnya yang mulas-mulas ngilu. Suatu penderitaan ketika hari pertama datang bulan. Badan tak enak, lemas, gerah, pokoknya hal-hal yang membuat emosi jadi jauh lebih sensitif.


Beberapa menit kemudian Ibra kembali dengan membawa segelas air hangat, ia juga sekalian membawa bantal kompres untuk Audi. Audi bangun, ia meminum air yang disodorkan Ibra dan lekas kembali berbaring saat rasa ngilu menyerang perutnya lagi.


"Mas Ibra emang punya kompres?" tanya Audi, pada Ibra yang kini tengah menempelkan bantal hangat itu di perutnya.


"Ini punya Bibi, Mas pinjam sebentar," jawab Ibra seadanya.


"Ohh ..." Audi mengangguk paham. "Keluarga belum pada pulang?"


"Udah, barusan. Mereka cari kamu mau pamitan, Mas bilang kamu lagi gak enak badan, jadi mereka pulang aja. Tapi Mama sama Papa masih di sini, kok. Papi dan Mami juga, mereka mau nginap semalam, gak papa?" Ibra mengangkat alis, mendongak pada Audi.


"Ya gak apa-apa, kok Mas Ibra nanya gitu? Kayak aku bakal keberatan aja. Mereka kan orang tua kita." Raut Audi sedikit mulai mengeruh.


Melihat itu Ibra lekas tersenyum, tangannya masih menahan kompres di perut Audi sambil sesekali memijatnya. "Cuman tanya aja, Sayang. Ini rumah kita. Rumah kamu dan Mas. Otomatis apa-apa Mas harus saling berbagi informasi, kan? Termasuk izin siapa saja yang boleh menginap di rumah kita. Mas tanya kamu karena kamu juga pemilik rumah ini. Mengerti?"


Audi mengangguk. Ia mulai rileks menikmati pijatan Ibra di perutnya, juga rasa hangat yang lumayan meredakan rasa sakitnya. Saking enak dan nyaman, Audi sampai tidak sadar telah terpejam. Entah berapa lama Audi tertidur sampai tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang dingin mengusap permukaan pipinya.


Refleks Audi membuka matanya kembali. Ternyata pelakunya adalah Ibra yang kini juga balas menatapnya. Lelaki itu tersenyum teduh menghentikan usapan kapasnya sejenak. "Maaf, Mas ganggu kamu. Mas cuman mau hapus make up kamu, pasti gak nyaman dibawa tidur."


Audi mengerjap sesaat. "O-oh ..." gumamnya pendek.


Ibra lanjut mengusap wajah Audi menggunakan kapas yang telah dibasahi. Audi melirik botol kecil berupa make up remover di tangan Ibra, itu punya Audi.


"Mas sering perhatiin kamu kalau dandan, kamu sering hapus make-up pakai ini, kan?"


Hingga beberapa menit kemudian Ibra telah selesai membersihkan wajah Audi, ia membuang semua kapasnya ke tong sampah kering di sudut kamar, lalu kembali menghampiri Audi. "Terus apa lagi? Kamu gak cuci muka?"


Audi mengerjap menahan kantuk. "Itu ... ambil micellar water yang tanpa residu aja, Mas. Cukup pake itu, aku malas bangun."


Ibra kembali masuk ke ruang wardrobe, mencari benda tersebut di meja rias Audi. Cukup merepotkan karena ia tak tahu rupa kemasannya, Ibra harus membaca satu persatu produk yang berjajar begitu banyak.


"Yang! Ini yang botolnya warna biru?" seru Ibra sedikit keras.


Audi menyahut dari dalam kamar. "Iya, yang ada tulisan nol persen residu!"


Tak lama Ibra muncul lagi dari pintu ruang wardrobe. Ia kembali mendekati Audi dengan botol tersebut. "Pake kapas lagi?"


"Iya."


Ibra pun mulai meneteskan produk cair tersebut ke atas kapas yang baru, lalu mengoleskannya ke permukaan wajah Audi yang kini mulai bersinar, terbebas dari make up.


"Ini gak papa kalau gak cuci muka pake sabun?" tanya Ibra sangsi.


"Gak papa," sahut Audi lesu. Sang istri tengah berusaha keras menahan kantuk dan lemas. Ia bahkan tertidur sebelum Ibra selesai membersihkan wajahnya.


Ibra tersenyum menatap Audi teduh. Wajah Audi sudah bersih, sesaat tangannya mengelus kening wanita itu dan mengecupnya sekilas. "Good night. Sleep tight, Sayang," bisik Ibra halus.


Ia lalu bangkit, beranjak dari sisi ranjang dan meninggalkan Audi yang kini terlelap damai.


Keesokan harinya Audi terbangun dan mendapati Ibra sudah sibuk di dapur. Pria itu berkutat dengan kompor dan penggorengan entah sedang membuat apa.


Audi sendiri sudah mandi dan berganti pakaian. Tubuhnya terasa lebih segar ketimbang semalam. Sepertinya Ibra sempat mengganti pakaian Audi dengan piyama saat tertidur.


"Mas Ibra masak apa?" tanya Audi. Ia duduk di kursi bar, mengambil gelas dan menuang air untuk minum.


Ibra menoleh sesaat sambil tersenyum. "Biasa, Sayang. Tumis sayur buat sarapan. Mas juga bikin steak buat kita. Kamu mau menu lain?"


Audi menggeleng. "Itu aja udah cukup."


"Perut kamu mendingan?" Ibra masih sibuk berkutat dengan tumis. Sekarang ia tengah meniriskan masakan tersebut ke atas piring.


Kini di depan Audi sudah terhidang berbagai masakan yang dibuat Ibra. Terakhir pria itu meletakkan dua gelas jus buah yang langsung Audi cicipi sedikit. Enak dan manis. Ibra memang pintar meracik makanan.

__ADS_1


Ibra duduk di kursi bar samping Audi, ia memijat pinggul Audi sebentar sebelum meminum jusnya sendiri.


"Serius udah mendingan?"


"Iya, Mas Ibra ..." sahut Audi panjang. "Makasih buat semalam."


Ibra tersenyum, ia duduk menyamping menghadap Audi. Tubuhnya sedikit condong mengecup bibir ranum wanita itu yang tampak segar sehabis mandi. Ia bahkan mencecap dan menghisapnya beberapa lama. Menggigit lalu menariknya pelan hingga menimbulkan bunyi lirih menggoda.


Ibra kembali tersenyum, mengusap permukaan bibir Audi yang basah. "Sarapan paling enak. Mas paling suka bibir kamu saat pagi dan malam. Masih polos belum pakai apa-apa."


Audi melipat bibirnya merona. Ia berusaha menghindari mata Ibra yang selalu berhasil membuatnya gugup dan deg-degan. Tingkahnya justru terlihat menggemaskan di mata sang suami. Audi yang malu-malu sangat lucu menurut Ibra.


"Mama sama Papa mana?" Audi celingukan dengan alasan mencari kedua orang tuanya yang ia tahu semalam menginap.


"Udah pulang," jawab Ibra.


Seketika Audi menoleh. "Papi dan Mami juga?"


"Hm." Ibra mengangguk. Matanya tak lepas menatap Audi lekat, membuat Audi serta-merta gelagapan ditatap sedalam itu.


"Kok, gak tunggu aku bangun? Mas Ibra juga gak bangunin aku?"


Ibra menghela nafas. "Kamu tidur nyeyak banget. Mas gak tega karena semalam kamu sakit perut, kan? Mereka bilang gak usah dibangunin, ya udah Mas gak bangunin kamu sampai mereka pergi. Lagian kamu gak sholat, mau tidur sampai siang juga santai aja."


Audi merengut. "Tapi aku jadi bocor karena kelamaan di kasur. Itu ... seprainya kotor, lho, Mas ..." cicit Audi takut. Ia menunduk meremas jemarinya.


"Tembus?"


Audi mengangguk.


"Ya gak papa, nanti kan ada Bibi yang cuci."


Iya juga sih. "Tapi itu seprai kesayangan Mas Ibra, kan?"


Ibra mendenguskan senyum. "Bisa dicuci, Sayang. Nanti juga bersih lagi."


"Kalau nodanya gak hilang?"


"Pasti hilang. Kan ada caranya."


Ibra maklum karena Audi tak tahu menahu ilmu mencuci pakaian. Selain itu ia juga payah dalam pekerjaan rumah. Tak apa, Ibra percaya seiring waktu Audi bisa belajar seperti maminya. Audi memang terlahir kaya, kalau dalam bahasa Sunda terbiasa dimenak-menak, dimanja atau segala sesuatu terpenuhi secara instan.


Butuh beberapa waktu untuk Audi beradaptasi dalam kehidupan rumah tangga mereka. Lagipula Ibra tak menuntut Audi untuk memasak apalagi mengerjakan pekerjaan rumah.


Laki-laki tidak waras mana yang tega membiarkan istrinya mengurus rumah sebesar dan seluas ini. Kalau setidaknya tidak mampu membayar pekerja, jangan sok membuat rumah besar karena perawatannya jelas melelahkan.


Kalau untuk sekedar memasak, Ibra akan memaklumi. Tapi kalau Audi sudah turun tangan membersihkan rumah, Ibra jelas marah karena itu bukan tugasnya.


Kata Papi Edzar, seorang istri itu ratu di rumah suami. Suami wajib mencukupi dan melayaninya sebaik mungkin. Menjaga perasaannya, membuatnya bahagia, itu semua tugas Ibra mulai saat ini.


"Jangan pikirkan seprai, sekarang makan, ya? Kamu pasti lemas banget. Biasanya wanita yang datang bulan tenaganya surut dan melemah. Mas tahu karena Mami juga seperti itu."


Audi terharu. Ibra masih ingat kebiasaan Audi yang selalu makan yang segar-segar ketika datang bulan. Buktinya pria itu membuat jus dan smoothies buah.


"Makasih, ya, Mas?" bisik Audi, lembut.


Ibra tak kalah lembut membalas senyum Audi. Ia menjawil hidung kecil sang istri dengan pelan. "Sama-sama, Sayang. Kamu jangan sungkan kalau butuh sesuatu."


"Tadi yang beli pembalut siapa?" tanya Audi penasaran.


Tadi saat ia bangun, ada banyak sekali kemasan pembalut berukuran besar di ruang wardrobe. Ia pikir mungkin mamanya yang beli, makanya tadi ia mencari wanita itu untuk berterima kasih. Tapi ternyata bukan, Audi justru dibuat terkejut dengan jawaban yang dilontarkan Ibra.


"Tadi Mas sempat keluar sebentar, Mas ingat kamu gak punya pembalut. Itu benar yang biasa kamu pakai, kan? Tadi soalnya Mas cuman tanya Mama kamu. Beliau kasih tahu merk dan gambarnya di ponsel. Mas cari-cari hanya itu yang sama. Semoga gak salah, ya?" ringis Ibra gugup.


Audi tidak tahu lagi harus berkata apa. Entah berapa kali ia harus berterima kasih pada Ibra. Kenapa lelaki itu seolah memperhatikan Audi tanpa terlewat? Ibra terlalu pengertian menjadi laki-laki. Coba, di mana lagi Audi bisa menemukan pria seperti Ibra? Bodoh sekali jika dulu Audi sempat bersikeras ingin memutuskan hubungannya. Nyatanya, lelaki semacam Ibra ini sangat langka.


"Lho, lho, lho, kamu kenapa? Kok nangis?" Ibra yang sebelumnya hendak makan kontan berhenti melihat istrinya yang berurai air mata.


Audi sendiri tidak sadar ia sampai menangis demikian. Astaga, memalukan sekali. Ini pasti karena efek hormon, makanya Audi sedikit berlebihan pagi ini.


Audi menggeleng, menyusut air matanya yang malah tak ingin berhenti melaju, terutama ketika Ibra turut meraih tisu dan mengusap wajah basah Audi hingga kering.


"Ada yang sakit lagi?"


Audi menggeleng. Sementara Ibra mengernyit. "Lalu?"


"Hiks, kenapa Mas Ibra baik bangeeeettt?" Audi menggasak matanya yang kembali berair.


Melihat itu Ibra hanya bergeming, mengerjap dengan wajah setengah bingung. Apa ada yang salah dari perlakuannya? Ibra hanya melakukan apa yang menurutnya benar. Dan menurutnya beli pembalut Audi sudah yang paling benar. Tapi, kenapa Audi bisa sampai menangis begitu?

__ADS_1


__ADS_2